Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Pulang Ke Rumah Besar


__ADS_3

Setelah melihat mengetahui kebenarannya, Arjuna pun memijat pelan pelipis matanya, yang sangat terasa berat itu. Ia tidak pernah menyangka, ternyata ayahnya bisa sebodoh ini.


Ayahnya selalu mengatakan padanya, bahwa dia adalah anak haram itu. Namun, kenyataannya terbalik. Putri kesayangannya lah, yang ternyata bukan darah dagingnya sendiri.


"Marsel, apakah Pak Tua itu tau, jika putri kesayangannya itu bukanlah darah dagingnya sendiri?" tanya Arjuna yang serius,


Marsel pun menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. "Tidak bos muda, sandiaga tidak tahu, jika anak itu bukanlah darah dagingnya. Apa yang akan bos muda lakukan saat ini?." Tanya balik Marcel.


Arjuna pun diam sejenak, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa membalaskan dendamnya pada ayah.


"Pak tua itu, sebentar lagi akan bangkrut. Aku akan meminta saran pada kakek terlebih dahulu. Malam ini juga, aku akan pulang ke rumah besar. Tolong beritahukan padanya, aku akan pulang" Ungkap Arjuna.


Marsel pun kembali mengangguk paham, sudah sekian lama Arjuna pergi dari rumah besar. Dan akhirnya, untuk sekian lamanya juga, Arjuna akhirnya mau kembali lagi ke rumah besar itu, setelah sekian lamanya.


Terakhir kali ia ke rumah besar, saat ia ditemukan untuk pertama kalinya oleh tuan Gunawan. Dan, Juna juga diminta untuk tinggal di rumah besar itu. Namun, karena Arjuna yang keras kepala, ia tidak mau tinggal seorang diri di rumah sebesar itu. Walaupun tuan Gunawan sudah memaksanya beberapa kali, jika Arjuna tetap tidak mau. Ya, mau bagaimana lagi.


Alhasil, rumah besar itu pun di tempati oleh Tuan Gunawan Sudrajat, dan satu-satunya pewaris tunggal yang akan mewarisi harta keluarga sudrajat hanyalah Arjuna seorang.


Arjuna Rakesagara, adalah nama pemberian dari kakek Sudrajat, yang merupakan kakek buyutnya Arjuna.


"Bos muda, saya harap... Anda bisa kembali memimpin perusahaan, mengingat kesehatan bos besar yang semakin hari semakin menurun. Karena itu juga, bos besar kurang istirahat, dan itu sangat mempengaruhi kesehatannya bos besar. Saya harap, bos muda bisa mengerti tentang kesehatan kakek anda sendiri." Ungkap Marsel, dengan nada yang begitu formal berbicara pada Arjuna.


"Apa-apaan! Jangan terlalu formal seperti itu,Marcel. Anggap saja aku ini temanmu, jangan terlalu kaku di depanku. Aku tidak suka orang yang begitu kaku. Santai saja, aku tidak akan menggigitmu,'' balas Arjuna yang terkekeh geli.


"Maaf..." Lirih Marsel.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tadi kakekku sedang apa?," tanya Arjuna yang begitu serius.


"Bos besar, tadi sedang mengurus beberapa dokumen penting perusahaan. Ia berada di ruangan milik bos muda saat ini, apa bos muda ingin ke sana? aku akan mengantarkan bos muda untuk menemui bos besar." Tawar Marcel, untuk cari muka.


Arjuna berdehem, "Heeem, nanti saja."


Sepertinya Arjuna lebih memilih untuk menemui sang kakek nanti malam saja. Karena, jika sekarang Arjuna pergi, otomatis ia akan ketahuan jika kakinya sedang sakit. Dan pada akhirnya, sang kakek pasti akan tau saat malam nanti.


Arjuna pergi ke sana, apa yang akan ia katakan pada sang kakek nantinya. Tidak mungkinkan, jika Arjuna mengatakan bahwa ia telah ditabrak oleh adik tirinya sendiri.


"Bos muda, aku lihat kakimu membengkak dan memar. Bos muda tidak apa-apa kan? apa bos muda habis kecelakaan? atau bos muda ditabrak oleh seseorang? katakan saja bos muda, aku akan mencari orang tersebut, dan memberinya pelajaran." Ucap Marcel, yang memberi pertanyaan bertubi-tubi pada Arjuna.


Sedangkan Arjuna, yang diberi pertanyaan itu pun hanya terdiam membisu. Ia sendiri saja bingung, harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu, dari yang Marcel ucapkan tadi.


"Iya, aku ditabrak oleh adik tiriku sendiri. Tapi kau jangan bilang pada kakek ya! Jika kau berani membuka mulutmu, aku akan menggunting adik kecilmu itu!" ancam Arjuna, Marsel hanya menelan salivanya dalam-dalam.


"Ampun bos muda, aku masih ingin menikmati masa-masa bujangku, dan menikmati surga duniawi..." Beo Marcel, dengan nada yang pelan.


Mungkin ia takut, jika Arjuna memang akan benar-benar akan memotong burungnya nanti.


"Makannya, diamlah. Dan jangan pernah beritahu kakek, jika aku terluka karena adik tiriku, aku akan membalaskannya sendiri!" ancam Arjuna sekali lagi, dan Marsel pun menganggukan kepalanya lagi.


Ia benar-benar tidak mau, jika masa depannya terbuang sia-sia begitu saja.


Malam pun tiba, Arjuna tengah bersiap-siap untuk menemui sang kakek tercinta. Tuan Sudrajat Gunawan, sang pemilik sekaligus Direktur Utama perusahaan ojek online terbesar di Indonesia. Dan perusahaan itu akan segera diwariskan kepada Arjuna dengan segera.

__ADS_1


Entah bagaimana nanti, reaksi sang ayah tercinta, ketika mengetahui anaknya memiliki perusahaan besar dari keluarga Sudrajat. Karena yang ayahnya tau, ibunya Arjuna hanyalah seorang gadis desa biasa, yang luntang-lantung dijalanan ibu kota.


Sandiaga menikahi Ibu Arjuna karena mereka berdua memang saling suka. Namun, setelah Ibu Arjuna mengandung Arjuna, Sandiaga malah berpaling dan berselingkuh di belakang Ibu Arjuna.


Arjuna sudah siap dengan style casual dan cukup elegan, ia keluar dari dalam kontrakannya. Bang Dimas yang baru saja pulang dari lembur, nampak terheran-heran oleh perilaku Arjuna yang kini seperti bos besar. Bang Dimas yang penasaran itu pun, segera menghampiri Arjuna di kontrakannya. Yang ternyata, sebentar lagi mereka berdua akan berangkat pergi.


"Arjuna, ente mau ke mana?" sahut Bang Dimas, yang begitu penasaran.


Arjuna menoleh, dan melihat ke arah Bang Dimas.


"Juna mau ke rumah kakek Bang, Bang Dimas mau ikut juga?," tanya balik Arjuna pada Bang Dimas.


Bang Dimas pun mengileng-gelengkan pelan kepalanya. "Nggak usah,Jun. Abang baru aja pulang kerja. Abang capek mau istirahat, ente hati-hati ya. Marsel, jagain nih adek abang. Jangan sampai lalai menjalankan tugas, apelagi sampae buat adek abang kenape-kenape. Awas aja, kalau Juna kenape-kenape. Ente yang bakal kena hajar sama Ane!,"ancaman Bang Dimas.


Marsel kembali menelan salivanya, ternyata Arjuna dilindungi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya. Mungkin karena kebaikan Arjuna juga, orang-orang tersebut balik melindungi Arjuna.


Marsel mengganggu pelan, "Siap Bang!," sahutnya. Mereka berpisah pada malam itu juga, Arjuna tidak tahu, jika ini adalah malam terakhirnya ia dikontrakkan sederhananya.


Karena, jika sudah pulang ke rumah besar, Arjuna tidak akan diperbolehkan untuk pergi lagi. Marsel membukakan pintu untuk Arjuna, dengan senang hati melayani sang bos mudanya itu. Arjuna masuk ke dalam, dan disusul oleh Marsel.


Marcel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak seperti kesurupan lagi seperti pagi, dan juga saat akan kembali ke perusahaan Arjuna. Marsel yang sangat penasaran, dengan apa yang akan dikatakan oleh Arjuna saat ia bersama sang kakeknya nanti pun, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada bos mudanya itu.


"Bos muda, apa yang akan bos muda katakan, dan rencana seperti apa yang akan bos muda lakukan nanti?." Tanya Marcel dengan penuh penasaran, Arjuna yang terfokus pada jalanan itu pun mengalihkan pandangannya ke Marsel.


Ia tepat berada di depannya, yang saat ini tengah menyetir mobilnya. Arjunatersenyum, dan menjawab. "Kau nanti juga akan tahu sendiri, aku akan memberikan pelajaran yang setimpal pada Pak tua itu, dengan memanfaatkan harta kekayaan dari kakek Gunawan," jawab Arjuna.

__ADS_1


Ia tersenyum dan kembali memperhatikan jalanan sekitar, tanpa memperdulikan Marsel lagi. Sedangkan Marsel yang masih penasaran, ia sudah tidak sabar lagi, untuk mengetahui apa yang akan Arjuna rencanakan selanjutnya.


...TO BE CONTINUE ...


__ADS_2