Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Arabela Tau?


__ADS_3

Tenggelam dalam sendu, menenggelamkan hati yang tak karuan. Hanya rindu yang bisa membuatnya menjadi gurauan.


Malam itu, Bela terjaga dalam tidurnya. Ia takut, jika Arjuna malam ini akan kembali datang lagi ke kamarnya. Namun kenyataannya, Arjuna sampai larut malam tidak datang ke kamar Arabela. Ia pun bingung, mungkin karena Arjunalelah dan juga tadi Arjuna pulang sedikit larut diantar oleh Mamat.


“Dia kenapa? Bukankah dia selalu usil padaku?”


Ia pikir, Arjuna sudah tidak jahil lagi. Tapi, bukanlah Arjuna jika tidak memainkan dendamnya dengan begitu sempurna. Paginya, bagaikan pasangan suami istri yang seperti biasanya Arjuna mencium kening Bela dan memberikanya cinta.


Siang harinya, saat Bela hendak akan ke tempat proyek itu ia harus berjalan kaki jauhnya. Karena tidak ada transportasi yang bisa ia pakai, sedang Arjuna berangkat dengan dijemput oleh Rahmat. Terik matahari yang begitu panas, tidak membuat hati Bela gentar untuk mengantarkan makan siang untuk Arjuna.


Drt… Drt… Drt…


Ponsel  Bela bergetar, ia spontan mengambil ponselnya dan melihat siapa itu.


“Mami?” gumam Bela.


Bela mengklik apa yang Naracha kirimkan lewat pesan WhatsApp nya, ada rasa terkejut dihatinya akan sang bunda yang kini telah kembali lagi.


Pesan dari Naracha.


‘Bela, how are you? Mami sangat merindukanmu, apa kamu tidak mau bertemu dengan grandpa mu di London? Mami akan menjemputmu jika kau mau, mami ada di Apartemen xxx.’


Begitulah pesan singkat yang ibunya kirimkan, tapi Bela tak ingin ambil pusing itu karena ia langsung menutup kembali layar ponselnya.


Bela menghela napasnya dengan panjang. “Hossst, apa ini? Mami datang di saat papi sudah mulai berjaya kembali.” Ucap Bela, ia tetap berjalan sambil membawa rantang untuk Aruna.


Tapi inilah yang akan ditakuti oleh Afriska, ia seperti bermain kucing-kucingan dengan Bela jika bersama Arjuna. Bela datang ke proyek pembangunan, ia tak peduli akan kulitnya yang nanti akan menggelap. Rahmat si mandor menghampiri Bela yang ada ditepi gerbang, ia tentu sangat antusias melihat keakraban saudara tiri yang padahal adalah suami istri tersebut.


“Eh, si neng cantik ke sini lagi. Pasti nyari aa kasep itu nya?” ucap si bibi yang punya warung kemarin.


Arabela tersenyum dan mengangguk pelan. “Iya, bu. Ini mau anterin makanan buang aa Juna.” Sahut Bela, meskipun ia sedikit canggung untuk mengatakannya.


“Euleuh, sok atuh masuk aja. Toh, neng kan adiknya. Bi Indah mau anter kopi dulu, sok masuk aja atuh neng geulis.” Titah si bibi, yang ternyata namanya adalah bi Indah.

__ADS_1


“Iya bi.”


Mereka berdua berpisah berlawanan arah. Mamat si Rahmat menghampiri Bela yang akan datang menghampiri Arjuna, bisa gawat jika Bela tau ada Afriska juga di sana.


“Non, nona muda. Tuan muda bos lagi makan, dia juga lagi engga mau diganggu. Nona muda jangan mendatanginya ya, kasihan dia lagi pusing mikirin proyek…”


Bela terdiam, ada apa ini. Apa Arujuna tidak mau menemuinya, atau ia memang benar-benar sedang tidak mau diganggu.


“Mat, tolong bilang sama mas Juna ya. Saya ke sini bawa makan siang, dia pasti suka dan suasana hatinya membaik.” Ungkap Bela, Rahmat hanya menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, Arjuna menitip pesan padanya jika Arjuna tidak ingin diganggu ketika Afriska ada.


“Anu, nona. Tuan bos sudah makan tadi, itu akan tetap mubaz-ir…”


Tidak peduli dengan ocehan Rahmat, Bela berjalan sambil membawa rantang yang berisikan masakannya itu. Tapi syukurlah, Rahmat segera menghalangi Bela dan membawanya keluar dari dalam area gedung yang setengah jadi itu.


“Aduh, non! Saya anterin pulang aja ya, jangan gangguin tuan bos dong. Nanti saya juga kan yang bakal kena marahnya!”


Tidak sopan memang, namun inilah yang terbaik untuk Rahmat lakukan. Arjuna meminta Rahmat untuk tidak ada satu orangpun yang tau termasuk Bela, tentang hubungannya dengan Afriska. Rahmat pun sebenarnya tidak tahu, jika ini adalah hubungan terlarang.


“Kenapa? Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan?” tanya Bela yang penuh penasaran.


Rahmat menggantungkan perkataannya, sedangkan Bela menyipitkan matanya dan melihat Arjuna yang tengah berjalan dengan wanita lain di sininya. Tanpa Juna sadari, jika Bela sudah melihat keakraban ia dengan Afriska. Rahmat segera menghalangi pandangan Arabela, ia tak ingin adik dari  tuan mudanya itu mengetahui jika Arjuna memiliki kekasih.


“Apa itu kekasih mas Juna, sepertinya mereka sangat akrab sekali.” Tutur Bela, spontan Rahmat menggelengkan pelan kepalanya dan segera menyuruh Bela pergi.


“Tidak! Itu tidak benar” ungkap Rahmat


“Ayolah  jujur padaku, Mat. Aku tidak akan membocorkannya, apa mas Juna takut jika aku tahu dan memberitahu ayah?” tanya Bela yang ngasal.


“Heem, iya non. Tuan bos takut anda tau dan mengatakannya ke tuan besar.”


Bagaikan tersayat-sayat hatinya, ketika mendengar kenyataan yang membuatnya amat begitu sakit. Sekuat tenaga Bela membendung air matanya, ia tak ingin menangisi pria yang memang seharusnya tak menjadi miliknya.


“Oh, kalau begitu sudahlah. Kau juga jangan beritahu mas Juna jika aku sudah tau, dan aku juga tidak akan mengatakan pada ayah . Toh, mas Juna juga sudah seharusnya memiliki kekasih.”

__ADS_1


“Oh, jadi wanita itu adalah kekasihnya ya. Sejak kapan mereka menjalin hubungan, aku jadi penasaran.”


Sekitar jam 2 siang ia sampai di Vila, sayang sekali karena Arjuna tidak memakannya. Bela melihat ada 2 anak lelaki sedang memulung, sepertinya kakak dan adik. Akhirnya ia memiliki mangsa untuk ia berikan nasi ini untuk mereka berdua, nampaknya mereka memang sangat tidak terurus.


“Kalian, kalian berdua sedang mencari apa?” tanya Bela, si kakak menoleh pada Bela dan menjawab.


“Botol aqua sareng kardus, teh. Lumayan bisa dijual, duitna bisa jeng meser dahar.” Ucapnya, Bela tentu saja tidak mengerti apa yang ia ucapkan.


“Maaf, apa apa kamu bisa ulangi dengan bahasa indonesia? Aku tidak paham apa yang kamu ucapkan tadi…”


Kedua anak lelaki yang mengoreh-ngoreh tong sampah pun saling menatap, lalu mereka tertawa.


“Hahaha” gelak tawa mereka berdua.


“Maaf, teh. Artinya teh, kami sedang nyari  botol aqua sama kardus untuk dijual, lumayan uangnya bisa buat makan. Itu artinya teh, teteth pasti bule ya? Soalnya cantik banget.” Ucapnya


“Bukan aa, dia orang kota…” sahut sang adik, tak mau kalah dari sang kakak.


“Aah, sarua wae.” Celetuk sang kakak, Bela sedikit terhibur mereka berdua cukup lucu bagi Bela.


“Sudah jangan bertengkar, kalian mau makanan engga? Ini aku yang buat, tadinya buat suami aku sih. Tapi dia sudah makan katanya, daripada mubazir lebih baik kalian bawa pulang saja. Aku juga masih ada di dalam, kalau itu kurang akan aku berikan lagi.” Sahut Bela, sang adik sangat antusias untuk menerimanya mungkin karena ia sangat lapar.


“Tong gegabah, mun si teteh eta jail kumaha? Urang kudu tetep waspada, zidan…” bisik si kakak


‘Jangan gegabag, bagaimana jika si kakak itu ternyata jail?’


“Atuh a, zidan hoyong mam.”


‘Yah kak, zidan mau makan.’


Bela jelas tak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan, tapi Bela paham dari raut wajah sang kakak yang terus berwaspada. Secara, Bela memanglah orang asing bagi mereka berdua.


“Makan aja, makanannya aman kok. Bentar kakak mau ambil minum dulu di dalam, kalian makan aja di bawah pohon itu.” Ungkap Bela, saat Bela hendak akan masuk kembali ke dalam vila untuk mengambil minum.

__ADS_1


Si kakak malah mngambil rantang makan yang sudah dipegang oleh sang adik,melihat mereka berdua yang rebutan makan Bela merasa sangat iba. Beruntung waktu kecil ia tak seperti itu, tapi tidak tau jika dengan Arjuna.


BERSAMBUNG


__ADS_2