
Terdiam dengan tatapan yang kosong, sangat tidak mencerminkan sosok Algeria Mahesa. Ia dulunya adalah seorang ketua preman pasar, yang hanya membuat keributan di pasar saja. Namun semua berubah, ketika Alge bertemu dan bersahabat dengan Marsel.
Marsel membawanya keluar dari zona hitam, dan Marsel pula yang telah memberikan Alge hidup yang nyaman, namun tidak untuk sekarang. Karena, ada misi sangat penting untuk mereka laksanakan.
Satu sel bersama empat pria badas dengan berbadan kekar, Alge sama sekali tidak takut. Meskipun badan Alge besar, akan tetapi badan keempat narapidana itu jauh 2x lipat dibandingkan badan Alge.
Seorang inspektur polisi menghampiri tahanan Alge, ia mendadak membuka pintu sel tahanan itu.
"Algeria Mahesa, keluarlah. Ada seseorang yang menjengukmu." ucap sang inspektur, Alge bangkit dari duduknya. Ia hendak akan keluar dari sel tahanan itu, namun sang inspektur menahannya sebentar.
"Awas saja jika kau mencoba untuk kabur! aku tak akan segan-segan melayangkan anak peluru masuk ke dalam kepalamu itu!." ancam sang inspektur, namun Alge hanya terkekeh geli.
"Coba saja." Algeria berjalan di depan sang inspektur, ia sudah tau siapa orang yang akan menjenguknya.
Siapa lagi jika bukan, "Marsel."
Alge tersenyum, dan segera menghampiri Marsel yang sudah menunggunya sedari tadi. Marsel membalas senyuman dari Alge, mereka berpelukan layaknya seperti seorang saudara.
"Bagaimana kabarmu sob?" tanya Marsel
"Aku baik, dan bagaimana denganmu juga?" jawab Alge
"Sel, di mana tuan Gunawan? apa dia tidak datang menjengukku?" tanya lagi Alge
"Dia sedang rapat, jadi dia memintaku untuk menjengukmu seorang diri, apa Arjuna mengetahui kau dipenjara?" tanya balik Marsel dengan serius.
Alge menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. "Tidak, dia tidak tahu Sel. Jika Juna tau, dia pasti akan sangat marah dengan tuan Gunawan, karena ini adalah rencananya." ucap Algeria yang terdengar bisik-bisik.
Ia takut jika polisi curiga, karena ini semua adalah rencana yang tersusun sangat rapih.
__ADS_1
"Ge, tuan Gunawan bersikeras untuk membawa Arjuna kehadapannya. Dan juga, tuan Gunawan ingin segera rencana ini selesai." jelas Marsel, Alge hanya menghela natasya dengan panjang.
"Mau bagaimana lagi, Sel. Biarkan dia menikmati hari-harinya sebagai ojol, aku hanya ingin melihatnya bahagia. Dibandingkan kita berdua, Arjuna lebih banyak penderitaannya." ungkap Alge yang pasrah.
Sejenak Marsel tersadar, apa yang diucapkan Algeria ada benarnya juga. Sejak remaja ia berjuang keras mencari uang untuk biaya kelulusannya sendiri, karena Sandiaga sama sekali tidak memberikannya uang sepeser pun.
"Aku sangat penasaran, bagaimana reaksi bedebah itu ketika tau Arjuna mewarisi harta warisan keluarga Sudrajat" gumam Marsel sambil tersenyum sinis.
"Kau benar, aku menunggu waktu itu tiba, Sel."
Polisi datang untuk memberitahukan pada mereka berdua, jika waktu untuk menjenguk sudah habis, dan Marsel segera diminta untuk pulang.
"Aku berpergi dulu, Ge. Kau baik-baiklah di sini, hukumanmu tidak akan berat, karena tuan Gunawan sudah menjamin semuanya."
Algeria mengangguk paham, "Kau juga hati-hati, tolong salamkan pada tuan Gunawan"
"Baik, Ge. Aku pergi, kau tak usah takut. Ada aku dan tuan Gunawan di belakangmu, katakanlah pada kami berdua jika ada seseorang yang menyinggungmu."
"Aku pergi, Kak." ungkap Alge, ia dibawa oleh salah satu seorang polisi. Sebelum itu, tangannya telah diborgol kembali, dan Marsel hanya menatap kepergian Alge yang akan kembali ke sel-nya.
Kunjungan telah usai, begitu pun dengan Marsel yang akan kembali ke perusahaan untuk menghandle pekerjaan Arjuna. Marsel memijat pelipis matanya pelan, ia sudah sangat lelah mengerjakan dua pekerjaan sekaligus.
"Sampai kapan kau akan tetap menjadi Elgara, Arjuna Rakesagara!" gumam Marsel yang kesal.
Marsel masuk ke dalam mobilnya yang terparkir rapi di parkiran mobil, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Arjuna, namun dengan nama yang terpampang jelas sebagai 'Tuan Muda Elgara'. Marsel masuk ke dalam mobil sambil menunggu sambungan telepon itu terjawab.
Sudah lama ia menunggu, namun Arjuna tak kunjung menjawab telepon dari Marsel.
"Ke mana Arjuna, ada apa dengannya, apa dia baik-baik saja, jangan sampai dia sedang kenapa-kenapa. Jika ia terluka, tuan Gunawan pasti akan memarahiku habis-habisan." gumam Marsel yang kalang kabut karena takut.
__ADS_1
Ia melihat jam tangan yang ia pakai ditangan kanannya, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi Arjuna tak menjawabnya. Jika pun ia pergi bekerja, ia pasti akan memberitahu Marsel. Karena sebelumnya, Arjuna mengatakan pada Marsel jika ia tidak akan berangkat bekerja untuk hari ini.
"Aku harus datang ke kontrakannya."
Marsel mematikan ponselnya dan langsung membuangnya ke belakang. Tak peduli seberapa mahal harga ponsel itu, kabar tentang Arjuna lah yang kini menjadi prioritasnya. Marsel mengendarai mobil itu dengan kecepatan yang sangat kencang, tak peduli akan keselamatannya saat ini. Ia harus cepat sampai ke kontrakan Arjuna, untuk mengecek keadaan bos mudanya itu.
Sedangkan Arjuna yang berada di kontakannya, ia malah masih tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya itu. Bang Dimas sempat membangunkannya untuk mengantar Arjuna ke bengkel. Namun, bang Dimas segera pergi lagi karena Arjuna akan pergi sendiri. Dan sampailah sekarang, Marsel yang akan datang ke kontrakann untuk mengecek keadaannya.
Marsel datang dan memarkirkan mobilnya dengan sembarangan, ia keluar dari dalam dengan cepat dan berlari kecil menuju kontrakan Arjuna. Sampai di depan pintu kontrakan Arjuna, ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu itu. Ia takut jika Arjuna akan memarahinya, tapi masa bodo amatlah. ini demi kesejahteraan dan keselamatan bos muda.
"Assalamualaikum"
"Bos muda"
"Assalamualaikum, bos. Ini Marsel"
"Bos, bos muda."
Marsel menggedor-gedorkan pintu kontrakan Arjuna, namun Arjuna tak kunjung membukakan.
"Tuan muda Elgara! jangan menakuti-nakuti saya..."
Ia pasrah dan hendak akan mendobrak paksa pintu kontrakan tersebut, saat ia menyiapkan ancang-ancang untuk mendobrak. Arjuna membuka pintu kontrakan itu dengan kasar, dan nyaris saja Marsel jatuh karena ulahnya sendiri yang akan mendobrak pintu itu.
"Bosssss..." Marsel menahan malunya di depan bos mudanya itu, ia tak menyangka akan melakukan hal bodoh seperti ini.
Bagaimana jika Arjuna tidak ada di dalam kontrakan tadinya, sungguh hal yang sangat memalukan bagi Marsel.
"Ada apa kau datang sampai ke sini?" tanya Arjuna dengan suara yang serak.
__ADS_1
"Maaf bos muda, saya..." jawab Marsel yang ambigu, ia tak tau harus mengatakan apa, tidak mungkin ia mengatakan bahwa mengkhawatirkan Arjuna.
...BERSAMBUNG ...