
...***...
Patih Rangga Dewa telah sehat, dan ia saat ini menghadiri sidang dari Pangeran Brama Adijaya yang beberapa hari lalu bertarung dengannya. Meskipun hanya keluarga besar Istana saja yang melakukan sidang itu, ditambah Prabu Dewata Sangara yang ikut dalam sidang itu. Hatinya saat ini sedang bersedih karena tidak dapat lagi menimbang atau memohon pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Aku mohon padamu dinda prabu, dinda patih. Agar menimbang kembali hukuman mati yang akan dinda prabu, juga dinda patih berikan pada dinda birawa adijaya." Dengan perasaan yang tak karuan Prabu Dewata Sangara masih memohon.
"Kanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa tidak enak. "Aku juga memiliki seorang adik. Dan kita sama-sama tidak memiliki orang tau lagi untuk tempat adik-adik kita mengadu." Ia menatap adiknya. "Tapi dinda patih, dia selalu mengadu padaku apapun keluhan yang mungkin tidak bisa ia atasi." Lanjutnya lagi. "Aku tidak mengetahui apa permasalahan kanda prabu dengan dinda brama, tapi kali ini dia sudah sangat keterlaluan." Prabu Maharaja Sura menghela nafasnya dengan pelan. "Jika saja aku tidak mempelajari jurus penyegel sukma naga biru liar dari mendiang ayahanda prabu. Apakah kanda mau bertanggung jawab atas apa yang tejadi pada dinda Patih?. Apakah kanda mau menggantikan nyawa dinda Patih?." Dengan perasaan sakit ia bertanya pada Prabu Dewata Sangara.
Prabu Dewata Sangara hanya diam sambil menahan kesedihan yang ada di dalam hatinya. Ia memang tidak bisa melakukan apapun yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Satu kali dinda brama telah melakukan kesalahan. Dan untuk yang untuk kedua kalinya ia melakukan kesalahan yang sama. Apakah kanda pikir aku seorang kakak yang tidak sakit hati ketika adiknya hampir saja mati karena dikuasai kekuatan jahat itu?." Prabu Maharaja Sura Fusena menggelengkan kepalanya, dan memainkan jarinya sebagai tanda. "Tidak mungkin aku tidak sakit hati. Dan begitu juga dengan kanda yang mungkin bersedih karena adik kanda akan dihukum mati." Ia kembali menatap ke arah adiknya yang masih terlihat pucat. "Sampai kanda harus merendahkan diri kanda dihadapan dinda Patih hanya untuk membebaskan dinda brama pada saat itu. Dan sekarang lihatlah, dia melakukan kesalahan yang sama." Prabu Maharaja Sura Fusena tidak akan melupakan kejadian yang menyakitkan itu.
"Maaf kanda prabu." Patih Rangga Dewa memberi hormat pada Prabu Dewata Sangara. "Bukannya kami tidaj memiliki hati nurani untuk tidak membebaskan ia dari hukuman mati. Hanya saja apa yang telah ia lakukan sudah sangat keterlaluan. Mau sampai kapan ia akan berkhianat pada janjinya?." Rasanya ia memang tidak tega untuk melakukannya. "Pada saat itu aku mengampuninya karena aku kasihan pada kanda prabu. Seorang raja yang telah merendahkan harga dirinya hanya untuk meminta pengampunan adiknya." Patih Rangga Dewa juga masih ingat dengan apa yang terjadi pada saat itu. "Maaf, jika kali ini kami tidak bisa lagi mengabulkan permintaan kanda prabu. Semoga kanda prabu tidak membenci kami suatu hari nanti." Dengan perasaan yang sangat menyesal, Patih Rangga Dewa meminta maaf. Ia tidak bisa mencabut lagi hukuman mati yang diberikan Prabu Maharaja Sura Fusena terhadap Pangeran Brama Adijaya.
__ADS_1
Keputusan telah ditetapkan, dan hari itu Pangeran Brama Adijaya dihukum mati atas apa yang telah ia lakukan. Karena sesuai dengan perjanjian yang dibuat 10 tahun yang lalu. Barang siapa yang telah mengingkari janji yang telah disepakati bersama. Mau tak mau, ikhlas tak ikhlas, suka atau tidak. Maka ia akan menerima hukuman mati. Supaya dia tahu, bahwa janji itu dibuat bukan untuk dilanggar. Akan tetapi sebagai cambuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bukan malah sebaliknya, malah mengingkari janji itu dan meminta pengampunan. Mengganggap orang akan memaafkan kesalahan yang telah kita lakukan untuk kedua kalinya?. Maaf saja, apakah kau tidak berpikir dahulu sebelum bertindak?. Dan sekarang terimalah dengan perasaan sakit hati yang akan kau bawa sampai mati.
Kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Hari dimana kejadian itu berawal, dan janji itu dibuat pada masa itu.
Di Kerajaan Betung Emas. Kebetulan di sana Prabu Maharaja Sura Fusena dan adiknya pangeran Rangga Dewa sedang berkunjung ke Istana Kerajaan Betung Emas. Mereka ke sana karena ada hal penting yang ingin mereka lakukan.
"Selamat datang dinda prabu, dinda pangeran rangga dewa." Prabu Dewata Sangara menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman ramah.
"Terima kasih banyak kanda prabu." Balas Prabu Maharaja Sura Fusena dan Pangeran Rangga Dewa memberi hormat.
"Ya, kabar itu sangat cepat sekali menyebarnya dinda Prabu. Sebenarnya aku tidak mau banyak orang yang mengetahui pernikahanku. Tapi apa boleh buat. Namanya berita dari mulut ke mulut, ya cepat sekali sampainya." Dalam tawanya ia berkata seperti itu tanpa perasaan malu-malu.
Sedangkan Pangeran Rangga Dewa hanya menyimak saja. "Aku pikir kanda prabu saja yang memiliki banyak istri. Tenyata kanda prabu dewata sangara juga memiliki banyak istri." Dalam hati Pangeran Rangga Dewa merasa heran mereka berdua.
__ADS_1
"Hahaha kanda memang terbaik." Prabu Maharaja Sura Fusena malah tertawa juga, sambil memuji Prabu Dewata Sangara?.
"Lalu bagaimana denganmu dinda pangeran rangga dewa?. Apakah kau tidak memiliki keinginan untuk menikah dinda pangeran?." Kali ini Prabu Dewata Sangara bertanya pada Pangeran Rangga Dewa.
Sementara itu orang yang ditanya malah salah tingkah dan garuk-garuk kepala yang mendadak terasa gatal. "Maaf kanda. Jika masalah pernikahan, aku tidak ingin membahasnya. Karena aku tidak mau memiliki istri banyak seperti kanda berdua." Pipinya sampai memerah, merasa malu dengan apa yang ia ucapkan tadi.
Lalu bagaimana dengan tanggapan Prabu Maharaja Sura Fusena dan Prabu Dewata Sangara?. Keduanya malah tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Rangga Dewa.
"Jangan malu-malu seperti itu. Nanti aku carikan jodoh yang cantik untukmu. Aku jamin kau tidak akan menolaknya." Prabu Dewata Sangara malah semakin menggoda Pangeran Rangga Dewa.
"A-aku tidak mau terlibat pembicaraan seperti ini." Pangeran Rangga Dewa merasa serba salah. Membuat kedua raja terhormat itu semakin menertawakan Pangeran Rangga Dewa. Namun saat itu Pangeran Brama Adijaya datang mendekati mereka semua.
"Oh dinda pangeran brama. Bagaimana kalau dinda ajak dinda pangeran rangga dewa berkeliling di istana ini." Prabu Dewata Sangara menyuruh adiknya agar mengajak Pangeran Rangga Dewa untuk berkeliling jalan-jalan mengitari istana.
__ADS_1
Bagaimana jawaban dari Pangeran Brama Adijaya?. Temukan jawabannya.
...***...