
...***...
Pangeran Arya Fusena baru saja kembali dari jalan-jalan mengitari kota raja. Dan kebetulan Patih Rangga Dewa, Pangeran Birawa Fusena dan Putri Rara Wulan hendak masuk ke dalam istana. Mereka semua terkejut melihat kedatangannya. Bawaan Prajurit yang sangat banyak. Apakah ia baru saja selesai belanja di pasar?.
"Nanda pangeran arya?"
"Dinda arya?. Apakah dinda baru saja pulang dari berbelanja?. Tapi mengapa sebanyak ini?."
"Ahahaha sebenarnya aku tadi hanya berniat membeli satu saja yunda. Tapi malah pulang membawa sebanyak ini." Ia tertawa canggung karena ditanya seperti itu oleh kakaknya.
"Lah? Kok bisa?. Bagaimana ceritanya nanda pangeran arya?."
"Benar dinda. Memangnya semua itu kebutuhan yang kau inginkan?."
"Ah maaf. Prajurit, sebaiknya langsung bawakan ke bilik ku saja ke wisma dharmaputra."
"Sandika gusti raden." Prajurit istana mengikuti perintah Pangeran Arya Fusena. Sementara itu rasa penasaran masih menjadi tanda tanya bagi Putri Rara Wulan, dan Patih Rangga Dewa.
"Sebenarnya tadi aku hanya ingin membeli satu barang saja." Ia mencoba mengingat apa yang terjadi di pasar tadinya. "Untuk hadiah ibunda ratu, merayakan hari kelahiran ibunda dua hari lagi. Tapi ketika berada di pasar kota raja." Ada jeda dari ucapannya, karena ia melihat keberadaan Kakaknya Pangeran Birawa Fusena. "Mereka malah menitipkan hadiah tersebut untuk ibunda ratu dewi saraswati. Karena tidak bisa menolak, makanya aku bawa saja." Pangeran Arya Fusena hanya bisa tertawa nyengir saja. Ia bingung mau menjelaskan apa pada mereka.
"Oh jadi begitu?. Tapi itu hadiahnya banyak sekali dinda arya."
"Itulah masalahnya yunda. Jika nanda kasih pada ibunda ratu dewi saraswati saja. Tapi karena hadiahnya sangat banyak, makanya hadiah yang lainnya bisa aku berikan pada ibunda yang lainnya. Um. Untuk yunda pun boleh, jika yunda mau."
"Terima kasih dinda arya. Kau sangat baik sekali. Dan juga terkenal. Bisa diberikan hadiah sebanyak itu."
"Itu semua sungguh hadiah?. Bukannya dibeli?."
"Benar paman patih. Bahkan uang yang aku bawa tidak rusak satu kepeng pun." Pangeran Arya Fusena memperlihatkan kantong uang yang ia bawa. Memang masih banyak, dan masih terlihat rapi sekali.
Patih Rangga Dewa tertawa melihat itu. Ia tidak dapat menahan tawanya, sungguh. "Sungguh luar biasa sekali keponakan ku yang satu ini. Aku nanti akan bertanya pada pada kanda prabu. Pelet apa yang dia berikan padamu, sehingga mereka semua luluh padamu nanda pangeran arya."
"Paman ini bisa saja." Ia sedikit tersipu malu.
__ADS_1
Sedangkan Pangeran Birawa Fusena memperlihatkan itu, ia tidak tahu apakah ia akan mampu mengatakannya. Perasaanya sangat gelisah, dan ia tidak mau berlama-lama lagi menyimpannya. "Dinda arya. Pasti dinda lelah setelah berjalan. Bagaimana kalau kita duduk santai di pendopo belakang sambil minum."
"Baiklah kanda. Memangnya kanda mau minum apa?. Biar aku panggil emban agar membuat minum untuk kita berdua."
Keduanya berjalan meninggalkan halaman Istana. Mereka menuju pendopo istana, tidak pamit pada Patih Rangga Dewa ataupun pada Putri Rara Wulan. Membuat keduanya saling bertatapan karena bingung.
"Paman patih, aku merasa terabaikan oleh mereka berdua."
"Nanda putri benar. Rasanya aku tidak terlihat oleh mereka berdua."
"Tapi apakah tidak apa-apa mereka dibiarkan begitu saja paman patih?. Apakah kita harus membuntuti mereka?. Aku takut kanda birawa akan menyerang dinda arya."
"Kalau begitu kita susul mereka. Sebelum terjadinya pertumpahan darah antara keduanya."
Patih Rangga dewa dan Putri Rara Wulan mengikuti keduanya. Karena mereka cemas, Pangeran Birawa Fusena yang selama ini tidak pernah akrab sama sekali dengan Pangeran Arya Fusena. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu. Di dalam Istana, Prabu Maharaja Sura Fusena sedang bertanya pada istri selirnya itu. Tentang kabar yang ia dengar, dan ia ingin memastikan langsung dari istrinya. Ia sudah mendapatkan beberapa bukti dan saksi yang mungkin tidak bisa lagi membuat selirnya itu menghindar.
"Apakah kanda prabu dapat pengaduan ini dari dinda patih?. Apakah dinda patih mengadukan hal yang buruk pada kanda prabu?. Hanya karena dinda patih melihat dinda bersama senopati yudhasoka?." Semua mengetahui, jika masalah atau laporan yang masuk pasti sumbernya dari Patih Rangga Dewa. jadi tidak perlu ditanyakan lagi, dari siapa Prabu Maharaja Sura Fusena mendapatkan kabar itu.
"Bukan hanya dinda patih saja yang melihat dinda. Namun kanda beberapa kali melihatnya."
"Lalu kenapa kanda tidak menegur dinda?. Apakah kanda memang sengaja membiarkan dinda serong?."
"Apakah dinda akan mengaku?. Atau dinda tidak punya rasa malu lagi?. Ketika kanda mempergoki dinda bersama laki-laki lain?. Apakah dinda tidak merasa bersalah sedikitpun?."
"Rasanya urat malu dinda sudah putus, karena kanda sudah tidak menyayangi dinda lagi. Kanda prabu hanya memperhatikan yunda dewi saraswati saja."
"Kanda tidak pernah membedakan istri kanda. Kenapa dinda merasa seperti itu?." Ada perasaan marah yang tersulut di sana.
"Memang seperti itulah kenyataannya kanda prabu. Mereka saja yang hanya diam seperti kerbau yang dicocol hidungnya. Tapi maaf kanda prabu, dinda tidak terima begitu saja."
__ADS_1
Prabu Maharaja Sura Fusena menghela nafasnya dengan pelan. Ia tidak boleh menuruti kemarahannya. Kesabarannya sudah sampai batasnya. "Dinda hanya ingin kanda prabu bersikap adil, maka dinda tidak akan pernah serong pada siapapun."
"Cukup dinda. Kanda sudah tidak mau mendengarkan apapun lagi. Sekarang katakan apa yang dinda inginkan. Jangan beri kesan buruk pada kanda, hanya karena dinda mulai bercabang hatinya. Dan menginginkan yang muda."
Mata Selir Triwulan Prayatma melotot melebar. Ia tidak menyangka akan mendengarkan kata itu dari Prabu Maharaja Sura Fusena. "Dinda berterus terang saja. Karena kanda telah berbicara pada senopati yudhasoka. Dan ia mengakui semua apa yang telah ia lakukan, dan ia telah mengatakan semuanya. Kanda hanya tidak mau tersiar kabar aneh tentang rumah tangga istana, hanya karena selirnya bermain serong dengan senopatinya sendiri."
"Ya. Memang itu yang dinda inginkan. Jika kanda keberatan. Maka kanda boleh mengusir dinda dari istana ini, atau memulangkan dinda pada orang tua dinda."
"Perkara seperti ini tidak mudah diselesaikan begitu saja dinda. Kita ini adalah orang yang selalu menjadi sorotan. Dinda harus bertanggungjawab atas apa yang dinda lakukan. Hukuman bukan jalan keluar, namun pandangan orang lain bisa menjadi senjata yang mematikan. Bukan hanya pada kanda saja, melainkan pada kedua orang tua dinda."
Prabu Maharaja Sura Fusena mencoba menjelaskan pada selirnya dengan pelan. "Apakah dinda tidak kasihan pada kedua orang tua dinda?. Pandangan masyarakat, mengenai tindakan serong yang dinda lakukan?."
Selir Triwulan Prayatma hanya diam sambil menunduk. Ia tidak berani lagi menatap mata Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia hanya dia tertunduk, karena tidak memikirkan sampai ke sana akibatnya.
"Kanda telah berusaha menutupi kesalahan dinda. Siapa saja yang menyebarkan kabar selir raja telah berbuat serong. Karena kanda tidak ingin dinda malu, jika berhadapan dengan rakyat. Apalagi nanda charaka yang saat ini sedang menjalani latihan agar kelak menjadi dharmaputra. Bagaimana tanggapan nanda charaka jika mengetahui masalah ini?."
Jika menyangkut anak, hatinya merasa luluh. Sehingga air matanya mengalir begitu saja. Ia lupa, jika ia telah memiliki seorang anak?. Mengapa ia sampai hati berniat seperti itu tanpa memikirkan perasaan anaknya?.
"Sungguh. Maafkan dinda, kanda prabu. Dinda melakukan itu hanya karena dinda merasa sakit hati pada yunda dewi saraswati."
"Jika dinda memang merasa bersalah. Maka perbaiki sikap dinda. Kanda mohon jangan sampai terulang masalah ini."
"Tapi kanda prabu."
"Tapi apa dinda?. Apalagi yang mengganjal di hati dinda?."
Selir Triwulan Prayatma mendekati Prabu Maharaja Sura Fusena sambil menangis, dan bersujud di hadapan sang Prabu. "Maafkan dinda kanda. Sungguh maafkan dinda."
"Tenanglah dinda. Kanda telah memaafkan dinda. Jangan menangis."
"Maafkan dinda, hiks. Karena-." Dengan air mata yang berlinang, dan tangis yang sesegukan. Selir Triwulan Prayatma menatap mata Prabu Maharaja Sura Fusena. "Karena dinda saat ini sedang mengandung anak senopati yudhasoka saat ini kanda prabu."
DUARRRRRRRR
__ADS_1
Katakan pada Prabu Maharaja Sura Fusena, bahwa itu bukan petir yang sebenarnya. Melainkan suasana hatinya yang terguncang seakan terkena Sambaran petir di siang hari. Sangat tidak enak untuk didengar, seperti apa yang diucapkan oleh selirnya ini. Bagaimana tanggapan sang Prabu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...