
...***...
Keadaan di halaman istana. Rahaja Dewa, Retma Aji, Paman Raga dan paman Telaga benar-benar kewalahan menghadapi Duri Kosambi yang saat ini tidak terkendali. Kekuatan setengah siluman yang ia miliki membuat mereka semua tidak sanggup untuk menghadapinya.
DUAKH!. DUAKH!.
Duri Kosambi memukul kuat dada dan perut paman Telaga dan Paman Raga dengan sangat kuat menghajar mereka. Membuat keduanya terpental dan membentur tembok yang melindungi istana.
"Ohok." Keduanya muntah darah, tidak sanggup lagi untuk bertahan. Karena dari tadi menerima serangan brutal dari Duri Kosambi. Keduanya telah kehabisan tenaga dalam, dan akhirnya tidak sadarkan diri.
"Kurang ajar!. Dia itu bukan manusia lagi paman." Rahaja Dwipa sedikit ngos-ngosan, karena tenaganya hampir habis. Tubuhnya penuh dengan luka-luka karena serangan Duri Kosambi.
Begitu juga dengan Retma Aji yang terkadang batuk-batuk. "Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Untuk sementara waktu kita mundur saja." Retma Aji merasa tidak sanggup lagi untuk berhadapan dengan Duri Kosambi. Ia tidak menyangka akan mendapatkan lawan yang lebih tangguh darinya.
"Baiklah paman. Aku rasa kali ini saja kita kabur dari gelanggang pertarungan." Rahaja Dwipa melihat Duri Kosambi yang menatap garang padanya setelah menghajar Paman Telaga dan Paman Raga.
"Ayo cepat!." Retma Aji menarik baju Rahaja Dwipa. Karena ia tidak mau jadi korban selanjutnya dari Duri Kosambi. Akan tetapi ketika mereka hendak melompat menjauh meninggalkan halaman istana. Mereka mendapatkan sebuah serangan tenaga dalam yang tepat mengenai dada mereka.
"Uakh!." Keduanya terpental, dan terjerembab ke tanah. Ternyata keduanya mendapatkan serangan dari Suci Putih dan Patih Rangga Dewa.
"kurang ajar kau rangga dewa!. Fuih!. Beraninya kau membokong kami dari belakang!." Rahaja Dwipa benar-benar marah dan emosi ketika ia mengetahui siapa yang telah menyerangnya.
"Kurang ajar kau Rangga dewa!. Pengecut laknat!." Retma Aji mencoba untuk bangun. Tubuhnya benar-benar terasa sakit.
"Itu adalah balasan untukmu rahaja dwipa!. Kau telah berani menyerang aku tadi!. Dan kau juga kakek tua!. Kau hanya menyusahkan saja!." Patih Rangga Dewa menyeringai lebar. Rasa puas menghinggapi hatinya, ketika matanya menangkap sosok Duri Kosambi yang masih mengamuk, mendekati kedua orang yang telah menyerang istana ini. "Heh!. Selamat menikmati rasa sakit dari kepedihan kami!."
__ADS_1
Rahaja Dwipa dan Retma Aji menyadari, ada seseorang yang berdiri di belakang mereka. Ketika mereka membalikkan tubuh mereka ke belakang. Duri Kosambi telah siap dengan jurus berbahaya yang telah tersalurkan di telapak tangannya.
DUAKH! DUAKH!.
Pukulan keras itu tepat mengenai dada mereka. Begitu kuat dan bertenaga, hingga tubuh keduanya terhempas dan membentur tembok istana.
"Ohok." Keduanya muntah darah. Rasanya tulang dada mereka mau patah karena pukulan bertenaga itu. Sehingga tenaga dalam keduanya seakan terkuras juga.
"Mari suci putih. Mari kita tenangkan duri kosambi." Patih Rangga Dewa segera mengambil tindakan. Karena Duri Kosambi tidak akan cukup sekali dua kali ingin menghajar seseorang sampai mati. Namun ketika matanya masih menangkap siapa saja yang ia temui. Karena itulah Patih Rangga Dewa harus segera menenangkan Duri Kosambi.
"Baiklah rangga dewa. Mari kita lakukan." Suci Putih setuju, dan ia melompat menggunakan jurus meringankan tubuh. Ia menotok aliran darah Duri Kosambi agar tidak bergerak lagi.
Sementara itu Patih Rangga Dewa mengeluarkan keris arwah naga merah, dan melumuri ujung kerisnya dengan darahnya. Setelah itu ia memutarkan keris itu ke tanah membuat lingkaran. Itu adalah mantram penakluk setan?. Ya, anggap saja seperti itu. Selanjutnya Patih Rangga Dewa melompat dan menggoreskan keris itu ke kedua lengan Duri Kosambi. Meskipun sayatan keris itu sangat kuat, namun tidak Duri Kosambi tidak merasakan sakit sama sekali. Karena ia telah dilumpuhkan oleh Suci Putih.
Selain itu, tubuh Duri Kosambi juga masih membeku karena jurus totokan Suci putih sangat kuat. Sebelum Duri Kosambi sadar, ia dirukiyahkan oleh Suci Putih dengan menggunakan ayat Alquran. Ia membacakan Surat alfatihah, ayat kursi, Al-falaq, Al-Ikhlas, dan An-Nas. Dan saat itulah terdengar suara teriakan dari Duri Kosambi. Karena setan yang ada di dalam tubuhnya berontak, ingin keluar.
"Aih?. Sejak kapan dia menggunakan pakaian yang sopan begitu?. Aku tidak melihat suci putih ganti pakaian begitu." Patih Rangga Dewa merasa aneh dengan penampilan yang tidak biasa.
Beberapa saat setelah itu, Duri Kosambi berhasil mereka lumpuhkan?. Luka goresan yang ada di kedua lengan Duri Kosambi juga telah menghilang dan kembali pulih seperti sedia kala, meskipun masih terlihat bekas robek lengan baju Duri Kosambi. Tubuh itu juga terkulai layu, karena masih tak sadarkan diri. Namun Patih Rangga Dewa segera menangkap tubuh Duri Kosambi agar tidak jatuh ke tanah.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, kita berhasil melumpuhkannya rangga dewa." Suci Putih merasa lega dan bersyukur.
"Tapi masih ada yang harus kita selesaikan suci putih." Patih Rangga Dewa menatap tajam ke arah Rahaja Dwipa dan Retma Aji yang melihat mereka melakukan itu tadi. Patih Rangga Dewa menjatuhkan pelan tubuh Duri Kosambi, membaringkannya di tanah. Karena ia berjalan cepat mendekati Retma Aji dan Rahaja Dwipa yang sudah tidak sanggup lagi bergerak.
"Jangan mendekat kau rangga dewa!." Rahaja Dwipa merasa benci dengan ketidakberdayaannya saat ini.
__ADS_1
"Menjauh kau Rangga dewa!. Uhuk, uhuk, uhuk." Retma Aji masih merasakan sakit yang luar biasa.
Akan tetapi Patih Rangga Dewa tidak menggubriskan keduanya. Ia tetap mendekati keduanya, dan bahkan menunjal kuat kepala keduanya dengan perasaan benci.
"Kau pikir kau saja yang bisa bermain curang rahaja dwipa." Terlihat senyuman mengerikan diwajah Patih Rangga Dewa. "Aku sengaja menerima serangan mu. Karena aku yakin, duri kosambi akan kambuh jika melihat aku diserang oleh siapa saja." Senyuman itu, senyuman yang sangat mengejek, serta merendahkan Rahaja Dwipa.
"Kurang ajar kau rangga dewa!." Rahaja Dwipa ingin mencakar wajah Patih Rangga Dewa. Akan tetapi ia berhasil menghindarinya. Patih Rangga Dewa malah tertawa keras, melihat ketidakberdayaan Rahaja Dwipa saat ini.
"Dan kau kakek tua!. Kau akan menerima hukuman mati!. Karena kau telah berani membunuh ayahandaku, dan waktu itu berani mengancam nyawaku!." Patih Rangga Dewa kali ini menatap benci ke arah Retma Aji.
"Fuih!." Retma Aji hendak meludah ke arah Patih Rangga Dewa, akan tetapi berhasil dihindari dengan baik. Sehingga Patih Rangga Dewa semakin tertawa dengan kerasnya.
"Kalian tidak akan bisa mengalahkan rangga dewa. Dan kalian akan menerima hukuman dari tanganku!." Setelah berkata seperti itu. Patih Rangga Dewa malah menotok keduanya, sehingga tidak bisa bergerak lagi.
Namun saat itu ada beberapa orang yang datang, dan mereka sangat terkejut melihat keadaan halaman istana.
"Apakah kalian anak buah dari paman durya pati?." Patih Rangga Dewa hanya ingin memastikannya.
"Salam hormat kami gusti Patih." Mereka berempat memberi hormat pada Patih Rangga Dewa. "Kami memang anak buah taun durya pati. Maaf jika kami terlambat membantu."
"Maafkan kami gusti patih. Sungguh kami telah berusaha untuk segera mungkin sampai ke sini."
"Tidak apa-apa. Kalian datang diwaktu yang sangat tepat. Karena aku sangat membutuhkan kalian semua."
Perintah apa yang akan diterima oleh mereka dari Patih Rangga Dewa?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...