
...***...
Ketika dayang kembali ke Padang tempat Pangeran Arya Fusena latihan. Namun tidak melihat pangeran kesayangan merek di sana. Tentu saja mereka semua panik. Kemana perginya Pangeran Arya Fusena?. Mengapa tidak ada di sini?.
"Apa yang harus kita lakukan?. Kita harus mencari gusti pangeran arya. Atau kita yang akan dibunuh gusti patih, jika terjadi sesuatu pada pangeran kesayangan kita semua."
"Kita harus berpencar mencarinya. Kita akan dalam masalah besar, jika tidak segera menemukan pangeran arya."
"Baiklah. Aku setuju. Tapi bagaimana dengan prajurit yang menyuruh kita ke kandang kuda?."
"Nanti saja kita cari dia. Tapi jika ketemu. Kita hajar saja dia."
"Baiklah. Mari segera kita cari, sebelum gusti patih kembali."
Mereka bergegas mencari keberadaan Pangeran Arya Fusena. Karena mereka takut terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Apakah mereka bisa menemukan keberadaan pangeran kesayangan mereka?. Temukan jawabannya.
...***...
Sedangkan Pangeran Arya Fusena yang dibawa oleh prajurit merasa heran. Karena tidak biasanya Patih Rangga Dewa menyuruhnya ke tempat jauh. Namun ia penasaran apa alasan prajurit itu membawanya ke sini?.
"Kau bukan prajurit istana. Katakan siapa kau sebenarnya?." Matanya melirik ke belakang. Karena ia begitu curiga.
"Oh. Jadi kau sudah sadar?. Apa boleh buat."
Tanpa diduga, prajurit tersebut menyerang Pangeran Arya Fusena. Namun serangan itu bisa diatasi dengan baik oleh Pangeran Arya Fusena. Ia melompat ke belakang, menghindari serangan itu. Setelah itu ia menatap tajam ke arah prajurit itu. "Siapa kau?. Ada permasalahan apa, sehingga kau membawa ku ke sini. Mengapa kau mengajakku kemari?."
"Harga diri!." Ia memberi kode, tak berselang lama kemudian. Ada banyak orang yang keluar dari hutan, dan menyerang Pangeran Arya Fusena.
"Harga diri?." Pangeran Arya Fusena berusaha menghindari semua serangan yang datang padanya. Ia bingung dengan apa yang dikatakan oleh prajurit itu. Apalagi begitu banyak orang yang menyerang dirinya. Sepertinya ini sudah sesuai dengan rencana yang telah mereka buat.
"Kau tidak usah banyak bicara. Karena kau akan mati di sini!." Suara prajurit itu semakin keras. Membentak, hingga muncul kemarahan di dalam dirinya. Ia juga ikut menyerang Pangeran Arya Fusena. Setidaknya ada sekitar lima belas orang yang menyerang Pangeran Arya Fusena saat ini. Akan tetapi, ia tidak akan mengalah begitu saja pada mereka yang berniat buruk padanya.
...***...
Sementara itu, di bagian kelompok dua. Mereka melihat kedatangan teman mereka tanpa adanya Patih Rangga Dewa. Tentu saja mereka merasa heran dan bertanya-tanya, apakah ia gagal melakukan tugasnya?.
"Mengapa kau malah datang sendirian goblok!."
__ADS_1
"Jangan marah-marah dulu. Aku bisa jelaskan. Dengarkan apa yang aku katakan!." Ia kesal juga karena baru saja datang malah dimarahi. "Ternyata rangga dewa sedang tidak ada di istana. Dia sedang meronda. Itu yang mereka katakan ketika aku bertanya pada prajurit istana lainnya."
Mereka tampak berpikir. Apa yang akan mereka lakukan jika Patih Rangga Dewa tidak ada di istana?. Mereka tidak menduga sama sekali masalah ini. Lalu apa yang harus mereka lakukan?. Apakah mereka akan mencari keberadaan Patih Rangga Dewa?.
"Kau!. Pergi ke kelompok satu. Mungkin nanti ada informasi penting di sana. Atau dia akan ikut campur nantinya. Karena kita telah berani menyerang keponakannya!."
"Kalau begitu aku akan pergi dulu." Setelah itu ia meninggalkan tempat.
"Sial!. Malah tidak ada di istana. Dan itu artinya kami masih harus menunggu tindakan selanjutnya." Gerutunya dengan nada kesalnya. Ia tidak tahu akan terjadi seperti ini. Karena target incaran mereka tidak ada. Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Sedangkan orang yang mereka cari, Patih Rangga Dewa saat ini sedang berada di sebuah tempat. Ia sedang duduk di sebuah tempat warung makan. Mungkin ia bisa menemukan informasi tentang orang-orang yang menyerang Pangeran kesayangannya. Tentunya ia menyamar, agar tidak ketahuan, jika ia adalah Patih Rangga Dewa. Karena wajahnya yang sangat tidak asing lagi di kerajaan Trisakti Triguna ini.
"Eh. Tahu tidak?."
"Ada apa nyi?. Ada gosip apa lagi yang akan kau bawa."
"Kata kang jala, ia melihat anak buahnya teguh kala sedang mengumpulkan semua anak buahnya."
"Memangnya untuk apa?. Apakah mereka semua akan berbicara kerusuhan lagi?."
"Tapi bukankah beberapa bulan yang lalu sempat diusir seseorang ya?."
"Oh. Itu mah gusti patih. Siapa lagi kalau bukan gusti Patih yang berani mengusir siapa saja yang berbuat keonaran di negeri ini."
"Gusti patih?. Dari mana kau bisa tahu jika itu adalah gusti Patih?."
"Karena yang sedang menikmati santapan di kedaiku waktu itu adalah gusti pangeran arya fusena. Dan aku sangat yakin, jika itu adalah gusti patih."
"Lalu apa hubungannya mereka mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya?. Memangnya mereka mau menyatakan perang dengan gusti patih?."
"Bisa jadi begitu. Atau malah menyerang gusti pangeran arya fusena. Kita tidak mengetahui siapa yang menjadi target mereka bukan?."
Tentu saja Patih Rangga Dewa terkejut mendengarkan apa yang mereka katakan. Spontan ia berdiri, meninggalkan beberapa uang koin di atas meja.
BRAK!!!.
__ADS_1
Sedangkan mereka semua langsung melihat kearahnya karena merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh orang asing itu. Apalagi suara gebrakan meja yang kuat, membuat mereka terperanjat terkejut.
"Siapa dia nyi?."
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Jangan-jangan dia gusti Patih."
Mereka hanya bisa menebak siapa orang yang baru saja pergi dengan buru-buru. Tapi setidaknya mereka berharap orang itu bukan orang jahat. Mereka sangat takut, jika orang itu orang jahat.
"Aku harus segera kembali ke istana. Aku harus memastikan, jika nanda pangeran arya baik-baik saja." Hatinya mulai gelisah, takut, dan cemas akan keselamatan keponakannya itu. "Semoga saja nanda pangeran arya berada di istana." Dalam hatinya sangat berharap, kabar yang ia dengar, itu hanyalah kabar gosip saja. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temuan jawabannya.
...***...
Kembali pada pertarungan Pangeran Arya Fusena. Sepertinya ia sedikit kewalahan menghadapai mereka. Saat ini ia sedang dikepung oleh mereka semua. Keadaannya benar-benar terdesak, karena kalah jumlah. Tapi sebisa mungkin ia akan bersikap tenang, supaya mereka tidak merendahkan dirinya.
"Arya fusena!. Sebaiknya kau menyerah saja!. Karena percuma saja kau menghadapi kami!."
"Memangnya siapa kalian, menyuruh aku untuk menyerah?. Apa kesalahanku, sehingga kalian ingin menangkap aku?."
Mereka saling bertatapan, karena mereka tidak mengetahui secara pasti apa permasalahannya.
"Tidak usah banyak bicara atau bertanya!. Kami tidak suka dengan orang yang pandai tebar pesona."
"Selain itu kau berpura-pura tidak tahu, dan terus melanjutkan makan!. Harusnya kau tunduk pada kami, dan menghormati kami ketika kami datang!."
"Hanya karena kau seorang pangeran, bukan berarti kau boleh membanggakan diri, sehingga kami harus menyingkir!."
"Hum, makan?. Berpura-pura tidak tahu?." Pangeran Arya Fusena mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan tiba-tiba ia jadi tertawa sendiri, mengingat kejadian hari itu. "Hehehe jika kalian merasa tersinggung, aku minta maaf. Tapi pada saat itu aku sedang lapar."
"Hah?." Mereka merasa aneh dengan ucapan Pangeran Arya Fusena.
"Kalian juga sih. Aku sedang lapar, ya aku lanjutkan makan lah." Pangeran Arya Fusena mencoba bersikap santai. "Kalian datang pada waktu yang tidak tepat. Lagipula, ada empat dayang yang menghadapi kalian. Juga paman patih yang menghadapi kalian. Apakah masih kurang?. Hum?."
"Halah!. Tidak usah banyak bicara!. Kita habisi saja dia!."
Pangeran Arya Fusena kembali diserang oleh mereka yang merasa Tidak suka, dengan apa yang dikatakan olehnya. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...