PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 62


__ADS_3

...***...


Perlahan-lahan matanya mulai membuka sambil menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya. Rasanya tubuhnya sudah agak mendingan. Ia mencoba untuk duduk, setelah itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah tidur dalam waktu yang cukup lama.


Namun saat ia sadar, ternyata biliknya telah dipenuhi banyak orang. Membuat itu takut, malu juga ingin berteriak. tapi rasanya ia akan semakin merasa malu jika ia melakukan itu. "Kenapa kalian malah berada di dalam bilik ku?." Ia seperti patung, karena banyak mata yang saat ini memperhatikan dirinya. Mengamati apa yang telah ia lakukan barusan.


Prabu Maharaja Sura Fusena, Ratu Dewi Saraswati, Pangeran Birawa Fusena, Pangeran Arya Fusena, Putri Rara Wulan, Duri Kosambi, Jamba, Cadra Baka, Rumi, Suri, Rati, dan Lasmi. Saat ini berada di dalam biliknya sambil terus memastikan jika Patih Rangga Dewa telah bangun, dan saat ini mereka semua telah melihat keadaan Patih Rangga Dewa telah sehat dari yang sebelumnya.


"Paman patih." Pangeran Arya Fusena, Pangeran Birawa Fusena, dan Putri Rara Wulan melompat ke ranjang dan memeluk Patih Rangga Dewa yang baru saja mendapatkan kesadarannya.


"Ugkh. Mati aku dewata agung." Patih Rangga Dewa malah merintih sakit karena pelukan mereka sangat erat. Sedangkan mereka yang melihat itu malah tertawa cekikikan melihat raut wajah kesakitan dari Patih Rangga Dewa.


"Syukurlah paman Patih sudah baikan. Aku sangat khawatir pada paman Patih." Pangeran Arya Fusena terdengar menahan tangisnya.


"Kenapa paman Patih tidurnya lama sekali. Apakah paman Patih sangat kantuk berat sampai tertidur selama itu." Pangeran Birawa Fusena merasa sedih karena hampir dua hari ia tidak bertemu dengan pamannya Patih Rangga Dewa.


"Paman jangan memaksakan diri. Kami semua cemas pada paman. Kami masih mau bersama paman." Putri Rara Wulan pun mengungkapkan kesedihan yang ia rasakan. Bagaimana perasaan gelisahnya saat itu.


"Maafkan paman ya. Paman sangat mengantuk sekali." Antara terkejut dan merasa haru saat ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh ketiga keponakannya itu.


Sedang Prabu Maharaja Sura Fusena dan yang lainnya merasa simpati dengan kedekatan antara Patih Rangga Dewa dengan ketiga keponakannya.

__ADS_1


"Sudahlah nak. Paman patih baru saja bangun. Biarkan paman Patih mengambil nafas dulu." Ratu Dewi Saraswati mencoba untuk memperingati ketiga anaknya.


Mereka bertiga melepaskan pelukan mereka dengan raut wajah yang sangat sedih. Mereka sangat khawatir, jika Patih Rangga Dewa tidak bisa diselamatkan.


"Aku baik-baik saja. Itu semua karena ayahanda kalian yang mengobati aku." Patih Rangga Dewa mencoba untuk tersenyum kecil. "Jangan bersedih. Tetaplah tersenyum. Mengerti?." Patih Rangga Dewa hanya tidak ingin membuat mereka semua mencemaskan dirinya. Setelah itu mereka melepaskan pelukan mereka, karena mereka juga tidak mau menyakiti Patih Rangga Dewa.


"Syukurlah kalau begitu paman Patih. Kami sangat mengkhawatirkan keadaan paman Patih. Syukurlah jika paman Patih baik-baik saja." Putri Rara Wulan sangat khawatir, namun saat ini ia tersenyum lega. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa.


"Kami sangat takut, saat paman patih digendong ke istana ini oleh ayahanda prabu dalam keadaan terluka. Kami sangat cemas menunggu ayahanda mengobati paman patih." Pangeran Birawa Fusena mengungkapkan rasa sedih dan cemas yang ia rasakan pada saat itu.


"Paman Patih membuat kami semua merasa sangat takut. Karena ayahanda berkata paman Patih telah melepaskan kekuatan jahat itu." Pangeran Arya Fusena malah sambil menangis sedih. Perasaan takut akan kehilangan orang-orang yang ia cintai membuat suasana hatinya yang masih polos itu terguncang.


"Maaf ya. Paman telah membuat kalian semua merasa cemas. Tapi terima kasih karena telah mengkhawatirkan paman." Ada perasaan terharu yang ia rasakan. Namun saat itu matanya menatap orang-orang yang ia percayai untuk menjaga keamanan wilayah, bahkan keselamatan ketiga keponakannya.


"Aku baik-baik saja jamba. Sungguh, aku baik-baik saja." Balas Patih Rangga Dewa dengan senyuman yang sangat meyakinkan.


"Syukurlah gusti patih baik-baik saja. Hamba tidak perlu khawatir lagi." Duri Kosambi yang super kaku menghapus air matanya. Ia yang tidak pernah mengkhawatirkan siapa saja malah menangis. Tentu saja pemandangan langka itu membuat mereka semua terheran sekaligus terkejut. Namun disisi lain, mereka semua malah tertawa terbahak-bahak melihat betapa lucunya Duri Kosambi yang menangis aneh.


"Kau ini menangis atau sedang apa duri kosambi." Jamba yang paling kuat menertawakan Duri Kosambi.


"Kalau menangis itu bukan seperti itu caranya duri kosambi. Caramu menangis sangat mengerikan. Seperti tuyul kehilangan ibuknya. Hahaha!." Suri malah ikutan tertawa.

__ADS_1


Begitu juga dengan Prabu Maharaja Sura Fusena, Ratu Dewi Saraswati, dan ketiga anaknya. Bahkan Patih Rangga Dewa juga tertawa. Namun dalam keadaan seperti itu, mereka merasa mengucapkan rasa syukur.


"Syukurlah kalau begitu dinda patih. Kami menunggu dinda Patih bangun." Ratu Dewi Saraswati tersenyum ramah menatap adik iparnya itu. Ia juga merasa bersyukur karena Patih Rangga Dewa telah sadar.


"Setelah ini kita harus latihan lagi dinda Patih. Kau harus menaklukkan naga biru yang ada di dalam tubuhmu itu. Atau kau akan mengalami kesulitan lagi. Karena aku tidak selalu bersamamu dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena juga masih khawatir dengan keadaan adiknya. Ia tidak mau terjadi sesuatu lagi pada adiknya itu.


"Siap kanda prabu." Ia memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena dengan raut wajah serius, namun mengundang gelak tawa mereka semua. Setidaknya hari itu, Patih Rangga Dewa telah sadar. Mereka semua merasa lega, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


...***...


Semen itu di penjara.


Prabu Dewata Sangara menatap adiknya yang sedang dipasung oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Hatinya iba melihat keadaan adiknya yang sekarang. Kenapa adiknya sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia ucapkan?.


"Dinda brama adijaya. Kau itu adalah satu-satunya adik yang aku miliki. Tapi kenapa kau malah berakhir seperti ini?." Perasan sedih, sesak, telah menekan dadanya.


"Kanda prabu tidak usah merasa simpati padaku. Aku hanyalah adik tirimu saja. Jadi apa peduli mu padaku?." Hatinya masih saja mau melawan dengan apa yang dikatakan oleh prabu Dewata Sangara?.


"Tentu saja aku peduli padamu. Karena kau tetaplah adikku. Harus bagaimana lagi aku mengatakan padamu dinda!." Ia gebrak jeruji yang memisahkan mereka itu sehingga menimbulkan bunyi yang sangat kuat.


"Tapi aku tidak peduli. Apalagi keadaanku sekarang yang tidak berguna lagi." Raut wajahnya tidak lagi memancarkan semangat untuk hidup. "Tenaga dalamku telah diangkat semua oleh mereka, dan kini aku hanya menunggu hukuman mati dari sura dewa." Lanjutnya lagi seakan ia tidak memiliki perasaan takut.

__ADS_1


"Oh sang hyang widhi. Kuatkan hamba." Rasanya Prabu Dewata Sangara tidak kuat lagi saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya. Sehingga ia menjatuhkan tubuhnya. Ia menangis sedih. Kenapa nasib takdir hidup adiknya hanya akan berkahir seperti ini?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2