
...***...
Patih Rangga Dewa saat ini sedang berbicara dengan orang-orang kepercayaannya. Ia menerima laporan dari mereka tentang beberapa desa yang aneh menurut pengamatan mereka. Karena takut akan terjadinya pemberontakan atau sekedar kerusuhan, makanya mereka segera melaporkannya pada Patih Rangga Dewa
"Hamba melihat mereka semua sedang berkumpul gusti Patih. Kami takut mereka akan membuat kerusuhan besar-besaran, atau malah ingin berontak gusti patih." Duri Kosambi, itu namanya. Ia melaporkan apa yang ia lihat.
"Kita harus segera mewaspadai kemungkinan terburuk tersebut gusti patih." Jamba juga mewaspadai kemungkinan yang akan terjadi.
"Benar gusti patih. Jangan sampai mereka melakukan itu karena hasutan dari orang lain. Sehingga akan merugikan gusti Patih nantinya." Cadra Baka merasakan jika mereka melakukan itu karena ada dua kenungkinan. "Hamba takut, jika mereka melakukannya karena disuruh orang lain, atau memang datang dari diri mereka masing-masing gusti patih. Tapi jumlah mereka lebih banyak dari yang sebelumnya." Ia sangat cemas dengan apa yang akan terjadi nantinya.
"Kalau begitu aku mohon pada kalian semua, agar terus memantaunya. Jika mereka berniat tidak baik, aku mohon segera hentikan mereka semua." Itulah permintaan dari Patih Rangga Dewa pada mereka semua. "Aku tidak mau kanda prabu sampai mengetahui masalah ini. Karena itulah aku percayakan pada kalian untuk mengatasi masalah yang akan terjadi." Patih Rangga Dewa sangat berharap, mereka semua bisa ia andalkan untuk mencegah terjadinya kerusuhan, atau bahkan pemberontakan.
"Sandika gusti Patih. Kami akan selalu mematuhi perintah dari gusti Patih." Jamba memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.
"Kami tidak akan mengecewakan gusti patih. Percayalah pada kami, karena kami sudah cukup lama bersama gusti patih. Jadi jangan ragu lagi dengan apa yang kami lakukan gusti patih." Duri Kosambi, orang Pertama yang berhasil diselamatkan oleh Patih Rangga Dewa dari pulau tengkorak.
"Janji kami adalah janji setia untuk mengabdi pada gusti patih. Kami akan melakukan apapun yang gusti patih perintahkan pada kami." Cadra Baka juga memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.
"Bagus, itu yang aku harapkan dari kalian semuanya. Tapi aku harap kalian semua berhati-hati. Bagaimanapun juga kalian adalah tanggung jawabku. Jika kalian dalam bahaya, aku tidak memiliki orang yang bisa aku percayai lagi." Tentunya bukan hanya sekedar anak buah saja. Sebenarnya Patih Rangga Dewa menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri, hanya karena sikapnya kaku. Jadinya mereka benar-benar terkesan antara atasan dan bawahan. Namun tetap saja mereka akan saling melindungi satu sama lain.
"Sandika gusti patih." Kembali mereka memberi hormat pada Patih Rangga Dewa. "Kalau begitu kami pamit dulu gusti patih. Sampurasun."
"Rampes." Balas Patih Rangga Dewa dengan senyuman ramah.
Mereka bertiga telah meninggalkan bilik Patih Rangga Dewa. Mereka bertiga adalah orang-orang yang masa lalunya sangat kelam, namun diselamatkan oleh Patih Rangga Dewa. Sebelum ia menjadi Patih, pangeran Rangga Dewa dulu suka mengembara. Ia mengenali siapa saja, termasuk orang-orang yang jahat sekalipun.
"Aku harap mereka semuanya akan baik-baik saja. Mantan pembunuh bayaran, tapi aku yakin jiwa liar mereka masih ada." Dalam hatinya merasa gelisah dengan kepergian mereka, namun ia tidak menyangka akan mengalami hal sesulit ini. "Apa yang mereka rencanakan sebenarnya?. Mengapa mereka ingin sekali berbuat kerusuhan di negeri ini?." Patih Rangga Dewa bertanya-tanya, apa yang mereka rencanakan. "Bisakah mereka membiarkan negeri ini menjadi negeri yang damai tanpa adanya pemberontak yang merugikan negeri ini?." Patih Rangga Dewa menghela nafasnya dengan pelan. "Aku rasa tidak mungkin. Selagi manusia memiliki niat tidak baik, atau hanya sekedar coba-coba keberuntungan. Maka kerusuhan akan sering terjadi." Lagi, ia menghela nafasnya yang terasa sangat lelah. "Aku harap mereka bisa mengatasi masalah itu dengan baik." Ia hanya berharap pada ketiganya. Ia berharap akan ada kabar baik yang akan ia terima nantinya.
...***...
Di suatu tempat. Rahaja Dwipa akhirnya bisa tersenyum bahagia, karena guru yang ia banggakan telah datang. Begitu juga dengan mereka semua yang ada di sana. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin menyerbu istana, dan mereka telah membuat rencana yang lumayan bagus menurut mereka semua.
"Kenapa kakang lama sekali datangnya?. Apakah kakang masih suka bermesraan dulu dengan nyai ketuk Pipit?. Hum?."
Mereka semua malah menggoda pasangan suami istri yang sedang kasmaran itu?. Seakan-akan mereka adalah pasangan muda yang baru mengenal dunia asmara. Dimana pasangan muda yang tidak mau berpisah barang sejenak.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu bodoh!. Masih ada urusan yang harus aku kerjakan sebelum aku datang kemari!." Tapi sepertinya Retma Aji sedang tidak ingin bercanda. Ia merasa kesal dengan mereka semua yang seakan mengejek dirinya.
"Iya, iya. Maafkan aku, tadi aku hanya bercanda saja. Jangan galak gitu juga kakang."
"Huh!. Kau ini membuat aku marah saja."
"Sudahlah paman guru. Kami hanya khawatir saja, karena paman guru juga bibi guru belum sampai. Kami takut kalian mengalami kesulitan saat melewati kawah ireng yang terkenal angker." Rahaja Dwipa mencoba menenangkan mereka semua, agar bisa bekerjasama lebih baik lagi.
"Nah!. Itu yang aku maksudkan kakang." Ia malah menyengir lebar, seperti tidak takut, jika ia akan dihajar oleh Retma Aji yang sedang kesal.
"Sudahlah. Kau juga, nada bicaranya juga diubah. Membuat aku kesal saja!." Paman telaga sangat kesal mendengarkan Paman Raga yang selalu bercanda.
"Baiklah. Kita langsung pada inti masalah yang akan kita hadapi. Ceritakan bagaimana rencananya rahaja dwipa." Retma Aji ingin mendengarkannya langsung dari Rahaja Dwipa, meskipun ia telah mengetahuinya dengan jelas maksud dan tujuan Rahaja Dwipa mengumpulkan mereka semua pada hari ini
"Rencananya kita akan menyerang istana, juga membunuh penghuni istana." Jawab Rahaja Dwipa, seperti yang mereka duga sebelumnya.
"Bukankah kau mengatakan jika prabu maharaja sura fusena sangat mudah untuk di atasi?. Lalu apa lagi yang kau inginkan dariku?." Retma Aji hanya ingin memastikan, apakah Rahaja Dwipa akan mundur setelah mengetahui itu?.
"Aku hanya ingin merebutkan apa yang dimiliki oleh sura fusena. Aku sangat sakit hati, dan juga tidak terima dengan apa yang ia lakukan padaku. Serta tujuan kita semuanya adalah memiliki kerajaan golongan hitam yang lebih besar lagi."
"Ambisi yang kau miliki terlalu besar rahaja dwipa. Tapi aku sangat suka dengan itu."
"Aku juga akan bergabung denganmu."
"Luar biasa sekali, kalau begitu aku juga akan bergabung."
"Hu ikutan saja kau ini telaga."
"Ahaha terima kasih karena paman dan bibi guru telah bersedia bergabung denganku. Kali ini kita akan menerima hasil yang sangat memuaskan."
Sepertinya dalam waktu yang dekat ini mereka akan segera melakukan apa yang telah mereka rencanakan.
...***...
Di Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Raden Arya Fusena baru saja pergi meninggalkan istana. Karena ia ingin jalan-jalan sebentar, katanya ingin melihat-lihat suasana kota raja setelah mengalami hal yang buruk. Tapi kali ini ia ditemani oleh kakaknya yang cantik. Siapa lagi kalau bukan Putri Rara Wulan.
__ADS_1
"Kali ini kita akan berjalan-jalan ke arah mana dinda arya?."
"Kita akan menuju pasar kota raja."
"Pasar kota raja?. Apakah ada sesuatu yang menarik di sana dinda?."
"Sangat banyak yunda. Katanya ada arena pertunjukan baru dibuka di sana."
"Benarkah?. Rasanya aku tidak sabar lagi untuk ke sana."
"Tentu saja itu tempat yang sangat bagus sekali yunda."
"Kalau begitu kita ajak sekalian kanda birawa."
"Bukankah kanda birawa saat ini sedang ada latihan khusus bersama ayahanda?."
"Ah iya juga. Aku lupa dinda. Kalau begitu kita langsung ke sana saja dinda."
"Mari yunda."
"Mari dinda."
Tentunya Putri Rara Wulan sangat senang, karena jarang ia melihat arena pertunjukan. "Semoga saja aku dapat melihat tontonan yang sangat menarik hari ini." Dalam hati Putri Rara Wulan merasa sangat bersemangat. Ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat arena pertunjukan tersebut.
...***...
Di suatu tempat. Patih Rangga Dewa yang sedang menyamar, saat ini sedang mengamati daerah yang ia anggap sebagai tempat yang mencurigakan.
"Sial. Aku tidak bisa mendekati masuk daerah ini. Seperti ada penghalang gaib yang membentenginya." Ia mencoba meraba dengan tangannya, karena ia merasakan hawa yang tidak biasa.
ZRRR
"Kegh." Patih Rangga Dewa meringis kecil, karena ia merasakan tangannya seperti disengat sesuatu. "Kurang ajar. Sepertinya ada orang asing yang mencoba untuk bercokol di daerah kekuasaan gusti prabu maharaja sura fusena." Matanya dengan tajam mengamati daerah tersebut. "Apa yang harus aku lakukan?. Apakah harus aku laporkan masalah ini pada kanda prabu, atau aku sendiri yang akan mengatasinya?." Ada keraguan tindakannya kali ini. Karena jika dilihat dari pagar gaib yang melindungi daerah itu.
"Aku yakin mereka bukan Pendekar sembarangan. Baiklah, aku akan mencari cara menjebol pagar gaib ini. Tunggu saja kalian semuanya. Akan aku tangkap kalian." Patih Rangga Dewa mengibas tangannya yang terasa sakit, karena tangannya masih ada bekas luka tusukan itu. "Apa boleh buat, aku akan segera kembali. Dan aku harap mereka belum bergerak." Setelah itu Patih Rangga Dewa meninggalkan tempat itu. Ia tidak mau mengambil resiko hanya untuk menerobos masuk. Pagar gaib yang dipasang disekitar itu lumayan kuat. Bukannya ia tidak mampu melakukan itu, hanya saja membutuhkan banyak tenaga dalam. Jika ia memaksa masuk, ada dua kemungkinan yang akan ia dapatkan nantinya. Jika tidak berhadapan dengan pelindung gaib jin itu sendiri, atau ia akan berhadapan langsung dengan si pembuat pagar gaib itu.
__ADS_1
"Aku harus meningkatkan tenaga dalamku. Supaya jika aku bertemu dengan mereka, aku bisa menghadapi mereka dengan lebih kuat lagi." Dalam hati Patih Rangga Dewa telah bertekad. Setiap langkahnya hanya memikirkan, bagaimana caranya untuk membuat orang-orang asing, atau orang jahat merusak kedamaian di kerajaan Trisakti Triguna. Apakah yang akan dilakukannya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya. Pembaca tercinta. Selamat menunaikan ibadah puasa.
...***...