PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 27


__ADS_3

...***...


Pertarungan itu masih saja berlanjut. Meskipun satu lawan banyak, bukan berarti pendekar asing merasa kewalahan menghadapi mereka. Namun dengan ganasnya, ia menjatuhkan mereka satu persatu. Gerakan Pendekar asing itu sangat tidak bisa diprediksi sama sekali, sehingga mereka kewalahan menghadapi pendekar itu. Karena banyak gerakan tipuan yang dilakukannya, hingga tidak ada satupun jurus mereka yang manjur atau mempan untuk menjatuhkan pendekar asing itu.


"Kutuk kurap!. Setan belang!. Ternyata kau kuat juga!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Hatinya sangat panas karena merasa tidak bisa mengalahkan Pendekar asing itu.


"Mulutmu itu memang sangat tidak sopan. Tapi ya, apa boleh buat. Memang begitulah sikap orang yang tidak pernah belajar sopan santun. Kalian hanyalah kumpulan orang-orang yang tidak berguna." Dengan santainya ia kembali duduk di batang pohon yang tumbang itu.


"Diam kau bedebah busuk!. Tidak usah kau berkata-kata seakan kau yang paling sopan!."


"Kami tidak perlu sopan santun pada siapapun!. Karena kami bukan budak yang hanya menurut seperti kerbau yang dicocol hidungnya!."


"Kalau kau hanya pandai berceramah saja, sebaiknya kau cari tempat lain saja!. Jangan halangi kami!."


Mereka semua merasa geram dengan apa yang dikatakan oleh pendekar aneh itu. Apa yang diinginkan oleh Pendekar asing itu dari mereka?.


"Jika merasa kesal atau tidak terima, dia akan mengeluarkan sumpah serapah, serta kata-kata yang tidak pantas sama sekali. "Mereka yang masih bertahan merasa sangat kesal. Mereka tidak terima begitu saja. "Kalau begitu, aku beri kalian pilihan. Menjadi pengikut setiaku, dan aku akan memberikan kalian uang dalam jumlah yang sangat besar." Ia menyeringai lebar, sambil membujuk mereka agar menjadi pengikut setianya?. Apakah hanya itu yang diinginkan oleh Pendekar asing itu pada mereka semua?.


"Hah?. Uang katamu?. Tapi aku yakin kau menginginkan sesuatu dari kami selain hanya sekedar menjadi pengikut setia!." Sebagai ketua perusuh yang memimpin, tentunya ia tidak akan menerima begitu saja apa yang ditawarkan oleh pendekar asing itu.


"Ya, tidak mungkin kau memberikan secara cuma-cuma pada kami!."


"Katakan apa yang kau inginkan dari kami!."


"Yap, itu sangat benar. Tapi pekerjaan kalian sangat mudah, dan kalian telah melakukannya sebelumnya." Senyuman itu sangat lebar, dan terlihat sangat tenang.


"Maksudmu membuat kerusuhan?." Mereka semua mencoba menebak apa yang dimaksudkan oleh pendekar asing itu.


Pendekar asing itu tertawa keras, dan seperti dugaan. Mereka akan cepat menyambung jika diajak bicara. "Ya, itu sangat benar sekali. Itu yang harus kalian lakukan." Ia masih tertawa sambil menunjuk ke arah mereka semua.


"Tapi untuk apa kau memberikan kami uang, hanya untuk membuat kerusuhan?."


"Kami bahkan dengan senang hati telah melakukan pekerjaan itu. Hanya untuk memancing rangga dewa keluar dari sarangnya."


Kali ini tatapannya terlihat sangat serius, begitu tajam, dan menusuk. "Aku hanya ingin kalian membuat rangga dewa sibuk, dan kalian kumpulkan semua pasukan kalian. Buat kerusuhan di kota beberapa desa. Aku yakin rangga dewa akan ke sana."


Mereka semua saling bertatapan, tidak mengerti mengapa. Tapi mereka malas bertanya lagi. "Kapan kami akan melakukannya?." Meskipun mereka semua memang pernah berurusan dengan Patih Rangga Dewa, tapi sepertinya tidak jera-jera. Bahkan mereka semakin menjadi-jadi melakukan tindakan kerusuhan, yang pada akhirnya membuat Patih Rangga Dewa naik darah karena mereka semua.


Srakh!.


Pendekar asing itu melempar tiga kantong hitam yang berisi uang yang sangat penuh. Tentunya membuat mereka sangat terkejut. "Lakukan dua hari lagi. Karena aku saat ini sedang menunggu teman-temanku yang lainnya menuju ke sini." Ia bangkit dari duduknya. "Lakukan tugas kalian dengan baik. Jika kalian berani ingkar janji, maka nyawa kalian akan menjadi taruhannya." Setelah berkata seperti itu ia melompat meninggalkan tempat itu.


"Jadi kita akan melakukan kerusuhan yang lebih besar lagi ya."


"Apa boleh buat kakang. Toh kita biasanya memang melakukan itu. Tapi setidaknya kali ini kita dibayar."

__ADS_1


Mereka semua tertawa cekikikan, rasa senang menyelimuti diri mereka masing-masing. Karena kali ini mereka dibayar oleh pendekar asing yang menginginkan mereka melakukan kerusuhan dalam jumlah yang sangat besar hanya untuk memancing keluar Patih Rangga Dewa?.


"Kalau begitu, sebelum hari itu tiba. Kita kumpulkan banyak pasukan. Lumayan uang sebanyak ini bisa kita gunakan untuk berfoya-foya."


"Aku setuju."


Mereka juga meninggalkan tempat, namun sebelum itu mereka membawa teman mereka yang tidak sadarkan diri setelah pertarungan dengan Pendekar asing tadi. Mungkin juga ada yang sudah meninggal diantara mereka. Namun mereka masih membawanya, karena tidak mungkin mereka meninggalkan teman mereka di hutan ini.


...***...


Kembali ke istana Trisakti Triguna. Saat ini sedang kedatangan tamu, yaitunya Prabu Brata Jaya. Mereka semua menyambutnya dengan ramah. Seperti yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena, bahwa ia akan membawa keluarganya.


"Bagaimana keadaan kanda beserta keluarga?. Sepertinya keluarga kanda semakin ramai saja." Prabu Maharaja Sura Fusena mengamati keluarga besar Prabu Brata Jaya yang hadir hari ini.


"Hahaha kau ini bisa saja dinda prabu. Keluarga ku baik-baik saja." Ia sedikit mendekat dan berbisik. "Istri selir mudaku saat ini sedang mengandung, tapi saat ini dia tidak bisa ikut. Aku takut membahayakan kandungannya." Bisiknya lagi, sehingga hanya Prabu Maharaja Sura Fusena yang bisa mendengarkan apa yang ia katakan.


"Walala, malah nambah lagi toh. Ahaha kanda prabu memang terbaik dari raja yang pernah ada." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa kagum dengan Prabu Brata Jaya yang terkenal dengan banyak selir. Meskipun ia sempat menambah satu selir lagi. Namun hatinya masih terasa sakit mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Lalu bagaimana denganmu dinda?. Apakah nambah lagi?." Prabu Brata Jaya penasaran bagaimana Prabu Maharaja Sura Fusena dalam masalah asmara dengan wanita.


"Kalau aku sih tidak kanda. Kasihan dinda patih. Dia saat ini belum juga menikah." Matanya melirik ke arah adiknya yang saat ini sedang menyimak pembicaraan mereka. Meskipun sebenarnya bukan itu maksudnya tapi, ada benarnya juga.


"Haduh. Perasaanku tidak enak nih. Mengapa malah melirik ke arahku sih." Dalam hati Patih Rangga Dewa merasa tidak enak sama sekali. Ia berpura-pura tidak melihatnya, karena ia memang merasa kakaknya itu sedang menyinggungnya dengan menyebut namanya.


"Aku setuju kanda prabu. Setelah ini kita akan menyatukan mereka." Prabu Maharaja Sura Fusena setuju?. Tapi apakah Patih Rangga Dewa akan setuju?. Masalah itu akan ia pikirkan nanti. Akan ia usahakan adiknya menerima perjodohan ini.


"Baiklah dinda. Kita telah sepakat."


Kedua Raja agung tersebut malah berbisik-bisik, sambil melihat ke arah adiknya masing-masing. Mereka hanya khawatir, jika adik mereka tidak laku, alias menyendiri sampai tua.


"Dinda Patih."


Patih Rangga Dewa melirik kanan kiri, karena Prabu Brata Jaya melihat ke arahnya. "Hamba gusti prabu?." Patih Rangga Dewa yang tadi mengamati gerak-gerik mencurigakan dari kedua raja tersebut sedikit terlonjak kaget.


"Iya, dinda Patih." Balas Prabu Brata Jaya dengan senyuman kecil.


"A, maafkan hamba gusti prabu." Patih Rangga Dewa memberi hormat pada Prabu Brata Jaya. menyadari kesalahannya karena telah melamun, disaat seorang raja memanggilnya.


"Hehehe. Kenapa malah melamun?. Ada apa dinda patih?. Apakah ada yang dinda patih pikirkan?." Prabu Brata Jaya merasa penasaran, sehingga ia tertawa kecil melihat raut wajah panik Patih Rangga Dewa.


Tiba-tiba saja Patih Rangga Dewa merasa gugup, karena mereka semua memperhatikan dirinya. Bukan hanya sepasang mata saja yang menatapnya. Melainkan istri, selir, putra putri Raja bahkan melihat ke arahnya. "Mati aku!. Mereka semua kenapa malah menatap aku seperti itu?." Dalam hatinya semakin panik dan sangat kaku. Ia belum pernah merasakan keadaan seperti ini sebelumnya. "Tidak apa-apa kanda prabu, sungguh." Patih Rangga Dewa berusaha menutupi perasaan gugup yang telah menyelimuti hatinya.


"Mungkin dinda patih merasa asing dengan kedatangan kami. Bagaimana jika dinda patih mengajak dinda batari kasih, untuk jalan-jalan di kota raja?."


"Ajak saja dinda patih. Mungkin kalian bisa bertukar pikiran."

__ADS_1


Patih Rangga Dewa dan Putri Batari Kasih saling bertatapan. Memang ada perasaan canggung dengan keduanya. Tapi ada yang lebih mereka khawatirkan saat ini.


"Apakah kanda tidak ingat?. Terakhir aku berjalan dengan seorang wanita. Ah tidak, Padahal aku hanya berjalan sebentar dengan kenalanku." Dalam hati merasa gelisah. Bukannya ia ingin menolak ajakan itu, tapi.


"Bagaimana dinda Patih?. Apakah bersedia?."


"Soal itu, apakah nimas batari kasih bersedia atau tidak. Berjalan bersama rangga dewa."


Tentunya ucapan Patih Rangga Dewa membuat mereka tertawa kecil. Merasa lucu dengan ucapan Patih Rangga Dewa. Sangat jelas sekali sifat kaku yang ia miliki, seakan-akan ia tidak pernah berhadapan dengan wanita sebelumnya.


"Bagaimana dinda batari kasih?. Apakah dinda bersedia berjalan bersama dinda patih barang sebentar?." Prabu Brata Jaya bertanya pada adiknya.


"Baiklah kanda. Rasanya aku ingin melihat kota raja. Mungkin tuan patih bisa mengajakku ketempat yang bagus di kota raja." Putri Batari Kasih tersenyum kecil. Senyuman yang sangat manis, hingga mampu meluluhkan hati mereka semua.


"Silahkan jalan-jalan bersama dinda patih. Mungkin nanti menemukan sesuatu yang bagus." Prabu Brata Jaya mempersilahkan adiknya pergi bersama Patih Rangga Dewa.


"Dinda Patih. Ajak nimas batari kasih jalan. Jangan kecewakan nimas batari kasih dengan sikap kakimu itu." Prabu Maharaja Sura Fusena malah menertawakan adiknya itu.


"Sandika kanda prabu." Hanya pasrah, dan tidak membantah. "Mari nimas." Meskipun ada perasaan gugup, namun ia berusaha untuk menutupi perasaan gugupnya itu.


"Terima kasih tuan patih." Balas Putri Batari Kasih.


Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat, untuk jalan-jalan ke kota raja?. Bisa jadi seperti itu, atau ada perubahan nantinya.


"Semoga saja ada kabar baik dari mereka nantinya." Prabu Maharaja Sura Fusena malah senang melihat kedekatan yang mereka coba lakukan.


"Semoga saja dinda prabu." Begitu juga dengan Prabu Brata Jaya.


Kedua Raja agung tersebut malah tertawa kecil melihat kepergian kedua adik mereka. Keduanya sangat berharap, bahwa Patih Rangga Dewa dan Putri Batari Kasih akan memiliki hubungan yang lebih dekat lagi.


Sementara itu, ketika mereka tiba di halaman Istana. Putri Batari Kasih menghentikan langkahnya, dan terlihat keraguan yang terpancar di matanya.


"Ada apa nimas?. Apakah tidak jadi jalan-jalan?." Patih Rangga Dewa sedikit merasa heran. Kenapa tiba-tiba Putri Batari Kasih menghentikan langkahnya?.


"Maaf gusti Patih. Rasanya berat sekali jika hamba berjalan bersama gusti Patih ke luar istana ini."


"Kenapa memangnya?. Apakah nimas sudah memiliki kekasih?."


"Hampir seperti itu. Hanya saja hamba tidak mau, jika dia mengetahui ini, ia akan mencari gusti Patih."


"Mencari aku?. Kenapa dia mencari aku?."


Apa jawaban dari pertanyaan Patih Rangga Dewa yang penuh dengan rasa heran itu?. Temukan jawabannya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2