PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 16


__ADS_3

...***...


Putri Rara Wulan merasa heran melihat dayang yang biasanya bersama adiknya. Apakah dayang tersebut sedang melakukan sesuatu?. Karena merasa penasaran, Putri Rara Wulan menghampirinya dan bertanya. Namun ada keraguan dari jawabannya, sehingga Putri Rara Wulan merasa kesal dan marah pada dayang tersebut.


"Dayang. Apa yang kau lakukan di sini?. Dimana dinda arya?."


"Eh gusti ayu. Anu, hamba-."


"Anu apa?. Memangnya dimana dinda arya?."


"Anu gusti ayu."


"Anu apa?!. Bicara yang jelas padaku!. Dimana dinda arya!. Tidak biasanya kalian menjauh darinya!."


"Owalah. Gusti ayu jangan marah dulu toh. Hamba hanya kesulitan menjelaskannya."


Putri Rara Wulan menghela nafasnya dengan pelan. Memang ia agak emosi karena tidak mengetahui adiknya berada di mana. Setelah ia agak sedikit tenang, dan ia mulai bertanya dengan baik. "Katakan padaku apa yang terjadi pada dinda arya. Dan mengapa kau malah tampak kebingungan?."


"Hamba sedang mencari dimana gusti pangeran."


"Memangnya kemana dinda arya?. Sehingga kau mencarinya?." Putri Rara Wulan benar-benar kesal. Karena tidak biasanya mereka menjauh dari Pangeran Arya Fusena.


"Mohon ampun gusti ayu. Tadi saat kami sedang latihan, tiba-tiba saja kami disuruh prajurit untuk menemui gusti patih di kandang kuda. Ternyata kami tertipu gusti ayu."


"Apa?!. Jadi dinda arya diculik oleh prajurit itu?. Tapi mengapa kau malah mencarinya di sini?."


"Bisa jadi seperti itu gusti ayu. Habisnya hamba pikir lari ke sini."


"Benar-benar tidak becus!. Segera cari dinda arya!. Jika terjadi sesuatu pada dinda arya. Akan aku hukum kau!."


"Sandika gusti ayu." Dengan penuh ketakutan karena ancaman dari Putri Rara Wulan.

__ADS_1


"Keterlaluan!. Aku juga harus mencari dinda arya. Ayahanda prabu masih berkabung karena selirnya. Dan sekarang keberadaan dinda arya entah dimana." Entah mengapa Putri Rara Wulan merasa kesal dengan apa yang terjadi di istana ini.


"Memangnya siapa yang berani menculik pangeran kesayangan di lingkungan istana?. Apakah dia sudah bosan hidup?. Atau dia ingin mencoba bermain-main dengan patih rangga dewa?. Tidak!. Mereka ingin bermain-main dengan putri rara wulan. Karena telah berani menculik pangeran kesayanganku!." Dengan langkah yang kesal ia mencoba untuk mencari adiknya itu di luar istana. Apakah ia berhasil menemukan keberadaan Pangeran Arya Fusena?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu, Patih Rangga Dewa yang baru saja sampai di gerbang Istana. Ia bertanya pada Prajurit jaga, apakah mereka melihat Pangeran Arya Fusena keluar dari gerbang?. Tapi ia harus bertanya pada prajurit jaga, mungkin saja melihatnya.


"Gusti Patih." Mereka memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.


"Prajurit. Apakah kalian melihat pangeran arya keluar dari istana ini?. Apakah kalian melihat ke arah mana pangeran arya keluar?."


"Kami memang melihatnya gusti patih. Gusti pangeran bersama seorang prajurit menuju ke arah sana."


"Kalian semua tetap berjaga di sini. Jangan sampai ada kelompok orang yang masuk tanpa izin dariku. Jika perlu kalian panggil semua teman-teman kalian untuk menghadang mereka semua."


"Sandika gusti Patih."


...***...


Kembali ke Pertarungan Pangeran Arya Fusena. Karena kalah dalam jumlah, dan ia memang hampir saja kehabisan tenaga. Mereka seolah tidak habisnya menyerang dirinya. Saat ini ia sedang menyandar di sebuah pohon yang tak jauh dari mereka.


"Hei!. Kau arya fusena!. Sebaiknya kau menyerah saja!. Rasanya kami sangat capek berhadapan denganmu!."


"Ya!. Sebaiknya kau menyerah saja!. Kami sudah lelah menghadapi mu!."


"Haduuuuuah!. Mengapa aku yang harus menyerah. Kalian itu yang harusnya menyerah mencari masalah dengan aku." Rasanya tenaga dalamnya benar-benar terkuras habis, karena berhadapan dengan banyak orang.


"Enak saja kau bicara!. Kau yang mencari gara-gara dengan aku!."


"Hei!. Aku katakan pada kalian ya. Percuma saja kalian ingin menangkap aku. Karena paman Patih yang akan menghajar kalian semua. Paman Patih sedang berjalan menuju ke sini."

__ADS_1


"Persetan dengan rangga Patih!. Kami tidak takut dengannya!. Sebaiknya kau jangan banyak bicara lagi!." Nafasnya hampir saja putus karena pertarungan yang sangat melelahkan bagi mereka. "Hei kalian!. Segera tangkap dia!."


Namun saat mereka hendak menangkap pangeran Arya Fusena. Mereka dikejutkan dengan kedatangan Patih Rangga Dewa yang berjalan santai melewati mereka. Memang Pangeran Arya Fusena melihat pamannya itu. Karena itulah ia berani berkata seperti tadi. Sedangkan mereka terpaku ditempat. Mereka mungkin akan pasrah saja jika dihajar oleh Patih Rangga Dewa.


"Sudah aku katakan jika paman Patih berjalan menuju ke arah sini. Kalian malah tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Dasar pekak!. Tuli!. Tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan." Pangeran Arya Fusena malah mengomel-ngomel kesal. Sedangkan Patih Rangga Dewa yang baru saja mendekatinya merasa heran.


"Keringatnya banyak sekali." Ia mencoba mengendus hidungnya ke arah pangeran kesayangannya. "Bueh bauk. Memangnya nanda pangeran habis mengerjakan apa?. Sampai bau keringat seperti itu." Patih Rangga Dewa menutupi hidungnya, karena tidak tahan dengan bau keringat pangeran Arya Fusena.


Pangeran Arya Fusena malah nyengir malu. "Tadi aku mencoba latihan fisik paman patih. Berhadapan dengan mereka semua. Tapi mereka terlalu banyak paman Patih. Tenaga dalamku benar-benar terkuras karena mereka semua."


Patih Rangga Dewa memperhatikan mereka yang telah babak belur. Mungkinkah dihajar semua oleh Pangeran Arya Fusena?. Ya, siapa lagi kalau bukan Pangeran Arya Fusena. Karena hanya dia yang berada di dekat sini. Akan tetapi, entah mengapa Patih Rangga Dewa malah tertawa tertahan. Tentunya Pangeran Arya Fusena merasa heran, mengapa pamannya itu malah tertawa.  Begitu juga dengan mereka yang melihat itu.


"Kenapa paman patih malah tertawa?." Pangeran Arya Fusena cemberut.


"Nanda pangeran luar biasa sekali bisa berhadapan dengan mereka sebanyak ini." Patih Rangga Dewa melirik mereka semua dengan senyuman yang aneh. "Ya, meskipun nanda pangeran juga ikut terluka." Lanjutnya lagi.


"Jadi aku harus latihan fisik lagi bersama dayang?."


"Betul sekali. Tapi-." Ia membalikkan badannya menghadap mereka semua. Kali ini wajahnya terlihat lebih serius dari yang tadi. "Kalian harus aku hukum!. Karena telah berani menyerang pangeran kesayanganku!. Tidak akan aku biarkan kalian lolos dariku!." Patih Rangga Dewa terlihat murka dengan mereka semua.


"Kur. Cepat pergi ke tempat kakang teguh kala. Katakan padanya jika rangga dewa berada di sini."


"Baik ketua." Kur, laki-laki itu segera pergi dari sana. Karena ia takut akan segera dihajar oleh Patih Rangga Dewa  jadi ia harus segera menyampai pada Teguh Kala, jika Patih Rangga Dewa saat ini sedang berhadapan dengan kelompok satu.


Patih Rangga Dewa yang saat ini sedang dikuasai oleh kemarahan menyerang mereka semua. Karena telah berani membuat masalah dengan pangeran kesayangannya?. Tanpa ampun ia menghajar mereka yang telah kehabisan tenaga setelah bertarung dengan Pangeran Arya Fusena.


"Paman Patih sepertinya saat ini sedang bersemangat sekali. Maaf paman. Aku tidak bisa membantu paman!."


"Nanda pangeran tenang saja. Karena paman akan menghajar mereka semua. Apalagi perbuatan mereka yang masih saja membuat keonaran, dan sekarang malah menargetkan nanda pangeran." Dengan perasaan geram yang luar biasa. Ia menyerang mereka semua, terus menyerang hingga mereka semua minta ampun padanya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2