PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 40


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa merasa sakit hati, dan kecewa. Namun ia akan menepis semua perasaan itu. Ia tekan perasaan sakit hatinya saat ini.


"Sungguh, maafkan hamba. Hamba telah berusaha untuk membawa mereka semua, namun mereka menolaknya dengan mengatakan. Jika itu bukan tugas mereka. Apa gunanya raja sakti mandraguna jika tidak bisa mengatasi masalah di istana. Itu yang merek ucapkan gusti." Rati berusaha untuk menahan tangisnya, matanya menatap Patih Rangga Dewa, dan juga ada seseorang yang tidak ia kenali sama sekali. "Bahkan mereka menghina gusti Patih, dengan mengatakan-."


"Baiklah rati. Tidak perlu diteruskan. Aku tidak mau mendengarkan apa yang mereka ucapkan."


"Maafkan hamba gusti."


"Bangunlah rati. Mari kita menuju istana. Aku yakin saat ini gusti prabu masih baik-baik saja. Kita harus segera ke istana."


"Baiklah gusti. Kami akan ikut bersama gusti."


"Mari suci putih. Kita harus segera menuju istana. Karena ini dalam keadaan gawat."


"Mari."


Setelah itu mereka pergi menuju ke istana Kerajaan Trisakti Triguna bersama-sama. Namun Rati merasa penasaran dengan wanita yang ikut bersama mereka.


"Apakah kau mengenali wanita yang ikut bersama gusti Patih?."


"Aku bahkan ingin bertanya pada gusti Patih, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bertanya."


"Baiklah, setelah masalah ini selesai. Kita akan bertanya pada gusti Patih."


"Aku setuju."


Mereka berdua hanya mengekor dari belakang. Rasa penasaran yang ada di dalam benak, mereka tahan karena kondisi yang saat ini sangat genting.


...***...


Tempat Durya Pati.


Pangeran Arya Fusena, Pangeran Birawa Fusena dan Putri Rara Wulan dengan senang meniru gerakan Durya Pati. Meskipun usianya tidak muda lagi, namun ternyata masih sangat lincah memainkan satu dua jurus yang ia ajarkan kepada cucu kesayangannya.


Setelah berhasil memainkan dua tiga jurus, ia mengatur tenaga dalamnya. Mengatur pernapasannya dengan baik, agar tidak terlalu mengalami kelelahan fisik. Begitu juga dengan ketiganya yang mengikuti semua yang dilakukan Durya Pati.


"Sangat luar biasa sekali kakek."


"Tadi itu jurus yang sangat hebat."


"Aku baru saja mempelajari jurus yang sangat luar biasa hebatnya. Terima kasih kakek telah bersedia mengajari kami dua jurus sekaligus."

__ADS_1


Durya Pati tertawa keras, ia merasa tersanjung dipuji oleh ketiga cucunya. "Kalianlah yang hebat. Bisa mengikuti jurus itu dengan baik. Sehingga aku tidak susah-susah memberikan arahan pada kalian bertiga."


"Ah, kakek terlalu memuji kami."


"Benar kek. Tadi aku hampir saja mengalami kesulitan saat menirunya."


"Itu benar sekali kek. Kami ingin berlatih lebih lagi. Supaya kami benar-benar mahir menggunakan jurus itu nantinya."


"Ahaha. Sangat merendah sekali. Tapi aku suka." Durya Pati merasa sangat terhibur dengan ucapan polos mereka. "Baiklah kalau begitu. Lakukan sekali lagi. Aku ingin melihat, seberapa mahirnya kalian dalam menangkap jurus yang kita mainkan tadi."


"Siap kakek."


Ketiga saudara tersebut kembali merasa bersemangat. Mereka ingin memainkan jurus itu lebih baik lagi.


...***...


Patih Rangga Dewa, Suci Putih, Suri dan Rati telah sampai di halaman istana. Namun sepertinya tidak ada satupun orang di sana. Bahkan tidak ada prajurit jaga seperti biasanya?.


Tidak, mereka salah. Tiba-tiba saja ada sekitar delapan orang prajurit yang datang. Anehnya mereka mengelilingi mereka semua sambil mengarahkan tombak.


"Hei!. Bukankah kalian adalah prajurit jaga?. Kenapa kalian malah mengarah kan senjata pada kami?."


"Apakah kalian sudah bosan hidup hah?."


Akhirnya prajurit jaga menurunkan senjaya mereka. Karena mereka takut mendengarkan ancaman itu. Apalagi suara itu adalah suara Patih Rangga Dewa. Meskipun menyamar, setidaknya mereka mengenali suara beliau.


"Bagus!. Artinya kalian masih sayang dengan nyawa kalian." Patih Rangga Dewa merasa kesal dengan apa yang mereka lakukan.


Namun saat itu, mereka semua mendengarkan suara tepuk tangan dari dalam istana. Mereka semua melihat ada empat orang yang keluar dari istana.


"Hebat sekali kau rangga dewa. Hanya dengan gertakan kecil, mereka semua takut padamu."


"Selain itu kau juga datang bersama tiga orang wanita. Kau sungguh-sungguh keturunan sura dewa. Laki-laki yang digilai oleh banyak wanita."


"Diam kalian bedebah busuk. Dimana kalian sembunyikan kanda prabu. Aku tidak akan mengampuni kalian, jika terjadi sesuatu pada kanda prabu."


Mereka berempat malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan ancaman yang dilayangkan Patih Rangga Dewa terhadap mereka.


"Kau duluan yang akan bunuh rangga dewa!. Karena kau telah berani membunuh istriku!." Retma Aji maju, dan berdiri di hadapan Patih Rangga Dewa.


"Kematian istrimu itu karena racun yang aku gunakan di keris arwah naga merah. Anggap saja itu adalah balas dendam masa lalu. Karena aku hampir saja mati, jika tidak ditolong oleh ayahanda prabu. Namun akhirnya tewas karena kelakuan busuk kalian!"


"Hoo, jadi kau masih ingat dengan kejadian itu rangga dewa. Kali ini kau akan bunuh, setelah itu aku akan membunuh orang yang kau sayangi."

__ADS_1


"Keparat busuk!. Kau tidak usah mengancam aku retma aji bedebah!." Patih Rangga Dewa langsung menyerang Retma Aji tanpa perlu basa-basi lagi. Ia sangat muak dengan ancaman yang mereka katakan padanya.


Terjadilah pertarungan antara Patih Rangga Dewa dengan Retma Aji. Pertarungan yang menentukan hidup dan mati?. Sebut saja seperti itu, karena memang itu kenyataannya saat itu.


"Elala. Malah mulai duluan mereka." Paman Raga melihat pertarungan itu dari kejauhan.


"Aku yakin ini akan lama." Paman Telaga mencoba menebak bagaimana jalan pertarungan kedua orang hebat itu ketika mengadu ilmu kesaktian yang mereka miliki.


"Hei!. Kalian berdua mau kemana hah?." Rahaja melompat mendekati Suri dan Rati yang tadinya ingin membantu Patih Rangga Dewa untuk melawan Retma Aji.


"Oala. Kedua dayang itu malah ingin ikut campur."


"Kenapa kita juga ikut campur dalam pertarungan itu raga?."


"Hehehe. Kita lihat situasinya dulu telaga. Nanti, seandainya kita dipanggil. Baru kita terjun. Apakah kau mengerti?."


"Huh!. Selalu saja mengikuti apa yang mereka rencanakan. Apakah kita tidak bisa bergerak sendiri apa?."


"Sudahlah. Jangan banyak mengeluh."


Sementara itu, Rati dan Suri sama sekali tidak menyukai tatapan dari Rahaja Dwipa yang sangat mengintimidasi keduanya.


"Kau mau apa hah?. Jika ingin bertarung, maju saja."


"Kami tidak takut sama sekali dengan kau penjahat busuk."


"Aku tidak akan membiarkan kalian ikut campur dengan pertarungan paman guru. Kalian akan aku hajar!. Jika berani ikut campur!."


"Suri."


"Rati."


Keduanya siap berhadapan dengan Rahaja Dwipa. Mereka langsung menyerang laki-laki tersebut. Sedangkan Suci Putih merasa terabaikan, namun ia mencoba mengamati sekitarnya. Sementara itu prajurit tidak tahu harus membantu siapa.


"Hei! Kalian!. Kenapa malah diam saja?. Bantu mereka menghadapi orang itu!."


Namun prajurit jaga malah kebingungan, karena mereka tidak mengerti.


"Hei!. Tunggu apalagi!."


"Baik."


Prajurit tersebut membantu Suri dan Rati menghadapi Rahaja Dwipa. Apakah yang akan terjadi?. Bisakah mereka mengusir orang-orang jahat tersebut?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2