PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 38


__ADS_3

...***...


Lasmi saat ini sedang mencari keberadaan Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan. Ia sangat khawatir dengan keadaan mereka berdua. Ia bingung harus mencari kemana, karena ia tidak memilki petunjuk sama sekali. Sehingga ia tidak bisa menentukan kemana arah pasti ia melangkah.


"Sebenarnya gusti pangeran juga gusti ayu pergi kemana?. Kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaan mereka?." Hatinya dipenuhi oleh kegelisahan yang luar biasa. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?.


"Oh dewata yang agung. Aku harus kemana mencari keberadaan mereka." Ia tampak gelisah, karena tidak tahu harus mencari kemana. "Semoga saja keduanya baik-baik saja." Dalam hatinya sangat berharap, Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan akan baik-baik saja. Stelah itu ia memutuskan untuk terus mencari keduanya.


...***...


Patih Rangga Dewa sangat menyukai nama wanita yang telah menolongnya. Namun ia merasa gugup, ketika Suci Putih bertanya namanya.


"Lalu, siapa nama kisanak?. Jika aku boleh mengetahui."


"Waduh. Namaku siapa ya?." Ia berpura-pura lupa dengan dirinya sendiri. Ekspresi raut wajahnya terlihat lucu, serta menggaruk kepalanya yang mendadak gatal?. Entahlah, ia tidak mengerti mengapa ia melakukan itu. "Namaku-." Ucapannya terhenti, karena ia ragu mau mengatakannya.


Sedangkan Suci Putih telah menunggunya untuk menyebutkan namanya. "Namaku, rangga dewa." Ia memperkenalkan namanya saja. Tanpa mengatakan dirinya siapa. Karena ia hanya sungkan saja menyebutkan dirinya siapa.


"Oh, rangga dewa. Nama yang bagus."


Patih Rangga Dewa semakin merasa gugup, karena namanya dipuji oleh Suci Putih. Sehingga ia salah tingkah, apalagi ketika melihat senyuman manis dari wanita itu. Sedangkan Suci Putih malah tertawa melihat Patih Rangga Dewa yang seperti itu.


"Oh iya. Karena kau adalah seorang tabib. Bagaimana menurutmu kondisi tubuhku saat ini?. Apakah aku bisa menggunakan tenaga dalamku?." Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Apalagi ia tidak mau larut dalam perasaan sesaat yang ia rasakan saat ini.


"Seharusnya bisa. Namun tunggu sampai benar-benar pulih. Setidaknya sampai besok pagi. Karena masih dalam proses." Suci Putih mengamati kondisi Patih Rangga Dewa, dan menurutnya akak aman. "Memangnya kau mau apa?. Apakah ada hal penting yang ingin kau lakukan, sehingga terburu-buru seperti itu?." Rasa penasaran, dan ingin tahu telah menyelimuti hatinya.


"Aku harus segera kembali ke istana. Karena aku takut terjadi sesuatu pada gusti prabu maharaja sura fusena."


"Memangnya kenapa dengan gusti prabu?."


"Aku takut beliau diserang oleh orang jahat. Sayangnya kondisiku masih sakit."


"Jadi kau adalah salah satu penggawa istana?."


"Bisa dibilang seperti itu. Karena itulah aku harus segera kembali ke istana."


"Baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan menemanimu menuju istana. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah yang ada di istana."


"Benarkah?. Apakah kau mau membantu aku?."


"Ya. Bukankah sesama manusia kita wajib saling tolong menolong?."

__ADS_1


"Terima kasih suci putih. Kau sangat baik sekali. Mungkin aku bisa memberikan kedudukan di istana nantinya."


"Sama-sama rangga patih. Aku hanya berniat membantumu saja. Aku takut, jika besok pagi badanmu masih sakit, dan mereka menghajarmu. Aku takut kau malah menyalahkan obat yang aku berikan padamu. Dan kau mengatakan, jika obat itu tidak manjur sama sekali pada tubuhmu."


"Aih. Kok malah gitu bicaranya." Patih Rangga Dewa tertawa hambar mendengarkan ucapan Suci Putih. Sedangkan wanita itu hanya tertawa cekikikan melihat raut wajah Patih Rangga Dewa.


...***...


Malam telah menyapa. Di Istana, Rahaja Dwipa, Retma Aji merasa tidak sabar lagi menunggu. Rasanya mereka semakin kesal, dan ingin segera mencari keberadaan Patih Rangga Dewa. Sehingga mereka tampak sangat gelisah, serta tidak tenang dari tadi.


"Kurang ajar!. Mau sampai kapan kita harus menunggu kedatangan si keparat rangga Patih itu?."


"Aku sudah muak menunggunya. Dia harus membayar nyawa istriku. Aku tidak terima jika ia masih berkeliaran, sementara istriku telah menjadi mayat."


"Haduh. Tinggal bersama orang seperti mereka sangat tidak enak." Bisik Paman Telaga.


"Ssh. Nanti kau bisa dihajar oleh mereka telaga. Jaga ucapanmu."


"Ya, ya, ya. Terima kasih telah mengingatkan aku." Dengan bosannya Paman Telaga hanya bosan saja mendengarkan keluhan mereka dari tadi. Keluhan yang sama sekali tidak bermanfaat.


...***...


Rumi baru saja sadar, setelah tertidur cukup lama. Begitu kesadarannya kembali, ia melihat sekitar. "Penjara?." Rumi langsung bangun, dan berdiri. Berlari ke tepian jeruji, akan tetapi ia terkejut. Karena mengeluarkan sengatan yang membuatnya terkejut.


"Rumi?. Apakah kau rumi?."


"Duri kosambi?." Rumi melihat penjara di depannya. Ia tidak menyangka, jika orang yang ia kenali saat ini berada di dalam penjara juga?.


"Bagaimana mungkin kau bisa tertangkap oleh mereka?. Lalu dimana ketiga temanmu?."


"Lasmi sedang mencari gusti pangeran arya, juga gusti ayu. Suri mencari keberadaan gusti Patih. Sedangkan Rati, aku menyuruhnya untuk membawa pasukan. Tapi sepertinya mereka semua belum kembali." Rasanya sangat sedih, karena tidak mengetahui kabar mereka. "Lalu bagaimana denganmu duri kosambi?. Bagaimana keadaan gusti prabu?."


"Gusti prabu saat ini bersama kami. Mereka cukup tangguh untuk kami hadapi."


"Jadi begitu. Apakah kita tidak bisa keluar dari sini?."


"Kedua tangan kami sedang dirantai dengan tali gaib. Jadi kami tidak bisa keluar untuk sementara waktu."


"Heh!. Katanya kau mantan pembunuh sadis dari pulau tengkorak. Melepaskan diri saja kau tidak bisa." Rumi merasa kecewa dengan kelemahan Duri Kosambi. Sedangkan Jamba dan Cadra Baka malah tertawa mendengarkan keluhan Rumi.


"Aku bisa saja melepaskan diri dari sini rumi bodoh!. Tapi aku harus menjaga keselamatan gusti prabu. Apakah kau sudah lupa dengan keadaanku ini?. Apakah kau sudah lupa, jika aku ini adalah setengah siluman?!. Jika aku menggunakan kekuatanku!. Maka aku bisa mencelakai kalian semua!."

__ADS_1


Mereka semua terdiam, tidak bersuara lagi. Karena memang benar apa yang dikatakan Duri Kosambi. Bahwa dirinya adalah setengah siluman. Akan tetapi, karena kekuatan dari Patih Rangga Dewa, kekuatan setengah siluman itu berhasil ditekan. Setelah itu Duri Kosambi bersumpah setia pada Patih Rangga Dewa yang telah memberikan ia kesempatan untuk hidup lebih baik lagi.


...***...


Pangeran Arya Fusena, Pangeran Birawa Fusena, dan Putri Rara Wulan telah sampai di rumah Durya Pati. Mereka disambut baik oleh keluarga Durya Pati.


"Maaf kakek. Saya membawa pesan dari ayahanda prabu." Pangeran Birawa Fusena menyerahkan sebuah kertas dau lontar yang biasanya digunakan untuk menulis pesan.


"Baiklah gusti pangeran. Akan saya baca dengan baik." Durya Pati mengambil surat tersebut dan membacanya.


"Maaf paman durya pati. Untuk sementara waktu, aku titipkan ketiga anakku di tempat paman. Karena saat ini keadaan istana sedang tidak aman. Mungkin paman masih ingat dengan retma aji. Orang yang telah membunuh ayahanda prabu. Tapi paman jangan katakan pada mereka bahwa saat ini saya sedang menghadapi retma aji. Saya minta bantuan orang-orang kepercayaan paman. Karena saya mungkin tidak bisa menghadapi mereka. Apalagi dinda Patih tidak ada di istana. Mohon bantuannya paman."


Durya Pati menghela nafasnya dengan pelan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan surat dadakan dari keponakannya itu. "Tulisannya sangat berantakan. Aku yakin dia membuat ini dalam keadaan gawat darurat. Sepertinya aku memang harus segera membantunya." Dalam hati Durya Pati merasa gelisah, setelah membaca surat yang ditulis oleh keponakannya itu.


"Ada apa kakek?. Kenapa kakek terlihat serius seperti itu saat membaca surat dari ayahanda prabu?. Apakah terjadi sesuatu pada ayahanda prabu?."


"Oh. Tidak. Ayahanda kalian mengatakan untuk tetap di sini beberapa hari. Nanti kalian akan dijemput setelah semuanya beres." Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meskipun ketiga anak Prabu Maharaja Sura Fusena merasakan ada yang ganjal. "Nyai. Tolong bawa makanan serta minuman. Kita kedatangan cucu kesayangan kita nyai." Durya Pati memanggil istirnya yang mungkin berada di dapur?.


"Baik kakang." Sepertinya memang begitu. Karena istrinya nyai Warisati menyahutnya dari arah belakang. Dan tak lama kemudian, ia datang bersama beberapa emban yang membawa makanan dan minuman.


"Wah, ada cucu kesayangan nenek."


"Sudah lama tidak bertemu nenek. Rasanya sangat rindu sekali."


"Nenek sangat rindu dengan nanda putri." Nyai Warisati mendekati Putri Rara Wulan.


"Apakah nenek tidak merindukan kami?."


"Hehehe tentu saja nenek sangat merindukan kalian pangeran kesayangan nenek." Dengan gemasnya Nyai Warisati mencubit pipi keduanya.


"Sudah, sudah. Mari makan dulu, kalian pasti lapar saat melakukan perjalanan kemari bukan?."


"Benar kek. Kami sangat lapar sekali. Karena kanda birawa langsung membawa kami ke sini."


"Jangan salah kan aku dinda rara."


"Hehehe ya sudah. Ayo kita makan bersama. Rasanya sudah lama tidak makan bersama." Nyai Warsita dengan semangatnya mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan yang ia sediakan.


"Kalau begitu, aku akan pergi sebentar. Kalian makanlah terlebih dahulu."


"Terima kasih kakek."

__ADS_1


"Sama-sama." Durya Pati adalah kakak dari mendiang Prabu Maharaja Sura Dewa, karena itulah. Jika Prabu Maharaja Sura Fusena mengalami masalah, ia tidak akan sungkan lagi meminta bantuan darinya.


...***...


__ADS_2