
Malam penuh dramatis pun sudah mereka lewatkan, Algeria terbangun dari tidurnya. Ia membasuh wajahnya, dan segera akan membuka bengkelnya.
Saat Alge hendak akan membuka pintu bengkelnya, ia lupa menaruh kuncinya di mana. Beruntungnya, ada kunci cadangan yang selama ini ia simpan.
Jantungnya berdebar sangat kencang, ketika Algeria membuka pintu bengkelnya itu. DEG, jantungnya berdebar sangat kencang dan pipinya merah merona.
"Sial! Kenapa wanita sialan ini bisa di sini?!" Algeria menutup kembali pintu bengkelnya, ia pun kembali masuk ke dalam rumahnya.
Cassandra Calista, itu adalah nama wanita sialan yang Algeria umpati sedari malam. Alge menyiapkan sarapan, ia tengah memotong beberapa sosis untuknya pakai membuat nasi goreng.
Sandra bangun dari tidurnya, ia merasa ada yang aneh barusan. Kenapa pintu tidak terkunci, Sandra bangun dan hendak akan keluar. Namun Algeria sudah menunggunya di depan, sambil memakan nasi goreng yang tadi ia buat.
Sandra menelan salivanya, kali ini habislah dia ditangan Algeria.
"K-kamu? Sejak kapan di sini?'' tanya Sandra dengan gugup.
Algeria terdiam, ia masih mengunyah sisa-sisa makanan yang berada di dalam mulutnya itu.
"Kenapa, diam saja...?'' lirih Sandra
Alge mensudahi makannya, ia menaruh piring habis makannya itu kesembarang arah. Dan Alge, mendekati Sandra yang masih berdiri di ambang pintu.
''Kamu nanya, aku diam saja? Kamu bertanya-tanya?''
Sandra terdiam, mentalnya terhempaskan sangat jauh ketika Alge balik bertanya balik pada Sandra. Alge maju ke depan, ia mencengkram keras dagu Sandra.
''Siapa yang mengizinkanmu untuk tidur di sini?!'' pekik Alge6
Pipi chabi Sandra pun memerah, karena cengkraman keras dari Algeria. Sandra menitiskan air mata, ia tak tau harus bagaimana. Andaikan ia tak tergiur untuk bekerja di kota, mungkin Sandra tidak akan terjebak dan sampai bertemu dengan Algeria.
''Aku hanya ingin berlindung, aku takut. Bagaimana jika aku nanti tertangkap oleh mereka, aku ingin pulang...''
Tak bisa berkata-kata, Algeria melepaskan cengkramannya dari dagu Sandra. Ia tak bisa melihat wanita menangis, apalagi jika ia menangis karena Algeria.
''Aku ingin pulang, bisa antarkan aku?'' tanya lagi Sandra
''Kau diam dan tunggulah di sini. Aku akan kembali,'' pinta Algeria. Ia masuk ke dalam rumahnya, Sandra tertunduk diam dan setengah ketakutan.
Alge kembali, ia membawa sepiring nasi goreng yang tadi ia buat. ''Ini, makanlah.'' titahnya, sambil memberikan nasi goreng itu ke Sandra.
Sandra mengambilnya, ia juga sangat-sangat lapar. Karena, hampir 2 hari ia tak makan sesuap nasi. Sandra makan dengan begitu lahap, Alge merasa iba padanya. Sepertinya, apa yang Sandra katakan ada benarnya juga.
__ADS_1
Karena makan dengan terburu-buru, Sandra akhirnya tersedak.
''Uhukk, uhukk, uhukk''
''Hati-hati, makan dengan pelan-pelan. Dan duduklah, ketika makan'' ujar Algeria, ia mengambil gelas berisi air putih bekas ia makan tadi.
''Untuk sementara tinggal lah dulu di bengkelku, tenang saja aku tidak akan menjahatimu. Perlu waktu untuk menangkap dan membebaskan teman-temanmu'' ucap Algeria, ia duduk di samping Sandra yang tengah makan dengan lahap itu.
Seorang pria paruh baya datang ke bengkel Algeria yang belum buka, ia sambil menuntun motornya yang sudah mati itu.
''Pagi mas Geri, bengkelnya belum buka ya?'' tanya pria paruh baya itu.
Algeria meliriknya, ''Betul pak, taruh saja motornya. Nanti akan aku periksa,'' ujar Algeria.
''Baik, Mas. Oh iya, Mas Geri sebelum-belum ini kemana? Kenapa menghilang tanpa jejak, banyak yang nanyain Mas Geri'' ungkap bapak itu.
Algeria terdiam, tidak mungkin kan ia mengatakan telah masuk ke dalam penjara karena suatu rencana. Bapak itu pun melirik Sandra yang tengah makan, ia sepertinya sudah salah sangka.
''Ini istri mas Geri? Atau pacar mas Geri?'' tanya bapak itu yang begitu penasaran.
Algeria melirik ke arah Sandra, Sandra tak bisa berkata-kata karena ia sendiri saja sudah sangat kebingungan.
''Dia...'' sahut Alge yang bingung.
Fyi : kumpul kebo merupakan perbuatan pria dan wanita yang hidup bersama, tanpa adanya ikatan perkawinan dan tinggal dalam satu rumah.
''Bu-bukan pak...'' lirih Sandrs yang kaget
''Lalu?''
''Dia hanya numpang makan, kasian kan dia'' timpal Algeria yang kesal.
''Ooooh''
Orang-orang mengetahui Algeria sebagai Geri, dan panggilan Geri tidak jauh dari nama Algeri.
.........
Kembali lagi memimpin perusahaan, Arjuna sudah bersiap untuknya pergi ke perusahaan. Bersama kakek kesayangannya, Arjuna mendapatkan notifikasi dari bang dimas.
Bang Dimas : ''Jun, ente kenape gak pulang ke kontrakkan udeh dua hari''
__ADS_1
Arjuna pun segera membalasnya.
Arjuna : " Enggak bang, Juna ada di rumah kakek"
Balas Arjuna, cepat atau lambat. Ia pasti akan segera kembali ke kontrakkan itu, untuk mengambil barang-barangnya.
Bang Dimas : " Ya udah, Jun. Kalo gitu, abang mau kerja dulu. Tadi bu kost nanya, nyariin ente"
Arjuna : " Sip bang, semanget ye kerjanye biar cepet halalin mbak Juli"
Balas kembali Arjuna, ia nampak begitu senang.
Bang Dimas : " Kalo itu sih pasti, hahaha"
Arjuna tertawa, ketika mendapatkan balasan seperti itu dari bang Dimas. Kakek Gunawan yang melihat Arjuna cengengsan pun masuk, ia kepo dengan apa yang cucunya tertawakan.
"Juna, ada apa? Kenapa kau tampak bahagia sekali" tanya sang kakek.
Arjuna tersadar dan melirik kakeknya yang tengah berdiri di ambang pintu. "Eh, kakek. Tidak ada apa-apa, Kek." Ucap Arjuna, ia tesenyum dan menghampiri sang kakek.
Tuan Gunawan tersenyum, ketika Arjuna mencium punggung tangan kanannya.
"Ayo turun, kita sarapan dulu" tutur tuan Gunawan.
"Iya kek" balas Arjuna
Mereka berdua turun dari lantai atas, dan melanjutkan untuk sarapan di bawah.
"Selamat pagi tuan besar, dan tuan muda" sapa pak Samin.
Arjuna dan juga kakek duduk, ia menyantap sarapan dengan anggunly.
"Juna, nanti kamu tolong bantu cek data keuangan perusahaan yang masuk. Kakek juga dengar, kalau perusahaan ayahmu akan segera disita oleh bank. Apa kamu sudah tau?"
Arjuna melirik sang kakek, ia mencerna perkataan dari sang kakek yang mengatakan kebangkrutan ayahnya itu.
"Belum, Kek. Arjuna baru tau sekarang jika bank akan menyita perusahaan ayah" jawab Arjuna
"Biarkan saja, Kek. Biarkan dia bahagia dengan keluarganya itu, dia akan tau sebentar lagi tentang Elgara." sambung Arjuna, ia kembali melanjutkan sarapan.
Sang kakek tersenyum, Arjuna tumbuh menjadi pria yang kuat dan sedikit keras. Tapi biarkanlah saja, jika itu demi kebaikan Arjuna. Biarkan waktu yang menjawabnya, tentang rasa yang kini sedang Arjuna rasakan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...