
...***...
Di istana Kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Maharaja Sura Fusena sungguh tidak bisa menunggu terlalu lama. Ia memanggil Rumi dan Rati. Ia tidak bisa berdiam diri lagi, karena ia belum juga mendapatkan kabar baik tentang adiknya.
"Kami menghadap gusti prabu." Rumi dan Rati memberi hormat pada prabu Maharaja Sura Fusena.
"Silahkan duduk." Sang Prabu mempersilahkan keduanya untuk duduk. "Aku hendak memberi kalian berdua tugas yang sangat penting." Lanjut sang prabu dengan perasaan gelisah yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Apa yang bisa kami lakukan gusti prabu. Semoga kami bisa membantu gusti prabu dengan baik." Rumi memberi hormat.
"Kami akan melakukan apapun yang gusti prabu perintahkan." Rati siap menjalankan perintah apapun itu dari Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Aku sangat khawatir dengan keadaan adikku rangga dewa yang belum juga kembali ke istana ini." Ucapnya dengan perasaan yang sangat gelisah. "Aku ingin kalian berdua menyusulnya ke lereng bukit naga. Aku ingin kalian memastikan bahwa adikku baik-baik saja." Raut wajah sangat menggambar bagaimana perasaan cemas yang ia rasakan saat ini. "Bawa ia kembali ke istana ini. Jika ia menolak ajakan kalian, maka katakan aku akan menghukumnya jika ia berani membantah perintahku." Saking khawatirnya pada adiknya, ia sampai memberi ancaman seperti itu.
"Sandika gusti prabu. Kami akan menjalankan perintah gusti Prabu dengan baik." Keduanya memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Setelah itu mereka meninggalkan tempat.
"Terima kasih atas bantuan kalian berdua. Aku harap kalian berhati-hati saat menuju jalan ke sana." Prabu Maharaja Sura Fusena tentunya juga khawatir dengan keadaan kedua datangnya itu. Karana mereka adalah wanita. Tapi ia terpaksa memberikan tugas ini pada mereka. Hanya Rumi dan Rati yang bisa mereka andalkan saat ini.
"Baiklah gusti prabu. Kami pamit dulu gusti prabu. Sampurasun." Mereka kembali memberi hormat pada sang Prabu.
"Rampes." Prabu Maharaja Sura Fusena melihat kepergian mereka. Ia sangat berharap jika adiknya akan baik-baik saja.
Setelah itu Rumi dan Rati segera meninggalkan ruangan itu. Mereka melaksanakan tugas yang diberikan Prabu Maharaja Sura Fusena untuk menjemput adiknya Patih Rangga Dewa. Tidak biasanya Patih Rangga Dewa sampai dijemput seperti ini. Pasti terjadi sesuatu sehingga ia lama kembali ke istana ini. Mereka tidak bisa menebak apa yang membuat Patih Rangga Dewa belum kembali juga meskipun Duri Kosambi dan Suri telah menyusulnya. Karena itulah Prabu Maharaja Sura Fusena mengutus kedua dayang tersebut, ingin memastikan adiknya baik-baik saja.
"Dinda patih. Segeralah kembali ke istana. Mari kita selesaikan masalah ini dengan baik. Aku juga berharap nenek lara janti akan kembali bersamamu dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat cemas, dalam hatinya ia berharap adiknya tidak mengalami masalah. "Semoga saja kau tidak bertarung lagi dengan pangeran brama adijaya. Jika itu terjadi, jika itu yang menjadi penghalang mu menuju istana ini. Aku tidak akan mengampuni brama adijaya. Akan beri dia hadiah hukuman mati. Karena dia telah melanggar perjanjian yang telah dibuat sepuluh tahun yang lalu." Dalam hatinya ada perasaan geram saat menerima laporan dari Duri Kosambi mengenai adiknya saat itu. Apakah yang akan terjadi?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di Istana Kerajaan Betung Emas. Prabu Dewata Sangara masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Patih nya. Patih nya yang selalu memberikan pendapat serta pandangan yang berbeda dari yang lainnya. "Bisa jadi malah rangga dewa yang melanggar perjanjian itu, namun ia malah menuduh adikku yang melakukan itu." Prabu Dewata Sangara masih bimbang. "Apa yang harus aku lakukan?. Bahkan semua orang dulu mengetahui jika adikku yang duluan menyerang rangga dewa saat pertemuan raja." Disisi lain, saat itu adiknya memang terbukti telah melakukan kejahatan. Karena adiknya duluan yang menyerang Pangeran Rangga Dewa ketika berkunjung ke istana ini.
"Aku harus mencari mereka jika memang berada di sekitar kawasan kerajaan trisakti triguna. Aku harus memastikannya sendiri, jika memang adikku yang bersalah. Maka aku sendiri yang akan menghukumnya." Prabu Dewata Sangara telah memutuskan, bahwa ia akan pergi ke kerajaan Trisakti Triguna. Hanya untuk memastikan siapa yang menyerang duluan. "Aku tidak akan bisa tenang, sebelum aku memastikan kebenaran dari mereka berdua." Prabu Dewata Sangara tidak ingin salah dalam mengambil keputusan. Setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan itu. Ia bersiap-siap ingin menemui mereka. "Aku harap aku datang tepat waktu nantinya." Dalam hati Prabu Dewata Sangara sangat berharap banyak. Sebenarnya ia sangat takut kehilangan adiknya, namun adiknya itu yang sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan. Sehingga adiknya Pangeran Brama Adijaya berurusan dengan kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Dewata Sangara akan menyusul adiknya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Kembali ke pertarungan.
Duri Kosambi dan Suri masih bertarung berhadapan dengan Sareh Wiyono. Pertarungan yang sangat sengit, membuat mereka sedikit terengah-engah. Pukulan, tendangan, hantaman tenaga dalam telah mereka terima dari tadi. Tubuh mereka banyak mengalami luka yang cukup parah. Terutama Sareh Wiyono, yang melawan dua orang. Tubuhnya dipenuhi luka-luka karena pedang dan celurit kedua musuuhnya.
Mereka segera menjauh setelah melepaskan kekuatan tenaga dalam mereka yang diarahkan ke musuh. Ledakan timbul akibat benturan tenaga dalam masing-masing. Kekuatan yang sangat mengerikan untuk disimak dengan baik.
"Fuih!. Rupanya kalian lumayan juga untuk menghibur aku hari ini." Sareh Wiyono meludah dengan kasarnya. Ia merasa kesal, kekuatannya bisa diimbangi oleh Duri Kosambi dan Suri. "Tidak aku sangka anjingnya rangga dewa kuat juga. Dan boleh juga untuk diajak bermain-main denganku. Tidak terlalu mengecewakan juga ilmu kanuragan yang kalian miliki." Ucapnya dengan nada santainya. Seolah-olah ia tadi hanya bermain-main saja dengan Duri Kosambi dan Suri yang bisa saja membunuhnya.
"Jangan remehkan kami pak tua!. Kami ini adalah pendekar jahat dimasa lalu. Jadi kami tidak akan ragu lagi untuk membunuhmu!." Duri Kosambi menyeka darah yang menempel di sudut bibirnya. Ia tidak suka jika ada yang berani merendahkan dirinya. "Jika kau masih sayang nyawa. Aku harap kau segera pergi, dan melupakan bahwa aku adalah musuh yang menjamin keselamatan mu." Duri Kosambi menggertak Sareh Wiyono yang terlihat ngos-ngosan.
"Sebaiknya kau pergi dari sini. Lupakan semua yang terjadi. Hidup lah lebih baik lagi sebelum kau mati pak tua!. Aku sangat kasihan sekali padamu yang sudah tua rentan seperti itu masih saja memikirkan dendam." Suri mencoba mengatur tenaga dalamnya, karena tubuhnya terasa sakit setelah berhadapan dengan Sareh Wiyono yang masih memiliki jiwa semangat untuk bertarung.
Sementara itu, Patih Rangga Dewa dan Pangeran Brama Adijaya masih saja bertarung dalam suasana hati yang dipenuhi oleh kebencian yang menyelimuti diri mereka. Pertarungan balas dendam kekalahan dimasa lalu serta harga diri yang dipertaruhkan saat ini membuat mereka enggan untuk menghentikan pertarungan ini.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini brama adijaya!. aku tidak ingin bertarung denganmu!." Teriak Patih Rangga Dewa. "Kegh!." Patih Rangga Dewa meringis sakit. Jiwa gejolak dari naga biru liar yang ada di dalam tubuhnya mulai membara. Hampir saja mengambil alih kesadarannya. "Bisakah kau tidak mencoba untuk memancing kekuatan naga biru liar yang ada di dalam tubuhku brama adijaya!." Patih Rangga Dewa terus menyerang Pangeran Brama Adijaya dengan pedang roh suci yang ada di tangannya. Rasanya pedang itu hampir tidak berfungsi lagi untuk menekan kuat tenaga dalam jiwa liarnya itu. "Jika kau mau mati!. Jangan kau coba-coba untuk melepaskan kekuatan naga biru liar itu!." Suara Patih Rangga Dewa semakin keras seiring dengan dentingan keras dua senjata yang saling beradu itu.
"Kegh!." Pangeran Brama Adijaya juga meringis sakit karena tangannya sangat kebas, seperti mati rasa. Namun ia sudah tidak peduli lagi. Baginya yang sekarang adalah memancing naga biru itu keluar. Agar ia bisa menggunakan segel dari juru elang memburu mangsa di tengah Padang rumput miliknya. "Ahaha!." Tiba-tiba saja ia tertawa keras karena melihat raut wajah Patih Rangga Dewa yang sedang kesakitan. "Coba saja kau tekan kekuatan jahat mu itu rangga dewa!. Aku ingin melihat seberapa besar kau bisa menahannya!. Aku ingin lihat, sejauh mana kau bisa bertahan dari serangan ini!. Ahaha!." Pangeran Brama Adijaya semakin bersemangat, dan ia sengaja melakukan itu.
Patih Rangga Dewa melompat menjauh beberapa meter dari Pangeran Brama Adijaya. Ia banting pedang Roh Suci yang ia genggam tadi. "Kurang ajar kau brama adijaya bodoh!. Jika kau memang ingin melihatnya, akan aku perlihatkan padamu!." Ketika pedang Suci itu tidak lagi berada di genggaman atau di dalam tubuhnya. Patih Rangga Dewa tidak dapat lagi mengendalikan kekuatan naga biru liar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
"Gusti Patih!." Suri dan Duri Kosambi tidak menyangka akan melihat keadaan Patih Rangga Dewa dalam keadaan seperti itu. Di sisi lain mereka sedang berhadapan dengan Sareh Wiyono yang sedang bersemangat untuk bertarung.
"Sialan kau tua bangka!." Dengan gencarnya Duri Kosambi dan Suri mencoba untuk mengalahkan Sareh Wiyono, karena mereka ingin membantu Patih Rangga Dewa untuk mengalahkan Pangeran Brama Adijaya.
"Jadi begitu?. Bentuk asli dari naga biru liar itu?." Sareh Wiyono mengamati bentuk dari naga biru liar yang bersemayam di dalam tubuh Patih Rangga Dewa. Hawa naga yang cukup kuat menguar begitu saja dari dalam tubuh Patih Rangga Dewa.
Duri Kosambi dan Suri untuk sementara waktu melompat menjauh dari Sareh Wiyono. Mereka mencoba memikirkan cara, agar dapat menjauhkan Patih Rangga Dewa dari Pangeran Brama Adijaya.
"Apa yang harus kita lakukan duri kosambi?. Patih rangga dewa telah dikuasai oleh kekuatan jahat yang sama sekali tidak sebanding dengan kita." Suri merasa sangat khawatir dengan keadaan Patih Rangga Dewa. Ia tidak mau Patih Rangga Dewa sampai dikuasai oleh amarahnya sendiri, dan akhirnya tidak bisa mengendalikan dirinya sama sekali.
"Aku tidak mengerti apa yang harus kita lakukan. Hanya gusti prabu maharaja sura fusena dan nyai lara janti yang bisa menekan kekuatan itu." Jawab Duri Kosambi kebingungan harus berbuat apa jika melihat penampilan ganas dari Patih Rangga Dewa.
"Jadi dia tidak sadarkan diri saat ini." Sareh Wiyono dan Pangeran Brama Adijaya memperhatikan bagaimana penampilan Patih Rangga Dewa saat ini. Matanya mengamati sosok ganas yang ingin keluar dari tubuh Patih Rangga Dewa. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
***
Sementara itu di istana Kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Maharaja Sura Fusena semakin merasakan kegelisahan yang luar biasa mengenai adiknya. Perasaanya tidak tenang sama sekali jika tidak melihat keadaan adiknya.
"Ayahanda prabu?." Pangeran Arya Fusena, Pangeran Birawa Fusena dan Putri Rara Wulan datang, dan memberi hormat pada ayahanda mereka.
"Oh, kalian rupanya. Silahkan duduk nak." Ia mencoba untuk tersenyum walaupun terasa sulit dengan keadaannya yang sekarang.
Ketiganya duduk dengan tenang, namun mereka memiliki pertanyaan yang membuat sang Prabu semakin gelisah.
"Mohon ampun ayahanda prabu." Pangeran Arya Fusena yang berkata.
"Ada apa nak?. Katakan pada ayahanda." Prabu Maharaja Sura Fusena mempersilahkan anaknya untuk berbicara.
"Tadi saat nanda bertanya pada datang lasmi. Kemana perginya dayang suri, dayang rumi, serta dayang rati. Kenapa mereka tidak ada di istana?. Lalu dayang lasmi menjawab saat ini mereka sedang mendapatkan tugas dari ayahanda prabu. Apakah terjadi sesuatu?." Dengan wajah yang masih polos pangeran Arya Fusena bertanya.
"Benar itu ayahanda prabu. Tidak biasanya mereka diberi tugas oleh ayahanda prabu. Apakah terjadi sesuatu?." Putri Rara Wulan juga penasaran mengapa mereka diberi tugas oleh ayahanda.
"Nanda juga merasa heran ayahanda. Karena tidak biasanya seperti ini. Selain itu paman Patih juga belum kembali ke istana ini. Semuanya pergi meninggalkan istana ini. Apakah terjadi sesuatu di luar istana ini ayahanda prabu?." Sebagai anak tertua, Pangeran Birawa Fusena juga ingin mengetahui keadaan istana. Tidak mungkin ia dan adik-adiknya hanya berdiam diri saja di istana ini sambil menikmati kebahagiaan saja. Tanpa mengetahui sakit dan masalah apa yang sedang dihadapi oleh keluarga istana lainnya.
Prabu Maharaja Sura Fusena nampak berpikir. Apakah yang akan ia katakan pada anak-anaknya yang telah mengerti situasi yang ada di sekitar mereka saat ini?. Bahkan ketika istana dikuasai oleh penjahat, mereka mulai merasakan adanya ancaman bahaya yang sangat merugikan.
"Ada apa ayahanda prabu?. Apakah terjadi sesuatu?." Pangeran Arya Fusena seakan tidak sabar ingin mengetahuinya.
"Nanti saja ayahanda ceritakan pada kalian semua. Saat ini ayahanda sedang dalam keadaan tidak menentu." Prabu Maharaja Sura Fusena berusaha untuk menyakinkan anak-anaknya. "Semuanya akan baik-baik saja. Ayahanda harap kalian saat ini tenang saja dulu." Lanjut sang prabu.
Namun saat itu, seorang emban datang menghampiri mereka semua. "Mohon ampun gusti prabu. Maaf jika hamba datang mengganggu." Ia memberi hormat pada junjungannya.
"Katakan." Sang Prabu Mempersilahkan emban tersebut untuk berbicara.
"Mohon maaf gusti ayu, gusti pangeran birawa. Gusti ratu ayusari memanggil. Agar menemui beliau di biliknya." Ucap emban tersebut. "Begitu juga dengan gusti pangeran arya. Ibunda ratu dewi memanggil gusti pangeran arya." Lanjutnya lagi.
"Kalau begitu nanda temui lah ibunda. Nanti ayahanda ceritakan. Jangan buat ibunda menunggu."
__ADS_1
"Baik ayahanda prabu." Ketiganya hanya nurut saja. Setidaknya dengan begitu Prabu Maharaja Sura Fusena merasa aman saat ini. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...