PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 33


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa mencoba mengatur tenaga dalamnya. Setelah berhasil menguasai dirinya, ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah setelah kena hantaman tadi.


"Heh!. Boleh juga nyali mu menghancurkan pagar gaib ini rangga dewa."


Deg!


Patih Rangga Dewa terkejut melihat orang-orang yang berdiri di depannya saat itu. "Siapa sangka, orang lama yang bercokol di daerah kekuasaan ayahanda prabu sura dewa."


"Ternyata kau bocah waktu itu. Sudah besar kau rupanya."


"Masih saja lemah seperti itu. Seperti waktu itu."


"Hahaha!. Keturunan raja yang tidak berguna sama sekali."


"Jika aku jadi sura dewa, aku sangat malu memiliki anak seperti kau rangga dewa. Hanya menjadi beban saja."


"Diam!. Berani sekali kalian menghinaku!. Menghina mendiang raja agung gusti prabu maharaja sura dewa!. Kalian sudah tua bangka masih hidup rupanya?."


Mereka semua merasa tersinggung dengan ucapan Patih Rangga Dewa.


"Kau pasti akan mati kali ini rangga dewa!. Akan aku tunjukkan kematian yang menyakitkan padamu!."


"Kali ini kita tidak usah sungkan lagi. Dulu kita berhasil membunuh ayahnya, dan sekarang kita habisi anaknya yang banyak mulut ini!."


"Tentu saja nini. Akan aku bunuh anak itu dengan senjata sakti yang aku miliki."


Bibi Centauri, Paman Renggas, dan Nini Petik Setangkai merasa marah yang luar biasa. Mereka langsung menyerang Patih Rangga Dewa sekaligus. Tiga lawan satu, memang tidak adil rasanya.


...***...


Kembali ke istana.


Rahaja Dwipa siap-siap untuk menikam punggung Pangeran Birawa Fusena, namun sepertinya seseorang telah menyelamatkannya dari ancaman bahaya itu.


Duakh!


Ada seseorang yang menerjang tubuh Rahaja Dwipa dengan kuat. Sehingga ia terjerembab ke tanah. Mereka yang melihat itu sangat terkejut, karena kejadian yang tidak terduga itu.


"Putraku!." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Namum ia tidak menyangka akan ada yang membantu anaknya.


"Berani sekali kau ingin membunuh putra mahkota. Kau pikir kau siapa penjahat laknat!."


"Kau!. Berani sekali kau melukai keponakan ku!."

__ADS_1


"Tua bangka seperti kau tidak pantas hidup. Hanya menyusahkan saja. Untuk apa kalian mengeroyok gusti prabu maharaja sura fusena?."


"Kegh. Siapa kau brengsek!. Beraninya kau ikut campur!." Rahaja Dwipa mengumpat marah pada orang yang baru saja menerjang tubuhnya dengan kuat.


"Gusti pangeran. Sebaiknya gusti pangeran jangan di sini. Mereka semua bukan lawan yang sebanding dengan gusti pangeran. Jika gusti pangeran ingin mengalahkan orang-orang seperti mereka, gusti pangeran harus banyak latihan."


"Siapa paman?. Aku tidak pernah melihat paman."


"Nanti, jika hamba diizinkan oleh gusti Patih, maka hamba akan mengajari gusti pangeran untuk mengatasi orang-seperti mereka ini."


"Paman adalah orang kepercayaan paman patih?."


"Ya, begitulah raden."


"Putraku." Prabu Maharaja Sura Fusena menghampiri anaknya. Sedangkan mereka para musuhnya tidak terima dengan apa yang terjadi. "Putraku pangeran birawa. Kau baik-baik saja nak?."


"Nanda baik-baik saja ayahanda."


"Kalau begitu cepat pergi dari sini nak. Cari kedua adikmu, jangan sampai memasuki istana ini."


"Tapi ayahanda?."


"Nyawa kedua adikmu tergantung padamu nak. Apakah nanda mau mereka celaka karena masuk ke istana ini?."


"Kemana nanda harus mencari dinda rara, juga dinda arya ayahanda prabu?."


"Tapi ayahanda."


"Dengarkan apa yang ayahanda katakan."


"Hei!. Sura fusena!. Kau jangan berbisik jika berbicara. Apa yang ingin kau katakan pada anakmu?. Katakan juga pada kami. Ahahaha!."


"Mungkinkah dia takut karena anaknya yang lemah itu tidak bisa menjaga dirinya."


"Dia hanya tidak mau kehilangan anaknya saja kakang."


"Mungkin dia masih trauma kakang. Ahahaha!."


Mereka semua menertawakan kelemahan Prabu Maharaja Sura Fusena. Merasa di atas sang prabu, karena kejadian masa lalu.


"Dengarkan ayahanda baik-baik nak. Ibunda ratu semua telah aman bersama prajurit. Jadi sebagai kakak, nanda harus bisa menjaga kedua adik nanda dengan baik. Apakah nanda mengerti?."


"Baiklah ayahanda. Nanda akan melindungi dinda rara, juga dinda arya."


"Kau, tolong aku untuk menjaga putraku agar keluar dari sini."

__ADS_1


"Sandika gusti prabu."


"Bersiaplah untuk pergi dari sini nak."


"Siap ayahanda prabu."


Sepertinya Rahaja Dwipa, yang lainnya saat ini sedang bersiap-siap untuk menyerang lagi. Namun Prabu Maharaja Sura Fusena tidak akan membiarkan mereka melukai anaknya.


...***...


Patih Rangga Dewa masih bertarung dengan tiga orang yang menghadangnya. Pertarungan itu tidak seimbang sama sekali. Namun sebisa mungkin Patih Rangga Dewa menghadang mereka semua. Tapi setidaknya ia berhasil melukai mereka satu persatu.


"Cuih. Lumayan juga ilmu kanuragan yang kau miliki rangga dewa."


"Kau tidak boleh kami biarkan bergerak. Karena kau bisa menjadi penghalang kami untuk menguasai kerajaan ini."


"Sebaiknya kau menyerah saja. Jika kau masih sayang dengan nyawamu, dan ingin melihat matahari besok pagi, aku sarankan kau sebaiknya menyerah pada kami semua."


"Cuih!. Jangan bermimpi kaliann. Hanya kematian yang akan menghentikan rangga dewa. Kalian pikir kalian siapa hah?." Patih Rangga Dewa terlihat marah.


"Kalau begitu maju kau rangga dewa. Tidak usah banyak bicara!."


"Tidak perlu kau ajari aku untuk maju. Maka aku akan maju dengan rasa dendam ku pada kalian semua."


Namun ketika Patih Rangga Dewa hendak maju, ia mendapatkan pukulan yang sangat kuat di dadanya. Hingga ia terjajar ke belakang dan terjerembab di tanah. Mereka semua yang melihat itu sangat terkejut, dan malah menertawakan dirinya.


"Bffuuh." Patih Rangga Dewa muntah menyemburkan darah dari mulutnya. Dadanya terasa sakit karena hantaman itu. Ia mencoba untuk bangkit, meskipun luka yang ia alami terasa sangat menyakitkan. Matanya masih bisa menangkap siapa yang muncul setelah itu. Dia adalah seorang wanita yang sudah tua. Patih Rangga Dewa mencoba untuk berdiri meskipun ia merasakan sakit yang luar biasa. "Kurang ajar!. Ternyata kau nenek tua yang hampir saja membunuhmu waktu itu!."


"Jadi kau adalah bocah yang selamat dari maut itu?. Rangga dewa?. Masih hidup rupanya kau?. Ahahaha."


"Nini, akhirnya datang juga. Kami tidak perlu repot lagi menghabisi nyawanya."


"Bedebah!. Ternyata kau main curang nenek tua!. Aku akan membalas kematian dari ayahandaku. Kalian semua akan aku bunuh juga." Patih Rangga Dewa mengeluarkan sesuatu dibalik punggungnya. Sebuah botol kecil yang berisi bubuk?.


"Heh!. Mau apa dia dengan dengan benda kecil itu?."


"Entahlah kita lihat saja."


Mereka melihat Patih Rangga Dewa mengeluarkan keris pusaka arwah naga merah. Ia membubuhkan keris yang baru saja ia keluarkan. Mereka sama sekali dengan apa yang akan dilakukan Patih Rangga Dewa.


"Serbuk ini adalah racun kalajengking merah dari goa selatan. Jadi tidak akan aku biarkan kau!. Nenek peyot menggunakan jurus halimun lagi, hanya untuk membunuhku!."


"Jadi begitu?. Jika terkena serbuk racun itu, maka kau akan mati dalam sekejap ya?."


"Ya, itu sangat benar sekali. Mari kita bermain-main dengan kematian."

__ADS_1


Apakah bisa Patih Rangga Dewa mengalahkan mereka semua?. Simak terus ceritanya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2