PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 14


__ADS_3

...***...


Malam telah berganti pagi, dan sesuai dengan janji. Pangeran Arya Fusena saat ini sedang berlatih dengan Patih Rangga Dewa di halaman belakang Istana. Dengan semangatnya Pangeran Arya Fusena mengikuti setiap gerakan jurus yang diajarkan oleh Patih Tangga Dewa. Begitu cepat dan kuat, sehingga mereka terlihat sangat selaras gerakannya. Sehingga ia hampir saja tidak bisa mengikuti gerakan itu. Tak lama kemudian mereka mengatur tenaga dalam mereka. Karena dua jurus telah mereka mainkan, karena itulah mereka beristirahat sejenak.


"Bagus nanda pangeran. Lebih ditingkatkan lagi. Supaya nanda pangeran bisa menambah gerakan lain dalam jurus tersebut."


"Tapi tadi itu gerakan yang sangat hebat paman Patih. Rasanya aku hampir saja tidak bisa mengikuti gerakannya. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin paman patih."


"Bagus, itu lebih baik jika nanda pangeran mau belajar lebih giat lagi."


Mereka meninggalkan halaman istana. Karena mereka melihat Ratu Dewi Saraswati membawakan air minum dan beberapa buah segar untuk dijadikan pengganjal sarapan pagi.


"Ibunda." Pangeran Arya Ardhana mendekati ibundanya yang sedang duduk di pendopo. Ia memeluk erat ibundanya, ia sangat senang melihat ibundanya. "Nanda sangat merindukan ibunda."


"Ibunda juga sangat merindukan nanda." Ratu Dewi Saraswati membalas pelukan anaknya, dan tak lupa ia memberikan kecupan kecil di kening anaknya. Setelah itu mereka duduk bersama di pendopo.


"Bagaimana keadaan ibunda?. Apakah baik-baik saja?."


"Ibunda baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan putra Ibunda?. Tampaknya sangat bahagia sekali setelah latihan bersama paman Patih." Ucapnya sambil menuangkan segelas air, dan ia berikan pada Patih Rangga Dewa.


"Nanda juga baik ibunda. Apalagi jika nanda berlatih dengan paman patih. Rasanya semakin sehat."


"Wah. Ibunda sangat senang mendengarnya putraku."


"Oh iya ibunda. Nanda ingin mengucapkan selamat hari kelahiran ibunda."


"Terima kasih nanda. Rasanya ibunda sangat bahagia sekali, karena nanda ingat."


"Tapi maaf, harusnya dua hari yang lalu."


"Tidak apa-apa. Maafkan ibunda yang tidak bisa menemani nanda akhir-akhir ini."


"Kalau begitu, setelah ini nanda akan memberikan ibunda sebuah hadiah istimewa."


"Benarkah?. Rasanya ibunda tidak sabar menerima hadiahnya."


"Hehehe sabar dulu ibunda."


Sedangkan Patih Rangga Dewa hanya tertawa kecil melihat percakapan ibu dana anak. Maklum, mereka jarang bertemu akhir-akhir ini. Jadi wajar, jika melepas rindu dengan percakapan ringan seperti itu. Saat itu juga keempat dayang datang. Tugas mereka memang menjaga pangeran Arya Fusena. Karena mereka tidak ingin pangeran kesayangan mereka terluka.


"Selamat pagi gusti ratu."


"Selamat pagi juga dayang."


"Selamat pagi gusti patih."


"Selamat juga dayang."


"Selamat pagi gusti pangeran."


"Selamat pagi juga dayang."


"Tidak biasanya pagi-pagi seperti ini sudah kumpul di sini."


"Oh. Aku tadi melatih nanda pangeran. Dan nanti ganti saja jadwalnya langsung belajar tentang tata negara saja. Atau berlatih kuda."


"Sandika gusti Patih."

__ADS_1


"Terima kasih, karena telah bersedia menjaga putraku dayang."


"Kami sangat senang sekali gusti ratu. Diberikan kepercayaan untuk bersama gusti pangeran arya."


"Benar gusti ratu. Jadi untuk keselamatan gusti pangeran arya, percayakan kepada kami gusti ratu."


Mereka selalu mematuhi apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa, dan berjanji akan menjamin keselamatan Pangeran Arya Fusena. Sedangkan Ratu Dewi Saraswati hanya tersenyum kecil melihat keempat dayang yang selalu bersama dengan anaknya. Ia juga heran, bagaimana mungkin bisa mengistimewakan anaknya?. Apakah tidak akan timbul rasa iri pada anak-anak raja yang lainnya?. Pasti ada, dan tidak mungkin tidak ada. Apakah kecurigaan sang Ratu terbukti?. Temukan jawabannya.


...***...


Sepertinya Kelompok Teguh Kala telah bergerak sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Dan kali ini mereka pastikan semuanya akan berjalan dengan lancar.


"Kalian semua. Jangan sampai mengecewakan aku. Karena aku tidak mau rencana yang telah aku susun dengan rapi, hari ini gagal karena kebodohan kalian."


Mereka semua dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menuju bagian selatan istana. Sedangkan kelompok kedua bagian sisi timur istana. Sementara itu dua orang dari mereka telah siap dengan pakaian prajurit, untuk mencari keberadaan Pangeran Arya Fusena, atau Patih Rangga Dewa.


"Baiklah. Aku akan mencari arya fusena, dan kau cari rangga patih."


"Baiklah. Mari kita jalankan rencana kita dengan baik." Mereka mulai masuk ke dalam istana, menjalankan rencana mereka dengan baik. Rencana mereka ingin mencelakai Patih Rangga Dewa dan Pangeran Arya Fusena.


...***...


Sementara itu Pangeran Arya Fusena saat ini sedang berlatih berkuda. Karena latihan ilmu kanuragan telah ia lakukan tadi pagi bersama Ratih Rangga Dewa. Jadinya ia berlatih menunggangi kuda. Meskipun sudah mahir dengan pelatih sebelumnya, namun tetap saja harus latihan.


"Wah. Gusti pangeran semakin mahir ya."


"Kau benar. Rasanya sangat bahagia, karena apa yang kita lakukan tidak sia-sia."


"Yah, rasanya aku sangat bahagia. Apalagi kita dipercayai oleh gusti Patih untuk menjaga pangeran kesayangan kita."


"Ah, rasanya aku juga ingin memiliki anak seperti pangeran kesayangan kita."


"Ada apa prajurit?. Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan?."


"Waduh, gawat. Malah ada mereka. Apa yang harus aku lakukan dengan mereka?." Dalam hati prajurit itu sedikit bingung. Namun sepertinya ia mendapat ide yang bagus."


"Tadi gusti Patih menitipkan pesan. Bahwa kalian di suruh ke kandang kuda."


"Kandang kuda?. Memangnya ada apa dikandang kuda?. Apakah kau tidak salah?."


"Aku tidak tahu. Mungkin ada hal penting yang disuruh gusti Patih pada kalian."


Mereka saling bertatapan satu sama lain. Merasa heran, dan tidak biasanya Patih Rangga Dewa memanggil melalui prajurit. Biasanya ia akan mendatangi mereka secara langsung.


"Kenapa?. Kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan?. Apakah kalian mau dihukum gusti Patih?."


Tentunya mereka tidak ingin dihukum oleh Patih Rangga Dewa. Setelah itu, mereka bergegas menuju kadang kuda. Sementara itu ia juga mendekati Pangeran Arya Fusena yang masih berlatih berkuda. Akan tetapi prajurit itu menarik tali kuda itu, sehingga kuda cantik itu menuruti kemana ia dipandu. Pangeran Arya Fusena merasa heran, mengapa prajurit itu berani menghentikan latihannya?.


"Ada apa prajurit?. Mengapa kau menarik kudaku dan menepikannya?."


"Maaf gusti pangeran. Ada hal penting yang ingin hamba sampaikan."


"Katakan." Pangeran Arya Fusena turun dari kudanya.


"Hamba diberi perintah gusti patih. Gusti pangeran disuruh ke sisi selatan istana."


"Kenapa?. Tidak biasanya paman Patih menyuruhku ke sana."

__ADS_1


"Tidak tahu gusti pangeran. Katanya ada hal penting yang ingin disampaikan."


"Baiklah. Antar kan aku ke sana. Aku tidak mau membuat paman Patih menunggu."


"Mari gusti pangeran."


Prajurit itu mempersilahkan Pangeran Arya Fusena mendahuluinya, sedangkan ia berjalan di belakang. Apakah Pangeran Arya Fusena akan masuk ke dalam jebakan yang akan dilakukan oleh mereka?. Temukan jawabannya.


...***...


Sedangkan prajurit yang satunya lagi masih mencari keberadaan Patih Rangga Dewa. Rasanya ia telah mengitari istana itu, namun belum juga menemukannya. Hingga ia bertemu dengan prajurit lainnya yang berjaga di kebun.


"Hei!. Sepertinya kau prajurit baru. Apa yang kau lakukan di sini?."


"Ah aku sepertinya salah masuk tempat."


"Memangnya apa yang kau cari hah?."


"Aku sedang mencari gusti patih. Apakah kalian mengetahui dimana keberadaannya?."


"Dia memang prajurit baru kang. Karena dia tidak mengetahui gusti patih."


"Hei!. Harusnya kau mengetahui jadwal kapan gusti Patih berada di istana. Dan kapan gusti Patih meninggalkan istana."


"Gusti Patih saat ini sedang meronda di luar. Jadi percuma saja jika kau mencarinya di sekitar istana ini."


"Jadi begitu?. Kalau begitu aku akan kembali bertugas. Apakah aku boleh bertanya?."


"Jika kau bertanya kapan gusti Patih berada di istana. Maka kau harus terus berada di depan gerbang istana. Agar kau bisa melihat gusti Patih pulang." Bukannya memberikan jawaban yang baik, mereka hanya menjawab seperti itu?.


"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu."


Ia segera meninggalkan tempat. Karena tidak menemukan keberadaan orang yang ia cari. "Aku harus melaporkan ini pada mereka." Dalam hatinya sedikit heran, karena Patih Rangga Dewa sedang meronda?. "Meronda kemana dia?." Itulah pertanyaan yang muncul di kepalanya.


...***...


Sedangkan dayang telah sampai di kandang Kuda, dan mereka bertanya pada penjaga kandang kuda.


"Dimana gusti Patih?. Katanya kamu disuruh beliau ke sini."


"Gusti Patih?. Dari tadi gusti Patih tidak datang ke sini."


"Kau ini jangan main-main dengan kami ya!."


"Alalala, aku berkata yang sebenarnya. Jika gusti Patih memang tidak ada di sini peyot."


Sempat terjadi pertengkaran kecil diantara mereka, dan mereka sadar akan sesuatu.


"Jika gusti patih tidak menyuruh kita datang kemari."


"Gusti pangeran!." Mendadak mereka merasa cemas dengan keadaan Pangeran Arya Fusena.


"Kita harus segera kembali!."


Mereka semua bergegas kembali ke padang tempat Pangeran Arya Fusena sedang berlatih. Mereka harus memastikan, jika Pangeran kesayangan mereka masih berada di sana.


"Huh!. Dasar aneh!. Yang benar saja gusti Patih menyuruh kalian ke sini. Jika memang ia, aku akan santai bekerja karena kalian yang mengurusi semua kuda yang ada dimari." Gerutunya dengan kesalnya. Lagipula tidak ada gunanya juga Patih Rangga Dewa ke kandang kuda jika tidak bepergian jauh.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2