
...***...
Prabu Maharaja Sura Fusena, Patih Rangga Dewa, Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa Fusena saat ini berada di bilik Pangeran Arya Fusena yang masih ditemani oleh Ratu Dewi Saraswati. Mereka semua senang, melihat keadaan Pangeran kesayangan mereka baik-baik saja.
"Maafkan ayahanda putraku nanda pangeran arya. Sungguh, pada saat itu ayahanda sedang kalap nak."
Pangeran Arya Fusena menatap iba ke arah ibundanya yang tersenyum kecil padanya. Ia masih merasa sedih karena kejadian itu. "Um." Pangeran Arya Fusena menganggukkan kepalanya, ia juga masih takut pada ayahandanya.
"Terima kasih nak." Prabu Maharaja Sura Fusena memeluk erat anaknya. Ia bersumpah, tidak akan lagi membuat anaknya ketakutan karena dirinya. Apalagi sampai memukul anaknya, ia tidak telah bersumpah tidak akan melakukannya lagi. "Sebagai gantinya, nanti ayahanda ajarkan jurus baru pada nanda." Prabu Maharaja Sura Fusena mencium puncak kepala anaknya.
"Terima kasih ayahanda prabu."
Akan tetapi, kedua anaknya yang lainnya merasa iri. Karena mereka juga ingin dekat dengan Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Apakah hanya dinda arya saja yang ayahanda prabu ajarkan?."
"Apakah kami tidak boleh ikut ayahanda?."
"Tentu saja boleh ikut." Prabu Maharaja Sura Fusena menatap kedua anaknya dengan senyuman ramah. Ia tentunya sangat menyayangi semua anak-anaknya.
"Nah. Ini baru namanya keluarga. Akur, baikan, dan juga saling percaya."
"Dinda Patih benar. Tapi bagaimana dengan dinda patih sendiri?. Apakah belum kepengen punya anak juga?."
"Iya, pengen lah kanda prabu."
"Kalau begitu segera menikah, biar tidak menimbulkan fitnah. Umm." Prabu Maharaja Sura Fusena berpose sedang berpikir. "Setidaknya lima anak, biar lebih bahagia lagi memiliki banyak anak."
"Haduh. Aku ini manusia kanda prabu, bukan kucing yang sekali menikah memiliki banyak anak." Patih Rangga Dewa sampai garuk-garuk kepala saking herannya dengan perkataan Prabu Maharaja Sura.
"Jadi kau mengatakan aku ini kucing rangga dewa?."
__ADS_1
"Alalah, kenapa malah kanda prabu yang tersungging, eh tersinggung maksudku." Patih Rangga Dewa mengernyit heran.
Sedangkan Ratu Dewi Saraswati, Pangeran Arya Fusena, pangeran Birawa Fusena, dan Putri Rara Wulan malah tertawa melihat lelucon yang keluar dari kedua adik kakak itu. Apakah keduanya berniat membuat suasana di sana agar tidak tegang karena kondisi Pangeran Arya Fusena masih sedih?. Bisa jadi seperti itu yang terjadi.
...***...
Di suatu tempat yang cukup ramai. Seorang laki-laki sedang mengamati pasar kota raja. Matanya menatap tajam mereka yang sedang melakukan kegiatan masing-masing.
"Sura fusena. Negeri yang kau dirikan hari ini boleh saja aman. Namun lihat saja nanti. Akan aku buat kau menderita." Ada perasaan sakit hati yang tertanam di dalam dirinya yang harus segera ia keluarkan. Perasaan dendam, benci, amarah, gejolak yang membakar dadanya tentang kekalahan masa lalunya.
"Pendekar golongan hitam sudah siap untuk menjajal kesaktian yang mereka memiliki. Dan aku sebagai ketuanya, telah bertekad, merebut tahta yang kau miliki sura fusena. Aku harap kau siap ketika kami datang menyerbu istanamu dalam waktu dekat ini. Setelah aku berhasil bertemu dengan mereka semua." Jantungnya sampai berdetak kencang, memikirkan rencana besar yang akan ia jalankan.
Setelah itu ia menghilang dari sana. Meninggalkan perbatasan kota raja. Akan tetapi ia malau bertemu dengan sekelompok orang yang sepertinya ada keperluan dengan orang-orang kota raja?.
"Hei!. Siapa kau?. Datang dari kota raja kau?."
"Sepertinya kalian hanyalah kawanan tukang perusuh saja." Dengan santainya ia berkata. Seakan tidak peduli dengan jumlah mereka yang hampir mencapai dua puluh orang. Ia duduk santai di salah satu batang pohon yang sudah mati. Mengamati kukunya yang sudah mulai panjang. "Aku belum memotong kuku dengan rapi ternyata." Ucapnya dengan santainya.
"Hei!. Orang asing!. Siapa kau berani bersikap merendahkan kami, hah?. Kau pikir kau seorang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga kau berani seperti itu hah?."
"Fuh." Pendekar yang sama sekali tidak diketahui itu meniup kukunya. Setelah itu ia melirik ke arah mereka semua sambil tersenyum kecil. "Kalian bukanlah lawan yang sepadan denganku. Jadi kalian tidak usah banyak bicara, atau sok menunjukkan taring tumpul kalian itu."
"Hah?. Kau ini berkata apa?."
"Jika kau merasa lebih kuat dari kami, sebaiknya maju saja. Biar kami mengetahui, seberapa hebat ilmu kanuragan yang kau miliki."
"Jangan anggap remeh kami semua. Kami ini adalah tukang rusuh kelas atas. Bahkan raja minta ampun pada kami karena daerahnya kami buat sebagai ladang kerusuhan."
"Sebaiknya kau menyerah saja, atau tinggalkan tempat ini. Sebelum kami semua menghajarmu."
Pendekar asing itu malah tertawa terbahak-bahak, mendengarkan apa yang mereka katakan. Rasanya ada sebuah lelucon yang membuatnya tertawa keras seperti itu.
__ADS_1
"Bedebah!. Kau memang harus kami hajar!."
"Serang saja dia!."
Akan tetapi, ketika tiga orang dari mereka yang maju, dan hendak membacok Pendekar tersebut. Mereka semua terkejut, karena Pendekar asing itu malah menghilang. Kemana dia pergi?. Bagaimana bisa ia menghilang seperti itu?.
"Ahaha, ahaha, ahaha." Hanya suara tawa saja yang terdengar oleh mereka, namun mereka sama sekali tidak melihat wujud Pendekar asing itu.
"Sial. Jurus apa yang ia gunakan, sehingga ia tidak terlihat sama sekali?."
"Sepertinya dia bukan pendekar sembarangan. Kita harus waspada terhadapnya."
"Hei!. Pengecut!. Tunjukkan dimana kau berada?. Jangan hanya bisa menyembunyikan diri saja!."
"Apakah kau takut pada kami semua?. Sehingga kau bersembunyi seperti itu?."
Namun apa yang terjadi setelah mereka berkata seperti itu?. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka mendapatkan serangan gaib, berupa tenaga dalam. Tubuh orang tersebut kaku, dan akhirnya apa yang terjadi?. Tubuh orang tersebut malah meledak. Tentunya membuat mereka semua terkejut, dan semakin waspada.
"Jangan sembarang kalau bicara. Kalian pikir-." Ia memperlihatkan wujudnya yang saat ini berada di atas mereka semua. Ia bisa berdiri di udara?. Bagaimana bisa ia melakukannya?. Apakah ia memiliki kekuatan khusus sehingga ia melakukannya?. Mereka semua menatap ke arahnya. Kepala mereka semua menengadah melihat Pendekar asing itu dengan geramnya.
"Kau telah membunuh kawan kami!. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang kau lakukan."
"Turun kau!. Sebaiknya kau jangan bermain-main dengan kami."
"Ahahaha masih saja belum mengerti?. Aku ini adalah seorang pendekar terkuat di muka bumi ini. Sebaiknya kalian menyerah, tunduk padaku, dan menuruti semua apa yang aku perintahkan pada kalian semua."
"Bajingan tengik, cuih. Kami tidak sudi menjadi budakmu!. Mari kita bertarung dengan jantan, itupun kalau kau masih merasa jantan tangguh."
Apakah yang akan terjadi?. Apakah pertarungan itu akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1