Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Anak Yang Tak Dianggap


__ADS_3

Follow instagram author : @stmaemunahsr


.........


...HAPPY READING...


Sandiaga sudah menunggu mereka dilantai bawah, dengan wajah yang memelas, Naracha memanggil nama suaminya tersebut dengan panggilan 'sayang'


"Sayang" sahutnya.


Sandiaga yang sedang terfokus pada ponselnya pun memalingkan wajahnya, ia tersenyum pada dua wanita yang begitu Sandi cintai.


"Sayang, aku ada urusan dengan Princess, kau tidak keberatankan jika aku minta kau pergi sebentar?" tanya Sandiaga dengan penuh harapan.


"Heem, tentu tidak apa-apa sayang" jawabnya.


Naracha pergi meninggalkan mereka berdua, sebelum itu ia mengelus pundak putrinya dulu. Ia mengode, semua akan baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lalu ia berlalu pergi naik ke atas anak tangga, untuk pergi ke kamarnya.


"Princess papi, duduklah di samping papi, ada yang ingin papi katakan padamu" ungkap Sandi


"Baik pi"


Bela duduk di samping ayahnya, televisi yang masih menyala itu pun sedikit Sandi kecilkan volumenya.


"Ada apa pi? memanggil Bela malam-malam begini?" tanya Bela penuh penasaran


"Jadi gini, Bel. Kamu kan tahu, anak papi cuma kamu seorang, papi mau kamu belajar bisnis agar nantinya perusahaan papi biar kamu yang pegang" jawab Sandi


"Kenapa harus Bela, pi? Bela enggak ada bakat buat jadi pebisnis. Lagi pula Bela tidak suka bisnis pi, itu hanya akan membuat otak Bela pusing" keluh Bela


"Bel, papi enggak tahu umur papi masih panjang atau bentar lagi. Kalo semisalnya nanti papi pergi kamu gimana? kamu mau ya, urus perusahaan papi"


"Tapi pi-"


"BELA!"


Bela terdiam mendengar sentakan dari sang ayah, ia tak pernah melihat ayahnya marah apa lagi sampai berbicara dengan nada tinggi seperti itu.

__ADS_1


"Maaf, Bel. Tapi kamu harus belajar memahami, kamu sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri. Pikirkanlah ketika papi mendadak pergi, siapa nanti yang meneruskan warisan? tentunya hanya kamu seorang." Ucap Sandi tanpa dosa.


Sandiaga tidak memikirkan Arjuna, ia tidak pernah berbelas kasih atau pun menganggap Arjuna sebagau anaknya. Walaupun Sandiaga juga tau, Arjuna adalah putra kandungnya, tapi ia tidak pernah mau mengakui Arjuna sebagai anaknya.


"Maaf pi, Bela yang salah... Kalau gitu, kapan kita belajar bisnisnya?" tanya Bela pada sang ayah


"Kamu kan sudah menempuh pendidikan S1 di amsterdam, belanda. Kamu hanya tinggal praktek apa saja yang sudah kamu pelajari di sana."


Bela terdiam, bagaimana ia mengatakan pada Sandi bahwa Bela sering tidak masuk kuliah. Karena bisnis bukanlah minat yang Bela mau, ia hanya mengikuti apa yang kedua orang tuanya perintahkan.


"Iya pi" sahut Bela


"Ya sudah, Bel. Kita bicarakannya lagi besok pagi saja, hari sudah malam, sebaiknya kamu tidur karena besok kita akan ke perusahaan papi" ucap Sandi.


Bela mengangguk dan lekas berdiri. "Pi, Bela balik lagi ke kamar ya"


"Ya sudah, tidur yang nyenyak ya tuan putrinya papi."


Sandiaga berdiri, dan mengecup kening putri semata wayangnya tersebut dengan penuh kasih sayang. Sangat berbanding terbalik dengan perilaku Sandi pada Arjuna, sangat jauh dan tidak bisa dapat dimaafkan.


...***...


Setelah mengantarkan Mbak Juli, Bang Dimas menghampiri Arjuna yang masih bersantai di teras kontrakannya.


"Tong, ente kenapa masih dimari? Enggak masuk ke dalem aje?" tanya Bang Dimas.


Arjuna melirik Bang Dimas. "Belum bang, angin malem sejuk juga ya" jawab Arjuna.


Dimas duduk di samping Arjuna, dan ia menyandarkan punggungnya ke tembok kontrakan yang sudah sedikit pecah-pecah.


"Besok kite kan mau pergi, ente tidur gih. Udah jam 1 pagi ini"


"Iya bang, mbak juli udah pulang sampai rumah?" tanya Arjuna


"Iya udah, Jun. Abanh Mau ke kontrakan abang dulu ya, soalnya besok abang sift pagi." Ucap Bang Dimas, ia berdiri dan pergi ke kontrakannya.


"Hati-hati bang" sahut Arjuna yang hanya dibalas dehemaan saja dari Bang Dimas.

__ADS_1


Arjuna menghela nafasnya, ia kembali meliihat jam pada ponselnya yang ternyata sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Arjuna pun segera masuk, dengan menjijit-jinjit kakinya yang masih terasa nyeri.


"Si Bela bener-bener! awas aja kalo sampai ketemu lagi!" gumam Arjuna pada dirinya sendiri.


Arjuna jengkel pada Bela, bukan hanya ia adalah saudari tirinya Arjuna. Akan tetapi karena perilaku Bela yang membuatnya kesal, sudah tenang Arjuna hidup di indonesia, tapi kenapa Bela harus kembali lagi.


Itu hanya akan menambah sakit Arjuna, andaikan Arjuna bisa mengungkap identitas aslinya. Entah bagaimana nanti reaksi Sandi, ketika ia tahu putra satu-satunya yang selalu ia campakkan, ternyata sudah sukses di depannya tanpa ia ketahui.


Sejenak Arjuna melihat foto mendiang ibunya yang terpajang ditembok kontakannya. Arjuna tersenyum, setidaknya ia masih punya 1 semangat untuknya agar tetap tegar menghadapi perihnya hidup.


"Bu, ibu yang tenang ya di atas sana. Juna disini baik-baik aja kok, cuma emang ada beberapa orang yang buat Juna jengkel Bu." gumam Arjuna sambil menatap foto mendiang ibunya tersebut.


Arjuna masuk ke dalam kamarnya, ia membaringkan tubuhnya yang sangat terasa nyeri. Hal itulah yang tidak bisa membuat Arjuna tidur, dengan penuh paksaan ia memaksa menutup matanya dan mulai tidur secara pelan.


Dalam mimpinya, ia bertemu dengan sesosok putih cantik berambut panjang. Dia adalah ibunya Arjuna, Ita Kurniawati yang menjadi sosok pendukung dihidupnya.


"Bu... Ibu..." lirih Arjuna, ia berada di ujung sana.


"Bu, tungguin Juna!" teriaknya, Arjuna mengejar ibunya yang perlahan-lahan mulai pergi menjauh darinya.


Dengan sekuat tenaganya, Arjuna berlari mengejar ibunya yang semakin ia kejar semakin menjauh.


"Ibu, tunggu!"


Namun sangat disayangkan sekali, Ita sudah pergi tanpa melihat ke belakang bahwa ada putranya. Dengan perasaan yang sedih, Arjuna terbangun seketika itu juga. Perasaan sedihnya itu terbawa sampai ke alam nyatanya, Arjuna sangat sedih tidak bisa bertemu dengan ibunya.


"Ibu, Juna rindu ibu..." lirih Arjuna sambil melihat ke atas langit-langit atapnya.


Tanpa ia sadari, ia meneteskan cairan bening yang keluar dari matanya. Arjuna segera menghapusnya, dan memilih tertidur kembali.


Demi menikmati hari-harinya yang suram, Arjuna selalu tersenyum, dan menutup hatinya agar tetap kuat menahan perihnya hidup yang terkadang tak adil untuknya.


Di sisi lain juga, Arabela tak bisa tertidur karena terus memikirkan Arjuna. Entah karena tampan, atau masih ada rasa bersalah pada Arjuna. Hanya Bela sendirilah yang tau isi hatinya, biarkanlah waktu yang menjawabnya. Cepat atau lambat, kebenaran itu akan segera diketahui oleh Bela. Tentang siapa sebenarnya Arjuna, dan asal usul ibunya yang bisa menikah dengan ayah arjuna.


...BERSAMBUNG ...


Hai bubu, jangan lupa jaga kesehatan dan istirahat yang cukup. Bobo yang teratur ya bubu, see you dibab berikutnya 💚🐢

__ADS_1


__ADS_2