
Arjuna menghampiri istrinya tersebut, ia sudah mengambil kunci hotel dari Arjuna. Kunci hotel yang seharusnya Arjuna bawa, akan tetapi Bela sendiri yang telah mengambilnya dan membuka pintu hotel tersebut. Bela tertidur membelakangi Arjuna, sepertinya ia sudah sangat lelah akan hari ini.
Arjuna memeluk istrinya dari belakang. "Sayang... Kau tidak mau makan nasi dulu?" tanya Arjuna, spontan ada Bella pun mengganggu. "Kenapa? ayo makan dulu, kau harus makan nasi," gerutu Arjuna.
Bela bangkit dari tidurnya, dan melihat sang suami yang sedari tadi terus-terusan merengek seperti bayi besar kepadanya.
Aku kan sudah bilang, aku tidak mau makan!" tegas Bela, dan dengan spontan Bela segera menutup mulutnya dengan Kedua telapak tangannya itu.
Seharusnya ia harus sopan dengan Arjuna, walaupun tidak ada rasa cinta sekalipun. Tapi karena pernikahan ini juga, bisa membuat Sandiaga sang ayah bisa kembali lagi tinggal di rumah mewah, dan berhasil melunasi hutang-hutang sang ayah juga tentunya.
"Kau sudah berani kepadaku, Bela?" cetus Arjuna, ia kesal dan akan segera pergi meninggalkan Bela.
Arjuna pergi ke kamar mandi, entahlah ia sedang melakukan apa yang pasti ia mengurung dirinya di kamar mandi. Bela menepuk pelan keningnya, seharusnya ia tidak mengatakan hal bodoh seperti itu yang membuat suaminya sakit hati.
"Apa yang sudah aku lakukan, jika ia sudah marah begini aku harus bagaimana? berpikirlah Bela, karenanya juga kan Papi bisa tinggal di rumah mewah itu lagi, dan karenanya juga ia melunasi hutang-hutang Papi..."
Arabela segera turun dari ranjangnya, dia berharap Arjuna tidak akan marah padanya.
Dengan penuh keberanian yang hanya sebesar biji kacang, Bela mengetuk pintu kamar mandi Arjuna.
Tok… Tok… Tok…
“Mas… Mas El…” lirih Bela, ia mencoba membuat Juna luluh.
“Maaf, jangan mengiring diri di kamar mandi. Aku salah karena telah berbicara menggunakan nada tinggi terhadapmu…”
Namun sayang, Juna tidak keluar sedari tadi ia hanya mendengar suara keran air menyala saja.
“Ada apa dengan mas… oh tidak, apa mas el… tidak-tidak, tidak mungkin ia melakukan hal bodh semacam itu!”
Pikirannya tak bisa berpikir dengan jernih, Bela menggedor-gedor pintu itu dengan kencang. Masa bodo jika berisik, karena sedari tadi Arjuna tidak meresponnya.
“MAS… MAS EL, BUKA!!!! MAS BUKA, ATAU AKU DOBRAK!” teriakan Bela terdengar begitu nyaring, ia siap mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu.
__ADS_1
Walaupun ia sendiri juga tak yakin jika bisa melakukannya, tapi ia sudah bertekat untuk mendobraknya sekarang juga dengan tenaganya sendiri.
“Satu… dua… ti-“
Hampir saja tubuh mungilnya itu menobrak badan kekar sang suami, arjuna keluar dengan baju yang terganti ia tak tahu jika sedari tadi istrinya itu menyahutinya.
“Bela, kenapa kau? Apa kau benar-benar sakit?” tanya arjuna
Pipi Bela tersipu malu, ia tak menyangka jika akan melakukan hal bodh seperti ini.
“Hm, itu. Mas el sedari tadi aku sahuti tidak menyahut. Aku takut tekah terjadi apa-apa pada mas el, maka dari itu aku ingin Mas El keluar dengan menobrak pintu toilet ini.” Jelas Bela, agar tidak ada kesalah pahaman diantara mereka berdua.
“Oh, aku tidak mendengarmu Bela. Karena kamar mandi itu kedap suara, jadi percuma saja kau memanggilku sedari tadi.”
Bela terdiam, sepertiny ia benar-benar malu untuk kali ini.
“Hm, aku tidak tahu mas. Karena aku juga mendengarkeran air menyala, mas sedang apa tadi?"
“Mandi dan mengganti bajuku juga, ayo kita tidur. Aku sudah sangat lelah untuk hari ini, dan jika perlu jangan ingat hari ini.” Pinta arjuna, ia juga berharap jika Bela tak memperpanjang masalah ini kedepannya.
Sejujurnya, ia masih ingin berada jauh dari sang kakek dan juga ayahnya itu. Tapi jika Bela tetap ingin pergi pulang, mau bagaimana lagi selain menurut.
“Kau maunya kapan sayang? Jika mau, besok pun kita pulang ke rumahh besr bukan rumah mewah. Kau mau kan? Kasihan jika kakek sendiri saja, papi masih bisa melakukan apa-apa sendirian.” Jelas Juna, Bela seenarnya ingin pulang tapi ia tak tahu jika ini akan menjadi malam terakhirnya.
“Hmmm, besok bagaimana?” tanya Bela untuk memastikan
“Its okey, berarti ini adalah malam terakhir kita di sini.”
Juna mengajak istrinya itu berjalan menuju tempat tidur, dan membaringkan tubuh istri kecilnya.
“One night with my wife. Baby, I love you…”
Ucapan Arjuna memuat Arabela tersipu malu, dan membut pipinya merah merona. Kenapa Arjuna mengeluarkan jurus mautnya, apa yang sebenarnya ia inginkan dari Bela.
__ADS_1
“Mari kita memulai kisah ini dengan cinta, Arabela Nacha.”
Sepasang pasutri yang sedang jatuh cinta dalam lubang hitam itu sama-sama mulai terlena. Juna lupa jika Bela hanyalah alat untuknya memalaskan dendam, bukan untuk menjadi teman sehidup sematinya.
“Dengan ini, kau pasti tidak akan pergi manjauh lagi dariku Bela. Aku akan selalu membuatmu menderita, kau harus merasakanapa yang telah ibuku rasakan!” batin Arjuna.
Penyatuan keduanya menjadi percikan gelora cinta, entah itu Juna atau Bela. Tapi sayangnya mungkin hanya Bela seorang, karena juna hanya berdasarkan balas dendam tidak murni cinta yang sebenarnya.
Keesokan harinya, Juna terbangun terlebih dulu dari Bela. Ia mendapati dirinya sedang memeluk Bela, spontan Arjuna melepaskan pelukannya itu dengan kasar. Andai saja ia tak melakukan hal bodoh seperti ini, karena goncangan gelora di dalam dirinya menggebu-gebu.
Dengan kasar Arjuna melepaskan pelukan tersebut. “Cih, andai saja aku menikahimu karena tidak keterpaksaan. Aku tidak sudi memiliki istri sepertimu, dasar wanita sialan!”
Arjuna pergi ke kamar mandi, ia pergi tanpa sehelai benang pun masuk ke dalam kamar mandi. Entah bagaimana diantara mereka, hanya mereka berdua yang tahu.
Hari itu juga mereka akan pergi, tapi tidak untuk Bela yang tidak bersemangat.
“Kenapa sayang? Masih sakit?” tanya Juna
Bisa tidak sih Juna tida usah membahas yang semalam, itu hanya akan membuat Bela malu dihadapan Juna.
“Hm, iya.”
Juna tersenyum, ia mencium kening istrinya itu dengan penuh rasa cinta.
“Apa kita tunda saja kepulangan kita, hmmm?” tanya Juna
Bela spontan menggelengkan pelan kepalanya. “Tidak usah, aku ingin pulang sekarang mas…’’
“Ya sudah, aku akan mengabari pak Samin agar menyiapkan kamar untuk kita berdua.” Juna melepaskan pelukan untuk Bela, tak ingin berlama-lama untuk berbulan madu dan mereka berdua akan segera pulang.
Arjuna menghubungi Marsel, ia memberitahukan sekretarisnya itu karena akan segera kembali lagi ke perusahaan. Sedangkan Bela nampak begitu lesu, bagaimana ia bisa bertahan kedepannya dengan pernikahan yang mengikatnya ini.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
AUTHOR : “Untuk MP babang Juna dan neneng bela mendingan kalian pikirin sendiri aja, othor gak mau nanggung dosa jariyah ente semua;v”