PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 57


__ADS_3

...***...


Tubuh Patih Rangga Dewa diselimuti hawa biru yang sangat terang. Membuat mereka semua hampir tidak bisa melihat ke arahnya. Saat ini ia sedang dikuasai oleh kemarahan naga biru liar. Kesadarannya benar-benar telah dikendalikan oleh kemarahannya sendiri. Bahkan ia tidak lagi dapat lagi mengenali dirinya sendiri kecuali kemarahan. Apakah ia tidak bisa mengendalikan kemarahannya itu?.


"Heh!. Ini yang aku tunggu-tunggu rangga dewa. Meskipun sebelumnya aku hampir saja terbunuh oleh mu. Namun kali ini berbeda rangga dewa." Pangeran Brama Adijaya menyeringai lebar. Seakan-akan ia mampu mengatasi Patih Rangga Dewa dalam keadaan seperti itu. "Aku mengetahui jika kau masih dikuasai oleh Sukma naga biru liar. Karena tidak mungkin kau ataupun kakak mu itu bisa mengusir sukma naga biru liar begitu saja." Ia masih ingat dengan apa yang terjadi pada saat itu.


"Ahaha!. Kau sangat hebat sekali brama adijaya. Kau bisa membuat rangga dewa terdesak seperti itu." Sareh Wiyono malah tertawa bahagia saat melihat itu. Hatinya sangat senang melihat keadaan Patih Rangga Dewa. "Aku tidak menyangka ada kekuatan yang dipancing akan menjadi malapetaka seperti itu. Hebat juga dia, tidak salah aku menyelamatkan dirinya." Dalam hati Sareh Wiyono sangat senang dan tidak menyangka jika ada kekuatan yang seperti itu.


Sedangkan Duri Kosambi dan Suri sama sekali tidak suka dengan kondisi seperti ini. Mereka tidak bisa melihat keadaan Patih Rangga seperti itu. "Apa yang harus kita lakukan duri kosambi?." Suri sangat takut, bahkan tubuhnya bergetar merinding. Namun saat itu Rati dan Rumi datang, dan terkejut melihat kondisi Patih Rangga Dewa. Mereka tidak salah lihat, mereka sangat yakin jika itu adalah hawa yang sangat ganas.


"Apakah itu gusti patih?." Rati sampai menyipitkan matanya memastikan jika itu adalah Patih Rangga Dewa.


"Itu gusti patih." Jawab Suri.


"Gawat. Aku harus kembali lagi ke istana. Aku harus mengatakan pada gusti prabu bagaimana keadaan gusti Patih saat ini." Rumi tampak cemas, ia takut Patih Rangga Dewa mengamuk, dan membunuh mereka semua.


"Itu lebih baik. Kami akan memantau keadaan gusti Patih. Karena kami tidak akan sanggup untuk menghentikan gusti patih jika begini kondisinya." Suri sangat kenal bagaimana keganasan dari Patih Rangga Dewa jika kekuatan jahat itu lepas kendali dari dalam dirinya.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus kembali, dan memberi tahu gusti prabu masalah ini. Kalian tetaplah di sini." Rumi langsung bergegas meninggalkan tempat. Ia kembali lagi ke istana kerajaan Trisakti Triguna untuk melaporkan keadaan Patih Rangga Dewa.


"Lalu bagaimana dengan kita?. Apakah kita harus turun tangan juga?." Suri melirik ke arah kedua temannya.


"Tidak. Untuk sementara waktu kita tidak bisa ikut campur. Jika kita tewas karena gusti patih yang seperti ini, nanti siapa yang akan membantunya untuk menghajar para petinggi istana." Duri Kosambi sangat khawatir jika mereka mencoba untuk ikut campur, ia tidak bisa menjamin keselamatan mereka semua.


"Benar apa yang dikatakan duri kosambi. Kita harus menjauh sampai gusti prabu maharaja sura fusena datang. Untuk sementara kita menjauh." Rumi juga mengerti kondisi Patih Rangga dewa yang sangat tidak bersahabat sama sekali.


"Baiklah, jika memang begitu, mari kita menjauh untuk sementara." Suri mengerti akan keadaannya.


Setelah itu mereka berlindung, mencari tempat yang aman. Sedangkan Sareh Wiyono hanya melihat mereka yang terbang menjauh?. "Dasar pengecut!. Anak buah macam apa itu?. Meninggalkan junjungannya dalam keadaan seperti itu?. Dasar anak buah tidak berguna!." Sareh Wiyono malah mengumpat sendiri.


"Diam kau kakek tua!. Jika kau mau bertarung dengan gusti Patih pergilah." Duri Kosambi sangat kesal dikatai pengecut oleh Sareh Wiyono.


"Hah!. Kalian itu memang tidak berguna!." Tak mau membuang waktu terlalu lama, ia ikut bergabung dalam pertarungan itu. Dimana pangeran Brama Adijaya masih berharap dengan Patih Rangga Dewa. Mereka bertarung dengan sangat ganas, tidak mengenal kata baik-baik lagi. Pilihannya hanya mati, atau menang bagi yang kuat.


"Sudahlah duri kosambi. Tidak ada gunanya kau marah. Biarkan saja dia bertarung sampai mati dengan gusti patih. Kita perhatikan saja mereka dari sini." Suri mencoba untuk menenangkan Duri Kosambi.


"Benar yang dikatakan suri. Dia hanya belum mengetahui betapa ganasnya hawa sukma naga biru liar itu jika dipancing paksa keluar dari tubuhnya gusti Patih." Meskipun hanya mendengarkan cerita dari teman-temannya, namun ia percaya jika kekuatan naga biru liar itu tidak mudah dikalahkan begitu saja.

__ADS_1


"Kurang ajar kau rangga dewa!. Kau malah semakin kuat dalam keadaan gila seperti ini!." Teriak Pangeran Brama Adijaya sudah tidak tahan lagi dengan kekuatan Patih Rangga Dewa. Tenaga dalamnya seakan dimakan oleh hawa biru yang menyelimuti tubuh Patih Rangga Dewa. Begitu juga dengan Sareh Wiyono yang sebelumnya memang terluka setelah bertarung dengan Duri Kosambi dan Suri.


"Heh!. Kalian terlalu meremehkan kekuatan ganas gusti Patih. Kalian pikir, hanya dengan menggunakan jurus cakar elang berburu mangsa itu bisa menghentikan ganasnya gusti Patih?!. Jangan banyak bermimpi kau pangeran brama adijaya!." Duri Kosambi sengaja mengeraskan suaranya, agar bisa didengar oleh Pangeran Brama Adijaya.


"Hei!. Tua bangka!. Sebaiknya kau dengarkan saran ku!. Sebagainya kau pergi dari sana, dan lupakan dendam mu yang tidak berguna itu!." Suri juga mengeraskan suaranya. Agar bisa didengarkan oleh Sareh Wiyono.


Baru saja mereka berkata seperti itu tadi, namun malah menjadi kenyataan. Karena tidak mudah melawan kekuatan ganas seperti itu. Sementara itu, Pangeran Brama Adijaya dan Sareh Wiyono melompat menjauhi Patih Rangga Dewa, karena tenaga mereka benar-benar terkuras. Mereka membalas ucapan Duri Kosambi dan Suri dengan kesalnya. Mereka merasa dipermainkan oleh mereka semua.


"Kurang ajar!. Jaga ucapan kalian!. Akan aku hajar kalian setelah pertarungan ini selesai." Nafasnya benar-benar hampir putus bertarung dengan Patih Rangga Dewa yang tidak bisa dikendalikan lagi. Pangeran Brama Adijaya tidak terima dengan ucapan Duri Kosambi.


"Hei!. Kau wanita ******." Sareh Wiyono menunjuk ke arah Suri. "Akan buat kau berteriak keenakan setelah ini. Jadi tunggu saja setelah aku membunuh rangga dewa!. Ahahaha!." Sareh Wiyono malah tertawa terbahak-bahak membayangkan apa yang akan ia lakukan pada Suri.


"Benar-benar tua bangka tidak tahu diri!." Balas Suri dengan penuh emosi. "Lakukan saja kalau kau bisa. Aku yakin kau akan dibunuh dulu oleh gusti patih." Suri sangat benci dengan lelaki seperti itu. Ia bersumpah akan menjadi saksi laki-laki tua itu terbunuh oleh Patih Rangga Dewa.


Sementara itu di alam bawah sadar Patih Rangga Dewa. Saat ini ia sedang melihat naga biru yang sangat besar dihadapannya. Naga itu seakan hendak memakannya. Naga biru yang masuk ke dalam tubuhnya ketika ia masih remaja. Kala itu ayahandanya masih hidup, dan disaat ia bersama ayahandanya.


"Kenapa kau ingin sekali menguasai diriku!. Kenapa kau betah sekali di dalam tubuhku!." Teriak Patih Rangga Dewa dengan amarah yang membuncah. Ia dari tadi berusaha untuk menyerang naga biru liar itu.


"Kau itu adalah wadah yang cocok rangga dewa. Jadi aku merasa nyaman bila bersamamu. Terima saja takdirnya, bahwa kau adalah wadah yang sangat cocok untukku." Naga Biru Liar itu malah merasa senang bertarung dengan Patih Rangga Dewa di alam sukma. "Aku belum pernah menemukan wadah yang segar seperti kau. Jadi aku merasa nyaman tinggal di dalam tubuhmu ini rangga dewa." Sukma naga biru liar itu seakan menyeringai lebar. Hatinya sangat senang, dan ia belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya


"Hahaha!. Percuma saja rangga dewa. Kau tidak akan mampu mengusirku dari dalam tubuhku. Karena kita telah lama bersama, dan aku adalah dewa pelindung mu Rangga dewa!. Terimalah kenyataan itu, dan biarkan aku yang mengambil alih tubuhmu!. Biar aku tunjukkan kepada mereka, bahwa kau memiliki kekuatan yang berbeda dengan mereka!." Naga Biru Liar malah semakin bersemangat.


"Kau pasti akan aku usir secepatnya bedebah!. Supaya aku bisa mengendalikan diriku lagi." Patih Rangga Dewa semakin terbakar amarah. Hingga di alam nyata, ia semakin ganas menyerang Pangeran Brama Adijaya dan Sareh Wiyono. Apakah mereka berhasil mengalahkan Patih Rangga Dewa?. Hanya waktu yang akan menjawab.


...***...


Rumi telah sampai di halaman istana. Karena terlalu banyak menggunakan tenaga dalam supaya cepat sampai ke istana ini. Sehingga nafasnya terasa sangat sesak, hingga ia lupa cara bernafas dengan baik.


"Uhuk, uhuk. Lelah juga menggunakan jurus meringankan tubuh sebanyak itu supaya cepat sampai ke istana." Rumi mengatur hawa murninya agar tidak kacau. Nafasnya juga sedikit ngos-ngosan. Setelah agak mulai tenang, ia bergegas masuk ke dalam istana menemui Prabu Maharaja Sura Fusena. Begitu itu bertemu dengan Prabu Maharaja Sura Fusena, ia langsung memberi hormat pada sang prabu.


"Bukankah kau suri?. Dimana dinda patih?. Kenapa dia tidak datang bersamamu?. Bukankah aku menyuruhmu untuk menjemput dinda Patih?." Prabu Maharaja Sura Fusena terkejut melihat kedatangan Rumi. Sehingga ia banyak bertanya pada datang yang selalu bersama anaknya pangeran Arya Fusena.


Sedangkan Rumi langsung bersujud dihadapan sang Prabu. "Mohon ampun gusti prabu. Maafkan hamba jika hamba tidak bisa membawa gusti Patih." Rumi memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Agak berat ia mengatakan pada Prabu Maharaja Sura Fusena. "Hamba tidak bisa membawa gusti patih ke istana ini." Karena perasaan takut, ia mengulangi ucapannya.


"Kenapa?!." Suara sang prabu terdengar meninggi. Perasaannya tidak karuan saat ini. "Kenapa kau tidak bisa membawa dinda patih ke istana ini?. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?. Apakah ia menolak saat aku menyuruhmu untuk membawanya ke istana ini?." Perasaanya sangat gelisah dan tidak nyaman sama sekali. Ia hanya berpikir jika adiknya tidak mau di ajak ke istana ini?. Sungguh pikiran yang masih jernih untuk ukuran seorang raja.


"Gusti Patih saat ini lepas kendali di perbatasan masuk kota raja. Saat hamba sampai, gusti patih telah dikuasai oleh kemarahannya sendiri gusti prabu. Ampuni hamba." Dengan perasaan takut Rumi mengatakannya pada Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia takut sang prabu akan marah besar padanya.

__ADS_1


Prabu Maharaja Sura Fusena berusaha menahan emosinya. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera melangkah dengan cepat. Perasaan gelisah mengenai adiknya saat ini lebih penting dari pada marah-marah. "Kenapa lagi dengannya?. Apa yang menyebabkan adikku dinda patih mengamuk?." Ia melangkah dengan cepat, ingin melihat keadaan adiknya.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja. Sepertinya gusti prabu sedang marah." Dalam hati Rumi berharap saat ia ke sana nanti, Prabu Maharaja Sura Fusena tidak membunuh pangeran Brama Adijaya karena telah berani menyinggung adiknya. "Jika aku tadi mengatakan jika adiknya mengamuk karena pangeran brama adijaya, aku pastikan gusti prabu akan marah besar. Aku tidak mau terkena amukan gusti prabu, hii!." Rumi sangat takut membayangkan jika Prabu Maharaja Sura Fusena sampai marah besar pada Pangeran Brama Adijaya. Rumi hanya berdoa semoga kerajaan ini tidak dibanjiri darah.


...***...


Kembali ke pertarungan.


Patih Rangga Dewa yang dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia mengeluarkan tiga golok cakar naga. Golok yang sangat kuat, sehingga Sareh Wiyono dan pangeran Brama Adijaya mengalami luka yang sangat dalam. Ternyata tiga golok cakar terwujud sampai di alam nyata. Tiga golok cakar naga memiliki hawa yang sangat berbahaya dari senjata apapun. Tiga golok cakar naga, jika telah digunakan oleh orang yang diinginkan Sukma naga biru liar, maka jangan harap dapat mengalahkan penggunanya dengan mudah.


"Ohokgh." Keduanya terbatuk darah, mereka benar-benar dihajar habis-habisan oleh Patih Rangga Dewa. Tenaga mereka semakin berkurang, dan mereka hampir saja tidak bisa bergerak lagi.


"Matilah kau brama adijaya!. Itu hukuman buatmu yang terlalu sombong karena telah berani memancing jiwa liar gusti patih!." Sempat kembali kesadarannya, namun hatinya dipenuhi oleh kebencian. Pangeran Brama Adijaya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"Diam kau budak!. Hah!. Aku tidak butuh-." Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya.


SRAKH!.


Matanya terbelalak lebar melihat kepala Sareh Wiyono gurunya dipenggal tanpa perasaan oleh Patih Rangga Dewa. Darahnya sampai memuncrat mengenai wajahnya. Matanya terbelalak terkejut ketika melihat kepala Sareh Wiyono lepas dari tubuhnya. Tanpa adanya suara teriakan ataupun rintihan kesakitan, Sareh Wiyono telah memenuhi ajalnya?. Malang sekali nasib laki-laki tua itu harus berkahir dengan sangat mengenaskan.


"Sangat mengerikan." Duri Kosambi, Suri dan Rati sampai terpaku di tempat. Tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mereka.


"Kau juga akan mati di tangan ku pangeran bodoh." Suara Patih Rangga Dewa terdengar lebih berat, seringaiannya terlihat menyeramkan. Membuat Pangeran Brama Adijaya tak dapat melakukan apa-apa lagi.


Salah satu golok itu diayunkan ke arah leher Pangeran Brama Adijaya, namun terdengar suara dentingan yang sangat kuat. Ternyata pedang penyegel sukma milik Prabu Maharaja Sura Fusena.


DUAKH!.


Prabu Maharaja Sura Fusena menendang kuat Pangeran Brama Adijaya hingga tersungkur ke tanah. "Urusan kita belum selesai!. Setelah aku berhasil menangkan adikku!. Kau harus menerima hukuman dariku!." Suara Prabu Maharaja Sura Fusena terdengar sangat keras, dan sorot matanya menatap tajam ke arah Pangeran Brama Adijaya yang pasrah. "Kalian!. Amankan pangeran kurang ajar itu!." Perintahnya pada mereka semua.


"Sandika gusti prabu." Duri Kosambi dan yang lainnya segera menjalankan perintah junjungan mereka.


Sementara itu Prabu Maharaja Sura Fusena sedang mencoba untuk menyalurkan hawa murninya ke dalam pedang Penyegel sukma miliknya. Sedangkan Patih Rangga Dewa merasa aneh, ia tidak lagi berhadapan dengan Naga Biru Liar. "Kemana naga bodoh itu pergi?." Matanya dengan liar mencari keberadaan Naga Biru Liar.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2