Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Telepon Ayah


__ADS_3

Arjuna pulang ke rumah besar, ia sangat di sambut hangat dan antusias oleh kakek Gunawan. Dan kakek Gunawan yang mengetahui cucu kesayangan dan istrinya itu akan pulang, ia akhirnya bisa tenang akan Bela yang akan tinggal menetap di rumah besar.


“Selamat datang kembali ke rumah besar tuan muda Arjuna, tuan besar sudah menunggu anda.” Sapa pak samin yang menyambutarjuna dan juga Arabela.


“Hm, di mana kakek?” tanya Arjuna yang mencari sang kakek.


“Di sini, kau akhirnya pulang juga.”


Arjuna mencium tangan kakek Gunawan, diikuti dengan Arabela juga. Ia tersenyum melihat kakek Gunawan, begitu juga dengan kakek.


“Juna, beristirahatlah dulu. Kakek tahu kau pasti lelah, dan juga kembalilah ke perusahaan lusa nanti. Kakek merasa kasihan pada Marsel yang terus menghandle perusahaanmu,” ungkap kakek Gunawan ia juga ingin jika Arjuna segera kembali bekerja.


Arjuna mengangguk pelan, “Baik kek, Juna akan kembali bekerja besok juga.” Kakek mengangguk, itu akan lebih baik dibandingkan Arjuna dengan terus menerus berbuat jahat pada Bela.


“Dan kau, Bela. Kau ikutlah bekerja juga, atau tetap di sini tenami kakek’’ ucap kakek Gunawan


“Aku ingin bekerja, kek. Di perusahaan ayah atau mas Elgara, aku-“


“Tidak boleh! kau tidak boleh bekerja, bagaimana jika terjadi sesuatu di kantor yang akan membuatmu pusing!” cegah Arjuna, ia tak mungkin mempekerjakan istrinya di perusahaannya sendiri.


“Tidak apa-apa, mas”


“Tetap tidak boleh, bagaimana jika nanti isa mempengaruhi kandunganmu!?”


Semuanya nampak terkejut, begitu juga dengan pak Samin yang ada di sana menemani kakek Gunawan. Tak bisa dibayangkan, padahal mereka baru saja menikah kemarin. Bagaimana bisa Bela bisa langsung hamil, kecuali…


“Juna, kakek takut jika Bela akan kenapa-kenapa nantinya. Kalau bagitu, Bela tetaplah di rumah besar merawat kakek.” Ungkap sang kakek, ia tahu betul akan rencana yang cucunya mainkan itu.


“Hmmm, baik kek” beo Bela


“Ya sudahlah, kalian berdua masuk dan istirahatlah di kamar. Kalian jika lapar makanan sudah disediakan,” ucap kakek Gunawan, yang beri anggukan oleh Arjuna. “Iya, kek. Kami masuk dulu, ingin beristirahat sebentar.”


Juna masuk, ia dikuti oleh Bela dari belakang.

__ADS_1


Satu minggu berlalu, setelah melewati minggu pertama dengan Arjuna suaminya membuat Bela baik-baik saja sejauh ini. Ia bersikap seperti istri pada umumnya, hanya saja Bela masih khawatir akan Juna yang suatu saat nanti memang benar-benar mempermainkannya.


Arjuna tengah membereskan sisa-sisa pekerjaannya, yang sempat dihandle oleh Marsel beberapa waktu yang lalu. Ia mempersiapkan dan mempertimbangkannya baik-baik, sebelum mengambil keputusan yang akan ia buat.


“Marsel, bagaimana dengan perkembangan proyek kita?” tanya Arjuna sekretaris sekaligus asistennya itu.


“Aman bos muda,”


“Hm, baguslah. Kita akan pergi lusa, bagaimana kau bisa kan mempersiapkan semuanya?” tanya Arjuna, Marsel mengangguk pelan. “Baik, sesuai perinta bos muda. Apa, ibu bos juga akan ikut?” tanya balik Marsel.


“Iya, tidak terasa ternyata sudah satu minggu aku menjalani pernikahan ini. Walaupun kita tida satu nasab, dan juga aku tidak tahu siapa orang tua seenarnya Bela.”


Marsel terkejut, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Yang ia tahu, jika Bela adalah adik tiri dari Arjuna. Sampai Arjuna kini berani angkat bicara tentang istrinya itu, tentu akan nbertambah misteri bagi mereka berdua tentang hubungan yang begitu eumit ini.


“Aih, kenapa penulis begitu membuat kisah bos muda yang sangat rumit. Maaf, aku tidak bisa membantumu bos muda…” lirih Marsel, Arjuna melirik Marsel dan melihat ketulusan sekretaris dan asistennya itu.


Juna tersenyum, ia tidak salah menjadikan Marsel menjadi kaki tangannya.


“Baik, bos muda. Saya permisi,” pamit Marsel. “Hm, pergilah.”


Arjuna begitu serius melihat dilayar monitornya, ia membaca berita terkini akan BBM yang semakin naik kian tahunnya. Bagaimana ia tidak pusing, secara ia memiliki perusahaan transportasi yang harus ia kelola. Jika bahan bakar naik, bagaimana dengan nasib para pegawainya yang berprofesi sebagai ojek online.


“Apakah pemerintah ingin bermain api denganku? Atau, ini adalah suatu kerja sama dengan perusahaan bahan bakar.” Gumam Juna, ia begitu menanggapi serius masalah yang satu ini.


Karena ia memiliki sekitar tiga ribu empat ratus lima puluh driver ojek online, jika bahan bakar naik itu akan mempengaruhi pendapatan driver ojol.


Drt… Drt… Drt…


Di saat Arjuna tengah terfokus pada pekerjaan dan berita terkini, Sandiaga sang ayah idaman meneleponnya. Arjuna pun segera mencari ponselnya yang ia letakan entah dimana, sampai ia menemukannya dan melihat siapa yang meneleponnya.


Tertulis ‘Suaminya Bunda’ itulah yang Arjuna berikan pada nomer kontak Sandi, ayahnya sendiri.


“Ayah? Ada apa ayah meneleponku?”

__ADS_1


Karena penasaran. Arjuna pun segera menjawab panggilan via telepon itu.


Arjuna : “Halo, assalamualaikum”


Salam Arjuna, ia menaruh ponselnya ditelinganya dengan dimpitkan ke bahunya.


Sandiaga : “Waalaikumussalam, Juna. Apa Bela bersamamu? Ayah ingin meneleponnya tidak bisa, apa ia baik-baik saja?”


Arjuna malas sekali berbicara pada ayahnya itu, kenapa ia begitu peduli pada Arabela yang bukan anak kandungnya sendiri. Sedangkan Arjuna begitu sering Sandi campakan, sebenarnya siapa yang anak tiri?


Arjuna : “Aku tidak tahu, ayah. Mungkin ponselnya low, atau ia sedang shopping keluar”


Sandiaga : “Ayah khawatir, Juna… Ibunya kembali lagi ke Indonesia, ayah takut jika ia akan memanfaatkan Bela. Kau sendiri tahu kan, bagaimana serakahnya Naracha?”


Arjuna memutar malas bola matanya, karena Naracha juga menyebabkan keluarga Arjuna hancur.


Arjuna : “Itu bagus untuk ayah bukan? Bukannya ayah begitu mencintainya, jika ia berani menyakiti Bela sedikit pun. Aku yang akan membuatnya hancur sehancur-hancurnya, tenang saja ayah.”


Sandi tersenyum, sepertinya Arjuna memang mencintai putri angkat yang ia sayangi itu. Maka ia tak perlu lagi khawatir, akan keselamatan Arabela.


Sandiaga : “Ayah percaya, datanglah ke rumah bersama Bela. Ayah merindukan kalian berdua, setelah pernikahan kalian ayah belum bertemu lagi dengan Arabela.”


Arjuna : “Ayah, aku sibuk. Nanti saja setelah aku beres bekerja, karena lusa aku akan berangkat ke bandung membawa Bela. Ayah tau kan, pasutri baru itu bagaimana?”


Sandiaga tersipu malu, ia tak menyangka jika anaknya akan sejauh ini. Akan tetapi, ada rasa tenang dihatinya tentang Bela yang dicintai oleh Arjuna. Sayangnya, Sandi tidak tahu jika ini adalah tipu muslihat dari anaknya sendiri.


Sandiaga : “Hm, ya sudah. Ayah tutup dulu, ayah takut jika ayah menganggumu sedang bekerja.” Pamit Sandi, ia menutup panggilan telepon tanpa salam.


Arjuna hanya mengehla berat napasnya. “Ayah memang sudah menggangguku sedari tadi,” dengus kesal Arjuna.


Akhirnya ia pun kembali pada pekerjaannya lagi, dan membereskan beberapa pekerjaan yang ia tunda tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2