PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 13


__ADS_3

...***...


Malam harinya. Patih Rangga Dewa sengaja menemui Pangeran Arya Fusena di bilik nya. Ia hanya ingin memastikan bahwa keponakan kesayangannya itu baik-baik saja. Karena ia takut, orang-orang yang mengincar keponakannya, akan nekat masuk ke istana, dan menyerang Pangeran Arya Fusena.


Tok tok tok


"Nanda pangeran?. Apakah nanda ada di dalam?."


"Masuk saja paman."


Patih Rangga Dewa masuk ke dalam, ia melihat pangeran Arya Fusena sedang duduk di pinggir tempat tidur. "Apakah paman mengganggu nanda pangeran yang ingin tidur?."


"Baru saja mau tidur paman. Memangnya ada apa?. Apakah ada hal penting yang ingin paman sampaikan?."


"Paman hanya ingin mengatakan jika besok nanda pangeran tetaplah berada di istana. Karena paman ingin menyelidiki siapa yang berani menyerang nanda pangeran."


"Maaf jika selalu merepotkan paman Patih."


"Jangan berkata seperti itu. Kita ini semua keluarga. Jadi jangan merasa sungkan jika ingin meminta apapun dari paman."


"Terima kasih paman Patih."


"Sama-sama nanda pangeran." Patih Rangga Dewa sangat senang, melihat keponakannya. Ia mengusap sayang kepala Pangeran Arya Fusena.


"Tapi paman. Besok adalah hari kelahiran ibunda ratu dewi saraswati. Akan tetapi ibunda masih harus bersama ayahanda dalam menyelesaikan kasus yang terjadi."


"Nanda pangeran harap bersabar. Tunggu setelah keadaan reda. Mungkin nanda pangeran bisa memberikan hadiah pada ibunda nanda."


"Ya paman benar. Aku akan bersabar menunggu sampai masalah selesai."


"Baiklah kalau begitu, nanda tidur saja. Besok pagi paman akan menemani nanda latihan sebentar. Sebelum paman pergi betugas."


"Benarkah itu paman Patih?."


"Hum."


"Hore, terima kasih paman patih." Pangeran Arya Fusena sangat senang mendengarnya. Ia sangat senang jika dilatih oleh pamannya itu.


"kalau begitu tidurlah. Supaya bisa bangun pagi." Setelah itu Pangeran Arya Fusena berbaring di tempat tidurnya. Memejamkan matanya dengan dengan pelan. Karena rasa kantuk tidak bisa ia tolak lagi.


"Rasanya aku tidak sabar lagi memiliki istri dan memiliki anak." Dalam hatinya merasakan perasaan iri. Namun apa daya, ia masih belum menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Patih Rangga Dewa mencium puncak kepala pangeran Arya Fusena yang sudah memasuki alam tidur. Setelah itu ia pergi meninggalkan bilik Pangeran Arya Fusena. Namun siapa sangka ia tidak sengaja bertemu dengan Ratu Dewi Saraswati yang ingin melihat keadaan anaknya.


"Selamat malam yunda dewi."


"Selamat malam juga dinda patih."


"Apakah yunda ingin melihat keadaan nanda pangeran arya?."

__ADS_1


"Benar dinda patih. Karena akhir-akhir ini aku belum sempat mengunjungi bilik nya. Juga aku belum melihatnya."


"Yunda dewi tenang saja. Semuanya baik-baik saja." Patih Rangga Dewa tersenyum kecil. Ia sangat menghormati istri kedua kakaknya itu.


"Terima kasih karena dinda selalu memperhatikan putraku. Maaf jika aku selalu merepotkan mu dinda patih."


"Ah yunda dewi jangan berkata seperti itu. Kita ini keluarga. Sudah seharusnya saling melindungi."


"Sungguh beruntung sekali kanda prabu memiliki adik yang baik seperti mu dinda patih. Namun aku sangat berharap kau selalu bisa menjaga diri. Sepertinya kau banyak diincar oleh orang lain yang tidak suka padamu dinda patih."


"Jika masalah itu aku akan selalu berhati-hati yunda dewi."


"Kalau begitu aku mau masuk ke bilik nanda pangeran arya. Aku ingin melihat keadaannya."


"Aku rasa besok pagi saja yunda. Karena nanda pangeran sudah tidur. Rasanya tidak enak saja mengganggu nanda pangeran yang sedang tertidur. Tapi jika yunda ingin melihat nanda pangeran juga tidak apa-apa."


"Jadi begitu?. Kalau begitu aku akan kembali ke bilik ku saja. Terima kasih karena dinda patih selalu memperhatikan putraku."


"Sama-sama yunda dewi. Aku juga mau kembali ke bilik ku. Selamat malam, dan selamat beristirahat."


"Dinda Patih juga."


Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, karena sudah malam. Namun siapa sangka, ada sepasang mata yang memperhatikan percakapan itu. Sorot mata yang menatap penuh ambisi dan sinis. Apakah yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu. Komplotan Teguh Kala masih menyebar dimana-mana. Karena mereka benar-benar ingin membunuh Pangeran Arya Fusena. Memangnya dendam apa yang terjadi diantara mereka?. Sehingga terjadi permusuhan diantara mereka?.


...***...


Di sebuah tempat yang cukup ramai, mereka kelompok gagak pemangsa. Mereka selalu membuat keributan dimana-mana. Tidak peduli siapa yang akan mereka hadapi, dan kebetulan saat itu, pangeran Arya Fusena bersama empat dayang yang selalu menemaninya kemana saja.


"Gusti pangeran. Di istana kan banyak makanan. Apakah gusti pangeran tidak malu makan di tempat terbuka seperti ini?. Apa kata rakyat trisakti triguna?."


"Benar gusti pangeran. Sebaiknya kita makan di istana saja. Kesehatannya lebih terjamin."


"Nanti jika gusti pangeran sakit, maka kami yang akan dihukum oleh gusti Patih. Karena kami tidak becus mengurusi gusti pangeran."


"Benar itu gusti pangeran. Kita kembali saja ke istana ya."


"Dayang. Apakah tidak bisa diam sebentar?. Aku sedang menikmati makan enak ini."


Namun saat itu, para perusuh itu datang. Bagi mereka yang telah mengenali kelompok itu lebih memilih pergi dari sana dari pada menjadi korban. Akan tetapi Pangeran Arya Fusena yang belum mengerti sama sekali merasa terganggu dengan kedatangan mereka. Ia makan dengan santainya, tidak peduli bagaimana mereka yang mengamuk.


"Hei!. Kalian!. Apakah kalian tidak tahu siapa kami hah?."


"Hei!. Kalian yang harusnya mengetahui siapa beliau!."

__ADS_1


"Kalian sama sekali tidak sopan pada pangeran arya fusena yang sedang makan!."


"Sebaiknya kalian pergi saja dari sini!."


Mereka semua saling bertatapan satu sama lain, karena mereka memang pernah mendengar nama Pangeran Arya Fusena. Namun siapa sangka mereka malah bertemu langsung dengan Pangeran Arya Fusena saat ini?. Dan anehnya mereka malah tertawa, tentunya keempat dayang tersebut merasa heran. Sedangkan Pangeran Arya Fusena masih menikmati makannya, tanpa merasa terganggu sedikitpun.


"Hei!. Kalian ini sungguh tidak sopan!."


"Kita hajar saja mereka. Jangan sampai mereka mengganggu gusti pangeran yang sedang makan."


"Baiklah. Aku setuju dengan apa yang kalian katakan."


"Mari kita usir mereka yang tidak berguna itu!."


Keempat dayang itu yang menyerang beberapa orang pemuda yang ingin mengganggu Pangeran Arya Fusena. Terjadi pertarungan antara mereka di sana. Meskipun mereka wanita, dayang. Namun mereka memiliki ilmu bela diri yang cukup untuk melindungi pangeran kesayangan istana kerajaan suka Trisakti Triguna. Jadi mereka tidak akan membiarkan mereka semua mengganggu pangeran kesayangan mereka.


"Walah malah bertarung mereka. Apakah aku harus ikut juga?. Tapi perut ku masih lapar. Aku tidak bisa bertarung, jika perutku lapar." Pangeran Arya Fusena masih ragu, apakah ia akan membantu keempat dayang itu, atau hanya menyimak pertarungan itu?. Tapi rasanya tidak perlu. Karena Patih Rangga Dewa mendekati mereka semua. Tenyata Patih Rangga Dewa melihat pertarungan itu. Pertarungan yang sangat mengganggu keamanan di sana.


"Hei!. Hentikan!."


"Gusti Patih."


Keempat dayang tersebut memberi hormat pada Patih Rangga Dewa. Sedangkan mereka menatap aneh, tidak percaya jika itu adalah Patih Rangga Dewa?.


"Apa yang terjadi dayang?. Mengapa kalian malah bertarung dengan mereka?."


"Itu karena mereka mengganggu gusti pangeran yang sedang menikmati makan di sini gusti Patih."


Patih Rangga memperhatikan keponakan kesayangannya itu masih menikmati makannya. Merasa tidak terganggu sama sekali. Dan ia mengalihkan pandangannya pada pemuda yang suka membuat keonaran. "Hei!. Kalian!. Apakah kalian tidak bisa bersikap baik di daerah ini?. Kalian masih dibawah peraturan gusti prabu maharaja sura fusena. Berani sekali kalian berbuat keonaran di sini!."


"Diam kau rangga dewa. Kami tidak peduli kau siapa kau!. Kami hanya melakukan apa yang kami suka."


"Jika kau tidak suka dengan apa yang kami lakukan, maka sebaiknya kau yang pergi dari sini!."


"Benar!. Daerah ini sudah menjadi taklukan kami!. Kau tidak boleh meronda sampai ke sini sembarangan, meskipun kau adalah seorang patih!."


"Laknat!. Berani sekali kalian mengaturku dan kalian malah berbuat keonaran di wilayah kekuasaan kanda prabu maharaja sura fusena!."


Patih Rangga Dewa sangat murka mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka. Berani sekali mereka berkata seperti itu padanya?. Dalam keadaan marah yang luar biasa, ia hajar mereka semua dengan beberapa gebrakan. Mereka memang tidak bisa diberi ampun. Dan mereka semua melarikan diri, karena mereka tidak mau ditangkap dan dipenjarakan oleh Patih Rangga Dewa. Setelah berhasil menangani mereka semua. Patih Rangga Dewa mendekati keponakannya itu, dan ia tersenyum kecil melihat keponakannya yang masih lahap makan meskipun ada pertarungan di depan matanya.


"Enak makanannya?." Ia ikut duduk, dan merasa heran dengan raut wajah pangeran Arya Fusena yang tampak menikmati makanan itu.


"Sangat enak paman. Nanti nanda mau makan di sini lagi."


"Ahahaha baiklah kalau begitu. Paman juga akan ikut dengan nanda pangeran jika makan di sini."


Ya, kira-kira begitulah asal mula terlibatnya Teguh Kala dengan Patih Rangga Dewa dan Pangeran Arya Fusena. Bukankah yang bertarung pada saat itu adalah Patih Rangga Dewa?. Tapi bagaimana mungkin bisa mereka juga membenci Pangeran Arya Fusena?. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


Siapakah yang membenci pangeran Arya Fusena dan Patih Rangga Dewa?. Jawab di kolom komentar.


...***...


__ADS_2