PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 28


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa sedikit heran dengan apa yang dikatakan oleh Putri Batari Kasih. Kenapa orang itu mencarinya?. Apakah ia telah melakukan kesalahan sehingga ia dicari orang itu?. Tapi Patih Rangga Dewa menangkap ada bentuk ketakutan yang tersirat dari sorot matanya.


"Itu karena perasaan cemburunya itu. Ia tidak mau hamba berdekatan dengan siapapun juga." Putri Batari Kasih mencoba menjelaskan alasannya.


"Sangat aneh. Tapi, apakah kanda prabu barata jaya mengetahui jika nimas memiliki kekasih?." Meskipun tidak dijelaskan, namun Patih Rangga Dewa dapat menangkap kata tersirat di sana. Bahwa orang yang dikhawatirkan adalah kekasihnya.


Putri Batari Kasih menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kanda prabu sama sekali tidak mengetahuinya. Karena aku sangat takut untuk mengatakannya pada kanda prabu." Kali ini ada perasaan sedih dari ucapannya itu. Perasaan yang tidak bisa ia katakan pada siapapun.


"Kenapa tidak dikatakan saja?. Nanti jika nimas dijodohkan dengan aku itu sangat gawat. Nanti tersebar kabar aneh lagi tentang diriku." Patih Rangga Dewa membalikkan tubuhnya membelakangi Putri Batari Kasih sambil menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. "Patih rangga dewa, merebut kekasih seorang pangeran. Haduh, rasanya tidak enak untuk didengar. Dan rasanya aku sendiri malu mendengarnya." Lanjutnya dengan perasaan gelisah.


"Maafkan hamba gusti Patih. Hamba hanya belum siap saja mengatakan pada kanda prabu masalah ini." Sungguh ia tidak bermaksud seperti itu, tapi ia tidak memiliki pilihan lain, selain merahasiakannya dari Prabu Brata Jaya.


"Baiklah nimas. Semoga saja hubungan nimas lancar-lancar saja." Patih Rangga Dewa mencoba untuk memahami situasinya. "Kalau begitu keputusan nimas, maka nimas harus siap dengan segala kemungkinan yang ada. Bahkan ketika nimas berlawanan dengan kanda prabu brata jaya." Dengan senyuman ramah, Patih Rangga Dewa berkata sepeti itu. Apakah benar ia merasakan perasaan rela seperti itu?. "Aku ini siapa?. Tidak berhak marah. Bahkan aku sangat berterima kasih, karena dia mau jujur padaku. Dia tidak mau memberikan harapan padaku. Dengan begitu aku tidak akan mengalami patah hati nantinya." Dalam hati Patih Rangga Dewa mencoba berlapang dada menerima kenyataan itu. "Apa jadinya jika patih rangga dewa patah hati karena tidak mengetahui sama sekali bagaimana hubungan mereka. Apa jadinya jika patih rangga dewa menangis karena merasa dikhianati?. Tidak, tidak." Patih Rangga Dewa mencoba menepis pemikiran yang bertentangan dengannya selama ini.


"Terima kasih gusti Patih." Rasanya sangat beruntung bertemu dan berbicara dengan Patih Rangga Dewa yang sangat baik.


Patih Rangga Dewa kembali menghadap ke arah Putri Batari Kasih. Ia mencoba memaklumi itu, karena baginya jodoh tidak akan kemana. Jadi tidak perlu cemas jika belum ketemu dengan jodohmu. "Kalau begitu kita jalan-jalan mengitari istana saja. Ada beberapa tempat di istana ini bagus untuk disinggahi." Patih Rangga Dewa mencoba mencairkan suasana yang sempat terasa sangat kaku.


"Bukankah gusti Patih ingin membawa hamba ke kota raja?." Ia bertanya karena ada perubahan rencana yang terjadi?.


"Jika itu, rasanya nanti saja. Karena aku takut, nimas akan mengalami hal yang sama dengan temanku." Agak sulit rasanya ia menjelaskan alasan mengapa ia tidak mau mengajak Putri Batari Kasih keluar istana.


"Kenapa memangnya?." Tentunya penasaran, jika melihat raut wajah Patih Rangga Dewa yang seperti itu. Seakan sedang mencemaskan sesuatu.


"Karena banyak gadis kota di luar sana yang-, ah sudahlah susah untuk dijelaskan. Demi keselamatan nimas, kita cari aman saja." Patih Rangga Dewa agak kesulitan untuk menjelaskannya.


"Baiklah gusti patih." Putri Batari Kasih hanya tertawa kecil melihat raut wajah Patih Rangga Dewa. "Kalau begitu tolong bawa hamba jalan-jalan ke tempat bagus di istana ini." Tidak tega juga melihat tingkah Patih Rangga Dewa yang seperti itu.


"Mari nimas." Patih Rangga Dewa mempersilahkan Putri Batari Kasih berjalan beriringan dengannya.


"Mari gusti patih."


Patih Rangga Dewa mengajak Putri Batari Kasih untuk menuju taman istana. Tempat yang disukai Prabu Maharaja Sura dan penghuni istana kerajaan.


...***...

__ADS_1


Di sebuah tempat. Ada beberapa orang pendekar yang terlihat sedang berkumpul dalam satu ruangan. Mereka semua terlihat sangat menyeramkan. Dan sama sekali tidak terlihat bersahabat sama sekali. Mungkin bagi pendekar golongan putih akan berkata seperti itu jika bertemu dengan mereka semua.


"Aku sudah tidak sabar lagi ingin menyerang istana kerajaan trisakti triguna. Kenapa masih saja menundanya?." Ia menatap mereka semua dengan tatapan tidak suka. Dari tadi ia hanya bersabar menunggu.


"Sabarlah sedikit. Nyai ketuk Pipit belum sampai, begitu juga dengan kakang retma aji. Kau mau disembelih oleh kedua kakek peyot itu hah?." Disatu sisi, seorang laki-laki juga merasa kesal dan marah.


"Sembarangan kalau kau bicara!. Bagaimanapun juga keduanya adalah kakak seperguruan ku, bodoh!." Ada perasaan kesal mendengarkan ucapan laki-laki itu.


"Hehehe aku hanya keceplosan dalam berbicara." Ia malah menyengir lebar setelah menyadari ucapannya tadi.


"Sudahlah. Bibi dan paman guru akan sampai malam nanti. Jadi kita tidak perlu berdebat. Kita tunggu saja informasi dari mereka." Pemuda itu mencoba menenangkan mereka semua yang sudah tidak sabar lagi menunggu terlalu lama.


"Nah, kau benar rahaja dwipa. Mereka saja yang tidak sabaran."


"Huh!. Aku hanya capek menunggu. Kalau begitu aku belakangan saja datangnya." Ia mendengus sebal, tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rahaja Dwipa.


Mereka semua memang tidak sabaran jika mengenai penyerangan. Sudah lumrah para pendekar tidak sabar jika ingin segera bertarung. Rahaja Dwipa menghela nafasnya dengan pelan. Memang ia akui ia memang yang paling muda diantara mereka. Namum ia malas saja mendengarkan keluhan mereka semua. "Begini saja paman raga, paman telaga, bibi centauri, paman renggas, juga nini petik setangkai. Bagaimana kalau kita latihan tanding saja. Mungkin untuk sekedar melatih otot kita yang kaku selama di perjalanan." Rahaja Dwipa mencoba memancing jiwa mereka yang pada dasarnya hanya ingin bertarung tanpa perhitungan sama sekali. Jadi ia pancing saja dengan latihan tanding, supaya mereka sedikit terhibur. Raut wajah mereka yang tadinya cemberut, terlihat kembali ceria. Dan mereka semua setuju dengan ide bagus Rahaja Dwipa.


"Kau memang selalu bisa diandalkan rahaja dwipa. Tidak salah kakang retma aji mengangkatmu menjadi muridnya. Kau memang keponakan kesayangannya rahaja dwipa. Ahahaha!."


"Hooh. Memang pandai sekali mencairkan suasana yang membosankan ini."


"Kalau begitu mari kita lakukan. Aku sudah mulai bosan."


"Mari kita bersama-sama keluar, dan membuat hiburan yang menarik."


"Mari."


Mereka semua keluar dari ruangan itu, menuju halaman. Karena mereka ingin melatih diri. Seberapa hebatnya mereka ketika berhadapan dengan musuh.


...***...


Kembali ke istana kerajaan Trisakti Triguna. Patih Rangga Dewa dan Putri saat ini sedang berada di taman istana. Mereka menikmati pemandangan hamparan bunga yang berada di depan mereka saat ini. Pemandangan yang lumayan menyejukkan mata, serta suasana hati yang sedang gelisah.


"Bunganya sungguh sangat cantik sekali gusti Patih. Hamba tidak menyangka ada taman bunga yang indah dilingkungan istana ini." Senyumannya sangat manis saat mengagumi keindahan taman bunga istana. "Mereka terlihat sangat cantik, ketika tertiup angin. Rasanya mereka benar-benar seperti hidup, sedang menyapa kita saat ini." Itulah ungkapan perasaan suasana hatinya ketika melihat taman bunga yang sangat indah.


"Taman istana menjadi tempat yang sangat disukai oleh penghuni istana. Terkadang, jika aku merasa gundah, aku sering ke sini untuk menenangkan hatiku." Patih Rangga Dewa sering merasakan perasaan itu.

__ADS_1


"Ya. Memang tempat yang cocok untuk mengademkan suasana hati yang gelisah." Matanya seakan menerawang sangat jauh. "Mungkin nanti saat pulang dari sini, hamba akan meminta kanda prabu barata jaya untuk membuat taman yang indah seperti ini."


Patih Rangga Dewa hanya tersenyum kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Batari Kasih. Karena baginya, tempat ini adalah kenangan indah masa kecilnya bersama ibundanya. Ratu Rara Asih Parmadani yang menyarankan untuk membuat taman bunga yang indah di lingkungan istana. Namun saat larut dalam pikirannya, Putri Rara Wulan, Pangeran Arya Fusena, dan Pangeran Birawa Fusena datang bersama beberapa putra putri Prabu Barata Jaya.


"Sampurasun tuan putri. Paman patih."


"Rampes." Balas Patih Rangga Dewa dan Putri Batari Kasih. Mereka tidak menyangka


"Paman Patih?. Mengapa paman Patih ada di sini?."


"Benar paman Patih. Bukankah paman Patih harusnya mengajak tuan putri batari kasih jalan-jalan ke kota raja?."


"Iya tu paman. Apa kata ayahanda prabu, juga paman prabu. Jika mengetahui paman Patih malah berada di sini."


Patih Rangga Dewa hanya tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh ketiga keponakan tercintanya. "Paman sebenarnya ingin membawa nimas batari kasih jalan-jalan ke kota raja. Akan tetapi paman tidak bisa melakukannya."


Mereka semua merasa bingung. Karena Patih Rangga Dewa belum menjelaskan mengapa ia tidak bisa melakukannya. Sehingga mereka semua bertanya. "Kenapa tidak bisa paman patih?."


"Kalian kan telah mengetahuinya. Selangkah saja paman meninggalkan gerbang istana. Paman sudah diserbu para gadis. Bagaimana jika paman keluar bersama nimas batari kasih. Kalian bisa membayangkannya bukan?." Patih Rangga Dewa memberikan pandangan atau gambaran pada ketiga keponakannya itu.


Putri Rara Wulan, Pangeran Arya Fusena, dan Pangeran Birawa Fusena mencoba mengkhayalkan bagaimana reaksi mereka semua ketika Patih Rangga Dewa keluar bersama Putri Batari Kasih.


"Waktu itu saja paman Patih berjalan berduaan dengan nini aswita, pulangnya malah babak belur diserbu."


"Oh, kejadian waktu itu. Ya, ya, ya. Aku sangat ingat."


"Mengerikan untuk diingat dinda. Sebaiknya jangan diajak. Pantas saja paman Patih keluar istana selalu menyamar. Akan bahaya jika terus seperti itu."


"Benar kanda. Paman Patih bisa menyendiri sampai tua. Itu tidak boleh terjadi. Kasihan tuan putri batari kasih diserbu mereka nantinya."


"Jangan sampai itu terjadi. Paman prabu brata jaya bisa mengamuk jika mengetahui itu."


"Selain itu, aku tidak mau menikah sebelum paman Patih menikah."


Putri Batari Kasih, dan yang lainnya sangat tercengang mendengarkan apa yang diucapkan ketiga bersaudara itu. Apalagi pose mereka yang sedang berpikir terlihat sangat aneh. Sedangkan Patih Rangga Dewa meringis sakit mendengarkan ucapan itu.


"Oh ya ampun. Jadi itu alasan kenapa gusti patih tidak mau mengajak aku keluar istana?." Kini Putri Batari Kasih mengetahui alasannya. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya kembali ke istana dalam keadaan babak belur hanya karena diserbu para penggemar Patih Rangga Dewa yang memiliki wajah rupawan?.

__ADS_1


"Kenapa aku memiliki keponakan yang seperti ini?. Sakit sekali dewata yang agung." Ingin rasanya Patih Rangga Dewa menangis karena ucapan mereka yang menusuk hatinya. Apakah separah itu ia di mata mereka?. Entahlah. Siapa yang tahu. Jika belum ketemu jodoh, bagaimana mau menikah?. Ada-ada saja. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Sabar ya Gusti Patih Rangga Dewa. Memiliki keponakan seperti mereka memang harus extra sabar dan kuat untuk tidak menghajar mereka bertiga.


...***...


__ADS_2