PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 44


__ADS_3

Saat ini keadaan Istana telah aman. Mereka berkumpul di ruangan utama Istana, dan mendiskusikan penyelesaian dari masalah ini. Lasmi juga telah kembali ke Istana. Ia menangis terharu karena melihat mereka semuanya baik-baik saja. Duri Kosambi juga telah sadarkan diri.


"Maafkan hamba yang gagal menemukan keberadaan gusti pangeran serta gusti ayu. Jangan hukum hamba gusti prabu. Sungguh maafkan atas kelalaian hamba." Lasmi menangis sedih sambil menceritakan apa yang telah ia lakukan.


"Kau tenang saja lasmi. Setidaknya keadaanmu sekarang baik-baik saja setelah diobati suci putih." Patih Rangga Dewa memakluminya.


"Benar yang dikatakan dinda patih. Terkadang kita pernah mengalami kegagalan saat melakukan tugas yang diberikan." Prabu Maharaja Sura Fusena tidak ingin menghakimi Lasmi. "Lagipula, anak-anakku saat ini sedang berada di rumah paman durya pati. Maafkan aku yang telah membuat kau kerepotan lasmi." Prabu Maharaja Sura Fusena mengatakan dimana keberadaan ketiga anaknya. Mereka semua lega mendengarnya. Ternyata anak-anak sang Prabu berada di tempat yang aman.


"Terima kasih gusti Patih, gusti prabu. Terima kasih atas kebaikan yang gusti berikan kepada hamba." Lasmi memberikan hormat pada Patih Rangga Dewa dan Prabu Maharaja Sura Fusena. "Sebagai abdi, tentunya sudah menjadi kewajiban hamba. Memastikan keluarga istana baik-baik saja. Hamba tidak merasa direpotkan sama sekali gusti prabu.


"Terima kasih aku ucapkan pada kalian semua yang telah kalian yang telah membantu kami untuk merebut kembali istana ini dari orang-orang jahat." Prabu Maharaja Sura Fusena tanpa malu mengucapkan terima kasih pada bawahannya. Lebih tepatnya orang-orang yang bekerja dibawah pengawasan adiknya selama ini. "Tanpa bantuan dari kalian, mungkin aku tidak akan bisa mendapatkan tahta yang telah dititipkan mendiang ayahanda prabu sura dewa." Lanjut sang Prabu.


"Kami akan selalu siap melindungi keselamatan keluarga istana gusti prabu. Dengan senang hati kami akan melakukannya." Rumi, Lasmi, Rati, Suri, Duri Kosambi, Jamba dan Cadra Baka serempak menjawab ucapan Prabu Maharaja Sura Fusena. Membuat sang prabu merasa terharu dengan kesetiaan yang mereka miliki.


"Aku ucapkan terima kasih pada kekasih adikku-." Ucapan sang Prabu terpotong karena Patih Rangga Dewa.


"Hush!. Jangan ngawur kanda prabu. Kami bukan pasangan kekasih!." Rasanya Patih Rangga Dewa sangat malu dengan apa yang diucapkan Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Lalu apalagi jika bukan kekasih gusti Patih." Suri menggoda Patih Rangga Dewa.

__ADS_1


"Sangat jelas sekali jika gusti Patih lagi kasmaran." Cadra Baka malah terkekeh geli melihat sikap malu-malu Patih Rangga Dewa.


"Jangan sungkan begitu. Bukankah gusti Patih tidak ada di istana karena gusti Patih sedang mencari calon-" kali ini ucapan Rumi yang disanggah Patih Rangga Dewa.


"Berisik!. Kalian jangan mempermalukan aku di depan suci putih." Nada suara Patih Rangga Dewa agak tinggi. Membuat mereka semua terkejut dan tidak percaya. "Suci putih adalah wanita yang telah menyelamatkan aku dari kematian, setelah aku berhasil mengalahkan nenek peyot, si nini ketuk pipit dan beberapa anak buahnya!." Patih Rangga Dewa menjelaskan alasan mengapa ia tidak berada di istana pada saat itu. Karena ia benar-benar dalam keadaan terluka parah.


"Memangnya luka apa yang gusti Patih alami?. Kami tidak melihat gusti Patih terluka sama sekali." Cadra Baka memperhatikan tubuh Patih Rangga Dewa. "Masih mulus dan genteng sejak pertama lahir." Ucapnya dengan nada bercanda. Sehingga mereka tertawa tersembur karena tidak tahan dengan ucapan Cadra Baka.


"Diam kau cadra baka." Patih Rangga Dewa menepuk kuat bahu kiri Cadra Baka. "Apakah kau tidak menyadari, jika aku masih terluka. Namun karena pengobatan dari suci putih aku masih bisa bertahan hidup." Patih Rangga Dewa menatap garang ke arah Cadra Baka yang ketakutan melihatnya.


"Ampuni hamba gusti patih. Hamba hanya bercanda saja." Dengan perasaan takut Cadra Baka meminta pengampunan dari Patih Rangga Dewa.


Kembali ke waktu sebelum mereka berkumpul.


Patih Rangga Dewa meminta pada keempat anak buah Durya Pati. "Aku minta pada kalian untuk membawa keempat orang itu ke pulau buangan." Matanya menatap benci pada keempat orang yang tidak sadarkan diri saat ini. Hatinya tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang itu terhadap dirinya di masa lalu.


"Apakah hanya itu saja gusti Patih?."


"Apakah kami hanya mengantar mereka saja?."

__ADS_1


"Jika ada yang lain katakan saja. Kami akan melakukan apapun yang gusti Patih inginkan."


"Katakan saja gusti Patih. Bahkan membunuh mereka berempat akan kami lakukan. Jangan gusti Patih nodai tangan gusti Patih dengan darah kotor mereka."


Patih Rangga Dewa terkekeh kecil mendengarkan ucapan mereka. Ia memiliki solusi sendiri untuk menghukum mereka. "Kalian hanya mengantar keempat orang tidak berguna itu. Hanya itu saja." Patih Rangga Dewa tersenyum miring menatap mereka yang akan segera menghilang dari hadapannya. "Kalian angkat tenaga dalam mereka semua. Jangan biarkan mereka tersadar selama perjalanan menuju pulau buangan." Patih Rangga Dewa tersenyum kecil menatap mereka. "Masalah mati, biarkan saja mereka mati dihajar oleh orang-orang pulau buangan. Jadi kalian tidak perlu juga mengotori tangan kalian dengan darah mereka." Patih Rangga Dewa tersenyum lebar kali ini. Hingga akhirnya tertawa keras bersama keempat anak buahnya Durya Pati.


"Ternyata gusti Patih orangnya kejam juga."


"Siapa sangka akan mengetahui sifat asli dari patih rangga dewa."


"Ini adalah sejarah baru. Dan hamba akan mencatatnya sebagai bentuk penghormatan hamba terhadap gusti Patih."


"Kami akan melakukannya sesuai dengan perintah gusti Patih."


"Kejam pada penjahat itu biasa, dan sangat wajar. Anggap saja itu hukuman yang pantas atas apa yang terlah mereka lakukan padaku." Patih Rangga Dewa sama sekali tidak merasa tersinggung atas apa yang mereka katakan tentangnya. Ia malah ikutan tertawa bersama mereka. Sedangkan Suci Putih hanya melihat mereka semua dengan tatapan yang aneh. Apakah mereka sudah terbiasa seperti itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semua dari pertanyaannya.


Kembali ke masa ini.


Merkea semua beristirahat. Karena rasa lelah yang mereka rasakan setelah bertarung habis-habisan dengan pendekar golongan jahat?. Ya, sebut saja seperti itu. Mereka yang ingin menguasai kerajaan Trisakti Triguna. Mungkin besok mereka akan segera menyelesaikannya. Ada yang menjemput anak-anak sang Prabu, dan bahkan menjemput istri sang Prabu. Itu adalah tugas mereka besok pagi. Sang Prabu Memahami bahwa mereka semua telah melewati hari yang sangat melelahkan luar biasa dari yang sebelumnya. Apakah mereka semua benar-benar bisa memastikan bahwa semuanya telah aman dari musuh?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2