PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 20


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa baru saja keluar dari bilik Pangeran Arya Fusena. Ia ingin segera mencari tahu kebenaran tentang apa yang membuat kakaknya marah, dan malah menyerang dirinya.


"Haduuuuh. Perutku terasa sakit sekali. Belum diisi dengan makanan, aku malah dihajar kanda prabu." Ia merintih sakit, karena perutnya yang nyeri. "Untung saja dia kanda prabu, jika tidak, sudah aku habisi dia."


"Paman Patih?." Kebetulan Putri Rara berada datang karena ia sama sekali tidak melihat adiknya Pangeran Arya Fusena latihan.


"Oh, nanda putri rara." Patih Rangga Dewa berusaha bersikap biasa-biasa saja.


"Apa yang terjadi paman Patih?. Mengapa paman Patih mengomel sendiri?. Dan juga ada bekas darah." Putri Rara menunjuk ke sudut mulutnya. Dan matanya menangkap pamannya itu sedang menahan sakit.


Patih Rangga Dewa menyeka darah di sudut bibirnya. Matanya memang menangkap ada bekas noda merah. Ia tidak menyangka pukulan Prabu Maharaja Sura Fusena akan sekuat itu.


"Paman belum menjawab pertanyaan dariku. Ada apa paman?."


"Sebaiknya kita jangan berbicara di sini. Ada hal yang harus paman katakan."


"Baiklah paman Patih. Mari." Putri Rara Wulan penasaran dengan cerita Pamannya. Mengapa keadaannya bisa seperti itu?. Siapa yang telah berani memukul pamannya?.


Namun saat mereka berada di halaman belakang. Keempat dayang yang biasa menemani Pangeran Arya Fusena datang dengan tergopoh-gopoh.


"Gusti Patih!. Gusti Patih!. "


"Ada apa dayang?. Mengapa kalian terlihat aneh begini?."


"Gaswir gusti patih. Ini sangat gaswir."


"Apanya yang gawat?. Katakan dengan jelas dayang."


"Sangat gaswir gusti patih."


"Iya, katakan padaku dengan jelas!. Bagian mana yang gawat."


"Tapi apakah tidak apa-apa jika hamba mengatakannya?. Di sini ada gusti ayu."


"Katakan saja. Nanda Putri rara adalah keponakanku."


"Baik gusti patih."


"Sebenarnya. Ada kabar buruk yang beredar di lingkungan istana ini, tentang gusti patih."


Putri Rara Wulan dan Patih Rangga Dewa saling bertatapan. "Gosip?." Keduanya serentak bertanya.


"Kali ini apa lagi gosip yang beredar tentang aku?. Memangnya kali ini gosip apa lagi yang beredar tentang aku?." Emosi Patih Rangga Dewa tiba-tiba meledak begitu saja. Ia sangat muak dengan apa yang terjadi, jika gosip yang beredar tentangnya.

__ADS_1


"Mohon ampun gusti Patih. Rasanya agak berat kami mengatakannya."


"Katakan saja dayang. Meskipun aku juga mendengarkan gosip itu. Tapi aku hanya ingin memastikannya. Mungkin aku bisa bertanya langsung pada paman Patih, setelah paman Patih mendengarkan kabar itu dari kalian."


Keempat dayang tersebut saling bertatapan. Apakah mereka akan mengatakannya?. Sedangkan Patih Rangga Dewa sudah tidak sabar lagi dengan kabar yang akan disampaikan oleh mereka.


"Gosip yang beredar itu-."


"Jika paman telah bermain serong dengan ibunda ratu dewi saraswati. Sedangkan dinda arya adalah anak paman Patih dan ratu dewi saraswati." Pangeran Birawa Fusena yang menjawabnya. Membuat mereka semua melihat ke arahnya yang baru saja bergabung.


"Jadi kanda telah mendengarkan kabar buruk itu?."


"Benar dinda. Rasanya kuping ku sangat panas mendengarkan kabar gila itu."


"Apakah memang seperti itu kabar yang beredar dayang?."


"Lebih kurang seperti itu gusti patih."


"Kami sangat terkejut mendengarkan gosip yang beredar itu gusti patih."


"Makanya kami segera mencari gusti Patih. Karena akan berbahaya, jika gosip itu sampai ke telinga gusti prabu."


Patih Rangga Dewa tampak berpikir sejenak, dan mengingat alasan mengapa kakaknya itu menyerangnya tadi. "Ini sangat gawat. Pantas saja kanda prabu menyerang aku tadi pagi. Aku rasa ini adalah penyebabnya."


"Gusti Patih diserang gusti prabu?."


Secara bersamaan mereka bertanya, karena tidak percaya, jika Prabu Maharaja Sura Fusena menyerang adiknya sendiri?.


"Benar. Kanda prabu menyerang aku. Bahkan menyerang nanda pangeran arya."


Mereka semua semakin terkejut, karena Prabu Maharaja Sura Fusena menyerang anaknya sendiri?.


"Paman. Katakan pada kami kebenarannya. Kami tidak percaya begitu saja dengan gosip murahan itu." Putri Rara Wulan sangat khawatir dengan keadaan adiknya.


"Apakah dinda arya baik-baik saja Paman?. Apakah paman terluka dalam setelah diserang ayahanda?."


"Gusti Patih. Izinkan kami untuk memeriksa keadaan gusti Patih."


"Katakan pada kami apa yang sakit gusti Patih."


"Sini biar kami periksa dan sembuhkan luka gusti Patih."


"Mari ke ruang pengobatan gusti patih."


Mereka semua sangat mencemaskan keadaan Patih Rangga Dewa. Namun sepertinya ia baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dicemaskan.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Namun aku membutuhkan bantuan kalian semua dalam menyelesaikan masalah ini."


"Tentu saja kami mau membantu paman Patih."


"Katakan apa yang bisa kami bantu paman Patih."


"Kami siap menjalankan tugas penting dari gusti Patih."


"Baiklah kalau begitu. Nanda Putri rara, temani yunda ratu dewi. Tolong jaga keduanya. Karena paman takut, nanti kanda prabu bisa jadi melakukan hal yang tidak kita duga sama sekali. Jadi paman minta bantuan dari nanda putri rara. Apakah bisa paman meminta bantuan seperti itu?." Ia melihat ke arah Putri Rara Wulan.


"Baiklah paman patih. Aku akan berusaha menjaga ibunda, serta dinda arya."


Patih Rangga Dewa tersenyum kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Rara Wulan.


"Kalian berempat, segera cari informasi tentang siapa yang dengan berani menyebarkan gosip tentang diriku."


"Sandika gusti patih."


"Lalu nanda pangeran birawa. Mari ikut paman. Kita cari dalangnya, agar dia mengetahui sedang berurusan dengan siapa."


"Baik paman Patih."


Mereka semua telah siap dengan tugas masing-masing. Mereka berharap, bahwa biang masalah ini bisa segera di atasi. Akan berbahaya jika masalah ini dibiarkan begitu saja.


"Kalau begitu aku pergi dulu paman, kanda."


"Terima kasih karena nanda putri rara, juga nanda pangeran birawa mau membantu paman."


"Sama-sama paman. Kalau begitu aku akan menuju bilik dinda arya."


"Berhati-hatilah dinda." Pangeran Birawa hanya khawatir pada adiknya. Ia takut ayahandanya akan melakukan hal yang aneh.


"Baiklah kanda, paman patih juga berhati-hatilah. Aku pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes." mereka melihat kepergian Putri Rara Wulan.


"Kami juga pamit gusti patih." Mereka semua memberi hormat pada Patih Rangga Dewa. Mereka begitu menghormati Patih Rangga Dewa.


"Jangan lupa laporkan padaku, semua tentang diriku yang terkenal hanya karena gosip."


"Sandika gusti Patih." Setelah memberikan hormat pada Patih Rangga Dewa, mereka semua pamit. Segera menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi.


"Mana mungkin gusti Patih melakukan perbuatan kotor itu?." Dalam hati keempat dayang itu tidak percaya, jika Patih Rangga Dewa dengan tega hati melakukan perbuatan kejam itu?.


"Akan aku temukan secepatnya. Aku sudah muak dengan kabar gosip buruk yang beredar tentang diriku!." Dalam hati Patih Rangga Dewa merasa kesal dengan kabar yang beredar. Sungguh ia tidak menduga akan tersebar kabar tentang dirinya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Love U full pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2