
...***...
Suara dentingan senjata beradu dengan kerasnya. Belati kecil yang dilambari tenaga dalam serta pedang roh suci yang dari tadi beradu dengan sengitnya. Tidak ada yang mau kalah diantara keduanya, selain hasrat ingin menjatuhkan musuhnya. Sudah hampir tiga jurus mereka mainkan namun belum juga ada yang mau mengalah. Keinginan mereka untuk menjatuhkan musuhnya sangat kuat, sehingga tidak memperdulikan rasa sakit yang mendera tubuh mereka karena disayat benda tajam yang berada di tangan mereka masing-masing.
Pangeran Brama Adijaya melompat mundur untuk sesaat. Nafasnya hampir saja putus karena bertarung dengan Patih Rangga Dewa. Ia tidak menduga sebelumnya, bahwa kekuatan musuhnya berbeda dari yang ia duga selama ini.
"Fuih!. Kurang ajar sekali kau Rangga dewa." Brama Adijaya terpaksa menghindari serangan cepat yang dilakukan Patih Rangga Dewa. Gerakan menipu dari jurus pedang Roh Suci, sehingga Brama Adijaya terpaksa mundur. Jika ia tidak mundur maka ia akan mendapatkan masalah. Bisa jadi tubuhnya terkena sayatan dari pedang itu.
Patih Rangga Dewa tertawa mengejek, ia merasa senang berhasil mempermainkan Brama Adijaya. "Kau masih saja bodoh!. Seperti terakhir kita bertemu!. Hahaha!." Patih Rangga Dewa semakin tertawa keras. "Jika kau masih saja mengumpat dalam bertarung, sebaiknya segera tinggalkan tempat ini!. Karena aku sudah muak bertarung denganmu!." Patih Rangga Dewa benar-benar kesal pada Pangeran Brama Adijaya yang tidak pernah bosan-bosannya ingin berhadapan dengannya.
"Bedebah!. Kau jangan berbangga hati dulu rangga dewa!. Aku datang tentunya dengan persiapan yang sangat matang!. Aku telah siap membunuhmu!." Pangeran Brama Adijaya sangat marah, karena ia merasa sangat direndahkan oleh Patih Rangga Dewa.
"Tidak usah banyak bicara kau brama adijaya!. Aku sudah muak dengan basa-basi mu. Jika kau tidak sanggup untuk mengalahkan aku. Maka kau pergi saja dari sini!." Ada hawa biru aneh yang menyelimuti tubuh Patih Rangga Dewa. Hawa yang selama ini ia tahan, hawa yang sang tidak baik. Hawa yang selalu mengancam siapa saja. Kekuatan tersembunyi dari sikap ganasnya. Hawa buruk yang berasal dari kemarahannya berlebihan.
"Kurang ajar!. Hawa biru itu?. Ternyata dia masih memiliki kekuatan hawa biru itu?. Kalau begitu akan aku pancing lagi. Supaya dia menjadi gila dan akhirnya mati terperangkap dalam kegilaan yang ia rasakan seperti dulu." Brama Adijaya merasa sangat marah. Dan ia mengatur hawa murninya, hingga hawa biru menyelimuti tubuhnya. Tatapan matanya terlihat lebih tajam dari yang sebelumnya. Pangeran Brama Adijaya mengetahui bagaimana hawa biru itu bisa muncul dari tubuh Patih Rangga Dewa. Dan ia telah melakukan niat yang tidak baik pada Patih Rangga Dewa. "Kau pikir kau saja yang memiliki kekuatan rangga dewa. Aku telah memutuskan untuk melanjutkan pertarungan kita sempat tertunda waktu itu. Dan kali ini aku pastikan nyawamu akan mati di tanganku!. Ditambah lagi kemarahan mu sendiri yang akan merenggut nyawamu rangga dewa." Suaranya terdengar lebih berat dari yang sebelumnya.
"Maju saja kalau berani. Aku akan meladani hasrat busukmu itu sampai mati. Dan kali ini, kita akan bertarung sampai mati." Patih Rangga Dewa juga lebih serius. Karena mereka sebelumnya juga pernah bertarung sampai mati. "Jika memang niatmu seperti itu untuk membunuhku, maka lakukan sesukamu brama adijaya. Aku tidak akan mundur barang setapak pun." Patih Rangga Dewa balik menantang Pangeran Pangeran Brama Adijaya. Ia tahu bahwa Pangeran Brama Adijaya tidak pernah menyukai dirinya, meskipun mereka masih memiliki hubungan keluarga. Namun mereka tidak bisa akrab, dan malah saling bermusuhan satu sama lain.
Apakah pertarungan itu akan berakhir dengan kematian?. Simak terus ceritanya.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Triguna Trisakti. Prabu Maharaja Sura Fusena saat ini sedang bersama anak dan istrinya. Mereka masih ingin bersama, dan saat ini mereka duduk bersama di pendopo. Kebersamaan mereka setelah melewati hari yang sulit untuk mereka hadapi pada saat itu.
Akan tetapi pada saat itu ada perasaan cemburu yang dirasakan oleh istri selir Prabu Maharaja Sura Fusena. Karena mereka merasakan perasaan seperti dibedakan dengan kedua permaisuri Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Kapan kanda akan menjemput putra kami. Apakah kami tidak boleh bertemu dengan anak-anak kami kanda prabu?." Selir Rasmiwati Putri Warna Bumi sangat merindukan satu-satunya anak yang ia miliki dari sang prabu. Ia tidak tahan lagi dengan perasaan rindu pada anaknya, membuat ia beranggapan buruk pada sang Prabu yang seakan sengaja memisahkan mereka selama ini.
"Benar kanda prabu. Saya sangat merindukan nanda Prakasa fusena. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya." Selir Harum Rahwana Negara, juga mengungkapkan apa yang ia rasakan. Hatinya merasa sedih karena sudah lama tidak bertemu dengan anak yang ia cintai. Apakah begitu besar perbedaan antara anak selir dengan anak permaisuri sehingga mereka seakan tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan anak-anak mereka?.
__ADS_1
"Dinda berdua tenang saja. Saat ini mereka sedang dalam latihan." Sang prabu mencoba untuk menjelaskan pada mereka semua. Bahwa ia tidak mungkin sekejam itu pada istri serta anak mereka. "Latihan untuk menjadi dharmaputra itu tidak lah main-main dinda. Harus ada persiapan yang sangat matang, sehingga mereka benar-benar dipersiapkan menjadi abdi negara yang mengetahui tugas mereka apa saja nantinya." Prabu Maharaja Sura Fusena menatap mereka dengan senyuman ramah. "Jika memang dinda berdua merindukan mereka. Kemungkinan lusa mereka akan kembali berkumpul bersama kita semuanya di istana ini." Prabu Maharaja Sura Fusena hanya tidak ingin mereka khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Karena itulah mungkin ia akan mengirim surat pada anak-anak yang sedang latih, untuk kembali sementara waktu.
"Baiklah kanda prabu. Terima kasih karena kanda masih memperhatikan mereka. Juga mau mengerti perasaan kami. Maaf jika membuat kanda prabu merasa kerepotan karena kami." Ia sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia hanya rindu pada anaknya.
"Sama-sama dinda. Tidak apa-apa, kanda tidak merasa kerepotan sama sekali." Prabu Maharaja Sura Fusena tersenyum lembut menatap selirnya.
"Dinda juga sangat senang jika memang seperti itu kanda prabu. Terima kasih atas perhatian kanda prabu pada kami." Rasa cemburunya itu kadang membuat ia tidak tahan lagi. Karena itulah ia terkesan agak jutek selama ini.
Kedua selir Prabu Maharaja Sura Fusena hanya merasa iri saja dengan kedua istri permaisuri raja. Karena anak-anak mereka berada di istana. Sedangkan anak-anak mereka malah di luar istana. Mereka merasa diperlakukan tidak adil, hanya karena anak-anak mereka dilatih diluar istana.
Sedangkan Ratu Dewi Saraswati saat ini sedang berbincang dengan anak yang ia sayangi. "Nanti ceritakan pada ibunda, bagaimana pengalaman nanda selama di rumah kakek durya pati ya." Ratu Dewi Saraswati mengelus sayang kepala anaknya. "Maafkan ibunda pada saat kejadian itu tidak bisa menemui nanda." Setelah itu ia mencium sayang anaknya. Perasaan cemasnya terhadap keselamatan anaknya sangat membuat ia hampir saja kehilangan kendali dirinya.
"Tentu saja ibunda." Pangeran Arya Fusena tersenyum semangat karena akhirnya ia bertemu dengan ibundanya. "Nanda baik-baik saja. Nanda aman bersama kanda serta yunda. Ibunda tidak perlu merasa bersalah. Sekarang kita telah berkumpul ibunda." Pangeran Arya Ardhana memeluk ibundanya dengan sayang. Sebagai seorang anak, ia juga mencemaskan keadaan ibundanya.
Begitu juga degan Ratu Ayusari yang mencemaskan keadaan kedua anaknya saat mereka berpisah karena kejadian itu. Ia sangat takut jika anaknya diserang oleh orang-orang jahat. "Syukurlah nanda berdua baik-baik saja. Ibunda sangat mengkhawatirkan keadaaan kalian." Ratu Ayusari memeluk kedua anaknya. Ia cium sayang anaknya, sebagai ungkapan rasa bahagia karena telah bertemu kembali dengan kedua anaknya.
"Kami baik-baik saja ibunda. Kami berlindung di tempat kakek durya pati. Itu karena kanda birawa yang mengajak kami ke sana." Putri Rara Wulan menceritakan apa yang terjadi padanya juga kedua saudaranya. "Tapi dengan begitu kami semua akan ibunda. Jadi ibunda tidak perlu cemas lagi." Putri Rara Wulan meyakinkan ibundanya semua baik-baik saja.
"Tapi, nanda melakukan itu semua karena dinda rara hampir saja tidak mau diajak ke sana, jika saja itu bukan perintah dari ayahanda prabu." Pangeran Birawa Fusena terlihat sedikit cemberut. "Sudah menjadi kewajiban bagi nanda untuk memperhatikan keselamatan adik-adiknya bukan?." Lanjutnya lagi dengan penuh percaya diri.
"Baguslah kalau begitu. Ibunda bangga pada nanda." Ratu Ayusari memuji dan merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh anaknya. Tapi hatinya tidak terima karena anaknya malah menyelamatkan anaknya Ratu Dewi Saraswati.
"Syukurlah. Mereka semua kembali dengan selamat." Dalam hati Prabu Maharaja Sura Fusena merasa bersyukur melihat keluarganya yang masih lengkap. "Lain kali aku harus belajar lebih dalam lagi. Aku tidak mungkin terusan mengandalkan dinda patih untuk menjaga istana ini." Ya, Prabu Maharaja Sura Fusena akan menambah ilmu kanuragan yang ia miliki sebab, bukan hanya dalam perang pemerintahan saja yang akan ia hadapi. Perang fisik juga harus ia hadapi, seperti melawan musuh yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.
...***...
Sementara itu. Suri, Rati, Rumi, dan Lasmi saat ini mereka sedang sibuk mencari keberadaan Patih Rangga Dewa. Sebab mereka sama sekali tidak melihat keberadaan Patih Rangga Dewa setelah pertemuan mereka. Mereka saat ini berada di kebun istana. Karena mereka merasa bosan jika menunggu terlalu lama. Apalagi jika mereka melihat para selir yang menatap tidak suka pada mereka berempat.
"Apakah gusti patih saat ini sedang melakukan ronda lagi?." Suri merasa aneh karena tidak menemukan keberadaan Patih Rangga Dewa.
__ADS_1
"Cepat sekali gusti patih menghilang. Apakah gusti Patih tidak betah sama sekali berada di istana ini apa?." Rati juga heran sikap Patih Rangga Dewa.
"Mungkin karena mereka yang beranggapan buruk pada gusti patih, sehingga gusti Patih merasa tidak nyaman di rumah sendiri." Lasmi malah membuat kesimpulan sendiri.
"Hus!. Jangan berpikiran seperti itu. Nanti kau bisa digantung sama mereka karena berani berpikiran jelek." Rumi sebagai ketua mereka mencoba untuk memperingatkan teman-temannya agar tidak berkata-kata aneh. Yang pada akhirnya membuat mereka celaka.
Ketiganya malah cengengesan tidak jelas. "Kita kan baru saja melawan musuh yang sangat kuat. Bahkan kau sendiri sempat disandera mereka bukan?. Apa tidak merasa lelah apa?. Apakah gusti Patih tidak istirahat barang sejenak?." Suri membalas ucapan Rumi.
"Iya tu. Kita kan telah mengeluarkan tenaga yang cukup banyak untuk mengalahkan mereka. Belum lagi kita ke sana ke mari mencari keberadaan gusti pangeran, juga gusti ayu yang ternyata berada di tempat gusti durya pati." Lasmi merasakan sendiri bagaimana lelahnya ia mencari keberadaan orang tak jelas berada di mana.
"Bagaimana perasaan lelah dan sakit hati yang aku rasakan ketika mereka semua menolak ajakan ku untuk menyelamatkan istana dari kelompok pendekar jahat pada saat itu." Rati merasa sedih, karena ia pada saat itu melakukan tugas yang sangat berat. Bukan hanya lelah fisik saja, namun lelah batin juga.
"Tapi kita semua telah melewati hari yang melelahkan. Aku pikir aku saat itu mati. Karena mereka menyerang aku." Rumi memeluk lututnya. "Namun lebih mati rasa dibandingkan dahulu sebelum kita bertemu dengan gusti Patih yang telah menyelamatkan kita semua." Dalam hati Rumi selalu mengingat bagaimana kebaikan yang diberikan oleh Patih Rangga Dewa kepadanya saat berada di pulau tengkorak pada saat itu. Dimana ia dan Duri Kosambi telah diselamatkan oleh Patih Rangga Dewa dari kehidupan yang menyakitkan.
"Kalian juga tidak bisa merasakan bagaimana ketakutan yang kami rasakan pada saat itu." Dua penjaga kebun istana tiba-tiba datang, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Aku takut akan dua hal pada saat itu." Si gendut mengingat kejadian pada saat mereka melarikan diri karena takut dihajar Rahaja Dwipa dan teman-temannya. "Aku takut sayur-sayuran yang ada di kebun mereka rusak. Namun aku lebih takut lagi jika membunuh aku, dan aku tidak lagi dapat menanam sayuran indah ini. Istana akan kelaparan karena tidak memiliki bahan pangan yang lebih sehat." Ia malah curhat dalam suasana hati yang seperti itu?.
"Aku justru takut kau dibawa mereka, dan kau akan dijadikan tumbal oleh mereka. Biasanya mereka itu suka orang gendut, supaya dalam sebulan itu mereka tidak lagi mencari tumbal dua kali." Si kurus malah membuat mereka semua tertawa, kecuali temannya.
"Sonto loyo!. Kau pikir aku ini." Ia sangat kesal pada temannya, sehingga terjadi kejar-kejaran antara si gendut dan si kurus. Sedangkan Rumi cs malah tertawa terbahak-bahak melihat aksi itu.
...***...
Kembali ke pertarungan Patih Rangga Dewa dan Pangeran Brama Adijaya yang semakin menegangkan, karena kekuatan keduanya telah meningkat. Keduanya tidak peduli luka-luka yang mereka rasakan. Hanya hasrat ingin menjatuhkan musuhnya, yang ada di dalam pikiran mereka. Pikiran mereka yang tidak sehat, hanya hasrat ingin membunuh musuhnya. Terutama Patih Rangga Dewa yang tidak lagi bisa mengendalikan dirinya. Pikirannya yang telah dikuasai oleh kemarahan yang berlebihan, membuat ia tidak dapat lagi menahan kekuatan yang ia miliki.
"Hah? Mana suara jelekmu itu brama adijaya!. Apakah hanya mulutmu saja yang kau pandai bicara!. Namun ilmu kanuragan yang kau miliki masih saja tidak berguna!. Dengan kekuatanmu yang tidak seberapa itu malah berani melawan aku?. Jangan banyak bermimpi kau brama adijaya!. Ahahaha!." Dengan kekuatan penuh, Patih Rangga Dewa yang kini dikuasai oleh nafsu membunuhnya terus menyerang Pangeran Brama Adijaya. Sabetan pedang Roh Suci sangat cepat, seiring dengan ayunan serta gerakan Patih Rangga Dewa. Seakan-akan hendak menyambar, bahkan ingin menyayat habis tubuh Pangeran Brama Adijaya.
"Kegh!." Pangeran Brama Adijaya terus menangkis serangan itu dengan belati kecil di tangannya. Tangannya terasa kebas karena tekanan ayunan itu semakin kuat. Menekan tenaga dalamnya sampai ingin menghancurkan pertanahan yang telah ia buat dengan sedemikian rupa. "Bedebah!. Bagaimana caranya aku bisa mengalahkan dia!. Jika kekuatannya masih sama seperti yang dulu!. Tapi aku bersumpah tidak akan mau mengalah atau kalah dari bajingan itu!." Ia sudah sangat muak karena selalu saja direndahkan oleh Patih Rangga Dewa. Rasanya ia terdesak karena menerima serangan bertenaga itu. Seakan-akan ia tidak memiliki kesempatan untuk membalas serangan Patih Rangga Dewa. "Kurang ajar!. Bukan seperti seharusnya terjadi!. Harusnya aku yang menguasai pertarungan ini!." Dalam hati Pangeran Brama Adijaya mengutuk kekuatan Patih Rangga Dewa yang sama sekali tidak bisa ia ukur. Rasanya ia sedang berhadapan dengan seseorang yang sedang kesurupan setan jahat, sehingga ia kesulitan dalam menghadapi Patih Rangga Dewa. ”Aku harus mencari cara untuk menekan balik serangannya. Aku tidak akan mungkin menerima serangannya." Dalam pikirannya saat ini sangat panik, dan ia tidak bisa lagi memikirkan hal yang lain, selain membalikkan serangan Patih Rangga Dewa.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah Pangeran Brama Adijaya bisa mengalahkan Patih Rangga Dewa?. Temukan jawabannya
...***...