PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 61


__ADS_3

...***...


Rumi sedang membacakan mantram untuk masuk ke alam sukma. Mantram pelindung bagi mereka supaya aman ketika masuk ke dalam alam sukma. Sementara itu Duri Kosambi memperhatikan mereka semua dengan baik.


"Semoga kau bisa melakukannya rumi. Karena sudah lama kau tidak melakukannya. Semoga saja perjalanan menuju alam sukma yang kau tunjukkan pada mereka semua akan baik-baik saja." Dalam hati Duri Kosambi merasa khawatir dengan keselamatan Rumi yang membawa banyak orang ke alam sukma.


Sementara itu mereka yang telah memasuki alam sukma. "Bukalah mata kalian semua dengan pelan." Suri memberikan arahan pada mereka semua.


Namun ketika mereka semuanya membuka mata, mereka sangat terkejut karena telah berada di sebuah hutan?.


"Tempat apa ini rumi?. Kenapa kita berada di sini?." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa aneh. "Bukankah ini masih wilayah kerajaan trisakti triguna?." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat mengenali daerah ini. Ia merasa tidak asing dengan tempat ini.


"Betul sekali gusti prabu." Jawab Rumi. "Namun hamba mohon agar tidak mengeluarkan suara. Karena akan mengganggu penglihatan orang-orang yang mengulang kembali kenangan yang telah terjadi di tempat ini. Mereka yang menghuni tempat ini akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh gusti patih serta pangeran brama adijaya. Hamba mohon jangan mengeluarkan suara apapun." Rumi menjelaskan pada mereka semua.


Mereka semua hanya mengangguk mengerti, karena yang memegang kendali di alam sukma yang mereka lihat sekarang adalah Rumi, maka mereka harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rumi, jika mereka tidak ingin celaka.

__ADS_1


Tak berselang lama, mereka semua melihat Patih Rangga Dewa sedang berjalan menuju istana Kerajaan Trisakti Triguna. Ia berjalan dengan santainya sambil menikmati apa yang ia lihat disekitarnya selama ia berjalan. Namun saat itu mereka melihat ada seseorang yang menghadang perjalanannya. Mata mereka menangkap sosok yang telah mencegat Patih Rangga Dewa. Mereka semua tidak perlu bertanya lagi siapa yang mencegat Patih Rangga Dewa.


"Adikku yang datang menemui dinda patih?. Tapi kenapa ia melakukan itu?." Dalam hati Prabu Dewata Sangara merasa kecewa atas tindakan adiknya.


Bahkan mereka semua dapat menyimak dengan baik apa yang mereka katakan. Sangat jelas, terlebih lagi ketika Pangeran Brama Adijaya yang duluan menyerang Patih Rangga Dewa. Sehingga pertarungan itu terjadi, mereka semua menyimak dengan baik apa yang terjadi saat itu. Sampai Patih Rangga Dewa bertemu dengan Duri Kosambi.


Setelah itu mereka kembali ke alam nyata dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Mereka baru saja menyaksikan dan melihat dengan jelas apa yang tejadi.


"Syukurlah kau telah kembali rumi." Dalam hati Duri Kosambi merasa senang saat melihat Rumi kembali, dan ia membantu Rumi untuk berdiri. Sementara itu mereka semua juga berdiri. Akan tetapi mereka semua terkejut karena lingkaran itu menghilang.


"Jurus itu sangat nyata. Jika gagal maka nyawa adalah taruhannya. Rumi telah mempertaruhkan nyawanya untuk membawa gusti prabu ke alam sukma. Jika saja tadi ada yang keluar dari lingkaran itu, maka rumi akan dalam bahaya. Tidak mungkin rumi mempermainkan perasaan gusti prabu hanya untuk meyakinkan kebenaran itu. Sedangkan nyawanya menjadi taruhannya." Duri Kosambi mencoba untuk membantu Prabu Maharaja Sura Fusena menjelaskan pada Prabu Dewata Sangara yang terlihat masih saja ragu.


Prabu Dewata Sangara menghela nafasnya yang terasa lelah, dan akhirnya ia harus menyerah. Serta menerima kenyataan bahwa adiknya memang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"Maafkan aku dinda prabu. Maafkan aku yang tidak mempercayaimu." Prabu Dewata Sangara memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. "Rasanya aku sangat malu sekali padamu dinda prabu. Adikku dua kali telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Sungguh, maafkan aku dinda prabu." Hatinya merasa iba karena perbuatan adiknya. Hingga ia mempermalukan dirinya sendiri dihadapan mereka semua terutama pada Prabu Maharaja Sura Fusena.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kanda prabu. Semuanya bisa saja melakukan kesalahan." Balas Prabu Maharaja Sura Fusena. "Namun apa yang dilakukan dinda brama adijaya sungguh sangat keterlaluan kanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena berusaha untuk menekan perasaan gejolak emosinya yang berlebihan. "Sudah dua kali ia membuat dinda patih dalam keadaan sekarat karena berusaha untuk menekan kekuatan naga biru liar yang ada di dalam tubuhnya. Akan tetapi dinda brama adijaya malah sengaja memancing agar naga biru liar itu keluar." Hatinya sangat panas menyaksikan apa yang ditunjukkan di alam sukma tadi. "Ia mengira bahwa ia bisa menaklukkan dinda patih jika ia berhasil mengalahkan naga biru liar itu?. Tidak kanda prabu. Justru ia mengantar nyawanya. Karena kekuatan dinda patih akan semakin meningkat, dan sama sekali tidak ada yang bisa menandinginya." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat ingat bagaimana ayahandanya dengan susah payahnya menyegel kembali naga biru liar yang berada di dalam tubuh adiknya saat itu.


"Sungguh. Maafkan aku dinda prabu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga ataupun mengajari dinda brama adijaya dengan baik. Ini adalah kesalahan yang telah aku buat." Rasanya Prabu Dewata Sangara ingin menangis dengan apa tang telah dilakukan adiknya terhadap Patih Rangga Dewa.


"Kanda prabu memang sangat salah. Kanda prabu terlalu memanjakan dinda brama adijaya. Sehingga ia tidak mau mendengarkan apa yang orang lain katakan. Dan sekarang ia harus menerima hukuman dari apa yang telah ia perbuat." Balas Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Aku mohon jangan hukum dinda brama adijaya. Biar aku saja yang menghukumnya dinda prabu." Prabu Dewata Sangara sangat memohon pada Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Maaf kanda prabu. Untuk kali ini aku tidak bisa mengabulkan permintaan dari kanda prabu. Karena aku tidak mau kejadian yang sama terulang kembali." Prabu Maharaja Sura Fusena menolak dengan tegas. "Aku tidak mau kehilangan dinda patih, hanya karena sikap dinda brama yang bernafsu sekali ingin mencelakai dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai adiknya lolos begitu saja.


"Aku mohon dinda prabu. Aku berjanji akan bersikap lebih tegas lagi padanya." Prabu Dewata Sangara sangat memohon pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Bahkan ia sampai bersujud di hadapan prabu Maharaja Sura Fusena.


"Maaf kanda prabu. Aku tidak bisa menerimanya. Aku akan tetap memberikannya hukuman, dan seperti yang kanda prabu tulis dalam surat itu. Maka aku akan memberikan hukuman apapun padanya. Jadi kanda prabu tidak perlu merasa keberatan lagi." Prabu Maharaja Sura Fusena berusaha menekan perasaan ibanya. Setelah itu ia meninggalkan Prabu Dewata Sangara yang sedang memohon padanya dengan air mata kesedihan?.


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2