
...***...
Pangeran Arya Fusena mendatangi Patih Rangga Dewa. Ia mendapat kabar, jika Pamannya itu diserang, perasannya sangat gelisah mendengarkan kabar itu. Sedangkan Patih Rangga Dewa. Untuk beberapa hari ini harus beristirahat, karena tangannya masih sakit.
"Selamat pagi paman Patih. Bagaimana keadaan paman Patih?. Apakah paman Patih baik-baik saja."
"Paman baik-baik saja nanda pangeran. Hanya perlu memulihkan tangan saja." Ia mengangkat kedua tangannya yang saat ini sedang dibalut kain putih, untuk menutupi telapak tangannya yang masih terluka.
"Ayahanda prabu mengatakan jika tangan paman ditikam dengan keris. Kenapa itu bisa terjadi paman patih?." Pangeran Arya Fusena terlihat sangat khawatir, ia membolak-balikkan tangan Patih Rangga Dewa yang dililit oleh kain putih?.
"Itu namanya resiko, ketika kita berhasil membuktikan kejahatan seseorang, dan dia tidak terima. Makanya dia menyerang paman. Tapi paman masih bisa selamat, meskipun kedua tangan paman terluka."
"Tapi itu sangat berbahaya sekali paman. Jika tidak berhati-hati, atau waspada. Nyawa sendiri yang akan melayang."
"Nanda pangeran benar. Karena itulah kita tidak boleh lengah."
"Tapi permasalahan itu sudah selesai, kan paman Patih?."
"Nanda pangeran tidak usah cemas. Semuanya sudah berhasil diatasi. Lalu bagaimana dengan latihan nanda pangeran dengan nanda putri rara wulan?. Apakah semuanya berjalan dengan lancar?."
"Semuanya berjalan dengan baik paman."
"Syukurlah jika memang seperti itu nanda prabu."
Pada saat itu, Putri Rara Wulan datang dengan raut wajah yang sangat cemas. Ia baru mendapatkan kabar tentang Patih Rangga Dewa. "Selamat pagi paman patih. Bagaimana keadaan paman patih?. Aku dengar, paman patih diserang saat sidang. Apakah itu benar paman?"
"Paman baik-baik saja. Tidak ada yang patut dikhawatirkan. Semuanya bisa diatasi dengan baik."
"Oh syukurlah paman patih. Aku sangat senang mendengarnya. Aku sangat cemas, ketika kabar itu tersebar di lingkungan istana."
"Terima kasih karena nanda putri telah mengkhawatirkan keadaan paman. Rasanya sangat bahagia diperhatikan oleh kedua keponakan paman."
"Paman ini."
Mereka hanya tertawa kecil. Karena canda tawa mereka untuk menghilangkan suasana canggung. Hubungan kekeluargaan yang terjalin diantara mereka.
...***...
Di kediaman Dharmapati Kaca Para. Keluarganya telah mendapatkan kabar tentang kematian Dharmapati yang mendapatkan hukuman mati. Nyai Laras Pati tidak kuasa menahan tangisnya. Apalagi ketika prajurit istana mengabarkan berita duka itu.
"Aku yakin kakang dharmapati dijebak oleh gusti patih rangga dewa. Aku tidak akan menemui gusti prabu dan meminta keadilan."
"Tidak usah adi bayu raksa. Kau hanya akan memperkeruh keadaan."
"Apakah ayuk hanya menerima dengan pasrah?. Aku tidak terima atas kematian kakang dharmapati?."
__ADS_1
"Kakang Patih memang telah terbukti melakukan kesalahan. Bahkan di depan mataku, dia berani bermain perempuan. Aku merasakan sakit hati bagaimana kelakuannya selama ini padaku. Bahkan gusti Patih pernah datang ke sini, menegur kakang dharmapati. Namun ia tidak bisa berubah."
"Terserah yayuk saja. Aku akan datang ke istana. Aku tidak terima begitu saja. Jika perlu aku ingin menuntut balas atas kematian kakang dharmapati!."
Nyai Lasar Pati hanya menangis iba. Ia tidak tahu harus berkata apa pada adik iparnya itu. Ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan, jika kematian Dharmapati Kaca para karena ulahnya sendiri yang berani bermain-main dengan hukum kerajaan.
"Oh dewata yang agung. Apa yang harus aku lakukan. Mengapa mereka tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku katakan."
Dalam hatinya merasa sangat gelisah yang luar biasa. Entah mengapa ia tidak bisa mencegah mereka untuk berbuat nekat. Padahal waktu itu Patih Rangga Dewa telah memberikan kesempatan, agar merubah diri. Akan tetapi sepertinya mereka sama sekali tidak mau diingatkan.
...***...
Kembali ke Istana. Saat ini Pangeran Birawa Fusena sedang menemui ayahandanya Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Patih Tangga Dewa.
"Nanda pangeran terlihat sangat gelisah. Apa yang membuat nanda pangeran terlihat resah?."
"Nanda hanya teringat dengan apa yang dikatakan oleh paman Patih ayahanda prabu."
"Memangnya apa yang dikatakan paman patih?. Sehingga nanda terlihat kusut seperti itu?. Coba katakan pada ayahanda."
"Paman patih mengatakan tentang penyakit hati yang dialami oleh seseorang."
"Penyakit hati?. Penyakit hati yang seperti apa itu?." Prabu Maharaja Sura Fusena sedikit bingung. Memangnya apa yang dikatakan adiknya itu pada anaknya?. Sehingga anak sulungnya terlihat kusut begitu?.
"Paman Patih mengatakan jika seseorang tidak boleh memiliki penyakit hati. Misalnya tidak boleh merasa iri, jika seseorang diatas kita. Tidak boleh selalu berprasangka buruk pada orang lain. Juga tidak boleh merasa diatas orang lain. Maka penyakit hati akan selalu menggerogoti diri kita, sehingga kita selalu merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki."
"Benar sekali ayahanda prabu. Nanda merasa bingung. Rasanya itu sangat mustahil dihilangkan begitu saja. Karena tanpa kita sadari kita telah melakukan itu semua ayahanda prabu."
"Lalu bagaimana yang nanda rasakan selama ini?. Apakah nanda merasa memiliki penyakit hati?."
"Rasanya nanda telah menjadi orang jahat. Tapi nanda tidak bisa menolak perasaan seperti itu ayahanda prabu. Apa yang harus nanda lakukan?. Apakah nanda akan menjadi orang linglung karena tidak bisa mengendalikan perasaan seperti itu?."
Prabu Maharaja Sura Fusena tersenyum kecil, ia mendekati anaknya. Menepuk pundak anaknya dengan pelan.
"Apa yang dikatakan paman Patih padamu itu adalah sebuah pengajaran yang baik. Itu semua tergantung pada nanda. Tapi ayahanda berharap, nanda sebagai anak sulung. Nanda bisa memberikan contoh yang baik pada adik-adiknya. Apakah nanda bisa melakukannya?."
"Maaf, jika selama ini nanda belum bisa memberikan contoh yang baik ayahanda prabu. Izinkan nanda untuk beberapa hari menuju padepokan. Nanda ingin belajar lebih banyak lagi mengenai masalah penyakit hati."
"Baiklah. Jika memang itu yang nanda inginkan. Ayahanda hanya berharap, jika nanda bisa menjadi lebih baik lagi. Ayahanda bangga pada nanda yang mau belajar."
"Terima kasih ayahanda. Semoga saja nanda tidak mengecewakan ayahanda." Prabu Maharaja Sura Fusena mengelus kepala anaknya dengan sayang, dan ia mencium puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Ternyata dinda patih juga memperhatikan hubungan anak-anakku. Perkataannya telah mengubah pikiran putraku. Nanti aku akan menemui dinda patih." Dalam hati sang prabu tersenyum kecil. Ia merasa bersyukur memiliki saudara yang selalu membantunya. Entah itu urusan pemerintah ataupun urusan pribadinya.
"Jika dinda patih tidak ada, mungkin aku tidak akan sanggup berdiri sendiri. Dinda patih adalah raja sebenarnya. Namun ayahanda prabu yang menginginkan aku menjadi raja." Dalam hatinya lagi mengingat pada hari ini. Hati dimana ketika ayahandanya memintanya untuk menggantikan dirinya.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...****...
Masih di lingkungan istana kerajaan. Patih Rangga Dewa merasa bosan juga hanya duduk-duduk saja. Itu karena tangannya yang masih sakit. Patih Rangga Dewa melihat kedua keponakannya yang sedang berlatih ilmu kadigjayaan. Meskipun masih ada beberapa keponakannya dari istri selir kakaknya, namun ia tidak pernah membedakan mereka semua. Hanya saja anak istri selir prabu Maharaja Sura Fusena tidak berada di istana saat ini. Karena mereka sedang latih untuk persiapan menjadi Dharmaputra di masa depan. Semoga mereka bisa ikut memajukan negeri ini dengan baik.
"Bagus nanda pangeran, juga nanda Putri. Terus fokus saat latihan, dan jangan lupa atur hawa murninya dengan baik. Supaya tidak mudah kelelahan saat bertarung. Jangan lengah atau terlalu terpaku dengan gerakan musuh. Tapi cari cela bagaimana caranya membuat musuh kewalahan mengatasi gerakan kita."
"Baik paman Patih."
Keduanya melakukan gerakan ringan, melatih peregangan otot-otot sebelum melakukan yang lebih lagi. Sementara itu, dayang yang selalu mengikuti pangeran Arya Fusena, mereka mendekati Patih Rangga Dewa. Mereka terlihat mencemaskan keadaan Patih Rangga Dewa, karena kabar yang mereka dapatkan.
"Gusti patih."
"Oh kalian."
"Apakah gusti Patih baik-baik saja?. Kami sangat terkejut mendengar kabar itu gusti patih."
"Benar gusti patih. Nekat sekali dia menyerang gusti patih."
"Itu ciri-ciri orang yang sudah bosan hidup."
"Aku setuju. Jika dia masih sayang nyawanya, pasti dia tidak akan melakukan itu."
"Sudahlah. Tidak ada gunanya membahas yang telah terjadi. Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan kalian?. Apakah kalian sudah menyelidiki apa yang aku suruh?."
"Jika masalah itu tenang saja gusti Patih."
"Tugas yang gusti Patih aman dan beres."
"Kami selalu melakukan tugas sesuai dengan perintah dan keinginan gusti Patih."
"Bagus. Kalian semua memang bisa aku andalkan. Tidak salah aku memilih kalian untuk melakukannya."
"Hehehe siapa dulu dong, anak buahnya."
"Pokoknya jangan sampai salah informasi, atau kalian yang akan dalam bahaya."
"Beres gusti Patih. Kami akan melakukannya dengan baik."
"Ya sudah. Setelah ini kalian lakukan tugas berikutnya. Pangeran kesayanganku biar aku yang urus."
"Sandika gusti patih."
Mereka meninggalkan tempat, karena mereka menjalankan tugas dari Patih Rangga Dewa. Apakah yang mereka lakukan?. Tugas seperti apa yang mereka lakukan?. Apa yang direncanakan oleh Patih Rangga Dewa?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...