PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 22


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa dengan geramnya menghajar Senopati Caraka Tirta. Karena ia melawan ketika hendak ingin dibawa ke istana. Pertarungan antara mereka sempat terjadi dengan sengitnya, namun ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Patih Rangga Dewa diatasnya, sehingga ia pasrah ketika dirinya diseret paksa oleh Patih Rangga Dewa menuju istana.


Mereka yang melihat itu di sepanjang jalan merasa miris dengan keadaan Senopati Caraka Tirta. Namun mereka juga tidak bisa membantu sama sekali. Karena mereka mengetahui, jika orang-orang yang ditangkap oleh Patih Rangga Dewa adalah orang-orang yang bersalah. Tapi mereka tidak akan menduga, jika Patih Rangga Dewa akan menyeret Senopati Caraka Tirta seperti itu, artinya ia sedang marah besar.


"Kasihan, tapi sepertinya gusti Patih sedang marah besar."


"Sssh jangan keras-keras, nanti gusti Patih bisa dengar apa yang kamu katakan."


"Kita juga tidak bisa berbuat banyak. Aku yakin senopati caraka tirta tidak akan selamat dari hukuman gantung."


Namun disaat keributan mereka melihat Patih Rangga Dewa menyeret paksa Senopati Caraka, ada beberapa penggawa Istana yang mencegat perjalanan itu. Sehingga Patih Rangga Dewa menghentikan langkahnya.


"Mohon ampun gusti patih. Apakah tidak bisa dibawa dengan baik?. Apakah seperti itu cara gusti patih bertindak sekarang?."


"Jangan mentang-mentang gusti Patih adalah adik gusti prabu, laku seenaknya saja memperlakukan bawahannya seperti binatang yang diseret tidak berperikemanusiaan."


"Kakang. Tolong aku. Aku tidak kuat lagi dihajar oleh gusti Patih." Senopati Caraka Tirta malah memelas minta bantuan pada kedua Dharmapati itu. Sedangkan Patih Rangga Dewa melepaskan cengkraman baju Senopati Caraka Tirta dengan kuat, sehingga Senopati Caraka Tirta terjerembab ke tanah. Terlihat Patih Rangga Dewa menghela nafasnya yang terasa lelah.


"Aku sudah mengajaknya dengan baik-baik. Tapi justru dia malah merendahkan aku."


Mereka semua mendekat, menyimak apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa. Mereka semua penasaran,.apa penyebab sang Patih marah besar.


"Apa karena itu?. Gusti Patih marah?."


Patih Rangga Dewa membalikkan tubuhnya, menatap mereka yang terlihat takut padanya. Kembali ia menghela nafasnya dengan pelan. "Maaf, jika sikap ku membuat kalian takut. Sungguh, aku sedang dikuasai amarah."


"Memangnya apa permasalahannya gusti patih?. Apakah ada kesalahan yang diperbuat senopati caraka tirta, sehingga gusti patih marah besar?."


"Maaf jika kami lancang bertanya pada gusti patih."

__ADS_1


"Tidak biasanya gusti patih bersikap kasar pada seseorang."


"Benar gusti patih. Seperti bukan gusti Patih yang biasanya."


Mereka semua hanya tidak menyangka saja. Jika seorang Patih yang berwibawa hari ini menunjukkan kemarahannya.


"Sungguh maafkan aku. Bukan aku bermaksud untuk membuat keributan. Aku hanya dikuasai oleh amarahku." Ada perasaan bersalah dari ucapannya. "Senopati caraka, telah menyebarkan fitnah yang kejam terhadapku. Hatiku sangat sedih sekali."


"Apakah kabar yang mengatakan jika gusti patih telah berbuat serong pada gusti ratu dewi saraswati?."


"Kami memang mendengarkan kabar itu gusti patih. Apalagi kabar itu mengatakan, jika gusti pangeran arya fusena adalah putra gusti patih dengan gusti ratu dewi saraswati."


"Kabar itu telah menyebar gusti Patih. Kami semua telah mendengarnya."


Rasanya Patih Rangga Dewa ingin menangis, namun sebisa mungkin ia tahan, sambil menelan pil pahit yang tak pernah ia ketahui manfaatnya untuk apa pada dirinya. Namun pil pahit itu malah memberikan rasa sakit dihatinya, nafasnya menjadi sesak.


"Aku telah mengetahui jika kabar itu akan tersebar dengan cepatnya. Tapi aku harap kalian tidak terpengaruh. Sungguh. Demi dewata yang agung. Aku memang belum menikah, tapi aku tidak akan mungkin mengkhianati kanda prabu. Seorang kakak, yang telah membesarkan aku dengan sepenuh hati." Lagi, ia menghela nafasnya. "Apakah aku pantas?. Melakukan hal buruk pada kakakku sendiri?. Apakah kiranya buruk diriku ini. Sehingga aku difitnah seperti itu?. Bahkan tanpa sadar, karena kemarahan yang menguasai diriku, aku tidak lagi bisa memperlakukan orang lain dengan baik."


"Maafkan aku. Jika selama aku menjadi Patih, aku tidak bisa memberikan tauladan yang baik." Patih Rangga Dewa menatap mereka dengan simpati. "Aku menyeretnya, memperlakukannya dengan kasar. Karena dia dalang yang telah menyebarkan fitnah itu. Dan kini, kanda prabu telah membenciku. Rasanya sangat sedih sekali, berjauhan dengan kakak sendiri karena fitnah."


"Oh gusti Patih. Sungguh gusti patih orang yang sangat baik."


"Jika aku baik, maka tidak ada orang yang benci padaku."


"Justru karena gusti patih orang yang baik, makanya banyak yang membenci gusti patih."


"Itu benar gusti patih. Tapi kami semua sangat mendukung gusti patih. Karena negeri ini bisa aman karena gusti patih."


"Tetaplah berjuang demi kedamaian negeri ini gusti Patih. Kami sangat berharap dengan kerja baik dari gusti patih."


"Kami mengharapkan orang seperti gusti Patih, untuk membangun negeri ini."

__ADS_1


"Sungguh, aku semakin bersalah. Karena telah memberikan kesan buruk pada kalian tadi."


"Tidak apa-apa gusti patih. Marah saja jika perlu."


"Benar gusti patih. Kami yang akan membantu gusti Patih menyeret orang jahat yang telah menyebar kabar buruk tentang gusti patih."


Ada dua orang bapak-bapak yang sangat geram, dan dengan inisiatif mereka membawa Senopati Caraka Tirta. Sedangkan kedua Dharmapati yang memperhatikan itu dari tadi hanya diam saja. Mereka tidak menyangka, jika Patih Rangga Dewa pandai mengambil hati rakyat dengan bermain sandiwara?.


"Mari gusti Patih. Jika kami diperkenankan ikut, kami akan mengantar gusti patih ke istana."


"Mari gusti patih."


"Terima kasih, karena telah mau mengantarku ke istana. Mari semua."


Mereka melangkah menuju ke istana kerajaan Trisakti Triguna. Mereka ingin mengadili Senopati Caraka Tirta?. Bisa jadi seperti itu, sedangkan Senopati Caraka Tirta hanya pasrah, ketika ia dibawa oleh mereka semua.


"Sungguh mengerikan sekali rangga patih."


"Kakang benar. Dia langsung mencari tahu, siapa yang telah menyebarkan fitnah tentang dirinya."


"Sungguh, aku tidak akan pernah berurusan dengan orang seperti dia."


"Kakang takut padanya?."


"Memangnya kau berani berhadapan dengannya?."


"Takut sih."


"Halah sama saja kau rupanya." Dengan kesalnya Dharmapati Laya mencolek bahu temannya itu. Setelah itu mereka ikut menuju istana. Karena mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi dalam sidang nantinya. Mereka penasaran, hukuman apa yang akan diterima oleh Senopati Caraka Tirta, yang telah berani bermain-main dengan Patih Rangga Dewa. Patih yang dicintai oleh rakyat kota raja.


Bisakah Senopati Caraka selamat dari hukuman itu?. Mereka hanya menduga saja. Dan anggap saja ini sebuah pelajaran, karena telah berani berbuat maka ia harus bertanggungjawab atas apa yang telah ia perbuat. Bagaimana nasib mereka?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2