Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
ARABELA DICULIK!


__ADS_3

Sanjung, Indonesia


9 jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya Bela bisa menghirup napasnya dengan tenang. Setelah tegang karena takut dengan amukan Arjuna.


“Bela” saut Jaemin yang menatap mata sahabatnya yang sudah memerah itu.


“Hmmm, kenapa Jae?” tanya Bela


“Kau kurang tidur, biar aku saja yang bawa sini.” Jaemin meminta Bela untuk menghentikan mobilnya, namun Bela menolak. “Tidak usah, Jae. Apartemen mami ku di depan sana, aku akan segera turun sebentar lagi.” Tolak bela, mau bagaimana lagi Jaemin pun hanya bisa menurut.


Samapailah mereka di depan apartemen yang mami Naracha maksud, Bela turun dan keluar dari dalam mobil Jae.


“Jahe, terima kasih banyak sudah menjemput dan mengantarku. Apa kau mau mampir dulu masuk ke dalam?” tanya Bela, spontan Jaemin pun menggelengkan pelan kepalanya.


“Tidak terima kasih banyak, Belbel. Aku akan menyiapkan diri untuk bertemu dengan tuan malik, dia pemimpin perusahaan di mana aku bekerja nantinya. Sudah ya, aku pergi dulu. Jaga kesehatanmu dan salamkan salamku untuk mamimu, bye…


“Ya sudah, bye…”


Jaemin langsung pergi, tanpa mampir dulu ke apartemen Bela. Sedangkan Bela masuk ke dalam dan menemui sang mami yang akan pergi ke London. Sayangnya, Bela belum izin pada Arjuna, Sandiaga ataupun kakek Gunawan.


Bela menekan bel pintu apartemen, dan mami Naracha pun membuka pintu tersebut. Ia terkejut karena ada Arabela, ia pikir Bela benar-benar sangat membencinya dan tidak akan menganggap Naracha sebagai ibunya. Tapi ternyata ia salah,justru ini akan menjadi hal yang paling Nara manfaatkan untuk membuat Sandi bertekuk lutut.


“Mami…” Bela memeluk ibunya, walaupun Naracha memanglah bukan ibu kandungnya. Karena, bela yang belum diberitahu baik oleh Arjuna atau Sandiaga.


“Bela, why are you crying? Apa kamu sangat merindukan mami?” tanya Nara pada anak yang bukan anaknya itu.


“Yes, mam. I really miss you…”


Bela menangis begitu sesegukan, sedangkan Naracha hanya memeluk Bela dan mengelus rambut putrinya itu sambil tersenyum.


“Bagus Bela, dengan begini langahku untuk membawamu pergi bisa terbuka lebar. Tunggulah pembalasanku, Sandiaga…” batin Naracha.


“Bela, tapi mami akan pergi ke London besok. Kau tidak  masalah kan?” tanya Naracha, dan Bela pun mengangguk pelan.


“Iya, mam. Tidak apa-apa, Bela akan ikut bersama mami…”

__ADS_1


Naracha tentunya tersenyum bukan main, apalagi melihat Arabela yang kini telah tertipu olehnya. Sedangkan Naracha akan memanfaatkan Bela untuk mengambil harta Sandiaga, jika ia tidak bisa maka ia akan menjual Bela saja pada mafia sindikikat perdagangan manusia. Atau pada pria hidung belang, toh Bela juga bukan anak kandungnya.


“Baiklah, Bela. Kau masuklah dulu ke dalam, mami akan memesankan tiket pesawat untukmu.” Ajak Naracha yang membawa Bela masuk.


“Tapi, kamu jangan mengatakan pada papimu akan pergi ke London bersama mami ya… kamu kan tau sendiri, mami dan papi masih berebat.” Pinta Naracha, dengan begitu rencananya kali ini akan berjalan dengan begitu mulu.


Bela mengangguk pelan. “Iya, mi. Bela paham, mami tidak usah khawatir.” Tutur Bela, itu artinya rencana Naracha akan semakin mulus kedepannya.


“Hmm, mami keluar dulu. Kau istirahatlah dulu, nanti mami kembali lagi setelah belanja untuk keperluan masak.”


Naracha pergi, meninggalkan Bela sendirian di apartemen. Sampai malam pun tiba, Naracha belum juga kembali. Bela tidak sadar jika ibunya itu telah pergi terlalu lama, karena sedari siang ia terus menonton film drama korea kesukaannya.


Jaemin mengirimkan pesan ke Bela.


Jaemin


[Kau di mana sekarang? Bisa kita bertemu sebelum aku pergi nanti?] tanya Jaemin, di via pesan WhatsApp


Spontan, Arabela pun bangun dari rebahannya dan segera membalas pesan yang Jaemin kirimkan.


Arabela


Jaemin pun terkejut dan langsung bangun dari rebahannya, ia tak percaya jika Bela memang akan benar-benar pergi meninggalkannya.


“Belbel, kenapa kau pergi begitu cepat…” lirih jaemin, sambil melihat balasan chating dari Arabela.


Jaemin membalasnya lagi.


Jaemin


[Benarkah? Aku pasti akan sangat merindukanmu, Belbel…. See you, jangan lupakan aku yang tampan ini sahabatmu ya…] balas Jaemin, dengan penuh senyuman.


Bela


[Tentu, Jahe. Tolong jangan beritahu suamiku ya, jika aku akan pergi. Begitu juga dengan papiku, karena mami melarangnya. Karena mereka masih bertengkar hebat, mami takut jika nanti papi tidak akan mengizinkan aku pergi]

__ADS_1


Jaemin


[Ya, terserah kau saja. Tapi jangan sampai lupakan aku, dan jangan lupa bawakan aku oleh-oleh jika kau pulang nanti]


Bela


[Tentu saja, sahabatku yang paling tampan dan juga manis]


Bela cengngesan malam itu, tanpa ia sadari jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Tapi Naracha belum juga pulang sedari siang tadi, barulah Bela tersadar dan sekarang mencari-cari ibunya.


“Mami ke mana? Apa sudah terjadi sesuatu pada mami? OMG! Aku harus bagaimana ini…”


Ting Tong! Ting Tong!


Suara bel berbunyi, akhirnya Bela tersenyum lega karena kini ibunya pulang juga. Ia pun bergegas untuk membukakan pintu apartemen, sial baginya yang datang bukanlah ibunya melainkan 3 pria berbadan kekar.


“Hai, manis…” goda si pria yang berada di depannya, ketiga pria itu memakai masker dan baju berwarna hitam. Sehingga sangat sulit bagi bela untuk mengenali ketiga pria tersebut, dan Bela hendak akan menutup pintu apartemennya lagi.


Sayang, nasib buruk menimpanya. Salah satu dari mereka menarik lengan Bela, dan memukul tengkuk Bela sehingga Bela jatuh pingsan. Keduanya membantu pria itu untuk membawa Bela pergi melalui pintu belakang, dan Bela pun di bawa oleh mobil APV berwarna hitam.


Satu pria sudah menunggu mereka bertiga dari dalam mobil, Bela dimasukan ke dalam dan keempat pria itu membawa Bela pergi.


“Bagaimana tadi? Apa kalian bertiga mengalami kesulihat saat menghadapinya?” tanya si pria yang sedang menyetir.


“Sama sekali tidak, bos. Wanita ini tidak membrontak sama sekali, sangat mudah untuk membawanya juga. Sekarang kita tinggal pergi menuju tempat klien kita minta, wanita ini akan habis malam ini juga.” Ucap si pria yang memukul tengkuk Bela tadi.


“Hmm, bagus. Kalian boleh makan sepuas kalian setelah ini, klien kita sudah memberikan kita uang dimuka.” Ucapnya, ia pergi dari kota dan menuju titik temu yang sudah ditampilkan di maps.


Sedangkan dering telepon Arabela bergetar,menandakan ada telepon yang masuk. Itu dari Arjuna, entah apa yang ingin Arjuna katakan pada Arabela malam ini. Sayangnya, ponsel Bela lupa tidak terbawa tadi saat membuka pintu Apartemen.


“Sial, kenapa wanita itu tidak menjawab teleponku. Tidak mungkin ia pergi begitu saja, bisa-bisanya dia tidak menjawab teleponku!” gerutu Arjuna, sebab saat Arjuna pulang ke Villa sore tadi. Arabela tak kunjung menunjukan batang hidungnya, Arjuna pikir mungkin Bela mengurung diri di kamarnya karena takut.


Namun kenyataannya tidak, Bela telah pergi bersama Jaemin dan sekarang Bela diculik oleh keempat pria asing.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Heiiiii readers, aku punya rekomendasi novel dari kakak author femesku. Nama pena, bucin fisabillillah… jangan lupa baca karyanya ya, karya dia bagus-bagus banget!!!!



__ADS_2