
...***...
Malam harinya, Patih Rangga Dewa saat ini sedang berada di biliknya. Ia sedang memikirkan, kira-kira siapa yang memiliki dendam padanya?. Begitu banyak kah orang yang benci terhadap dirinya?. Apakah karena dirinya yang berhasil mengungkapkan semua kesalahan yang telah diperbuat oleh mereka, sehingga ingin balas dendam terhadap dirinya?.
Lamunannya begitu panjang, sehingga kepalanya terasa berdenyut sakit. Karena memikirkan siapa yang telah menyebarkan fitnah kejam itu padanya, sehingga kakaknya Prabu Maharaja Sura Fusena menghajar dirinya untuk pertama kalinya.
Tok tok tok tok.
Telinganya menangkap suara ketukan, dan itu berasal dari jendela. Kakinya segera melangkah ke sana. Ia buka jendela itu dengan pelan.
"Mohon ampun gusti Patih. Hamba telah mendapatkan informasinya." Ternyata itu adalah orang suruhannya. Membantunya mencari kebenaran tentang biang dalam masalah ini.
"Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?."
"Gusti Patih bisa melihat semuanya dari sini. hamba telah menuliskan siapa saja yang terlibat dalam penyebaran berita buruk itu gusti Patih."
Patih Rangga Dewa mengambil gulungan itu, dan menatapnya dengan aneh. "Baiklah. Terima kasih atas apa yang kau lakukan. Kau memang bisa aku andalkan."
"Kalau begitu hamba mohon pamit gusti patih. Sampurasun."
"Rampes."
Ia pergi meninggalkan tempat, karena tidak ingin dilihat oleh prajurit jaga. Sedangkan Patih Rangga Dewa juga menutup jendelanya. Ia ingin segera mengetahui, siapa saja yang telah terlibat. Dengan hati-hati ia membuka, namun ia dikejutkan ketukan pintu.
"Siapa?." Patih Rangga Dewa menyelipkan gulungan itu di bawah bantalnya.
"Kami gusti patih." Itu adalah suara keempat dayang yang ia perintahkan untuk mencari informasi tadi pagi. Patih Rangga Dewa melangkah untuk membuka pintu biliknya yang ia kunci dari dalam.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, matanya menatap keempat dayang tersebut. Mereka terlihat senang?. Padahal dirinya sedang gelisah. "Ada apa dayang?. Apa ada urusan penting, sehingga kalian datang malam-malam begini?."
"Maaf gusti Patih. Maaf jika kami telah membuat gusti Patih merasa terganggu."
"Akan tetapi ada hal-."
"Baiklah. Kalau begitu masuk ke bilik ku. Aku tidak mau ada yang melihat ini, dan malah membuat berita baru lagi tentang aku."
Mereka semua masuk ke dalam bilik Patih Rangga Dewa, karena ada hal penting yang mereka bahas. Bisakah masalah ini segera selesai dan mereka kembali tenang?. Tapi rasanya sangat mustahil, karena masih banyak yang harus mereka atasi.
...***...
Sementara itu Ratu Dewi Saraswati saat ini sedang berada di bilik anaknya yang masih tertidur. Hatinya sangat sedih, karena berita gosip itu sangat menusuk hatinya. Bagaimana mungkin ia bermain serong pada adik iparnya, dan melahirkan anaknya?.
"Arya fusena adalah putraku bersamamu kanda prabu." Matanya yang belum bisa memejam barang sejenak. Karena pikirannya yang masih kusut, dan tidak habis pikir. Mengapa ada orang yang tega melakukan hal jahat padanya?.
"Oh dewata yang agung. Berikan kami petunjuk dan jalan keluar dari masalah ini. Kasihanilah putra hamba yang masih belum mengerti apa-apa." Ia menatap putranya, sambil mengusap pelan kepala anaknya.
"Kanda prabu. Tidak bisakah kanda prabu bertanya pada dinda dengan perasaan yang lebih lembut?. Dari pada kanda melampiaskan rasa sakit hati, atau setelah kehilangan salah satu selir, kanda merasa tersakiti?." Hatinya yang gelisah, saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Manusia hanya bisa berharap akan adanya kebaikan yang mereka dapatkan di hari esok. Begitu juga dengan Ratu Dewi Saraswati. bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Pagi telah datang. Langkah kaki Patih Rangga Dewa terlihat sangat cepat. Ia tidak peduli jika ia baru saja bangun tidur, dan langsung melangkah keluar. Perasaannya yang dipenuhi oleh bara api sakit hati, setelah menunggu pagi.
Selama di perjalanan, ia menjadi pusat perhatian, karena raut wajahnya yang menyeramkan. Membuat siapa saja yang melihatnya segera menjaga jarak. Mereka sangat yakin, jika Patih Rangga Dewa saat ini sedang tidak ingin diganggu. Dan saking emosinya, ia tidak menyamar lagi. Kakinya terus melangkah menuju rumah Senopati Caraka Tirta. Begitu sampai, para penjaga serta tukang kebun merasa heran dengan kedatangan Patih Rangga Dewa sepagi ini.
"Mohon ampun gusti Patih. Tidak biasanya gusti Patih pagi-pagi datang ke sini." Kedua prajurit yang menjaga pagar masuk ke rumah Senopati Caraka Tirta memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.
__ADS_1
"Gawat. Aku harus memberitahu Gusti senopati." Sedangkan tukang kebun, langsung masuk ke dalam rumah tuannya, menyampaikan apa yang ia lihat.
"Aku ingin bertemu dengan senopati caraka tirta. Ada hal penting, yang ingin segera aku selesaikan dengannya."
"Mohon ampun gusti Patih. Tapi ini masih pagi, kami tidak bisa membiarkan-."
"Hei!. Ini masalah penting. Aku sudah tidak sabar lagi ingin menyelesaikan masalah yang telah membuat aku hampir saja dihajar, dan mungkin bisa saja dibunuh oleh kanda prabu."
"Tapi gusti-."
Patih Rangga Dewa sudah muak, ia tidak lagi mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua penjaga. Ia menerobos masuk, dan tentu saja dihadang oleh mereka.
"Jadi kalian berani melawan rangga dewa, hum?." Hatinya semakin panas, karena kedua pengawal itu menghalangi langkahnya.
"Maaf gusti Patih. Kami tidak bisa membiarkan gusti Patih masuk seenaknya saja."
"Kami hanya menjalankan tugas dari gusti senopati."
"Baiklah. Jangan salahkan aku, jika kalian terluka atau bahkan kehilangan nyawa kalian." Dalam keadaan marah, ia tidak bisa lagi berpikir jernih, sehingga ia menyerang keduanya tanpa aba-aba. Terjadilah pertarungan antara mereka di halaman kediaman Senopati Caraka Tirta.
Patih Rangga Dewa tanpa ampun memberikan pelajaran pada keduanya yang tidak bisa melawan Patih Rangga Dewa. Hingga Senopati Caraka Tirta keluar dari rumahnya dengan raut wajah penuh kemarahan.
"Apakah itu, sikap seorang Patih datang ke rumah bawahannya?. Sangat tidak patut untuk dicontoh."
Patih Rangga Dewa mengatur hawa murninya. Emosinya semakin tersulut membara, hingga ia melangkah mendekati tangga rumah mewah itu. Dengan penuh amarah ia menunjuk kiri ke arah Senopati Caraka Tirta. "Aku tidak akan bersikap kurang ajar, jika saja bawahannya berani menyebarkan fitnah keji pada atasannya!."
Deg!!!
__ADS_1
Senopati Caraka Tirta terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa. "Sepertinya dia sudah mengetahui, jika aku yang menyebar kabar itu?. Cepat sekali dia mengetahuinya." Dalam hati Senopati Caraka Tirta mulai merasa panik. Apakah yang akan ia lakukan jika perbuatannya telah diketahui oleh Patih Rangga Dewa?. Temukan jawabannya. Komentarnya jangan lupa ya.
...***...