
...***...
Patih Rangga Dewa telah menyembunyikan ketiga wanita itu. Ia takut terjadi sesuatu pada mereka. Ia yakin anak buah Dharmapati Kaca para akan segera bertindak, dan benar. Ketika Patih Rangga Dewa membuat rencana untuk menjebak mereka. Menangkap mereka semua untuk mengakui kejahatan yang telah mereka lakukan. Ada tiga orang Pendekar bayaran, yang masuk ke salah satu rumah warga yang terlihat sepi, dan mereka mengancam pemilik rumah. Dan saat itu keluar seorang wanita muda yang sedang hamil tua?.
"Hei!. Kau!. Cepat keluar dari bilik mu!. Kami ada urusan denganmu!. Jika kau tidak mau keluar!. Maka kau akan kami bunuh."
"Apalagi yang tuan-tuan inginkan dariku?."
"Nyawamu!. Kami diperintahkan untuk membunuhmu!."
"Apa salah saya tuan. Sehingga saya dibunuh?. Saya telah melakukan apa yang tuan suruh."
"Halah!. Jangan banyak bicara!. Kita bunuh saja dia!."
Namun apa yang terjadi ketika mereka hendak memenggal leher wanita itu dengan menggunakan golok?. Wanita itu menghilang entah kemana. Tentu saja mereka sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka mencari-cari keberadaan wanita itu. Akan tetapi pada saat itu mereka melihat ada seseorang yang menegur mereka. Ia berada di atas langit-langit rumah, membuat mereka terkejut.
"Hei!. Kalian mencari siapa?. Hah?!." Raut wajah itu sangat terlihat menyeramkan karena menahan amarah.
"Hoh!. Siapa kau?."
"Hei!. Turun kau!.
Orang tersebut turun, ia menatap tajam ke arah tiga orang Pendekar bayaran tersebut. "Aku yang justru bertanya pada kalian. Untuk apa kalian masuk ke rumahku tanpa izin?."
Mereka saling bertatapan satu sama lain karena merasa kebingungan. "Apakah kalian ingin mencari anakku yang telah dinodai oleh kaca para!. Dan malah menuduh patih rangga dewa yang melakukannya?."
"Jangan berkata yang tidak-tidak kau!. Kami ke sini justru disuruh gusti Patih untuk menghabisi ketiga wanita itu untuk menutup mulut ketiga wanita itu!."
"Benar!. Kami justru disuruh gusti patih untuk menghabisi mereka bertiga!."
"Jika kau tidak percaya, kau datangi saja dia ke istana. Tanyakan padanya mengapa dia menyuruh kami untuk membunuh mereka!."
Kepala Patih Rangga Dewa terasa mau pecah dan hampir saja mau meledak mendengarkan apa yang dikatakan oleh ketiga Pendekar bayaran itu. Tanpa diduga ia menyerang ketiganya dengan gerakan yang sangat cepat. Mereka yang tidak menduga akan mendapatkan serangan cepat, merasa tidak siap, hingga mereka terkena serangan itu tanpa perlawanan. Serangan bertubi-tubi mereka rasakan, dan tidak ada ampun bagi mereka.
"Kegh." Mereka bertiga meringis kesakitan karena dihajar habis-habisan oleh Patih Rangga Dewa.
"Aku tidak pernah menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan keji itu!." Ia tarik salah satu kerah baju mereka dengan kuat, untuk melampiaskan kemarahannya. "Kalian yang melapor pada gusti prabu tentang keburukan ku!. Apakah kalian sama sekali tidak mengenali wajahku! Hah?." Ia kembali mengubah penampilan menjadi Patih Rangga Dewa. Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Jika itu adalah Patih Rangga Dewa?.
"Gu-gu-gu-gusti Patih?."
"Ya, aku adalah patih rangga dewa!. Dan kalian telah berani mengatakan jika aku yang menyuruh kalian!.." Patih Rangga Dewa sangat murka, dengan amarahnya yang membara, ia pukul satu persatu kepala mereka dengan geramnya. "Kalian akan aku tahan untuk sementara!. Dan kalian harus berkata jujur saat persidangan nanti. Jika kalian masih berani berkata dusta, akan aku potong lidah kalian!."
"Ampuni kami gusti patih." Mereka merengek minta ampun pada Patih Rangga Dewa. Mereka tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan Patih Rangga Dewa.
__ADS_1
"Aku akan mengampuni kalian, jika kalian berkata jujur nantinya." Patih Rangga Dewa mengikat tangan mereka semua. Akan ia amankan ketiga orang itu, agar bernyanyi dengan merdu, menjadi saksi di persidangan nantinya.
...***...
Kembali ke masa ini.
"Begitulah ceritanya kanda prabu." Patih Rangga Dewa telah menceritakan kejadian kedua. "Saya telah mengorek keterangan dari mereka. Bahwa mereka yang memberikan laporan pada kanda prabu tempo hari lalu, berniat membunuh ketiga wanita itu." Kali ini matanya menatap Dharmapati Kaca Para. "Sayangnya saya telah bertindak lebih dahulu dari pada mereka. Saya telah berhasil menyelamatkan mereka. Serta mereka juga telah mengakui, jika dharmapati kaca para yang telah membuat mereka menjadi wanita penghibur."
"Hamba masih keberatan gusti prabu. Bisa jadi itu hanyalah cerita yang dibuat oleh gusti patih untuk menjebak hamba." Masih belum mau mengakui perbuatannya?.
"Apakah perlu saya hadirkan semua saksi-saksi atas apa yang telah kau lakukan kaca para?. Apakah kau masih mau melimpahkan kesalahan yang telah kau lakukan, pada adik saya?."
"Prajurit!. Bawa ketiga orang itu!."
"Sandika gusti patih!."
Dharmapati Kaca para menangis, air mata sandiwara yang ia keluarkan saat sidang sedang berlangsung. "Rasanya hamba dijebak untuk mengakui hal yang tidak mungkin hamba lakukan. Apakah gusti memang ingin menghukum hamba?."
Mereka semua saling bertatapan, dan mereka memang mengetahui sepak terjang Dharmapati Kaca para selama ini. Jadi mereka hanya diam sambil menyimak bagaimana sidang itu berlangsung. Toh mereka juga tidak bisa memberikan keterangan untuk membela Dharmapati Kaca Para, karena yang menangkap langsung perbuatannya itu adalah Patih Rangga Dewa. Sehingga mereka terpaksa diam, walaupun masih ada yang membenci sang Patih.
"Baiklah. Jika kau merasa dipermainkan. Sebelum saya menghadirkan telik sandi kepercayaan ku. Apakah dari hadirin ingin mengeluarkan pendapat mengenai masalah ini?."
Selain itu, salah satu dari mereka yang pernah bermasalah dengan Dharmapati Kaca para, ini merupakan kesempatan yang bagus untuk mengeluarkan rasa sakit hati, dan rasa tidak suka mereka. "Mohon ampun gusti prabu. Sebelum sidang ini terjadi, kami memang sempat berunding sesama senopati. Dan kami menyelidikinya. Maaf jika kami menyelidikinya tanpa izin. Karena kami sudah tidak tahan lagi dengan kabar yang beredar gusti prabu."
"Apa yang kalian dapatkan dari hasil penyelidikan kalian?." Prabu Maharaja Sura Fusena sedikit penasaran.
"Mengapa kalian melakukannya tanpa izin dari saya?." Sang Prabu bertanya lagi.
"Mohon ampun gusti prabu. Itu karena kami sungguh tidak nyaman dengan berita yang beredar, jika gusti patih sering berburu wanita desa. Kami sangat marah dan benci pada gusti patih."
"Memang dharmapati kaca para pernah ditegur oleh gusti Patih. Kami kira karena dendam, dharmapati kaca para memang berniat menjatuhkan nama baik gusti patih."
"Kami kira itulah alasan mengapa itu semua bisa terjadi."
Tak lama kemudian, prajurit istana membawa ketiga anak buah Dharmapati Kaca Para. Mereka sangat terlihat ketakutan. Apalagi ketika telik sandi kepercayaan Prabu Maharaja Sura Fusena juga datang. Wajah Dharmapati Kaca Para terlihat sangat pucat, saking takutnya dengan apa yang akan ia terima. "Rangga dewa kurang ajar!. Dia tidak tanggung-tanggung dalam membuktikan kesalahan yang telah aku perbuat. Aku tidak akan membiarkannya menghukum aku. Akan aku bunuh dia terlebih dahulu." Dalam hati Dharmapati Kaca para telah berniat buruk.
"Mohon ampun gusti prabu. Kami hanya disuruh oleh dharmapati kaca para. Mohon ampuni kami."
Sementara itu Anak buah Dharmapati Kaca Para meminta ampun pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Namun pada saat itu juga, Dharmapati Kaca Para mengeluarkan keris kecil yang terselip di belakang pinggangnya. Ia hendak menyerang Patih Rangga Dewa.
Beruntung Patih Rangga Dewa menyadari serangan itu, sayangnya kedua tangannya tertancap keris itu. Karena ia melindungi dada kirinya yang hampir saja terkena serangan keris itu. Tentu saja mereka semua terkejut melihat itu, termasuk Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Kegh"
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, atau karena spontanitas, Sang Prabu menyerang Dharmapati Kaca para dengan tenaga dalamnya. Sehingga Dharmapati Kaca Para menjauh dari Patih Rangga Dewa. Bukan hanya Prabu Maharaja Sura Fusena saja yang menyerang Dharmapati Kaca para. Namun beberapa Senopati dan Dharmapati lainnya juga ikut menghajar Dharmapati Kaca Para.
"Kau benar-benar biadab kaca para. Kau pantas mendapatkan hukuman mati!. Kejahatan yang telah kau lakukan sudah tidak bisa diampuni."
Dharmapati Kaca para sudah tidak bisa melawan lagi, karena tenaga dalamnya telah terkuras habis. Dikeroyok banyak orang oleh mereka semua.
"Pasung dia. Arak keliling kota raja, sampai keluar desa. Biar dia dilempari oleh rakyat sampai mati. Aku tidak mau istanaku dinodai darahnya. Akan terkutuk istana ini jika ia dihukum mati dilingkungan istana ini."
"Sandika gusti prabu."
Mereka semua mendengarkan apa yang telah diperintahkan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena pada mereka semua. Hatinya telah dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa.
"Dan kalian juga akan mendapatkan hukuman. Karena kalian telah berani memberikan laporan palsu padaku. Akan aku hukum kalian seberat-beratnya."
"Sungguh ampuni kami gusti prabu. Kami hanya melakukan perintah saja."
"Prajurit!. Bawa mereka ke penjara!. Karena mereka juga akan mendapatkan hukuman dariku setelah ini."
"Sandika gusti prabu."
Setelah itu ia mendekati adiknya Patih Rangga Dewa yang sedang meringis kesakitan, karena kedua tangannya tertancap oleh keris milik Dharmapati Kaca Para. "Dinda patih. Dinda patih!."
"Bantu aku melepaskan keris ini kanda prabu."
"Tenanglah dinda patih. Aku akan melepaskannya." Perasaannya bercampur aduk, karena melihat adiknya yang terluka. Sang Prabu menggunakan tenaga dalamnya, agar sakit itu tidak terlalu dirasakan oleh adiknya.
"Keghaaakh." Keris itu berhasil dicabut dari telapak tangan Patih Rangga Dewa kesakitan. Apalagi darah menetes banyak dari kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar kuat menahan sakit dari tusukan keris itu.
"Kegh."
"Bertahanlah dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena menyalurkan tenaga dalamnya untuk menghentikan darah itu. Hatinya merasa tidak tega melihat adiknya yang kesakitan. Ia merasa marah dengan apa yang terjadi pada adiknya.
"Lagi-lagi kau dalam bahaya dinda patih. Bahkan dulu ketika putraku diculik, kau juga mengorbankan hidupmu."
"Sudahlah kanda prabu. Aku hanya melakukan yang sudah seharusnya. Mereka saja yang memang benci dengan orang sepertiku."
"Kau ini. Kau itu satu-satunya adikku. Kau adalah pilar kerajaan ini. Jika kau tewas, siapa yang akan menjaga istana ini?."
"Kanda prabu kan ada?. Aku ini hanyalah bayangan kanda prabu saja."
"Ya, terserah kau saja. Asalkan kau jangan menyesal saja, mati sebelum menikah."
"Ahahaha kanda prabu jangan berkata seperti itu. Perkataan seperti itu lebih menusuk jantungku, dari pada aku mendapatkan kabar buruk."
__ADS_1
Prabu Maharaja Sura Fusena hanya tertawa saja melihat raut wajah adiknya yang memelas sambil merengek. Prabu Maharaja Sura Fusena masih mengobati tangan adiknya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...