
Bak disambar oleh petir di siang bolong, mereka berdua terkejut bukan main. Ketika mengetahui Arjuna adalah putra mahkota keluarga Sudrajrat.
Naracha dan Sandi diam tak berkutik. Meminta pertolongan pada Arjuna pun, tidak akan membuahkan hasil. Karena ia pasti sangat enggan untuk membantu ayahnya tersebut.
''Sampai kapan kita begini?'' tanya Naracha pada Sandi,
''Entahah, mungkin sampai kita kehilangan semuanya Nara'' sahutnya.
Tak ingin kehiangan harta berharga miliknya, Naracha keukeuh tidak mau menjual barang-barang mewahnya. Sebenarnya ia bisa saja mengatakan yang sebenarnya pada Sandi, jika Arabela bukanlah putri kandungnya.
''Sial, anak haram itu ternyata cicit dari pengusaha Sugih. Kalau tau dari awal, aku tidak usah repot-repot menjadi peakor dikeluarganya!'' cetus Naracha dibatinnya.
"Apa kau sudah menemui putramu sebelumnya, Sandi?" tanyanya lagi.
Sandi pun hanya menggelengkan kepalanya. ''Tidak, aku menghentikan niatku untuk menemuinya. Kau tau sendiri kan, jika aku sudah menjauhinya saat ia ditinggal mati oleh ibunya'' tutur Sandi, ia duduk dikursi kebanggannya yang besar itu.
Naracha pergi menghampiri suaminya yang sedang putus asa itu. Ia sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih, otak Sandiaga dipenuhi oleh nama Arjuna.
''Sayang, kalau begitu. Datangah ke perusahaan putramu, ajak ia sedikit bernegosiasi dengan meminta sedikit dana perusahaaya untuk melunasi hutangmu pada bank'' tutur Naracha, namun tak membuahkan hasil sama sekali.
Ia hanya menambah emosi suaminya itu naik, tak bisa ia hindari kekesalan suaminya tersebut. Sandiaga membentak Naracha yang sudah hilang aka pikirannya.
''Apa maksudmu! Apa kau tidak tau?! Aku menjauhinya demi kau! Bukankah kau takut jika ia akan mewarisi harta warisanku?!'' celuk Sandi yang kesal.
''Kau memarahiku, Sandi?!''
''Tidak!''
Pedebatan kecil diantara mereka terus terjadi, sampai akhirnya Arabela masuk ke dalam ruangan ayahnya itu.
''Pii, Mii!'' ucap Bela, namun saat ia datang ke ruangan ayahnya, ayah dan ibunya tengah memasang wajah yang masam.
Arabela pun terheran-heran dengan apa yang terjadi pada orang tuanya itu.
''Kalian kenapa?'' tanya Arabela, yang bingung ketika melihat raut wajah kedua orang tuanya.
Sandi dan Naracha terdiam, diantara mereka tidak ada yang mau membuka mulutnya. Arabela pun membuka mulutnya, ia juga menghampiri ayah dan ibunya itu.
''Pi, Mi. Kalian sudah lihat tv?'' tanya Arabela, sontak membuat keduanya kaget.
__ADS_1
Apakah Arabela sudah mengetahuinya, bahwa Arjuna adalah kakak tirinya.
''Kenapa? Apa kau sudah mengetahuinya?'' tanya Sandi yang penasaran.
Keringat dingin keluar dari bulu kuduknya, tak percaya jika Arabela mengetahui yang sebenarnya.
Arabela pun mengangguk. ''Heeem, iya. Dia pria yang aku ceritakan dulu itu ayah. Pria yang sangat menyebalkan.'' Celetuk Bela, ia tidak tau jika Arjuna adalah kakak tirinya.
''Ternyata, dia adalah tuan muda Elgara.'' Ungkapnya, mereka sedikit bernafas lega karena Bela tidak mengatakan tentang Arjuna adalah saudara tirinya.
''Pi, Mi. Kenapa kalin diam saja? Apa kalian berdua baik-baik saja?''
Sandi menjawab, ''Iya, kami baik-baik saja sayang. Kalian berdua pergilah dulu, sebentar lagi akan ada tamu masuk ke ruangan'' titahnya.
''Ya sudah, Pi. Ayo, Mi. Kita pulang saja, mood Bela sangat berantakkan sekali hari ini.'' Ajak Bela, Naracha pun mengangguk ia lebih baik pergi bersama Bela.
Bisa gawat jika Bela mengetahui semuanya, yang ada ia pasti akan diusir oleh Sandi dan dibenci oleh anak semata wayangnya ini.
''Iya, sayang. Bye papi'' sahut Naracha, tak lupa ia memberikan kecupan kecil dipipi sang suami.
Tak selang beberapa lama setelah Naracha dan Arabela pergi, pihak bank datang mendatangi Sandi untuk meminta penerangan kapan Sandi membayar.
Entah harus bagaimana ia bisa membereskan ini semua, ia sudah pasrah akan takdirnya.
.........
Siang itu, Arjuna, Marsel dan juga kakek pergi ke sebuah cafe milik Vito. Bukan tanpa alasan ia datang, Arjuna sengaja datang ke cafe hanya untuk bertemu dengan Riska, sang pujaan hatinya.
Afriska tersenyum pada Arjuna, namun Arjuna tetap so cool dihadapan Afriska. Padahal, hatinya ini sudah sangat berbunga-bunga.
''Selamat siang, mau pesan apa?'' tanyanya, Marsel dan Kakek nampak tengah memilih makanan yang ingin mereka pesan.
''Caramel milk tea 1, rice rich 2, coffe latte 1, dan banana stuft 2. Arjuna kau ingin apa?'' tanya Kakek gunawan.
Arjuna melirik sang kakek, ''Aku ingin nasi padang'' jawabnya.
Jujur saja, Arjuna tidak terlalu suka dengan makanan yang ada di cafe. Lidahnya lebih cocok dengan makanan pasaran dan tradisional.
''Kalau kau ingin itu, kenapa mengajak kami ke tempat ini!'' pekik kakek Gunawan, Arjuna hanya bisa memamerkan gigi putihnya itu.
__ADS_1
''Hehehe, aku pesan scarlet red velvet 1, dan greentea macha latte 1. Untuk makan beratnya aku pesan lewat driver saja, apakah boleh?'' tanya Arjun untuk memastikan.
''Tentu saja boleh pak, tunggu sebentar. Pesanan akan saya siapkan,'' ucapnya. Arjuna tersipu malu, ia menunggu salah satu driver food untuk mengantarkan nasi padangnya.
''Kau memesan apa divia online?'' tanya sang kakek.
''Seperti biasa, nasi padang kesukaanku Kek. Kakek mau juga?'' tanya balik Arjuna, Kakek Gunawan pun menggeengkan pelan kepalanya.
''Tidak perlu, ini saja sudah cukup'' jawabnya, Arjuna pun mengangguk pelan dan terfokus pada Marsel yang tengah asik dengan layar ponselnya.
''Marsel,'' sahut Arjuna
''Iya bos muda''
''Pulang nanti aku akan ke kontrakkan mengambil beberapa barang-barangku, kakek mau ikut juga tidak?'' tanya Arjuna
''Tidak, kakek tidak mau kelelahan. Kau pergi saja dengan Marsel, sore nanti tidak ada kegiatan apa pun'' tutur Kakek Gunawan,
''Itu benar, bos muda. Aku akan meminta Ageria untuk membantu kita, bos muda masih menyimpan kontaknya tidak?'' tanya Marsel, spontan Arjuna pun membuka kontak nomer diponselnya itu.
Ia mencari nama Alge, dan ternyata Arjuna masih menyimpan nomer Algeria. Tak lama dari itu, pesanan mereka datang dibawakan oleh Afriska.
''Ini pesanannya, pak.'' Sahut Riska, sambil menjajarkan pesanan dari mereka.
Tak lama dari itu jaga, pesanan nasi padang yang Arjuna pesan divia online juga datang. Tak perlu waktu yang lama menunggu, mungkin Arjuna adalah costumer prioritas dipara Yo-Je.
Nasi padang yang begitu menggugahkan selera, daun singkong dan bumbu rendang ayam menjadi alasan mengapa Arjuna sangat menyukainya nasi padang.
Tak tanggung-tanggung, Arjuna makan dengan tangan langsung dan berhasil membuat sang kakek dan bawahannya ngiler.
''Kalian mau?'' tanya Arjuna, sambi menyodorkan nasi yang sudah berada ditangannya.
Mereka mengusap air liurnya, nasi padang memanglah makanan terbaik yang Arjuna makan setelah makanan ibunya.
...BERSAMBUNG...
Hayooo, di sini siapa yang suka nasi padang sama kaya babang Arjuna 😍
__ADS_1