PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 46


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa pamit pada Prabu Maharaja Sura Fusena untuk mengantar Suci Putih Ke desa Pande Warna. Desa para santri belajar agama Islam di sana dengan sangat baik.


"Aku pamit dulu kanda prabu. Semoga aku bisa mengantar suci putih sampai tujuan." Ucap Patih Rangga Dewa.


"Itu harus dinda patih. Pastikan nini suci putih kembali dengan selamat." Prabu Maharaja Sura Fusena tersenyum kecil. "Pastikan kau bertemu dengan calon mertua mu ya." Bisik Prabu Maharaja Sura Fusena dengan nada jahil. Membuat Patih Rangga Dewa mengernyit heran.


"Terserah kanda prabu saja." Balas Patih Rangga Dewa ketusnya. Namun Prabu Maharaja Sura Fusena malah tertawa melihat raut wajah kesal adiknya.


"Hamba pamit gusti prabu. Maaf hamba tidak bisa berlama-lama di istana ini." Suci Putih pamit pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia hanya melihat bagaimana keduanya yang sedang bercanda?. Entahlah, bisa jadi itu cara mereka mendekatkan diri sebagai adik dan Kakak.


"Berhati-hatilah saat bersama dengan dinda patih. Dia itu orangnya galak." Prabu Maharaja Sura Fusena malah terkekeh geli. Begitu juga dengan Suci putih, yang tidak menyangka melihat seorang Raja yang memiliki jiwa humor yang luar biasa.


"Jangan dengarkan apapun yang dikatakan kanda prabu. Mari kita segera pergi." Patih Rangga Dewa merasa lelah dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


"Kami pamit dulu gusti prabu. Sampurasun."


"Rampes."


"Aku pamit dulu kanda prabu. Berhati-hatilah di istana saat ini. Jika ada sesuatu yang terjadi, panggil saja mereka bertiga yang selalu siaga di sekitar istana."


"Terima kasih dinda patih. Berhati-hatilah di jalan."


Prabu Maharaja Sura Fusena menatap punggung adiknya yang meninggalkan Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Ia merasa takut saat adiknya mengatakan jika adiknya hampir saja terbunuh oleh wanita siluman ular itu. "Kau tidak boleh mati rangga dewa. Karena kau adalah pilar dari kerajaan ini. Dan kau yang sebenarnya pantas menjadi raja ketimbang diriku. Kau lah macam dari kerajaan ini yang sesungguhnya rangga dewa." Dalam hati Prabu Maharaja mengingat betapa tegasnya adiknya terhadap orang-orang yang berani melanggar hukum di kerajaan ini. Dan ia sangsi, hukuman apa yang akan mereka terima dari adiknya.


"Untuk saat ini, aku menjauhinya. Aku takut ia akan marah besar pada penggawa istana. Karena mereka sama sekali tidak mau membantu. Aku harap setelah ini tidak akan terjadi pembantaian besar-besaran di istana ini." Dalam hati Prabu Maharaja Sura Fusena sangat berharap, Jika adiknya akan selalu baik-baik saja. Ia selalu memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh adiknya selama ini. Sebenarnya adiknya memiliki sifat yang sangat keras dan sulit untuk diajak untuk berbicara. Namun sejak anaknya Pangeran Arya Fusena lahir, disitulah letak perubahan sikap dari Patih Rangga Dewa. Bagaimana sifat keras Patih Rangga Dewa dimasa lalu?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu, Rumi dan Lasmi telah sampai di tempat persembunyian Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Semua istri serta selir Prabu Maharaja Sura Fusena sangat senang mendengarkan kabar bahagia tersebut.


"Hamba hanya membawa pesan dari gusti prabu. Bahwa kami diperintahkan gusti prabu untuk membawa gusti ratu semua kembali ke istana utama."


"Kami harap gusti ratu semua melakukan persiapan sebelum berangkat."

__ADS_1


"Baiklah dayang. Terima kasih telah menyampaikan kabar baik ini."


"Sama-sama gusti ratu. Itu adalah tugas kami untuk melindungi keluarga istana."


"Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan keadaan putra dan putriku?. Apakah mereka aman?."


"Mereka berada di tempat aman gusti ratu. Saat ini teman hamba yang lainnya saat ini sedang menuju kediaman gusti durya pati. Untuk menjemput gusti pangeran serta gusti ayu."


"Jadi anakku berada di tempat paman durya pati?."


"Begitulah informasi yang kami dapatkan dari gusti prabu."


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih aku ucapkan sekali lagi emban."


"Sama-sama gusti ratu."


"Kalau begitu kami akan melakukan persiapan terlebih dahulu. Kami harap kalian bisa bersabar menunggu kami."


"Sandika gusti ratu." Setelah itu Rumi dan Lasmi pergi meninggalkan tempat. Karena banyak persiapan yang akan mereka lakukan.


...***...


Di Sisi lain. Suri dan Rati telah sampai di kediaman Durya Pati. Mereka sangat senang saat melihat pangeran kesayangan baik-baik saja. Senyuman manis mengembang di wajah keduanya.


"Apakah kalian benar dayang dari istana?."


"Kami memang utusan dari gusti prabu maharaja sura fusena gusti."


"Mereka memang dari istana kakek." Pangeran Birawa Fusena baru saja datang mendekati mereka semua. Begitu juga dengan Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan.


"Gusti pangeran, gusti ayu." Rati dan Suri memberi hormat pada Pangeran Birawa Fusena, Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan.


"Syukurlah gusti pangeran serta gusti ayu baik-baik saja." Suri dan Rati tersenyum lebar.


"Kalian kenal?. Dengan dua orang wanita ini."

__ADS_1


"Tentu saja kakek." Jawab pangeran Arya Fusena.


"Mereka ini adalah dayang yang selalu bersama dinda arya kakek." Ucap Putri Rara.


"Bisa dibilang pengawal pribadi dinda arya." Lanjut Pangeran Birawa Fusena.


"Benarkah?." Durya Pati hampir saja tidak percaya.


"Ya, begitulah yang terjadi kakek." Jawab keduanya. Sedangkan Pangeran Arya Fusena hanya tertawa kecil melihat kedua kakaknya.


"Jadi kalian yang menjemput kami?."


"Kami hanya menjalankan perintah dari gusti prabu. Begitulah tugas kami gusti ayu. Yaitunya menjemput gusti ayu serta gusti pangeran."


"Baiklah kalau begitu. Kalian bersiap-siaplah. Kakek akan berbicara dengan mereka."


"Baik kakek." Ketiganya pergi meninggalkan tempat.


"Lalu bagaimana dengan anak buah yang aku kirim ke sana?. Mengapa mereka tidak kembali bersama kalian?."


"Jika soal itu. Mungkin saat ini mereka berada di pulau buangan." Jawab Suri.


"Pulau buangan?. Bagaimana mungkin mereka berada di pulau buangan?. Apa yang mereka lakukan di sana?." Siapa yang tidak heran dengan informasi yang ia dapatkan.


"Maaf sebelumnya gusti. Itu karena gusti Patih yang meminta mereka untuk mengantar para perusuh itu ke pulau buangan."


"Jadi rangga dewa telah kembali?."


"Benar gusti. Gusti patih saat ini mengalami suatu hal, namun akhirnya bisa membantu gusti prabu untuk mengambil alih kerajaan kembali."


"Baiklah kalau begitu. Kalian jaga baik cucu-cucuku saat kembali ke istana." Pesannya. "Sampaikan salamku pada mereka berdua. Mungkin dalam pekan ini aku akan mengunjungi mereka."


"Sandika gusti."


Meskipun terasa aneh, setidaknya ia merasa bersyukur. Karena keadaan istana telah kembali pulih. Ia tidak menyangka akan banyak masalah yang akan dihadapi oleh kedua keponakannya itu dalam menjalankan tahta pemerintahan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2