PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 12


__ADS_3

...***...


Pagi itu, Patih Rangga Dewa sedang melihat Pangeran Arya Fusena sedang latihan. Tentunya selalu ditemani dayang yang selalu setia bersama dengannya. Patih Rangga Dewa mendekati mereka yang sedang kagum dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Arya Fusena.


"Selamat pagi gusti patih."


"Selamat pagi dayang."


"Wah, senyumnya memang menawan seperti biasa. Gusti Patih sungguh sangat luar biasa."


"Sungguh keturunan orang-orang dengan wajah tampan yang luar biasa."


"Ah sudahlah. Kalian jangan terlalu memuji aku. Kakiku masih ingin berpijak ke bumi. Jadi kalian jangan memuji aku lagi."


Mereka semua tertawa cekikikan mendengarkan apa yang dikatakan Patih Rangga Dewa. Mereka semua tidak menyangka, jika adik dari seorang Raja memiliki jiwa humor juga.


"Tapi aku ucapkan terima kasih, karena kalian selalu bersama nanda arya."


"Tentu saja gusti. Itu sudah menjadi tugas kami."


"Suatu keberuntungan bagi kami, dipercayai oleh pria agung seperti gusti patih, untuk menjaga seorang pangeran kesayangan kita semua."


"Rasanya aku ingin tidur dalam mimpi indah."


Patih Rangga Dewa hanya menggeleng kepalanya, karena ia merasa heran dengan ucapan mereka yang berasal dari pikiran mereka yang rada aneh. Namun mereka juga masih mencemaskan keadaan Patih Rangga Dewa.


"Oh iya gusti. Bagaimana keadaan tangan gusti patih?. Apakah masih sakit?."


"Oh, tangan ku sudah agak mendingan. Dan hari ini aku sudah siap bertugas kembali."


"Syukurlah kalau begitu gusti Patih. Kami sangat senang mendengarnya."


"Tapi gusti Patih. Bagaimana tugas yang gusti patih berikan pada kami?."


"Seperti yang aku katakan. Aku tidak bisa melanjutkan penyelidikan itu, karena kanda prabu ingin-." Ucapannya tiba-tiba saja terhenti, karena ia melihat ada benda melayang melesat cepat ke arah Pangeran Arya Fusena. Patih Rangga Dewa segera menahan serangan itu dengan tenaga dalamnya. Membuat mereka semua terkejut, termasuk Pangeran Arya Fusena yang sedang latihan. Patih Rangga Dewa melihat dengan jelas, seseorang yang berada di atas pohon. Sayangnya orang tersebut menggunakan topeng, sehingga mereka tidak bisa mengenalinya sama sekali.


"Hei!. Siapa kau?!." Patih Rangga Dewa menunjuk ke arah orang asing itu. Namun tidak ada jawaban darinya, ia hanya diam tidak menjawab pertanyaan. Setelah itu ia pergi begitu saja.


"Oh gusti pangeran. Apakah gusti pangeran baik-baik saja?." Keempat dayang mendekati Pangeran Arya Fusena.


"Apakah gusti pangeran terluka?."


"Apakah gusti pangeran baik-baik saja?."


"Katakan pada kami jika ada yang luka."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Sungguh, aku baik-baik saja."


"Oh syukurlah gusti pangeran."


Mereka semua lega mendengarnya. Mereka tadinya sangat terkejut, karena ada seseorang yang mencoba mencelakai Pangeran Arya Fusena. Tapi masih beruntung, karena Patih Rangga Dewa menyadari serangan itu.


"Siapa dia paman?. Apakah dia masih orang sini?. Mengapa dia menyerang ku Paman?."


"Entahlah nanda pangeran. Paman harap nanda pangeran lebih berhati-hati lagi. Karena paman yakin, dia masih akan mengincar nanda pangeran."


"Baiklah paman Patih. Aku akan lebih berhati-hati lagi. Terima kasih paman telah menyelamatkan aku."


"Tentu saja paman akan melindungi mu." Patih Rangga Dewa mengusap sayang kepala Pangeran Arya Fusena. "Kau adalah pangeran kesayangan kami semua. Akan gaswat jika kau terluka. Jadi kau harus lebih meningkatkan ilmu kanuragan mu, juga meningkatkan kewaspadaan mu terjadi sekira. Mengerti?."


"Mengerti paman."


"Ya sudah. Paman akan menyelidiki siapa yang menyerang nanda pangeran tadi. Lanjutkan kegiatan nanda pangeran berikutnya."


"Baik paman Patih."


"Dan kalian dayang. Tetaplah berada di dekat nada pangeran. Aku akan pergi sebentar."


"Sandika gusti Patih."


Sebelum Patih Rangga Dewa pergi meninggalkan tempat, ia sempat mengambil benda tajam senjata orang aneh itu. "Akan aku cari sampai dapat, siapa yang memiliki benda ini." Dalam hatinya merasa kesal. Masih ada yang berani mengincar nyawa pangeran kesayangannya?. Apakah orang itu tidak mengetahui sedang berhadapan dengan siapa?. Apakah Patih Rangga Dewa berhasil menemukan siapa pelakunya?. Temukan jawabannya.


...***...


"Bagaimana?. Apakah kau berhasil melukainya?."


"Aku gagal melakukannya. Karena dia diselamatkan oleh patih rangga dewa."


"Jadi kau gagal melukainya?."


"Kau ini tidak pernah becus dalam bertindak!. Bagaimana bisa serangan mu itu digagalkan Patih rangga dewa?."


"Kalian berdua jangan menghakimi aku!. Aku juga tidak menyangka, jika patih Rangga dewa berada di sana."


"Halah!. Kau banyak alasan saja!. Katakan saja kalau kau tidak becus dalam mengerjakan tugas mu dengan baik!."


Mereka terus berdebat, hanya karena rimba tidak berhasil melukai Pangeran Arya Fusena. Sedangkan Teguh Kala yang dari tadi menyimak merasa kesal dengan tingkah ketiga temannya.


"Hei!. Kalian!. Suara kalian itu sangat berisik!. Tidak bisakah kalian sedikit diam dan mencari cara lain untuk bertindak?."


"Aku hanya kesal saja. Dia sama sekali-."

__ADS_1


"Hah sudahlah!. Perdebatan kalian tidak ada gunanya, dan itu sama sekali tidak membantu!. Sebaiknya kalian pikirkan cara lain untuk memberi pelajaran pada pangeran manja itu!." Suara Teguh Kala membuat mereka terdiam. Memang mereka segan pada pemuda itu. Karena hanya dia yang memiliki kepandaian di atas mereka semua.


"Kita harus mencari cara agar bisa membawa pangeran manja itu keluar dari istana. Dan setelah itu kita habisi dia!."


"Bagaimana kalau kita menyamar jadi prajurit. Dan kita adu domba dengan Patih brengsek itu. Karena dia akan menjadi penghalang kita untuk bertindak."


"Aku rasa itu ide yang bagus. Aku setuju dengan ide itu."


"Apakah ada ide lain?. Atau rencana lain?. Aku sudah muak dengan kegagalan ini."


"Aku rasa itu ide yang sangat mantab. Aku yang akan menyamar menjadi prajuritnya."


"Ya. Tapi asalkan tidak ketahuan saja."


"Kau tenang saja. Aku akan melakukannya dengan baik."


"Jika kita setuju dengan ide itu, maka besok aja kita lakukan. Aku tidak sabar lagi ingin menjalankan rencana yang telah kita buat."


"Jangan lupa katakan pada yang lainnya juga. Kita harus menghajar kedua orang itu. Kita bunuh mereka di tempat yang terpisah. Supaya tidak ada yang curiga, jika kita yang melakukannya."


"Baiklah. Langsung saja kita bertindak."


"Siap."


Mereka mulai bergerak. Karena mereka memiliki dendam yang akan segera mereka tuntaskan pada pangeran Arya Fusena. Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.


...***...


Kembali ke istana kerajaan Trisakti Triguna. Dengan berat hati Prabu Maharaja Sura Fusena memanggil Senopati Yudhasoka. Meskipun hatinya sangat sakit, namun ia harus tetap menyelesaikan masalah ini dengan baik. Sebagai seorang Raja, ia harus mengambil keputusan yang benar dalam masalah yang terjadi.


"Senopati yudhasoka. Tentunya kau mengetahui, alasan mengapa aku memanggilmu bukan?."


"Mohon ampun gusti prabu. Bukan hamba bermaksud lancang menodai gusti putri triwulan. Hamba sangat bersalah karena telah tergoda akan kecantikan gusti ratu."


"Jadi kau masih ingat minta ampun padaku setelah apa yang kau lakukan senopati yudhasoka?." Perasaannya masih membuncah. Karena salah satu selirnya malah mudahnya memberikan kesetiaan cintanya pada bawahannya?. "Apakah kau lupa siapa wanita yang hendak kau gauli?. Apakah kau tidak lagi menghormati aku sebagai raja mu?. Apakah karena aku selalu bersikap baik, dan kau malah memperlakukan aku seperti itu?." Suasana hatinya sungguh sangat kacau dan tidak tentu arah. Sangat menyakitkan baginya masalah ini. Sedangkan kedua istrinya hanya diam menyimak apa yang terjadi saat ini. "Kau telah menodai istana ini. Kau telah menodai kerajaan ini dengan kelakuanmu. Aku atau dinda patih yang akan menghukum mu senopati yudhasoka."


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba mengakui perbuatan hamba yang penuh noda dosa itu. Hamba siap menerima hukuman apapun dari gusti prabu." Dengan nada bergetar, karena ia yakin. Jika dihukum oleh Patih Rangga dewa, maka hukuman yang akan ia terima jauh lebih mengerikan.


"Kenapa kau tidak mau dihukum oleh dinda patih?. Apakah kau takut padanya?. Sementara kau malah menghina aku sebagai raja. Jadi kau tidak takut padaku sama sekali?."


"Hamba mohon beribu ampun gusti prabu. Hamba akan meminta pengampunan gusti prabu."


"Kau telah menginjak harga diriku sebagai seorang laki-laki. Dan kau telah berani menodai salah satu selir raja. Kau pantas mendapatkan hukuman mati. Masalah bayi yang ada di kandungannya, aku bisa menjadi ayah untuknya. Aku tidak suka orang pengkhianat seperti kau!."


"Mohon ampun gusti prabu. Jangan hukum mati hamba. Sungguh hamba menyesali apa yang telah hamba lakukan gusti prabu." Senopati Yudhasoka meraung menangis dihadapan sang Prabu. Ia sangat takut dengan hukuman mati yang akan ia terima.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi?. Bagaimana penyelesaian masalah mereka?. Temukan jawabannya. Siapakah yang mengincar Pangeran Arya Fusena?. Jawabnya di kolom komentar.


...***...


__ADS_2