PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 64


__ADS_3

...***...


Pangeran Brama Adijaya melihat ke arah Pangeran Rangga Dewa. Ia melihat dengan jelas bagaimana Patih Rangga Dewa. "Baiklah kanda prabu. Aku akan mengajak pangeran rangga dewa untuk jalan-jalan keluar istana." Ia tersenyum lebar. Seperti ada rencana jahat yang hendak ia laksanakan dalam kebaikan yang ia tawarkan pada saat itu.


"Pergilah dinda. Mungkin kau nantinya akan bosan mendengarkan apa yang kami bicarakan." Prabu Maharaja Sura Fusena tersenyum kecil.


"Baiklah kanda prabu. Aku akan pergi bersama pangeran brama adijaya." Pangeran Rangga Dewa juga tidak mau terlibat dalam pembicaraan antara dua raja yang membahas masalah pernikahan, meskipun itu hanyalah bentuk basa basi saja. "Aku pamit dulu kanda prabu." Ia memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena dan Prabu Dewata Sangara.


Setelah itu ia mengikuti Pangeran Brama Adijaya yang membawanya entah kemana. Sementara itu Prabu Maharaja Sura Fusena dan Prabu Dewata Sangara melanjutkan kembali pembicaraan mereka.


"Baiklah kanda prabu. Kita langsung saja pada inti permasalahan yang akan kita bahas mengenai apa yang telah terjadi pada kerajaan besar tetangga." Prabu Maharaja Sura Fusena kali ini terlihat serius.


"Aku juga mendengarkan berita itu dari raja bawahan beberapa hari yang lalu. Mengenai pendekar yang datang hanya untuk menjarah kekuasaan raja. Dan mereka ingin merebutnya hanya untuk kesenangan semata." Prabu Dewata Sangara sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi jika negerinya sampai menjadi target aksi jahat dari pendekar kejam itu.


"Kita harus meningkatkan kewaspadaan kanda prabu. Supaya mereka tidak bisa masuk ke wilayah kita." Prabu Maharaja Sura Fusena menyarankan seperti itu.


"Aku rasa kau benar dinda prabu. Jika tidak meningkatkan keamanan, bisa jadi mereka masuk dengan santainya ke wilayah kita ini." Prabu Dewata Sangara sangat setuju dengan ide Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan strategi bagaimana caranya meningkatkan kewaspadaan itu kanda prabu." Prabu Maharaja Sura terlihat sangat antusias sekali.


"Tentu saja dinda prabu." Begitu juga dengan Prabu Dewata Sangara. Ia sangat semangat jika membahas masalah kerajaan dengan Prabu Maharaja Sura yang memiliki pandangan yang sangat luas. Apakah yang akan mereka bahas selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...

__ADS_1


Sementara itu. Pangeran Brama Adijaya membawa Pangeran Rangga Dewa menuju kebun belakang istana kerajaan Betung Emas. Entah apa tujuannya membawa ke sana, namun Pangeran Rangga Dewa mencoba untuk berpikiran baik.


"Aku dengar kau memiliki kekuatan aneh rangga dewa." Matanya terus melirik ke arah Pangeran Rangga Dewa yang tampak kebingungan.


"Apa yang pangeran brama adijaya katakan?. Aku sama sekali tidak mengerti." Pangeran Rangga Dewa menatap lurus ke depan. Karena ia malas melihat ke arah Pangeran Brama Adijaya yang sepertinya tidak menyukainya sama sekali.


"Kau tidak usah berpura-pura bodoh rangga dewa." Pangeran Brama Adijaya menghentikan langkahnya, dan ia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Pangeran Rangga Dewa. "Kau memiliki kekuatan sukma naga biru liar yang ada di dalam tubuhmu saat ini." Ia menunjuk ke arah Pangeran Brama Adijaya dengan seringaian lebar.


"Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang pangeran katakan. Mengapa raden berpikiran seperti itu?." Pangeran Rangga Dewa ingin mengetahui alasannya.


Tapi Pangeran Brama Adijaya malah tertawa keras, merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Rangga Dewa. "Aku tahu kau berusaha untuk menyembunyikan semuanya rangga dewa." Ia masih tertawa. "Kau takut, jika ada yang berusaha untuk memancing keluar sukma naga biru liar itu dari tubuhmu, kau akan mati. Bersama dengan keluarnya naga biru itu, artinya nyawamu adakah taruhannya bukan?." Setelah itu ia malah tersenyum menyeringai. Seakan-akan ia telah mengetahui rahasia besar dari Pangeran Rangga Dewa.


"Apa yang pangeran inginkan dariku. Sehingga pangeran berkata seperti itu?." Pangeran Rangga Dewa mulai waspada. Takut pangeran Brama Adijaya akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.


Sementara itu, beberapa orang penjaga kebun melihat dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sekitar lima orang penjaga kebun yang menyaksikan percakapan antara Pangeran Rangga Dewa dengan Pangeran Rangga Dewa pada saat itu.


"Aku harap pangeran tidak melakukan hal-hal yang aneh. Jangan sampai membuat permusuhan antara kanda prabu. Aku ingatkan kau jangan sampai memancing kesabaran ku." Pangeran Rangga Dewa melihat niat yang tidak baik.


"Ahaha!. Kau tidak usah memasang tampang cemas seperti itu rangga dewa." Pangeran Brama Adijaya tertawa geli. "Aku hanya bermain-main saja. Aku dengar adik dari prabu maharaja sura fusena memiliki kemampuan yang sangat hebat. Namun apa yang aku lihat?. Hanyalah raut wajah seroang pengecut ketika digertak sedikit. Ternyata kau orang yang sangat membosankan sekali rangga dewa. Ahaha!." Pangeran Brama Adijaya sepertinya sedang memancing kemarahan Pangeran Rangga Dewa dengan permainan kata-kata.


"Maaf saja brama adijaya. Aku tidak punya waktu untuk melayani mu. Aku tidak mau mempermalukan kanda prabu hanya karena kau yang memulai pertarungan ini." Pangeran Rangga Dewa mencoba untuk bersabar, dan tidak akan tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Brama Adijaya. Pangeran Rangga Dewa berniat meninggalkan tempat. Akan tetapi, langkahnya dihentikan oleh Pangeran Brama Adijaya.


"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan ada permusuhan diantara kita. Aku hanya ingin berkunjung dengan aman di istana ini." Pangeran Rangga Dewa masih mencoba untuk sabar.

__ADS_1


"Kau tidak usah sungkan rangga dewa." Setelah berkata seperti itu, Pangeran Brama Adijaya malah menyerang Pangeran Rangga Dewa dengan memukul wajahnya. Membuat Pangeran Rangga Dewa terkejut, apalagi saat ia merasakan sakit di pipinya.


Sedangkan penjaga kebun yang melihat itu langsung bersembunyi. Mereka semua sangat takut dengan apa yang akan terjadi pada keduanya.


"Mari kita bermain-main rangga dewa." Pangeran Brama Adijaya mengeluarkan belati serap jiwa. Belati kecil yang digunakan untuk memancing keluarnya hawa jahat disekitarnya.


"Pangeran brama adijaya. Kau jangan bertindak lebih jauh lagi. Aku tidak mau membuat masalah dengan mu." Pangeran Rangga Dewa berusaha untuk menahan dirinya.


"Kau tidak usah banyak bicara rangga dewa!. Kau akan aku bunuh di istana ini!. Darahmu akan jadi tumbal untuk istana ini!. Ahahaha!." Pangeran Brama Adijaya tanpa ragu lagi menyerang Pangeran Rangga Dewa. Ia berlari cepat ke arah Pangeran Rangga Dewa. Ia tidak segan-segan untuk menyerangnya.


"Brama adijaya! Kau jangan bermain-main denganku!." Pangeran Rangga Dewa terus menghindari serangan dari Pangeran Brama Adijaya. Sepertinya pertarungan itu sangat serius, karena beberapa kali ini hampir saja terkena serangan belati yang diayunkan oleh Pangeran Brama Adijaya. Sementara itu tenaga dalamnya, perlahan-lahan seperti disedot oleh belati serap jiwa.


"Ayolah rangga dewa!. Mari kita buat pertarungan ini menjadi menarik lagi!." Pangeran Brama Adijaya terus menerus menyerang Pangeran Rangga Dewa


Sedangkan penjaga kebun semakin takut, mereka tidak mengerti sama sekali. "Apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita harus melaporkan masalah ini pada gusti prabu?."


"Laporkan saja. Aku takut terjadi hal yang mengerikan pada mereka berdua."


"Baiklah, mari kita segera menemui gusti prabu."


Mereka semua memutuskan untuk pergi menemui prabu Dewata Sangara. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2