
Ia mendekati sang ayah, dan menyadarkan ayahnya yang tengah bengon tersebut.
“Ayah, ada apa ini ayah? Ada apa dengan Bela?” tanya Arjuna yang sangat penasaran.
Bara api terus berkobar dan membuat vila tersebut semakin terbakar. Arjuna yang baru menyadari jika punggung ayahnya terbakar, ia langsung buru-buru menyuruhnya untuk keluar.
“Ayah, punggung ayah! Kita harus cepat-cepat keluar ayah!”
Arjuna melirik ke kanan dan ke kirinya, tidak ada jalan kecuali jendela kecil yang menuju ke belakang hutan. Tapi rasanya, percuma saja. Karena jendela itu terbakar dan tidak akan muat di tubuh mereka, Arjuna pusing tujuh keliling. Bagaimana ini, apa ia akan mati terpanggang bersama ayah dan istrinya.
“Arjuna, teroboslah api itu.”Arjuna syok bukan main, karena bukannya selamat membawa Arabela keluar itu justru membuat ajal semakin dekat.
“APA? Ayah jangan gila, kita sudah pasti terbakar jika keluar dari pintu!” celetuk Arjuna.
“Dibandingkan kita harus menunggu mati karena hanya berdiam diri saja. Lebih baik terluka karena menyelamatkan diri.”
Arjuna terdiam, ia membuka jaket kulitnya dan memasangkan itu ke wajah Bela sampai menutupi dadanya. Agar Bela tidak terbakar saat keluar nanti, dan untuk pertama kalinya juga ia benar-benar melihat wajah Bela yang pucat.
“Ayah, sebaiknya ayah duluan yang keluar. Aku akan menyusul dibelakang ayah, sepertinya vila ini juga akan segera runtuh.” Ungkap Arjuna, Sandiaga mengangguk karena ia tak ingin ambil pusing.
“Ayo, keluar. Walaupun badan harus terbakar Arjuna.” Ucap Sandiaga dengan penuh ketegasan disetiap katanya.
Naracha sudah diamankan oleh polisi, ketiga para pesuruh Naracha juga sudah diamankan. Mereka akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal, dengan apa yang mereka telah perbuat. Marsel datang dengan membawa mobil Aruna, ia begitu cemas ketika mendapatkan kabar dari Algeria jika Arjuna tengah dalam bahaya.
“Apa! Ada polisi dan juga kebakaran di sini!” ucap Marsel, ia segera turun dan menghampiri Algeria yang tengah memeluk istrinya.
“Kak” sapanya.
Alge menoleh dan juga Cassandra. “Marsel, Arjuna dan juga istrinya ada di dalam. Parahnya, om Sandiaga juga ada di dalam.” Marsel spontan terkejut dan terdiam, apa yang harus ia lakukan sekarang. Memanggil pemadam kebakaran juga percuma saja karena letak hutan yang jauh, dan jalan yang sangat sempit.
“Alge, apa dia akan selamat?” tanya Cassandra, Alge tersenyum.”Tentu, karena Arjuna adalah pria yang hebat. Ia tak mungkin menyerah begitu saja, sini peluk lagi.” Dengan penuh kehangatan, Alge mendekap Cassandra agar ia tetap hanga.
__ADS_1
Polisi mencoba mendekati vila yang tengah terbakar itu, mereka dikejutkan dengan Arjuna yang keluar dari dalam vila dan diikuti oleh Sandiaga.
“ARJUNA!” teriak Marsel dan Alge.
Bukan bos muda, ataupun tuan muda. Mereka berdua memanggil Arjuna dengan sebutan namanya. Arjuna langsung terjatuh ke tanah, begitu juga dengan Sandiaga yang sudah dipenuhi luka bakar oleh kobaran api.
“Cepat, bawa ke tempat yang aman. Dan berikan mereka handuk yang basah!” perintah dari polisi, namun saat Arjuna sedang akan diangkat oleh beberapa polisi, ia malah mengeratkan kepalan tangan yang tengah menggenggam Bela.
“Tidak, jangan … “ lirih Arjuna, terpaksa mereka melepaskannya dengan paksa.
Dengan sangat terpaksa, mereka melepaskan genggaman tangan Arjuna. Karena, baik Arjuna dan Sandiaga mengalami luka bakar dikulitnya. Hal itu membuat Marsel dan juga Algeria khawatir akan keselamatan keduanya.
“Cepat, bawa mereka ke rumah sakit!” titah Alegria.
Ketiganya pun segera dibawa, Sandiaga jatuh lemas karena mengalami luka bakar yang cukup parah dibagian punggung. Tapi beruntunglah keduanya bisa selamat, tapi tidak untuk Arabela. Sirene mobil polisi berbunyi di tengah hutan, mereka semua keluar dan membawa ketiganya ke rumah sakit terdekat.
Alge dan juga Cassandra terus-terusan berdoa kepada tuhan demi keselamatan Arjuna dan juga ayahnya. Apalagi untuk Arabela, mereka bertiga melihat dengan jelas dress yang Arabela gunakan berlumuran cairan merah.
Marsel berdeham. “Hem, iya kak. Mungkinkah istri Arjuna sedang hamil?”
Masih menjadi pertanyaan untuk mereka, apakah yang mereka duga itu benar. Tapi tidak ada yang tahu, terlebih lagi Arabela sudah berpulang.
Rumah Sakit GLAMORA
Mereka menunggu dengan hati yang was-was, takut dan juga gelisah melanda akan keselamatan ketiganya. Dokter keluar, diikuti oleh suster yang berada di belakangnya. Alge dan juga Marsel berdiri, mereka masih penasaran dengan hasil yang dokter periksakan.
“Bagaimana dengan ketiganya dokter?” tanya Alge
“Apa ketiganya baik-baik saja?” sambung Marsel
__ADS_1
“Baik-baik saja, apa luka bakar yang begitu serius kau anggap biasa saja?”
Marsel terdiam, ia tak menjawab dan hanya diam seribu bahasa. “Pak Sandi dan juga Pak Arjuna mengalami luka bakar yang cukup serius, maka dari itu kami akan melakukan operasi untuk mengangkat baju yang sudah menempel dengan kulit keduanya. Dan untuk pasien wanita, kami mengucapkan turut berduka cita. Keguguran dan mengalami pendarahan yang hebat membuatnya kehilangan banyak darah.” Jelas si dokter, baik Alge dan juga Marsel begitu terkejut mendengar kematian dari Arabela.
“Kalau begitu saya permisi dulu, ada pasien lain yang harus segera saya tangani.”
Sang dokter pergi, tinggalah mereka bertiga saja. Alge, Marsel dan juga istri dari Algeria. Semuanya menundukan kepala, ketika setelah mendengar kematian dari Arabela. Sang inspektur kepolisian datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Alge, mengingat ada Naracha yang harus mereka introgasi lebih lanjut.
“Permisi pak, saya mencari pak Algeria yang memuat laporan dini hari tadi. Mari ikut dengan saya, saya akan mengintrogasi pelaku yang telah membuat korban seperti ini.” Ucap sang inspektur, Alge menganggukinya dan berkata pada Marsel.
“Baik, pak inspektur. Cacil, kau tidak apa-apakan jika di sini dulu dengan adik angkatku?” tanya Alge, Cassandra pun menganggukinya.
Algeria mengelus pelan kepala cassandra, ia tersenyum lalu mencium pipi kanan dan kiri Cassandra.
“Mar, tolong jagakan istriku sebentar ya.”
Marsel mengangguk, dan alge segera pergi ikutdengan polisi. Kini tinggalah mereka berdua, Marsel mau masuk ke dalam tapi seseorang keluar dari dalam. Dia seorang perawat yang menangani keadaan Arjuna dan juga ayahnya.
“Maaf, untuk sekarang pasien tidak bisa dijenguk dulu. Kami akan segera melaksanakan operasi, maka dari itu kami minta persetujuan dari keluarga untuk menandatangani.”
“Baik kalau begitu, saya akan telepon keluarga dari pihak pasien dulu.” Sahut Marsel, ia segera mengeluarkan ponselnya.
Sayangnya, ia lupa jika nomer ponselnya tidak ada di dalam ponsel.
“Kak, apa aku boleh pinjam ponselmu dulu?” tanya Marsel
Cassandra mengangguk dan merogoh kantung celananya yang ada ponsel di dalam sana. Tentu saja Marsel heran, sedari tadi istri dari kakak angkatnya tidak banyak bicara selainkan mengangguk dan berkata dengan terbata-bata.
“Saya pergi dulu ya, nanti jika sudah menghubungi pihak keluarga dari pasien mohon untuk segera datang ke administrasi untuk mengisi formulir. Dan juga menandatangani persetujuan operasi dengan segera.” Ucap sang perawat sebelum ia pergi meninggalkan mereka berdua.
Memberitahu kakek gunawan, sama saja mendatangkan ajalnya sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG