
...***...
Patih Rangga Dewa menjaga jarak dari Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia menyadari apa yang telah ia ucapkan tadi, dan langsung menutup mulutnya. Sedangkan mereka semua tidak percaya, jika Patih Rangga Dewa akan berkata seperti?.
"Oalah. Aku malah keceplosan." Patih Rangga Dewa berhati-hati melihat ke arah Prabu Maharaja Sura Fusena. "Maafkan aku kanda prabu, tadi itu hanyalah tidak sengaja. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk mengatakannya." Patih Rangga Dewa malah cengengesan melihat ke arah Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Kau!. Rangga dewa!. Kau sangat kurang ajar!." Rahaja Dwipa sangat marah, dan ia tidak bisa menahan emosinya. Ia merasa dipermainkan oleh Rangga Dewa. "Rangga dewa!." Tanpa diduga, Rahaja menyalurkan tenaga dalamnya ke arah Patih Rangga Dewa. Begitu ia membalikkan tubuhnya, dadanya kena hantaman serangan tenaga dalam itu dengan telak.
DUAKH!.
Patih Rangga Dewa terpental, dan membentur tiang Istana. Mereka semua yang melihat sangat terkejut, apalagi melihat keadaan Patih Rangga Dewa.
"Dinda Patih!."
"Rangga Dewa!."
"Gusti Patih!."
Sedangkan Duri Kosambi merasa sangat panas melihat Rahaja Dwipa menyerang Patih Rangga Dewa.
"Kurang ajar!. Berani sekali kau menyakiti gusti Patih!." Tubuh Duri Kosambi sampai bergetar kuat karena menahan amarahnya.
"Duri kosambi." Cadra Baka merasakan hawa yang berbeda. "Gawat, sepertinya ia lepas kendali." Cadra Baka dapat merasakan hawa jahat yang berbahaya yang ditebarkan oleh Duri Kosambi. "Gusti prabu. Sebaiknya saat ini kita menjauh dari pandangan duri kosambi." Cadra Baka mencoba mengingatkan Prabu Maharaja Sura Fusena agar segera menjauh dari sana.
"Itu sangat benar sekali gusti prabu. Mari kita tinggalkan tempat ini." Jamba juga dapat merasakan hawa yang mengerikan. Perlahan-lahan mereka bangkit, dan meninggalkan tempat itu. Mereka menuju Patih Rangga Dewa yang saat ini sedang diobati oleh Suci Putih.
"Uhuk." Patih Rangga Dewa terbatuk dan memuntahkan darah segar. Dadanya terasa sangat sesak sekali. "Gusti Patih. Ini sangat gawat. Duri kosambi saat ini telah lepas kendali." Cadra Baka melihat Duri Kosambi saat ini sedang menyerang Rahaja Dwipa dan Retma Aji.
"Kita harus menjauh untuk sementara waktu. Mari kita masuk ke dalam istana. Akan berbahaya, jika kita dilihat oleh duri kosambi." Patih Rangga Dewa berdiri dibantu oleh Suci putih. Mereka semua masuk ke dalam Istana untuk sementara waktu. Karena mereka tidak mau jadi korban amukan Duri Kosambi. Ia telah lepas kendali, dan siapa saja yang terlihat oleh matanya. Maka siap-siaplah kena amukan Duri Kosambi yang pada dasarnya memiliki jiwa setengah siluman.
Saat ini ia sedang berhadapan dengan Rahaja Dwipa, dan Retma Aji. Serangannya begitu kuat, dan sangat cepat. Sehingga Keduanya sedikit kewalahan menghadapi Duri Kosambi.
Rahaja Dwipa melompat ke belakang dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Ia tidak bisa berhadapan dengan Duri Kosambi jika dalam keadaan terdesak seperti itu. "Kurang ajar sekali dia ini!. Kenapa kekuatannya malah berbeda?." Rahaja Dwipa merasa kesal, dan sesekali ia menyerang Duri Kosambi dengan menyalurkan tenaga dalamnya ke arah musuhnya.
"Kurang ajar!. Dia menargetkan aku!." Rahaja Dwipa merasa marah. Ia menggunakan jurus andalan yang ia gunakan untuk melawan musuhnya.
__ADS_1
"Rahaja dwipa. Jangan sampai kau kalah oleh orang itu!. Dan kalian!. Mau sampai kapan kalian berdiam diri saja!. Bantu kami goblok!."
"Baik kakang." Paman Raga dan Paman Telaga segera mendekati mereka, dan membantu mereka menghadapi Duri Kosambi yang sudah tidak wajar lagi penampilannya.
Sementara itu, di dalam istana.
Suci Putih saat ini sedang menyalurkan tenaga dalamnya, untuk mengobati Patih Rangga Dewa yang terluka akibat terkena serangan tenaga dalam Rahaja Dwipa tadi.
"Bagaimana keadaanmu dinda patih?. Apakah kau masih terluka?." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya.
"Lumayan membaik kanda prabu. Suci putih sangat membantu sekali."
"Terima kasih aku ucapkan padamu nini. Karena telah membantu dinda patih."
"Sama-sama gusti prabu. Hanya itu yang bisa hamba lakukan."
"Kau orang yang baik sekali nini. Beruntung sekali dinda Patih bertemu denganmu." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat kagum akan kebaikan Suci Putih.
"Mohon maaf gusti patih. Lalu bagaimana dengan duri kosambi yang saat ini gusti patih?."
"Lantas, bagaimana caranya untuk mengatasinya gusti patih?." Suri saat ini dipenuhi oleh rasa penasaran.
"Hanya gusti Patih yang bisa meredakan amukan duri kosambi. Sama seperti waktu itu." Rumi sangat ingat akan kejadian waktu itu. Di pulau tengkorak, ketika mereka diselamatkan oleh Patih Rangga Dewa.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menenangkan duri Kosambi, setelah dia menghajar empat orang busuk itu"
"Ya ampun, gusti patih malah memanfaatkan keadaan duri kosambi. Sungguh tidak baik."
"Hehehe. Bukan begitu maksudku rati. Hanya saja itu sudah menjadi tugasnya menghajar musuh bukan?." Patih Rangga Dewa malah terkekeh kecil.
Mereka semua serentak menghela nafas, merasa lelah dengan apa yang diucapkan oleh Patih Rangga Dewa.
"Kanda prabu, tetaplah berada di sini. Karena tidak mudah untuk menghentikan duri kosambi." Patih Rangga Dewa memperingatkan Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Baiklah dinda Patih. Berhati-hatilah, jangan sampai membahayakan dirimu."
__ADS_1
"Kanda prabu tenang saja. Aku akan baik-baik saja." Patih Rangga Dewa mengangguk tanda mengerti. "Dan kalian, tetaplah di sini, jaga gusti prabu."
"Sandika gusti Patih."
"Aku pergi dulu kanda Patih. Sampurasun."
"Rampes."
Akan tetapi, ketika Patih Rangga Dewa ingin melangkah. Lengannya ditahan eh Suci Putih, karena ia juga ingin ikut?."
"Ada apa suci putih?."
"Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu untuk mengatasi masalahmu?."
"Maaf suci putih. Masalah kali ini berbeda. Aku takut kau celaka."
"Jika masalah kesurupan, aku bisa mengatasinya."
Mereka semua mau tertawa, tapi situasinya tidak memungkinkan. Saat mereka mendengarkan kata kesurupan dari Suci Putih?.
"Aku akan tetap ikut, meskipun kau melarangnya. Aku takut kau yang malah celaka nantinya."
"Baiklah kalau begitu. Mari." Patih Rangga Dewa melihat kesungguhan dari raut wajah Suci Putih yang ingin membantunya.
Keduanya pergi dari sana. Sedangkan mereka yang tinggal sedikit tercengang. Tidak biasanya mereka melihat Patih Rangga Dewa mau mengalah dengan seseorang?.
"Saya rasa, akan ada percikan api yang membuat jantung berdebar-debar." Jamba dapat menangkap itu dari keduanya.
"Aku rasa dinda patih sedang kasmaran. Apa aku saja yang melihatnya seperti itu?." Prabu Maharaja Sura Fusena melihat perubahan sikap adiknya dalam waktu yang singkat?.
"Hamba rasa seperti itu gusti prabu. Rasanya sangat aneh sekali dengan sikap gusti Patih yang seperti itu." Rumi juga merasakan perubahan sikap itu.
"Seperti bukan gusti Patih yang biasanya." Rati dan Suri juga melihat perubahan sikap dari Patih Rangga Dewa yang mengejutkan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1
...***...