
...***...
Patih Rangga Dewa datang bersama rakyat kota raja yang ingin melihat sidang yang akan dilakukan. Saat hampir memasuki halaman istana. Tentunya Prajurit Istana merasa heran, tidak biasanya Patih Rangga Dewa datang membawa rombongan sebanyak ini.
"Hei, lihat. Bukankah itu gusti patih?."
"Itu memang gusti patih. Tapi mengapa membawa banyak orang begitu?."
"Entahlah, aku tidak tahu. Kita deketi saja. Mungkin ada hal penting yang ingin dilakukan oleh gusti Patih."
Mereka mendekati Patih Rangga Dewa, sambil memberi hormat padanya.
"Gusti patih."
"Prajurit. Tolong sampaikan pada gusti prabu, bahwa aku Patih rangga dewa ingin melakukan sidang bersama."
"Sandika gusti patih." Salah satu dari mereka segera masuk ke ke dalam istana. Mereka semua juga menyusul masuk sambil terus mengiring Senopati Caraka Tirta.
Sementara itu, di dalam Istana. Prajurit datang menghadap pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba menghadap ingin melaporkan sesuatu."
"Katakan prajurit."
"Di depan istana, gusti patih bersama rakyat kota raja datang."
"Adikku Rangga dewa datang bersama rakyat kota raja?. Memangnya apa yang akan ia lakukan?."
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba belum sempat bertanya, karena hamba langsung diperintahkan gusti patih untuk memberitahukan kedatangan beliau pada gusti prabu."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana. Dan kau, bawa prajurit lainnya untuk mengamankan suasana jika mereka semua bertindak diluar dugaan."
"Sandika gusti prabu."
__ADS_1
Setelah itu Prajurit tersebut meninggalkan tempat. Sedangkan Prabu Maharaja Sura Fusena sedikit berpikir, apa yang akan dilakukan oleh adiknya itu?. Apakah adiknya itu ingin melakukan demo sehingga membawa rakyat kota raja ke istana?. "Baiklah. Akan lihat situasinya." Akhirnya Prabu Maharaja Sura Fusena memutuskan untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh adiknya.
Sementara itu di halaman istana. Pangeran Birawa Fusena, dan Putri Rara Wulan yang baru saja ingin mencari keberadaan Patih Rangga Dewa merasa terkejut, ketika mereka melihat banyak orang di halaman istana.
"Maaf paman patih, apa yang terjadi sehingga begitu banyak orang yang datang ke istana?."
"Iya paman patih. Mengapa mereka semua bisa berada di sini?. Apa yang terjadi sebenarnya paman patih."
"Hormat kami gusti ayu, gusti pangeran." Mereka semua memberi hormat pada Pangeran Birawa Fusena, dan Putri Rara Wulan. Mereka semua tentunya sangat mengenali kedua anak Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Apa yang terjadi pada paman senopati caraka tirta?."
"Paman senopati caraka tirta terlihat habis dihajar. Apa yang telah dilakukannya?.
Namun saat itu juga, Prabu Maharaja Sura Fusena datang, dan mengalihkan perhatian mereka semua. Sehingga pertanyaan dari Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa Fusena harus ditunda.
"Hormat kami gusti prabu maharaja sura fusena."
"Hormat kami ayahanda prabu."
Mereka semua memberikan hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Tentunya sang Prabu sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Laporan dari prajurit itu sangat benar.
"Maaf kanda prabu. Bukan saya bermaksud untuk membuat keributan. Namun mereka semua yang ingin ikut dengan saya."
"Mohon ampun gusti prabu. Kami tadi sempat mencegat gusti Patih, karena menyeret adi senopati caraka tirta dengan sangat kasar."
"Benar gusti prabu. Karena itulah kami ikut dalam rombongan ini." Dharmapati nya mengatakan apa yang terjadi?. Tapi mengapa itu bisa terjadi?. Mata Prabu Maharaja Sura Fusena melirik ke arah Patih Rangga Dewa. Seakan ia ingin minta penjelasan pada adiknya.
"Mengapa semua ini bisa terjadi rangga dewa?. Apakah kali ini kau menangkap salah satu dari penggawa istana yang telah berbuat salah?."
"Mohon ampun kanda prabu. Memang begitulah yang terjadi. Saya tidak kuat lagi menahan apa yang telah ia lakukan kanda prabu."
"Kali ini apa yang telah dilakukannya?. Atau itu hanya pelampiasan darimu saja, karena aku sedang marah padamu?. Dan kau sedang mencari-cari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan yang telah kau lakukan padaku rangga dewa?."
__ADS_1
Patih Rangga Dewa tidak menyangka, jika kakak yang sangat ia hormati akan berpikiran buruk seperti itu padanya?. Begitu juga dengan mereka yang mendengarkan apa yang keluar dari mulut sang Prabu.
"Mohon ampun kanda prabu. Setelah saya selidiki melalui orang kepercayaan saya. Ada tiga orang yang terlibat dalam penyebaran berita fitnah itu kanda prabu."
Mata Prabu Maharaja Sura Fusena kali ini melirik ke arah Senopati Caraka Tirta yang masih diamankan oleh mereka semua. "Maksudmu salah satunya adalah dia?."
"Benar kanda prabu. Saya ingin meluruskan permasalahan ini agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita kanda prabu."
"Mohon dengarkan gusti Patih, gusti prabu."
"Kami mohon dengarkan gusti prabu."
Tanpa diminta, atau dipaksa, atau diberi kode. Mereka semua memohon dengan tulus pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Tentunya sang Prabu merasa tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh rakyat kota raja.
"Sebagai raja. Tentunya saya akan mendengarkan apa yang menjadi keluhan kita semua. Termasuk kau dinda patih. Katakan apa yang terjadi."
"Oh syukurlah semuanya masih bisa berkomunikasi dengan baik." Dalam hati Putri Rara Wulan merasa bersyukur melihat itu.
"Syukurlah jika ayahanda mau mendengarkan permintaan mereka semua." Dalam hati Pangeran Birawa Fusena juga merasa lega melihat pemandangan itu.
"Seperti yang kita ketahui, bahwa telah beredar kabar. Bahwa saya telah bermain api dengan yunda ratu dewi saraswati. Namun saya merasa keberatan dengan kabar itu. Karena itulah saya mencari tahu kebenarannya, dan siapa sangka salah satu pelakunya adalah senopati caraka tirta."
"Apa kesalahan yang telah ia perbuat, sehingga ia begitu dendam padamu dinda patih?."
Patih Rangga Dewa menatap tajam ke arah Senopati Caraka Tirta yang belum bersuara sejak tiba di halaman istana. Itu karena ia sedang lemas tak berdaya setelah diseret, serta dihajar oleh Patih Rangga Dewa.
"Itu karena dia telah berbuat jahat kanda prabu. Dia telah mengadu domba dharmapati dengan Senopati. Jadi saya menegurnya, namun tidak digubris sama sekali. Selain itu ia mendirikan rumah judi yang tiap hari kerjaannya hanya menipu saja kanda prabu." Dengar perasaan geram, Patih Rangga Dewa melaporkan semuanya pada kakaknya. Bukan hanya Prabu Maharaja Sura Fusena saja yang geram mendengarnya, namun rakyat kota raja juga merasa marah dengan kabar itu.
"Lalu dimana duanya lagi?. Tadi kau mengatakan, jika ada tiga orang yang terlibat dalam masalah ini. Dimana sisanya dinda patih?."
Namun belum sempat Patih Rangga Dewa menjawab, keempat dayang yang biasanya bersama Pangeran Arya Fusena datang sambil menyeret Dharmapati Tara Depati, dan Senopati Kawangga. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian mereka semua. Namun keadaan keempat dayang tersebut yang membuat mereka terheran.
Entah karena kekuatan apa, Patih Rangga Dewa yang seakan terhipnotis, menuju dan mendekati keempat dayang tersebut dengan tatapan kosong. Karena tidak percaya dengan penampilan mereka semua. Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...*** ...