PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 37


__ADS_3

...***...


Paman Raga datang dalam keadaan kacau. Ia terlihat sedih?. Atau marah?. Atau merasa kecewa?. Atau apa?. Mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana keadaan Raga saat ini.


"Hei!. Raga!. Apa yang terjadi padamu?. Mengapa kau terlihat mengerikan seperti itu hah?."


"Benar paman raga. Katakan sesuatu pada kami. Apa yang terjadi pada paman?. Dan dimana bibi ketuk Pipit, juga yang lainnya?. Mengapa mereka tidak datang bersama paman?."


"Benar itu raga. Katakan apa yang terjadi. Mengapa kau terlihat sedih seperti itu?. Katakan sesuatu raga!."


Namun belum juga ada jawaban dari paman raga. Tapi mereka malah mendengarkan suara tangis Paman Raga yang semakin keras. Tentu saja mereka sangat bingung dengan apa yang membuat paman Raga menangis.


"Katakan dengan jelas raga!. Kenapa kau malah menangis saat aku bertanya!. Hah?." Retma Aji tidak tahan lagi. Sehingga ia bangkit dari tempat duduknya, dan mendekati Paman Raga yang terlihat berduka.


"Nini ketuk Pipit dan yang lainnya telah tewas kakang. Karena itulah aku menangis kakang retma aji."


"Apa kau bilang raga?. Kau jangan bermain-main denganku raga!. Katakan yang sebenarnya!."


"Aku berkata yang sebenarnya kakang retma aji. Aku melihat mereka terluka parah. Tubuh mereka semua terkena racun kalajengking merah dari goa selatan. Karena itulah membuat mereka semakin tidak bisa bertahan kakang."


"Kurang ajar!. Lalu bagaimana dengan si rangga dewa itu?. Bukankah dia bertarung dengan bibi guru dan juga yang lainnya?." Rahaja Dwipa sangat marah luar biasa mendengarkan penjelasan itu.


"Aku sama sekali tidak melihat rangga dewa di sana. Apakah mungkin?. Rangga dewa mengalahkan mereka semua dengan racun itu?."


"Aku sangat yakin. Karena hanya gusti patih, yang memiliki racun berbahaya itu."


Mereka semua melihat ke arah Rumi yang menyela pembicaraan mereka semua. Tapi, siapa yang menduga. Rumi malah mendapatkan serangan tenaga dalam dari Rahaja Dwipa yang sedang sakit hati.


Duakh


"Akh!." Tubuhnya terjajar, dan membentur tembok di belakangnya. Rumi tidak sadarkan diri.


"Kita harus mencari keberadaan rangga dewa. Jika memang dia adalah orang yang telah membunuh istriku ketuk Pipit."


"Tentu saja paman guru. Kita harus membunuhnya juga."


"Sebaiknya kita tunggu di sini saja."

__ADS_1


"Kau berkata apa paman telaga?. Rangga dewa telah membunuh orang-orang kita."


"Tenang dulu, dan dengarkan apa yang aku katakan rahaja dwipa." Paman Telaga merasa heran dengan tingkat emosi mereka yang meledak-ledak. "Bukankah kita berhasil menyandera kakaknya si raja bodoh itu?. Jika dia berani melawan nanti, kita ancam saja dia. Jadi kau tidak perlu susah-susah mencarinya. Aku yakin dia akan datang ke sini mencari kakaknya itu."


Mereka semua nampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Paman Telaga. "Benar juga apa yang kau katakan telaga. Aku sangat setuju."


"Kalau begitu, kita lakukan persiapan untuk menyambut kedatangan rangga dewa ke istana ini."


"Akan aku bunuh dia. Nyawa harus dibayar dengan nyawa." Retma Aji merasa sakit hati. Karena orang yang dicintainya tewas?.


...***...


Sementara itu, di dalam penjara istana. Sepertinya Prabu Maharaja Sura Fusena telah sadar, dan ia melihat ketiga orang yang membantunya juga di dalam penjara yang sama dengannya.


"Gusti prabu telah sadar?."


"Maafkan kami, karena tidak bisa menjaga gusti prabu dengan baik."


"Kami akan berusaha membebaskan gusti prabu dari sini."


"Tidak apa-apa. Terima kasih niat baik kalian. Tapi sepertinya kita tidak mudah melarikan diri dari sini, karena penjara ini telah diselimuti tenaga dalam yang sangat kuat, sehingga kita tidak mudah untuk menghancurkannya."


"Sayang sekali duri kosambi. Kedua tangan kita juga diikat dengan kekuatan tenaga dalam. Sebelum kita menghancurkan yang itu, kita hancurkan dulu yang di sini." Cadra Baka memperlihatkan kedua tangannya yang terikat oleh tali gaib.


"Mereka memang berniat untuk menyandera kita. Aku harap gusti Patih akan baik-baik saja jika berhadapan dengan mereka."


"Dinda patih. Aku harap dia baik-baik saja." Prabu Maharaja Sura Fusena teringat dengan adiknya. Bahkan ia teringat dengan orang-orang yang telah melukai adiknya dimasa lalu, ketika ayahandanya meninggal karena diserang oleh Retma Aji dan teman-temannya. Rasanya sakit hati itu timbul lagi setelah kedatangan mereka semua.


...***...


Rati, salah satu dari keempat dayang kepercayaan Patih Rangga Dewa. Saat ini sia sedang menemui semua penggawa Istana. Namun mereka semua enggan mendengarkan apa yang ia katakan. Ia diabaikan oleh mereka semua yang mengatakan, jika istana saat ini sedang dikuasai oleh orang jahat, dan mereka semua harus membantunya untuk mengusir mereka semua. Akan tetapi apa yang ia dapatkan?.


"Gusti dharmapati. Hamba mohon, pergilah ke istana. Saat ini istana dalam keadaan bahaya. Cepat usir mereka semua."


"Memangnya kemana gusti prabu?. Apakah gusti prabu maharaja sura fusena tidak mampu menghadapi orang-orang jahat itu, sehingga masih membutuhkan bantuan dariku?. Bukankah dia adalah raja sakti mandraguna?."


"Tapi mereka sangat banyak sekali gusti dharmapati. Hamba mohon segera ke istana."

__ADS_1


"Pergilah kau duluan. Aku tidak ada kewajiban untuk melindungi istana. Jika gusti prabu tidak bisa mengatasi masalahnya, maka aku juga tidak bisa membantunya."


"Penggawa istana terkutuk. Aku bersumpah!. Jika gusti prabu berhasil diselamatkan!. Akan aku sampaikan semua yang kau katakan hari ini."


"Heh!. Pergi sana kau dayang rendahan. Aku hanya tidak ingin membahayakan diriku sendiri. Terserah kau mau berkata apa. Itupun jika gusti prabu masih selamat."


"Heh!. Akan aku pastikan, jika gusti prabu nanti selamat!." Hati Rati merasa sakit, karena mendengarkan semua ucapan mereka yang hampir sama. Mereka tidak mau membantu Prabu Maharaja Sura Fusena untuk mengusir mereka yang berniat jahat di kerajaan ini. Rati terus mencari dan meminta tolong pada semua penggawa istana, akan tetapi tidak ada satupun yang mau ikut dengannya. Rasanya ia hampir saja putus asa dengan apa yang terjadi.


...***...


Suri, saat ini ia sedang berusaha mencari keberadaan Patih Rangga Dewa. Ia telah mencari dua tempat, yang mungkin disinggahi oleh Patih Rangga Dewa. Namun ia belum juga menemukan keberadaan Patih Rangga Dewa.


"Oh dewata yang agung. Apa yang harus aku lakukan. Dimana lagi aku harus mencari keberadaan gusti Patih." Ia merasakan kecemasan yang luar biasa.


"Apakah terjadi sesuatu pada gusti Patih?. Padahal istana dalam bahaya saat ini. Dimana gusti Patih disaat dalam keadaan genting seperti ini?." Hatinya semakin gelisah, dan ia memikirkan hal-hal buruk yang mungkin menimpa Patih Rangga Dewa. "Tidak!. Aku tidak boleh menyerah mencari gusti Patih. Aku harus mencarinya ke desa wayang. Karena gusti patih selalu berkata, jika desa itu kadang rada aneh. Harus diperhatikan. Ya, mungkin gusti Patih berada di sana." Suri mencoba meyakinkan dirinya, jika Patih Rangga Dewa berada di sana.


...***...


Sementara itu, orang yang dicari saat ini sedang diobati oleh seorang wanita yang menolongnya. Sepertinya wanita itu mengerti ilmu pengobatan, dan saat ini ia sedang berusaha mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh Patih Rangga Dewa.


"Uhuok." Racun itu keluar melalui muntahan, disertai darah. Akan tetapi setidaknya, Patih Rangga Dewa merasakan tubuhnya lebih baikan dari yang sebelumnya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Kisanak masih selamat dari racun berbahaya itu. Meskipun kisanak telah meminum obat penawar racun itu."


"Oh. Terima kasih atas kebaikan nisanak. Aku masih diberikan kesempatan hidup oleh dewata yang agung." Patih Rangga Dewa menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur kecil itu. "Belum bertarung darahku sudah tumpah." Matanya melirik ke arah guci yang digunakan oleh wanita itu untuk menampung muntahannya yang ternyata darah hitam yang pekat. "Huh. Kondisiku sangat lemah setelah banyak darahku yang tumpah. Kalau aku bertarung, pasti tidak akan kuat lagi."


Wanita itu terkekeh geli mendengarkan keluhan Patih Rangga Dewa. Ia baru saja membuat ramuan herbal. "Kalau begitu, untuk mengembalikan darah kisanak yang tumpah tadi, bagaimana kalau kisanak meminum ramuan ini." Ia berikan secangkir air yang merupakan ramuan obat.


"Terima kasih kisanak." Patih Rangga Dewa menerima obat itu, dan meminumnya dengan pelan.


"Minuman itu dapat mengembalikan tenaga dalam kisanak. Tapi masih butuh proses."


Setelah ia meminum semua ramuan itu, raut wajahnya agak lain. "Pahit. Huek." Ia hampir saja memuntahkan minuman itu, namun berhasil ia tahan. Tentunya wanita itu semakin tertawa melihat raut wajah Patih Rangga Dewa yang seperti itu.


"Rasanya ucapan terima kasih tidak cukup aku ucapkan padamu nisanak. Jika aku boleh tahu, siapa nama nisanak yang telah membantuku?."


Wanita itu tersenyum kecil. "Namaku adalah suci putih. Seorang pendekar wanita pengembara."

__ADS_1


"Nama yang sangat cantik. Seperti orangnya." Entah mengapa, Patih Rangga Dewa terpesona dengan kecantikan wanita yang baru saja menyebutkan namanya itu. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2