PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 41


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa saat ini sedang berhadapan dengan Retma Aji. Pertarungan mereka cukup sengit, karena kekuatan yang mereka miliki cukup kuat juga. Sama-sama bertenaga dan tidak ada bandingannya.


Sementara itu Suri, Rati dan beberapa prajurit sedang berhadapan dengan Rahaja Dwipa. Tapi sayangnya pertarungan itu tidak seimbang. Prajurit jaga malah kewalahan menghadapi Rahaja Dwipa, yang memiliki ilmu kanuragan diatas mereka.


Lalu bagaimana dengan Suci putih?. Matanya masih mengamati mereka semua. Begitu juga dengan Paman Telaga dan Paman Raga.


"Hei!. Gadis itu seperti tampak sedang menganggur. Bagaimana kalau kita hadapi saja dia?."


"Hush. Kau mau merusak rencana kakang retma aji?. Apakah kau mau dikulitinya hidup-hidup, hah?."


"Aku hanya bosan saja. Melihat mereka bertarung, sementara aku. Hanya diam saja."


"Jangan banyak bicara!. Aku tidak mau berdebat denganmu lagi!."


Retma Aji sepertinya sedang mencari titik kelemahan dari Patih Rangga Dewa. Akan tetapi belum juga ia temukan. Sudah beberapa jurus mereka mainkan, akan tetapi Patih Rangga Dewa masih bertahan.


"Boleh juga kau rangga dewa. Tapi aku tidak akan membiarkan kau lolos dari Kematian. Karena kau telah berani membunuh istriku."


Patih Rangga Dewa terus menghindari serangan Retma Aji, dan sesekali menangkis serangannya, bahkan berani membalas balik serangan Retma aji.


"Heh!. Jangan remehkan aku retma aji. Aku bukan bocah dulu yang kalian jadikan tameng untuk mengancam siapapun."


"Kita lihat saja nanti rangga dewa. Aku harap kau nanti tidak merengek minta ampun padaku."


"Kurang ajar kau tua bangka. Aku memang tidak suka penjahat seperti kau!. Hyah!." Patih Rangga Dewa memainkan jurus andalannya, ia benar-benar muak dengan ucapan Retma Aji yang seakan memancing kemarahannya.


DUAKH DUAKH

__ADS_1


Rahaja Dwipa berhasil memukul Suri dan Rati. Keduanya tidak bisa berhadapan lagi dengan Rahaja Dwipa yang memiliki kekuatan diatas mereka.


"Kegh."


"Kurang ajar!. Kita tidak bisa menghadapinya rati."


"Ahaha!. Kalian itu hanyalah dayang, jadi kekuatan kalian itu tidak sebanding denganku!. Jangan bermimpi kalian bisa mengalahkan aku!."


"Kurang ajar kau penjahat busuk!. Kau tidak usah pamer dihadapan kami!."


"Kau benar-benar laki-laki jahat!."


Rahaja Dwipa malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan umpatan Rati dan Suri. Namun ia terkejut, saat mendengarkan suara dentuman keras. Ledakan yang dihasilkan dari jurus Patih Rangga Dewa.


"Uakh!." Retma Aji terpental dan berguling di tanah, saat ia terkena serangan dari Patih Rangga Dewa. Sedangkan mereka semua tidak percaya, jika Retma Aji bisa dikalahkan oleh Patih Rangga Dewa?.


"Cuih." Ia meludah dengan kasar, karena ia merasakan aneh dengan pengecapannya yang bercampur denga darah.


"Kau telah berani mempermainkan aku. Maka kau akan menerima jurus ledakan petir. Jurus yang diajarkan oleh ayahanda ku untuk membinasakan orang jahat macam, kau!." Patih Rangga Dewa terlihat sangat geram. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak marah.


"Kau jangan sombong dulu rangga dewa. Aku masih memiliki kejutan untukmu!." Retma Aji juga kesal, kenapa tiba-tiba Patih Rangga Dewa menjadi kuat seperti itu?. Padahal sebelumnya ia bisa mengatasi jurus Patih Rangga Dewa dengan baik.


"Paman raga. Paman telaga, bawa mereka semua ke sini." Rahaja Dwipa memberi perintah pada Paman Telaga dan paman Raga.


"Siap. Sudah kami tunggu dari tadi." Keduanya pergi masuk ke dalam, dan entah apa yang akan mereka lakukan.


"Kali ini apa lagi rencana kalian, hah?." Patih Rangga Dewa heran melihat tingkah mereka yang terdesak?.


"Gusti." Suri dan Rati dengan tertatih mendekati Patih Rangga Dewa. Sementara itu Suci Putih juga mendekati Patih Rangga Dewa. Karena ia penasaran apa yang akan orang-orang jahat itu lakukan.

__ADS_1


Namun mereka semua terkejut, saat melihat Paman Raga dan Paman Telaga menyeret Prabu Maharaja Sura Fusena, juga yang lainnya yang sedang terikat oleh tali gaib keluar dari istana?.


"Kanda prabu?."


"Dinda Patih?."


"Gusti patih?"


"Bahkan kalian bertiga pun ikut tertangkap?." Patih Rangga Dewa tidak percaya melihat ketiga anak buahnya.


"Ahaha!. Bagaimana rangga dewa?. Kau sudah puas melihat kakang mu berada di tangan kami?."


"Aku yakin kau tidak akan berkutik lagi, jika kau tidak ingin kehilangan kakang yang kau cintai bukan?. Ahaha!."


"Biadab!. Penjahat busuk!. Beraninya kalian bermain curang!."


"Penjahat busuk memang hanya bisa mengancam saja!."


Situasinya sekarang berbeda, jika salah dalam bertindak, maka Prabu Maharaja Sura Fusena dalam bahaya. Begitu juga dengan Jamba, Cadra Baka, dan Duri Kosambi. Kedua orang itu mengarahkan senjata mereka ke leher Prabu Maharaja Sura Fusena. Itulah yang membuat Patih Rangga Dewa harus menahan dirinya.


"Maafkan aku dinda patih. Kau jangan menghiraukan aku. Bunuh saja mereka semua. Jika aku mati, masih ada kau yang bisa memimpin negeri ini."


"Heh!." Patih Rangga Dewa mendengus kesal mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura. Ia bahkan memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dadanya. "Aku pasti akan melakukan itu sura dewa. Ini adalah kesempatan emas bagiku untuk menjadi raja. Kau pikir aku akan berbaik hati menangis darah meminta mereka untuk melepaskan dirimu yang sudah tidak berguna itu?." Dengan geramnya ia menunjuk kiri ke arah Prabu Maharaja Sura Fusena. "Aku tidak akan sudi melakukan itu sura fusena. Itu salahmu yang dengan mudahnya tertangkap oleh mereka. Jadi jangan kau jadi beban dalam masalah ini. Aku datang hanya untuk menghajar laki-laki tua bangka itu yang waktu itu hampir saja membunuh aku. Cukup itu saja!. Aku sama sekali tidak berniat untuk membantumu!. Atau membebaskan dirimu sura fusena!."


Mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa. Kata-kata yang tidak pernah sama sekali mereka duga, keluar begitu saja dari mulut Patih Rangga Dewa?.


"Minggir!." Dengan perasaan geramnya, Patih Rangga Dewa menyingkirkan Retma Aji dan Rahaja Dwipa yang berdiri di hadapannya. Ia malah melewati kedua orang itu, dan mendekati Prabu Maharaja Sura. "Ini juga hukuman untukmu sura fusena. Tempo hari kau!. Menghajar diriku tanpa sebab!." Tanpa diduga, dengan kekuatan tenaga dalam yang ia salurkan ke telapak tangannya, ia hajar Paman Raga dan Paman Telaga hingga keduanya terjajar menjauh dari Prabu Maharaja Sura Fusena. "Kau pikir aku tidak sakit hati sura fusena?!. Aku sangat ingin membalas pukulanmu saat itu!. Tapi aku masih berpikir, bahwa kau adalah kakakku!." Kemarahan Patih Rangga Dewa sangat alami, sehingga mereka semua benar-benar terkejut melihat itu. Dan ketika ia sadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia segera menjauh dari Prabu Maharaja Sura Fusena beberapa langkah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2