PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 29


__ADS_3

...***...


Rahaja Dwipa saat ini melihat mereka semua latihan tanding yang sedang berlangsung. Ia mengamati kekuatan mereka semua yang sangat dahsyat. Tidak salah mereka dijuluki sebagai pendekar golongan hitam dari bukit angker. Kepandaian yang mereka miliki sangat luar biasa sekali.


"Bagaimana hum?. Masih mau bertanding denganku?." Paman Telaga malah memanasi suasana


"Hei, kutu jelek. Aku masih mau latihan denganmu. Jangan kau senang dulu, hanya karena kau menang sekali." Dengan kesalnya ia menunjuk ke arah Paman Telaga. Ia sangat tidak suka diremehkan begitu. "Mari kita bermain-main lagi." Ia merasa belum puas, jika belum berhasil mengalahkannya.


"Mari. Dengan senang hati aku akan melayani semua seranganmu itu." Tentunya ia menerima tantangan itu.


Kembali mereka bertarung dengan sangat cepat, sementara yang lainnya menyimak terlebih dahulu bagaimana pertarungan itu terjadi.


"Tidak salah aku mengajak mereka semua untuk bergabung. Dengan begitu, aku akan mudah menaklukkan kerajaan yang dipimpin oleh sura fusena." Dalam hati Rahaja Dwipa merasa senang. Karena sebentar lagi ia akan menyerang Istana Kerajaan Trisakti Triguna atas bantuan mereka semua. "Serta mengalahkan rangga dewa nantinya." Ia menyeringai lebar membayangkan keberhasilannya mengalahkan kedua orang itu.


"Hei!. Kalian berdua!. Lebih serius lagi kalau bertarung." Paman Raga mencoba menyemangati mereka semua. "Apa hanya segitu saja kemampuan bertarung kalian?. Sangat membosankan sekali."


"Betul tu. Rasanya kalian dari tadi hanya main-main saja. Tidak bisakah kalian bertarung lebih menarik sedikit?. Rasanya aku sedang memperhatikan dua orang bocah, yang sedang rebutan mainan."


"Berisik!. Kenapa kalian tidak ikut bergabung saja, dari pada hanya berkomentar saja. Aku benci dengan orang yang hanya pintar berbicara saja."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan ikut. Akan aku tunjukkan pada kalian bagaimana pertarungan seru itu." Dengan semangatnya ia melompat ke arah mereka semua, untuk meramaikan suasana latihan tanding itu.


"Aku juga ingin bermain-main dengan kalian. Jangan sampai kalian menyesal nantinya."


"Heh!. Bersiap-siaplah kalian semua."


Latihan tanding itu semakin seru, karena mereka semua mulai ikut terlibat. Sambil menunggu dua orang yang sangat penting, untuk sementara waktu mereka latihan tanding. Karena berdiam diri itu bukanlah gaya mereka yang selama ini pikirannya dipenuhi oleh pertarungan, ilmu kanuragan, serta kekuatan adu kadigdayaan.


...***...


Sementara itu, orang yang mereka tunggu justru sedang bersantai di sebuah warung makan. Mereka sedikit berbincang-bincang mengenai rencana Rahaja Dwipa. Mengenai rencana pemuda itu yang ingin menaklukkan Kerajaan Trisakti Triguna.


"Bagaimana menurut kakang?. Apakah kakang benar-benar akan terlibat dalam penyerangan itu?." Seorang wanita yang sudah berumur bertanya pada seorang laki-laki yang kini duduk di sebelahnya.


"Dia adalah rahaja dwipa. Putra dari kakang dwipa matara. Dia sama seperti bapaknya. Jika dia sudah memutuskan sesuatu, maka dia akan melakukan semua keinginannya." Balas laki-laki itu sedikit menyeringai kecil. "Aku sangat hafal betul bagaimana perangainya, serta ambisi yang ia miliki." Lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Tapi, kabar yang aku dengar. Rahaja dwipa pernah terlibat dalam pertarungan dengan raja trisakti triguna itu kakang. Rahaja dwipa merasa malu, dan aku yakin dia mau balas dendam pada raja itu. Makanya dia minta bantuan pada kita kan kakang?." Wanita itu sedikit heran dengan kelakuan Rahaja Dwipa.


"Aku sudah mengetahui semua keinginannya. Juga masalah apa yang terjadi dimasa lalunya." Balasnya lagi.


"Kakang tidak keberatan?. Meskipun merasa diperalat oleh rahaja dwipa bocah ingusan itu?." Wanita itu merasa heran. "Kakang ini kan pamannya, seharusnya kakang yang bisa mengendalikan dirinya. Bukan malah sebaliknya kakang. Aneh sekali kakang ini." Wanita itu menunjukkan sikap protes apa yang telah dilakukan suaminya itu.


"Aku tidak merasa diperalat kan nini. Aku hanya ingin menjajal ilmu kesaktian yang dimiliki keturunan maharaja sura dewa, hanya itu saja. Karena aku dengar, dia memiliki jurus yang sangat hebat." Ia mencoba memberikan penjelasan pada istrinya itu. Bahwa ia hanya sekedar bermain-main saja. "Mana mungkin aku diperalat oleh rahaja dwipa." Ia melirik ke arah istrinya.


"Jadi begitu?. Kalau begitu aku juga ingin melakukannya kakang." Ia tersenyum lega mendengarnya. Ia sempat khawatir jika suaminya ini hanya nurut saja.


"Ya sudah. Setelah ini kita harus segera ke sana. Aku yakin mereka semua telah menunggu kita semua."


"Baiklah kakang."


Mereka meneruskan makan, setelah itu mereka menuju desa yang tidak jauh dari kota raja Kerajaan Trisakti Triguna untuk melakukan rencana. Sepertinya akan terjadi hal yang sangat besar terjadi di Kerajaan Trisakti Triguna. Apakah itu?. Temukan jawabannya.


...***...


Dilingkungan istana Kerajaan Trisakti Triguna. Sepertinya Prabu Barata Jaya tidak berlama-lama di sana. Mereka langsung pulang, karena masih ada masalah yang harus segera diselesaikan. Saat ini Prabu Maharaja Sura Fusena sedang mengantar mereka semua di gerbang istana.


"Dinda prabu. Jika permasalahannya telah selesai, aku pasti akan segera berkunjung lagi ke istana ini. Aku juga ingin banyak berbagi hal denganmu." Prabu Brata Jaya terkekeh kecil. Pertemuan yang sangat mengesankan baginya, ia sangat nyaman jika bertemu dan berbicara dengan Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Kami akan selalu menunggu kedatangan kanda prabu. Semoga kerasan berada di sini." Begitu juga dengan Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Ah iya dinda prabu. Kami semua merasa nyaman di istana ini. Semoga kami bisa berkunjung lagi."


"Semoga saja kanda prabu."


"Kalau begitu kami pamit dulu dinda prabu. Sampurasun."


"Rampes."


Prabu Barata Jaya beserta rombongan telah memasuki bedati yang membawa mereka. "Sampai jumpa lagi dinda prabu.


"Sampai jumpa lagi kanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena membalaskan lambaian tangan Prabu Barata Jaya, sebagai tanda perpisahan pertemuan mereka hari ini.

__ADS_1


"Kanda prabu, mereka sudah pergi. Jadi pada siapa kanda melambaikan tangan?." Patih Rangga Dewa melihat aneh pada kakaknya sendiri.


"Oh. Dinda patih?. Kau rupanya." Prabu Maharaja Sura Fusena terkekeh kecil melihat betapa datarnya raut wajah adiknya saat ini, sehingga mengundang gelak tawanya.


"Kenapa wajah kanda prabu yang malah terlihat berseri-seri seperti itu?. Rasanya menyeramkan sekali." Entah mengapa Patih Rangga Dewa tidak menyukai ekspresi kakaknya saat itu.


JDUG!.


Prabu Maharaja menjitak kepala adiknya dengan kesal, sehingga adiknya itu meringis sakit. "Apa yang kanda prabu lakukan?. Itu namanya penganiayaan. Kenapa malah memukul kepalaku?." Dengan dramatisnya ia mengusap kepalanya yang terasa berdenyut sakit.


"Aku bahagia karena kau mendapatkan restu dari kanda prabu barata jaya, untuk meminang adiknya. Saking bahagianya, aku ingin memukul kepalamu dinda. Ahahaha!." Prabu Maharaja Sura Fusena malah tertawa aneh.


Patih Rangga Dewa tidak terlihat bahagia sama sekali. Justru ia terlihat biasa-biasa saja, seakan-akan yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena adalah hal yang biasa. "Kenapa?. Kau tidak suka pada nimas batari kasih?. Padahal kau sudah mendapatkan restu dari kanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa aneh dengan reaksi adiknya itu.


"Masalahnya adalah, nimas batari kasih sebenarnya telah memiliki kekasih kanda prabu." Balasnya dengan suara yang agak berbeda. Seperti seorang laki-laki yang telah kehilangan harapan.


"Hah?. Itu tidak mungkin, karena kanda prabu sendiri yang mengatakan jika adiknya belum memiliki kekasih." Bantah Prabu Maharaja Sura Fusena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adiknya.


"Itu karena nimas batari kasih belum mengatakan pada kanda prabu. Saat aku mengajaknya jalan-jalan ke kota raja, dia yang berkata seperti itu padaku. Bahwa dia telah memiliki kekasih. Tidak bisakah kanda prabu percaya dengan ucapanku ini?." Patih Rangga Dewa sampai menyipitkan matanya, hanya untuk meyakinkan kakaknya. Bahwa apa yang ia katakan itu sangat benar.


"Itu tidak mungkin, pasti dia berbohong padamu." Sepertinya Prabu Maharaja Sura Fusena tidak mudah percaya pada orang lain, bahkan pada adiknya sendiri?.


"Jujur atau tidak itulah yang terjadi. Jika memang dia tidak memiliki kekasih, lalu mengatakan padaku memiliki kekasih. Apakah kanda tidak merasakan bahwa dia telah sengaja menolak aku dengan berkata seperti itu?." Ada perasaan sedih di hatinya, jika memang seperti itu yang terjadi.


Prabu Maharaja Sura Fusena nampak sedikit berpikir dengan apa yang dikatakan oleh adiknya. "Hum, mungkin karena kau kurang menarik di matanya. Makanya lebih banyak bergaul sedikit. Biar kau lebih terlihat menawan dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena melirik ke arah adiknya. "Jangan hanya bermain dengan dayang saja. Apa kata dunia, jika mereka mengetahui, adik prabu maharaja sura fusena masih lajang tua." Setelah berkata seperti itu masuk ke dalam istana. Ia tidak peduli bagaimana reaksi adiknya mendengarkan ucapannya itu.


"Kau sangat kejam kanda prabu. Nanti, setelah ini aku akan memperkenalkan seorang wanita yang sangat cantik padamu." Lirih, sakit, sesak. "Apakah aku sudah setua itu?." Ia malah bertanya pada dirinya sendiri. "Ah sudahlah!. Aku masih muda. Lihat saja kanda prabu. Aku akan membawa calon istri yang cantik padamu suatu saat nanti." Ia sengaja mengeraskan suaranya agar didengarkan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena yang hampir saja masuk ke dalam istana.


"Heh!. Aku tidak yakin itu." Sepertinya Prabu Maharaja Sura Fusena tidak yakin jika adiknya akan berhasil membawa seorang wanita, apalagi calon istri. "Rasanya sangat mustahil." Ia ragu akan hal itu. Tapi ia akan mendukung apa yang diinginkan adiknya setelah ini. Ia berharap adiknya menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus.


...***...


Di sebuah tempat. Orang-orang kepercayaan Patih Rangga Dewa sedang mengamati desa yang tak jauh dari kota raja. Ia melihat ada hal yang mencurigakan di sana. Karena tidak biasanya ada banyak orang yang berkumpul di sana. "Sepertinya akan ada penyerbuan besar-besaran dalam waktu dekat ini. Kau harus segera melaporkan ini pada gusti Patih." Ia mencoba memastikan sekali lagi jumlah mereka yang sangat banyak. "Gusti Patih harus segera mengetahui ini. Akan gawat, jika dibiarkan begitu saja kelompok ini. Bisa jadi ini adalah pemberontak yang ingin menguasai istana kerajaan. Kalau begitu aku harus segera menemui gusti Patih."


Setelah itu ia segera pergi dari sana, karena ia tidak mau berlama-lama. Ia akan melaporkan, ada hal yang mencurigakan dari apa yang ia lihat. Apakah yang akan terjadi?. Temukam jawabannya. Jangan lupa komentarnya agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2