PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 53


__ADS_3

...***...


Di Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Maharaja Sura Fusena telah menerima surat balasan dari Prabu Dewata Sangara yang dibawakan oleh Duri Kosambi. Ia ingin mengetahui balasan dari Prabu Dewata Sangara.


"Mohon ampun gusti prabu. Ini adalah surat balasan dari prabu dewata sangara. Hamba harap gusti prabu menerimanya." Duri Kosambi menyerahkan gulungan surat itu.


"Terima kasih duri kosambi. Kau telah melakukan tugasmu dengan baik." Prabu Maharaja Sura Fusena mengambil surat itu, dan memberi kode pada Duri Kosambi untuk duduk. Setelah itu ia membacakan surat balasan itu.


Prabu Maharaja Sura Fusena membacanya dengan seksama. "Kepada dinda prabu maharaja sura fusena. Saya telah membacakan surat yang gusti prabu kirimkan padaku. Aku sungguh minta maaf atas apa yang telah dilakukan adikku pangeran brama adijaya. Sungguh aku tidak menyangka jika ia melanggar perjanjian itu. Namun aku tidak mengetahuinya sama sekali jika memang adikku yang melanggarnya. Aku juga sudah pasrah dengan keadaannya yang tidak mau mendengarkan saya. Kini aku serahkan semuanya pada gusti prabu. Tapi aku mohon jangan bunuh adikku. Tangkap saja ia hidup-hidup. Jika masalah hukuman aku serahkan pada gusti prabu. Maaf jika aku terkesan pasrah. Karena aku tidak sanggup lagi untuk mendidiknya. Salam hormatku untuk gusti prabu. Semoga saja gusti prabu berserta keluarga selalu sehat dan semoga saja gusti prabu mendapatkan kebahagiaan dari sang hyang widhi. Sekian yang dapat aku sampaikan, mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan dalam penyampaian yang hamba tulis melalui surat ini. Dari prabu dewata sangara." Itulah bunyi dari surat yang ditulis Prabu Dewata Sangara untuknya?. Jadi Prabu Dewata Sangara telah pasrah dengan sikap adiknya sendiri?. "Aku harap kau tidak menyesal dengan apa yang telah kau putuskan hari ini kanda prabu. Karena aku tidak akan mengampuni dirinya yang telah berani menyinggung dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena menggulung kembali surat itu. Menaruhnya di meja kecil yang ada di sampingnya. Prabu Maharaja Sura Fusena menghela nafasnya dengan pelan. Setelah itu ia menatap ke arah Duri Kosambi. "Duri kosambi. Apakah adikku rangga dewa masih berada di lereng bukit naga?." Prabu Maharaja Sura Fusena bertanya. Ia hanya ingin memastikan jika adiknya masih berada di sana.


"Terkahir hamba mengantarnya memang berada di sana gusti prabu." Jawab Duri Kosambi. "Gusti patih masih berlatih dengan nyai lara janti di sana." Duri Kosambi sangat ingat terakhir ia meninggalkan lereng bukit naga. "Hamba kira gusti patih memang berada di sana. Karena tidak mungkin rasanya gusti Patih pergi dalam keadaan beliau yang masih sakit." Ucap Duri Kosambi lagi.


"Baiklah duri kosambi. Jika memang seperti itu tolong bawakan surat ke sana. Berikan surat itu pada nyai lara janti, juga pada dinda patih. Katakan pada dinda patih, agar tidak bertarung dengan pangeran brama adijaya. Katakan padanya, bahwa aku memerintahkannya untuk menyelesaikan masalah. Suri mungkin juga telah sampai di sana. Aku harap suri bisa mencegah dinda patih agar tidak bertarung." Prabu Maharaja Sura Fusena memerintahkan Duri Kosambi untuk menuju ke lereng bukit naga. Ia ingin Duri Kosambi mengawal adiknya selama diperjalanan menuju istana ini. "Pastikan jika dinda patih tidak bertarung dengan pangeran brama adijaya." Ucapnya dengan penuh ketegasan. "Aku tidak ingin adikku celaka hanya karena meladani brama adijaya yang tidak berguna itu." Lanjutnya dengan perasaan marah. Hatinya tidak tenang jika adiknya bertarung sampai mengeluarkan kekuatan jahat itu. "Segeralah berangkat duri kosambi. Jangan lupa sampaikan pesanku pada dinda patih." Perintahnya pada Duri Kosambi.


"Sandika gusti prabu." Duri Kosambi memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Tentunya ia akan menjalankan semua perintah dari Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Aku harap kau masih berada di lereng bukit naga dinda patih. Kembali lah dengan selamat. Aku tidak mau kau celaka." Dalam hati Prabu Maharaja Sura sangat khawatir yang luar bias. Jika menyangkut tentang kekuatan jahat Naga Biru Liar, ia memang sangat khawatir akan keselamatan adiknya. "Kau harus segera kembali rangga dewa. Aku tidak mau kau membantah lagi dengan apa yang aku katakan di dalam surat itu nantinya." Ia tahu adiknya tidak mudah menuruti perkataan orang lain, bahkan termasuk dirinya. Namun ia berharap jika adiknya itu akan segera kembali.


...***...


Sementara itu di lereng bukit naga. Suri baru saja sampai, dan ia mencari keberadaan Patih Rangga Dewa. Meskipun tempat itu terpencil, setidaknya tempat itu lumayan aman untuk dijadikan tempat untuk menetap. Ia melangkah masuk ke dalam sebuah pondok yang sangat sederhana. Tidak menggambarkan bahwa pemilik pondok ini dulunya adalah ibunda ratu Prabu Maharaja Sura Dewa. Namun senyumannya mengembang ketika matanya menangkap sosok yang sedang ia cari. Langkah seakan ringan setelah memastikan bahwa Patih Rangga Dewa baik-baik saja.


"Sampurasun." Suri tersenyum ramah mengucapkan salam, ketika melihat Patih Rangga Dewa yang sedang berlatih?.


Patih Rangga Dewa mengatur tenaga dalamnya, menghentikan gerakan dari jurus yang ia mainkan. "Rampes." Ia melirik ke arah seseorang yang mengucapkan salam padanya.


"Sepertinya gusti patih sudah sembuh. Terlihat dari gerakan yang gusti Patih lakukan dengan sangat mantab." Suri merasa kagum dengan gerakan yang dilakukan Patih Rangga Dewa tadi.


"Oh suri. Kau rupanya." Ia mendekati Suri. "Keadaanku sudah baikan. Jadi aku melakukan gerakan ringan saja untuk meregangkan otot-otot ku." Lanjutnya lagi.


"Syukurlah, jika memang gusti patih baik-baik saja." Suri sangat senang mendengarnya.


"Waktu itu aku yang meminta diri kosambi untuk mengantar aku. Dan sekarang kau kemari." Patih Rangga Dewa merasa aneh dengan kedatangan Suri. "Apa yang membuatmu datang ke sini suri?. Apakah terjadi sesuatu di istana?. Sehingga kau datang menemui aku." Ia bertanya karena penasaran dengan tujuan dari kedatangan Suri, salah satu dayang yang ia percaya untuk menjaga pangeran kesayangannya.


"Jika gusti Patih bertanya seperti itu, maka hamba akan menjawab ini adalah perintah dari gusti prabu." Jawab Suri dengan senyuman kecil.

__ADS_1


"Jadi kau datang ke sini karena perintah kanda prabu?. Lalu bagaimana dengan pangeran kesayanganku?." Ia merasa heran dengan itu.


"Hamba hanya melakukan perintah gusti Patih. Jika pangeran kesayangan, masih ada rumi, lasmi, juga rati yang masih bersama mereka." Jawab Suri dengan hati-hati.


"Baiklah, kalau begitu mari masuk. Lebih baik berbicara di dalam sambil duduk." Patih Rangga Dewa mempersilahkan Suri masuk ke dalam pondok. Saat mereka masuk, di dalam ada Nyai Lara Janti yang sedang menyediakan hidangan.


Tentunya ia bertanya siapa wanita itu?. "Siapa yang datang rangga dewa?. Apakah teman mu?." Nyai Lara Janti sedikit penasaran dengan wanita yang datang bersama cucunya itu. "Atau jangan-jangan kekasihmu?." Apakah wanita itu adalah kekasihnya Patih Rangga Dewa?. Karena ia melihat kedekatan yang sangat akrab diantara keduanya.


"Hamba hanyalah bawahannya gusti patih nyai. Hamba datang ke sini atas perintah dari gusti prabu yang sangat mencemaskan keadaan gusti patih yang belum kunjung kembali ke istana." Jawab Suri sambil memberi hormat pada Nyai Lara Janti. "Jika kekasihnya gusti patih, pastilah orang yang lebih baik dari hamba." Ia hanya mampu tersenyum lembut setelah berkata seperti itu.


"Jadi begitu?. Jadi nanda prabu telah mengetahui adiknya berada di sini?." Nyai Lara Janti tersenyum ramah.


"Benar nyai. Gusti prabu mengetahui keberadaan gusti Patih di sini." Jawab Suri dengan senyuman ramah.


"Tidak mungkin hamba yang kotor ini bisa bersanding dengan gusti patih yang sempurna. Bahkan anak putri raja saja belum tentu diterima oleh gusti Patih. Apalagi orang seperti diriku ini." Dalam hatinya merasa rendah. Karena masa lalunya yang sangat menyakitkan. Namun jika tidak diselamatkan oleh Patih Rangga Dewa, mungkin ia tidak akan memiliki harapan untuk hidup.


"Tapi dari siapa ia mengetahui jika adiknya berada di sini, dan menyuruhmu untuk memastikannya berada di sini?." Nyai Lara Janti kembali bertanya.


"Gusti prabu mendapatkan kabar tersebut dari teman hamba, namanya duri kosambi." Balas Suri, mungkin nyai Lara Janti masih ingat dengan wajah Duri Kosambi.


Sedangkan Patih Rangga Dewa hanya menyimak saja apa yang sedang mereka bicarakan. Namun matanya tertuju pada beberapa masakan yang disajikan oleh Nyai Lara Janti.


"Saat ini ia berada di istana. Dan ada kemungkinan dapat tugas dari gusti prabu untuk memastikan sesuatu." Jawab Suri sedang memikirkan sesuatu.


"Jadi begitu?." Nyai Lara Janti telah selesai menyajikan semua makanan yang baru saja ia masak. "Mari makan. Mumpung masih hangat, lebih baik segera dinikmati bersama." Nyai Lara Janti mempersilahkan keduanya untuk makan.


"Terima kasih nyai. Tapi, apakah hamba pantas makan bersama gusti patih, juga bersama nyai?. Sedangkan hamba hanyalah bawahan saja." Suri memberi hormat pada Nyai Lara Janti. Ia takut bersikap kurang ajar pada kedua orang yang memiliki pangkat yang sangat terhormat di kerajaan Trisakti Triguna.


Nyai Lara Janti malah tertawa geli. "Kau jangan bersikap kaku begitu. Kami ini hanyalah manusia biasa, sama seperti mau cah ayu. Jadi jangan sungkan begitu pada kami." Meskipun kepalanya dipenuhi oleh uban, namun ia bukanlah wanita pikun yang lupa akan tata krama. "Makanlah bersama kami mumpung kau juga ada di sini. Kau boleh hormat pada kami jika berada di istana. Namun kami di sini hanyalah orang biasa. Jadi jangan kaku begitu." Lanjutnya lagi. "Aku sangat senang jika kau makan bersama kami." Nyai Lara Janti bukanlah wanita yang gila akan kehormatan. Karena itulah ia lebih senang seperti ini, daripada melihat orang menundukkan wajahnya sambil memberinya hormat. Hanya karena ia adalah ibunda dari mendiang Prabu Maharaja Sura Dewa.


Suri menatap ke arah Patih Rangga Dewa, karena ia masih merasa sungkan. Ia tidak mau bersikap kurang ajar pada junjungannya. "Makanlah. Tidak apa-apa. Lagipula ini sangat banyak sekali. Aku tidak akan sanggup memakannya semua. Aku yakin kau belum makan apapun saat datang ke sini." Patih Rangga Dewa tersenyum ramah sambil mempersilahkan Suri untuk makan.


"Terima kasih nyai, terima kasih gusti patih." Suri sangat terharu dengan kebaikan dari Patih Rangga Dewa dan Nyai Lara Janti.


"Mari makan. Aku sangat senang jika kalian mau memakan apa yang telah aku masak." Nyai Lara Janti juga senang, ia tidak menyangka akan ada tamu satu lagi yang akan mencicipi masakan istimewa miliknya. Sudah lama rasanya ia tidak memasak dalam jumlah yang sangat besar. Hatinya sangat senang, jika Patih Rangga Dewa datang mengunjunginya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika nyai lara Janti adalah nenek dari gusti patih. Tapi sepertinya nyai lara janti sangat baik, dan tidak sombong." Dalam hati Suri merasakan kebaikan dari Nyai Lara Janti yang merasa tidak keberatan dengan keberadaan dirinya.


...***...


Sementara itu, Pangeran Brama Adijaya masih berlatih dengan laki-laki tua itu. Mereka melakukan gerakan yang sama, karena laki-laki tua itu yang mengajari Pangeran Brama Adijaya. Mereka melakukannya berulang-ulang, serta menghayati setiap gerakan yang mereka lakukan. Mereka menghayati dengan baik, sehingga gerakan itu menyatu dengan baik. Gerakan yang dialiri dengan tenaga dalam yang sangat kuat.


Gerakan yang berbeda dengan jurus yang lainnya. Jurus elang berburu ular di tengah Padang rumput. Itulah nama jurus yang mereka mainkan. Hawa elang keluar dari tubuh keduanya seiring dengan kekuatan tenaga dalam yang mereka salurkan ke seluruh tubuh mereka. Sungguh mereka berniat sekali mempelajari jurus itu untuk membunuh Patih Rangga Dewa.


Setelah itu mereka mengambil senjata yang berupa cakar besi yang sangat tajam. Mereka sarung kan ke tangan mereka, berikutnya mereka melakukan gerakan seperti elang yang sedang mencakar mangsanya. Gerakan yang mereka lakukan terkadang berlawanan arah, sehingga menimbulkan tekanan yang sangat kuat. Dampak dari gerakan itu adalah ledakan yang sangat kuat, mereka melompat tinggi dengan menggunakan jurus meringankan tubuh. Tak berselang lama mereka turun, dan mengatur tenaga dalam. Karena merasa cukup dengan apa yang telah mereka lakukan hari ini.


"Meskipun ini telah lewat pada hari perjanjian, namun aku harus memulihkan tenaga dalam ku dengan sempurna." Pangeran Brama Adijaya mencoba menggerakkan tangannya yang sempat terasa kebas. "Aku ingin membunuhnya guru. Aku tidak akan membiarkan si bedebah itu hidup dengan penderitaan yang aku alami selama ini." Ia menatap ke arah laki-laki tua itu. Sorot matanya itu sangat tajam, melepaskan hawa elang yang sangat kuat dari tubuhnya.


"Ahaha!. Jika memang seperti itu, maka berusaha lah dengan baik. Maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Ia malah tertawa. "Aku suka dengan anak muda yang memiliki ambisi gila seperti kau." Ia berjalan menuju pondok kecil, ia mengambil air minum karena merasa haus setelah latihan tadi.


"Tentu saja aku memiliki jiwa yang saja aku memiliki ambisi yang sangat besar untuk menjatuhkannya." Dalam hari Pangeran Brama Adijaya dengan hati yang membara. Perasaan dengkinya terhadap Patih Rangga Dewa sejak pertama kali mereka bertemu di istana Kerajaan Betung Emas. Ia yang mencari musuh dengan Patih Rangga Dewa, karena rasa penasaran yang ia miliki saat ia mendengar kabar bahwa Sukma naga biru liar masuk ke dalam tubuh Patih Rangga Dewa.


***


Sementara itu di Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Maharaja Sura Fusena saat ini sedang berada di ruang pribadi raja. Ia sedang melakukan semedi, berharap akan mendapatkan petunjuk yang baik. Hatinya sangat gelisah karena memikirkan adiknya.


"Tenanglah putraku nanda sura fusena." Suara seseorang menyapa dirinya. "Adiknya rangga dewa akan baik-baik saja." Lama-kelamaan terlihat sosok laki-laki gagah dengan mahkota agung di kepalanya. Menunjukkan wibawanya sebagai seorang raja.


"Hormat hamba ayahanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena memberi hormat pada ayahandanya?. Ya, saat ini ia bersemedi karena ia ingin meminta pendapat ayahandanya mengenai adiknya.


"Jangan terlalu cemas. Ayahanda yakin adikmu mampu mengatasi masalahnya dengan baik." Prabu Maharaja Sura Dewa tersenyum kecil menatap anaknya.


"Nanda hanya khawatir saja ayahanda. Karena kekuatan naga biru liar itu tidak mudah ditaklukkan begitu saja ayahanda. Bahkan ayahanda sendiri mengetahui bagaimana dahsyat nya kekuatannya saat itu." Prabu Maharaja Sura Fusena masih ingat dengan kejadian saat itu. Kejadian yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.


"Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berjalan dengan baik. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak sang hyang widhi. Jadi kau tidak perlu cemas." Prabu Maharaja Sura Dewa meyakinkan anaknya, jika semua itu terjadi karena takdir.


"Lalu apa yang harus nanda lakukan pada dinda brama adijaya. Karena ia telah berani melanggar perjanjian itu ayahanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena meminta pendapat ayahandanya lagi.


Prabu Maharaja Sura Dewa tampak sedang berpikir. Apa yang akan ia katakan pada anaknya mengenai masalah itu?. "Nanda harus memutuskannya dengan tepat. Dengan pikiran yang jernih. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Jangan sampai dendam pribadi dapat merugikan orang lain." Itulah yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Dewa pada anaknya.


Setelah itu Prabu Maharaja Sura Fusena kembali ke raganya. Ia akan menimbang kembali apa yang dikatakan oleh ayahandanya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2