PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 24


__ADS_3

...***...


Mereka semua sangat terkejut melihat keadaan keempat dayang tersebut. Mereka kembali membawa Dharmapati Tara Depati, dan Senopati Kawangga. Keadaan mereka terluka parah?. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?. Apa yang telah terjadi pada mereka?. Sedangkan Patih Rangga Dewa yang melihat itu merasa marah. Emosinya tersulut terbakar bara api yang membuat amarahnya memuncak.


"Dayang. Apa yang terjadi pada kalian?. Mengapa keadaan kalian babak belur seperti itu?. Katakan padaku!."


"Dayang. Katakan pada kami semua apa yang membuat kalian terluka parah seperti ini?."


"Mohon ampun gusti Patih, gusti ayu." Mereka memberi hormat pada Patih Rangga Dewa dan Putri Rara Wulan. "Seperti yang diperintahkan oleh gusti Patih, bahwa kami disuruh memanggil gusti Dharmapati juga gusti senopati. Tapi mereka tidak mau diajak baik-baik, dan malah menyerang kami."


"Benar sekali gusti patih. Sempat terjadi pertarungan antara kami. Jadi kami sama-sama terluka."


"Maafkan kami gusti patih. Karena kami hampir saja tidak bisa membawa mereka ke istana ini."


"Kami telah berusaha mengatakannya dengan baik, tapi kami malah diperlukan kasar, hanya karena kami dayang gusti patih."


Mereka semua menyimak apa yang dikatakan oleh Keempat dayang tersebut. Patih Rangga Dewa harus menahan emosi yang membuncah di dalam hatinya. "Apakah benar kalian menganiaya dayang yang datang dari utusan seorang Patih?." Patih Rangga Dewa bertanya pada keduanya. Ia ingin memastikan apakah benar itu yang terjadi?. Tapi keduanya hanya diam tak menanggapi pertanyaan dari Patih Rangga Dewa. "Jawab!. Kalian punya mulut, dan masih mendengarkan apa yang aku katakan bukan?." Suaranya terdengar keras membuat mereka semua terkejut, termasuk Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Baiklah dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena menghela nafasnya dengan pelan. "Masukkan mereka bertiga ke dalam penjara. Mari kita bicara berdua di ruang pribadiku." Ia mencoba untuk memahami situasinya, serta kemarahan yang dirasakan oleh adiknya. "Rawat keempat dayang. kasihan mereka jika dibiarkan terluka seperti itu."


"Sandika kanda prabu."


"Lalu bagaimana dengan kami semua gusti patih?." Patih Rangga Dewa menatap mereka semua dengan senyuman ramah. "Terima kasih karena telah mengantar aku sampai ke istana. Maaf jika aku menimbulkan keributan di sepanjang jalan kota raja." Ia kembali minta maaf pada mereka semua. "Saudara saudari boleh meninggalkan istana. Karena aku ingin berbicara empat mata dengan kanda prabu. Maaf sekali lagi."


"Baiklah gusti patih. Semoga masalah yang gusti patih hadapi segera selesai."


"Kami akan selalu mendukung apa yang gusti Patih lakukan."


"Semangat berjuang gusti Patih. Kami selalu bersama gusti Patih."


"Segera atasi orang-orang yang suka menyebarkan fitnah itu gusti patih. Mereka hanya akan membuat kita diadu seperti domba bodoh saja."


"Benar gusti Patih. Jangan biarkan mereka mengulangi kesalahan yang sama."


"Hukum saja mereka dengan hukuman yang membuat mereka tidak akan pernah mengulangi hal yang sama."


Ada kemarahan yang timbul hati mereka, dengan apa yang terjadi. "Benar gusti Patih. Karena fitnah yang mereka timbulkan, kami hampir saja membenci gusti Patih, dan hampir hilang kepercayaan kami pada gusti patih."

__ADS_1


"Baiklah saudara saudari semua. Masalah ini serahkan padaku. Semoga saja masalah ini cukup cukup sampai di sini saja."


"Semoga gusti Patih selalu dilindungi dewata agung dari orang jahat seperti mereka."


"Kami selalu mendo'akan yang terbaik untuk gusti Patih, agar bisa melindungi negeri ini."


"Terima kasih atas kebaikan saudara saudari semuanya. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan saudara saudari semua."


"Kalau begitu kami pamit dulu gusti patih. Gusti prabu, gusti pangeran, gusti ayu."


"Sampurasun."


"Rampes." Setelah itu mereka semua meninggalkan halaman istana. Mereka hanya berharap, jika Patih Rangga Dewa akan baik-baik saja setelah ini.


"Dayang. Segera sembuhkan luka kalian. Maaf jika karena tugas yang aku berikan, kalian malah terluka seperti ini. Maafkan aku."


"Tidak apa-apa gusti Patih. Mereka saja yang kurang ajar, tidak mau diajak bicara baik-baik."


"Benar gusti patih. Kami akan segera menyembuhkan diri."


"Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi dahulu berbicara dengan kanda prabu." Patih Rangga Dewa menghela nafas dengan pelan. "Prajurit!. Masukkan ketiga orang ini ke dalam penjara. Jaga jangan sampai mereka lari dari tanggungjawab atas apa yang telah mereka lakukan."


"Segera temui aku dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena meninggalkan tempat, karena ia ingin segera berbicara dengan adiknya.


"Baiklah kanda."


"Kami juga mau pamit gusti patih."


"Terima kasih atas kerjasama kalian. Semoga kalian baik-baik saja."


"Kami pamit gusti. Gusti ayu, gusti pangeran. Sampurasun."


"Rampes." Balas Patih Rangga Dewa, Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa. Mereka hanya melihat kepergian keempat dayang tersebut.


"Paman Patih. Jadi paman Patih telah mengetahui siapa yang telah menyebar fitnah itu?."


"Tapi bagaimana caranya paman mengetahui siapa saja yang melakukannya?."

__ADS_1


Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa Fusena sangat penasaran. Mereka tidak menyangka, akan secepat itu Patih Rangga Dewa menemukan pelakunya?.


"Nanti saja paman jelaskan. Paman harus menemui ayahanda kalian terlebih dahulu. Paman harus segera menyelesaikan kesalahpahaman ini."


"Baiklah paman. Tapi paman janji akan menjelaskan pada kami nantinya."


"Paman jangan ingkari janji ya."


"Baiklah. Paman janji, setelah menemui kanda prabu, paman akan menceritakan semuanya."


"Um." Keduanya tersenyum kecil, sambil menganggukkan kepala mereka.


"Paman pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa Fusena melihat kepergian Patih Rangga Dewa. Dan kini mereka hanya tinggal berdua saja.


"Sepertinya aku merasa kasihan pada paman patih."


"Kenapa dinda merasa kasihan pada paman Patih?."


"Apakah kanda tidak mengetahui?. Jika banyak petinggi istana yang ingin menjatuhkan paman patih."


"Kalau soal itu aku tahu. Itu karena paman Patih menangkap semua kebusukan yang mereka lakukan selama ini."


"Dari mana kanda mengetahuinya?."


"Aku ini pangeran birawa fusena. Tentunya aku mengetahui semuanya dinda." Ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan halaman, dan menuju ke belakang.


"Kanda mau kemana?. Apa kau boleh ikut?."


"Ayo ikuti aku. Aku ingin latihan peregangan sedikit. Karena masalah paman Patih sudah hampir selesai."


"Tunggu kanda. Kalau mau mengajakku ya berhenti dulu toh." Putri Rara Wulan segera mengejar kakaknya yang jalannya super cepat. Ia akan ikut, jika kakaknya itu latihan bela diri. Karena ia ingin menjadi lebih kuat lagi, demi melindungi orang-orang yang sangat berharga baginya.


"Dinda arya. Semoga saja dinda cepat sembuh. Karena aku ingin latihan bersamamu lagi." Dalam hati Putri Rara Wulan berdoa, agar adiknya segera sembuh, dan ia ingin mengajarkan jurus baru pada adiknya itu. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2