PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 9


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa baru saja ingin meninggalkan biliknya. Akan tetapi tidak jadi, karena Prabu Maharaja Sura Fusena masuk ke biliknya. Ia duduk di samping adiknya, ia melihat keadaan adiknya. Karena ia masih khawatir dengan keadaan adiknya.


"Oh kanda prabu. Selamat pagi kanda prabu."


"Selamat pagi dinda patih."


"Ada apa kanda prabu?. Tidak biasanya kanda prabu mendatangiku pagi-pagi seperti ini."


"Apakah aku tidak boleh menemui dinda patih?. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja."


"Keadaanku baik-baik saja kanda prabu. Meskipun kedua tanganku masih agak sakit digerakkan, namun bukan berarti aku hanya bisa berdiam diri saja bukan?."


"Bagaimana jika dinda patih diserang oleh seseorang, sedangkan tangan dinda patih masih sakit. Itu akan berbahaya dinda patih."


"Si kaca para itu memang kurang ajar. Untung saja tanganku yang kena tikam olehnya. Jika saja aku tidak berhasil menangkisnya, mungkin saja jantungnya ku yang ditikam olehnya. Hampir saja aku mendahuluinya."


"Ahahaha kau ini ada-ada saja dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena tidak dapat menyembunyikan tawanya. Merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa.


"Habisnya, dia sangat berniat sekali untuk membunuhku kanda prabu."


"baiklah kalau begitu. Bagaimana jika dinda bertenang diri dulu."


"Tentu saja kanda. Namun, sebelum itu. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kanda prabu. Namun setelah itu mereka terlihat serius, karena apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa adalah keluhannya akhir-akhir ini. "Maaf kanda prabu. Jika aku ikut campur masalah pribadi kanda prabu. Ini masalah selir kanda prabu."


"Hufffh. Jadi kau juga menyelidikinya dinda patih?."


"Maafkan aku kanda prabu. Karena pada saat itu aku tidak sengaja melihatnya bersama senopati yudhasoka. Jadi aku menyuruh sayang yang selalu bersama nanda pangeran arya menyelidikinya. Karena aku tidak mungkin masuk ke kaputren kanda prabu."


"Jadi seperti itu?. Rasanya aku sangat malu padamu dinda patih. Tapi masalah ini biar aku yang atasi. Terima kasih kau selalu perhatian padaku dinda patih."


"Baiklah kalau begitu kanda prabu. Maafkan aku sekali lagi. Aku hanya tidak ingin tersebar kabar buruk tentang kanda prabu yang tidak bisa menjaga istrinya, sampai bisa serong bersama senopatinya."


"Masalah itu akan segera aku atasi, namun aku butuh bantuan darimu. Ah maksudku dari dayang yang kau perintah kan untuk menyelidiki masalah itu."


"Tentu saja kanda prabu. Nanti akan aku suruh mereka untuk menghadap kanda prabu untuk memberikan informasi apa saja yang mereka dapatkan."


"Terima kasih dinda patih. Aku merasa terbantu sekali."


"Sama-sama kanda prabu. Sudah seharusnya seperti itu bukan."


"Oh iya. Sebentar lagi kanda prabu barata jaya akan datang ke istana ini. Katanya ia akan membawa keluarganya. Aku yakin kau akan suka dengan adiknya yang paling bungsu."


"Jadi ceritanya kanda mau menjodohkan aku?."


"Ya, bisa dibilang begitu, ahahaha."


"Terserah kanda prabu saja. Selalu saja begitu, jika ada raja yang berkunjung ke sini." Patih Rangga Dewa hanya pasrah saja ketika Prabu Maharaja Sura Fusena selalu menjodohkan dirinya dengan putri raja yang berkunjung ke Istana ini. Tapi yang pasti, ia akan selalu bersama kakaknya membangun negeri ini. Apakah yang akan terjadi?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


Sementara itu. Suasana pasar kota raja agak heboh, karena kedatangan Pangeran Arya Fusena. Ketampanan pangeran muda itu membuat siapa saja terpaku. Semua mata tertuju padanya, ingin terus menatap ke arahnya. Tapi tentunya ia bersama pengawal istana, karena tidak mau terjadi sesuatu pada Pangeran Arya Fusena.


"Gusti pangeran." Mereka semua mendekatinya, menyambutnya dengan baik. Entah mengapa mereka merasa senang saja, jika Pangeran Arya Fusena datang. Rasanya ada kebahagiaan yang mereka rasakan saat berbincang dengan Pangeran Arya Fusena.


"Bagaimana keadaan saudara-saudara semuanya. Apakah baik?."


"Baik gusti pangeran."


"Syukurlah. Itu yang paling penting. Tetap jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk bahagia."


Mereka semua tertawa geli mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pangeran Arya Fusena. Mereka sangat senang bisa berbicara dengannya. Diperhatikan oleh pangeran muda yang tampan. Tidak sombong, ataupun merasa malu jika berinteraksi dengan mereka semua.


"Lalu bagaimana dengan gusti pangeran sendiri?. Bagaimana keadaan gusti pangeran?."


"Saya akan semakin sehat dan baik. Saat melihat saudara-saudara semua baik, dan sehat. Karena hati saya sangat Bahagia, jika saudara-saudara semua sehat."


Mereka merasa luluh mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pangeran Arya Fusena. Sungguh pandai sekali mengambil hati mereka semua.


"Lalu apa yang gusti pangeran lakukan di sini?. Apakah gusti pangeran mau berbelanja?."


"Saya hanya ingin jalan-jalan sambil melihat keadaan pasar kota raja. Saya dengar banyak barang-barang bagus yang tersedia di sini."


"Oh. Tentu saja gusti pangeran. Mau pilih yang mana?."


Mereka semua menawarkan jualan mereka pada pangeran Arya Fusena. Barang mana yang akan dibeli oleh Pangeran Arya Fusena?. Temukan jawabannya.


...***...


Karena kondisi tangannya yang masih belum bisa digerakkan, Patih Rangga Dewa hanya bisa melatih prajurit di halaman depan istana. Mereka tampak serius mengikuti pelatihan itu. Namun saat itu, tiba-tiba seseorang datang sambil berteriak-teriak memanggil Patih Rangga Dewa. Karena suara teriakan itu sangat mengganggu, tentunya Patih Rangga Dewa mendekati orang itu dan bertanya padanya.


"Patih Rangga dewa!. Patih rangga dewa!. Keluar kau!."


Patih Rangga Dewa melihat siapa yang datang, namun sebelum itu ia berkata pada prajuritnya. "Kalian semua tetaplah latihan. Biar aku atasi dia."


"Sandika gusti patih." Mereka kembali melakukan latihan yang diajarkan. Sedangkan Patih Rangga Dewa sedikit menyipitkan matanya, melihat siapa yang datang. "Bukankah kau adalah bayu raksa?. Apa yang kau lakukan dengan berteriak di atas istana ini?."


Pemuda ia datang dengan raut wajah yang tidak bersahabat sama sekali. "Ya!. Aku adalah bayu raksa!. Aku hanya ingin bertemu denganmu!." Dengan suara keras ia membentka Patih Rangga Dewa.


"Untuk apa kau ingin bertemu denganku?. Apa yang kau inginkan dariku?."


"Aku hanya ingin menuntut atas kematian kakang dharmapati kaca para. Aku tidak terima kematian kakang dharmapati kaca para. Aku yakin kau yang telah menjebaknya, sehingga ia mendapatkan hukuman mati!."


"Bayu raksa. Aku katakan padamu!. Bahwa aku tidak pernah menjebak kakang mu itu. Justru dia yang selalu menggunakan namaku untuk berbuat kejahatan. Kau harus mengetahui itu!."


"Kau memang pandai berkata dusta rangga dewa!. Kami semua tahu, kalau kau memang penjahatnya!."


"Jaga ucapanmu bayu raksa. Semua orang telah mengetahui kebusukan yang dilakukan kakang mu. Kau jangan mencari gara-gara denganku!."

__ADS_1


"Aku tidak percaya!. Akan aku bunuh kau rangga dewa!. Kau harus menggantikan nyawa kakang kaca para yang telah kau bunuh!." Bayu Raksa menyerang Patih Rangga Dewa dengan cepatnya. Sedangkan Prajurit istana merasa tidak enak, jika hanya melihat saja. Mereka berniat ingin membantu, akan tetapi mereka bingung mau mengikuti pertarungan itu. Saking cepatnya gerakan yang mereka lakukan.


"Apa yang harus kita lakukan?."


"Kita tunggu saja aba-aba dari gusti Patih."


"Baiklah jika memang seperti itu." Sementara itu, Patih Rangga Dewa mencoba menghindari serangan dari Bayu Raksa. Hingga pada saat mereka mengadu pukulan. "Kegh." Patih Rangga Dewa meringis sakit, ia melompat mundur sambil mengibas tangannya tangannya yang terasa berdenyut. "Sial. Ternyata tanganku masih sakit."


"Gusti Patih." Prajurit mendekati Patih Rangga Dewa yang terlihat sedang meringis sakit. Mereka khawatir dengan keadaan sang Patih.


"Heh!. Apa hanya segitu kemampuan yang kau miliki rangga Patih. Apakah hanya mulutmu saja yang kau banggakan?. Dasar patih penjilat."


Hati Patih Rangga Dewa merasa panas mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bayu Raksa. Ia mendekati pemuda itu, dan langsung menyerangnya. Terjadi pertarungan antara keduanya, mereka kembali bertarung. Sedangkan Prajurit istana kembali melihat dengan tatapan bingung.


Patih Rangga Dewa, meskipun tangannya masih sakit, namun dengan gerakan kakinya yang super cepat. Gerakan yang lebih tipuan, kakinya berhasil menerjang dada Bayu Raksa beberapa kali, bahkan ia berhasil menyepak kuat bagian tubuh Bayu Raksa dengan kuat. Hingga Bayu Raksa berteriak kesakitan. Tubuhnya terlempar jauh, dan karena tendangannya yang menggunakan tenaga dalam, membuat tubuh Bayu Raksa tidak kuat menahan serangan itu. Disaat yang bersamaan, Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa Fusena melihat pertarungan itu, dan mendekati Patih Rangga Dewa yang terlihat sangat marah.


"Berani sekali kau merendahkan kemampuanku. Tanganku ini sedang sakit, itu karena ditikam oleh kakang mu yang kurang ajar itu!." Patih Rangga Dewa mencengkram kuat kerah baju Bayu Raksa. "Seandainya saja tanganku tidak sakit, aku hajar kau sampai babak belur!."


"Kegh. Harusnya kau bunuh saja aku. Biar lengkap kebahagiaan yang kau rasakan rangga dewa!." Tenaga dalamnya terasa melemah. Meskipun hanya menerima sepakan, atau terjangan dari Patih Rangga Dewa, ternyata ia memang sangat sakti. Tubuhnya terasa sakit karena serangan itu, dan darah segera mengalir di sudut bibirnya.


"Jangan uji kesabaranku bayu raksa!. Bukan aku yang menghukum kakang mu!. Akan tetapi mereka yang merasa ditipu oleh kakang mu itu!. Kau boleh bertanya sepanjang jalan di kota raja!." Dengan kesalnya ia melepaskan cengkeramannya itu. Hatinya masih panas, dan tangan kanannya masih terasa sakit.


"Paman Patih?."


"Apa yang paman lakukan?. Mengapa paman patih menghajarnya?."


"Dia telah berani berteriak tidak sopan, dan malah menuduh paman yang menjebak dharmapati kaca para hingga dihukum mati."


"Paman bayu raksa. Paman telah melakukan kesalahan. Paman patih tidak mungkin melakukan hal yang keji seperti itu."


"Sebaiknya paman bayu raksa pulang. Tenangkan pikiran paman. Kami tidak mau membuat masalah dengan paman."


Bayu Raksa mencoba bangkit, ia menatap benci pada mereka semua. Ia masih tidak terima dengan apa yang terjadi. "Awas saja kau rangga dewa. Suatu hari nanti, akan aku balas apa yang telah kau perbuat padaku, juga pada kakang dharmapati kaca para. Ingat itu!." Setelah berkata seperti itu, ia melompat menjauhi halaman istana. Ancaman yang ia sebutkan sepertinya tidak main-main. Dendam telah bersarang di hatinya.


"Paman patih tidak apa-apa?."


"Apakah paman Patih terluka?."


"Paman baik-baik saja nanda putri, nanda pangeran. Hanya tangan saja yang sedikit sakit. Sepertinya paman memang harus menghindari adu pukulan dengan musuh."


"Kami sangat khawatir pada paman Patih."


"Benar paman Patih. Sebaiknya paman Patih tidak keluar istana sampai tangan paman Patih benar-benar pulih."


"Terima kasih karena nanda pangeran, juga nanda putri begitu perhatian pada paman."


"Jika tidak kami siapa lagi paman. Makanya paman cepat-cepat lah mencari pendamping."


Mereka bertiga malah tertawa karena merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Putri Rara Wulan. Setidaknya rasa sakit hati yang dirasakan oleh Patih Rangga Dewa sedikit berkurang karena candaan dari keponakannya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2