
...
...
...***...
Mereka semua melihat kedatangan Patih Rangga Dewa yang sedang menggendong Pangeran Arya Fusena?. Tentunya menjadi pertanyaan bagi mereka. Bagaimana mungkin bisa bersama?. Dan sepertinya Pangeran Arya Fusena matanya terpejam?. Apa karena pingsan?. Atau apa?.
"Paman Patih. Apa yang terjadi pada dinda arya?."
"Gusti Patih, apakah gusti pangeran arya baik-baik saja?."
"Sssssssssh." Patih Rangga Dewa memberi kode pada mereka agar tidak terlalu ribut. "Nanda pangeran arya sedang tertidur. Karena kelelahan setelah bertarung dengan kawanan tukang rusuh. Jadi biarkan paman membawa nanda pangeran arya masuk ke dalam."
Mereka semua menghela napas dengan pelan. Karena merasa lega mendengarkan penjelasan Patih Rangga Dewa.
"Mari masuk paman Patih. Kasihan dinda arya. Aku akan mengobati luka-lukanya."
"Baiklah kalau begitu. Mari kita masuk."
"Aku juga ikut paman patih."
"Um." Patih Rangga Dewa hanya mengangguk kecil pada Pangeran Birawa Fusena yang terlihat cemas pada adiknya.
Mereka semua masuk ke dalam istana untuk membawa Pangeran Arya Fusena menuju biliknya, dan untuk diobati luka-luka yang ia alami.
"Syukurlah gusti pangeran baik-baik."
"Oh kami bisa dibunuh oleh gusti Patih jika seperti ini."
"Aku harap gusti patih tidak menghukum kami."
"Oh dewata yang agung. Semoga kami semuanya masih bisa melihat bulan yang indah malam ini."
Dalam hati keempat dayang tersebut berharap, jika mereka semua masih baik-baik saja. Mereka berharap, Patih Rangga Dewa tidak langsung menghukum mereka.
"Huuuuf syukurlah dinda arya hanya tertidur. Jika sempat pingsan tidak sadarkan diri. Aku tidak yakin mereka akan hidup sampai malam nanti." Dalam hati Putri Rara Wulan merasa iba melihat keempat dayang yang selalu bersama adiknya itu, karena menerima amukan Patih Rangga Dewa. Mereka telah lalai dalam menjaga Pangeran Arya Fusena. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, masih dilingkungan Istana. Ada seorang Senopati yang yang sedang berbincang dengan temannya yang lainnya. Mereka membicarakan masalah serius.
"Kau yakin?. Dengan apa yang kau lihat?."
"Tentu saja aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat."
"Masalahnya kita nanti akan berhadapan dengan gusti Patih. Aku tidak mau bernasib sama dengan kaca para. Maaf saja, aku masih sayang nyawa."
__ADS_1
"Tapi ini memang harus kita selidiki. Tentunya dihadapan gusti prabu."
"Iya, tapi masalahnya bagaimana caranya kita menjelaskan pada gusti prabu."
"Aku sangat yakin jika gusti ratu dewi saraswati telah main serong dengan rangga dewa sejak lama."
"Apa buktinya jika mereka benar-benar melakukan perbuatan itu?. Jika kita tidak bisa membuktikan jika ia bersalah, nanti malah kita yang kena imbasnya."
"Pangeran arya fusena. Itu adalah bukti dari serong keduanya."
"Pangeran Arya fusena?." Kedua temannya bersamaan menyebut nama pangeran Arya Fusena.
"Wajahnya lebih mirip dengan rangga dewa dibandingkan dengan gusti prabu. Apakah kalian tidak merasakan kemiripan wajah mereka?. Serta semua orang dilingkungan istana mengetahui bahwa rangga dewa lebih menyayangi arya Fusena dibandingkan keponakannya yang lainnya."
Kedua temannya itu terlihat berpikir mendengarkan apa yang dikatakan Senopati Caraka Tirta. Mereka memang mengetahui, jika Pangeran Arya Fusena adalah pangeran kesayangan bagi semua orang karena ketampanan yang ia miliki.
"Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa pangeran arya adalah anak hasil serong rangga dewa dengan dewi saraswati."
"Namun, jika dilihat dari sikapnya rangga dewa terhadap pangeran arya bisa jadi seperti itu."
"Lalu bagaimana?. Apakah kita akan melaporkan masalah ini kepada gusti prabu?."
"Tapi kita harus mencari dukungan yang sangat kuat. Agar senjata yang kita gunakan untuk menjatuhkan rangga dewa, tidak menjadi senjata makan tuan bagi kita nantinya."
"Kali ini kita akan menjebaknya. Aku yakin dia akan mengakui kesalahannya itu."
"Kalau kita sudah sepakat, maka kita mulai saja. Aku benar-benar dipermalukan oleh rangga dewa dihadapan semua penggawa istana pada saat itu."
Mereka bertiga malah tertawa mendengarkan apa yang terucap dari Dharmapati Tara Depati.
"Oooh. Waktu itu ya?. Aku masih ingat saat kau diadili. Kau dicaci maki oleh istrimu dihadapan umum."
"Hush!. Jangan ingatkan aku kejadian memalukan itu. Rasanya ingin aku bunuh rangga dewa saking malunya aku pada saat itu." Dengan wajah yang cemberut, Dharmapati Tara Depati. Mereka sama sekali tidak menduga akan diperhatikan oleh Patih Rangga Dewa.
"Kalau begitu aku sudah tidak ragu lagi ikut dalam rencana ini."
"Bagus!. Kita tidak boleh takut. Kita akan membalas semua perbuatan rangga dewa pada kita semua."
"Tentu saja harus dibalas. Karena malu harus dibalas malu juga."
Mereka ternyata sedang membuat rencana ingin menjatuhkan nama baik, serta ingin mempermalukan Patih Rangga Dewa. Karena itulah mereka membuat rencana yang matang agar tidak menjadi senjata makan tuan. Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke Istana.
Ratu Dewi Saraswati, dan Prabu Maharaja Sura Fusena sangat khawatir mendengar kabar tentang anaknya. Mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Pangeran Arya Fusena.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada nanda arya?. Sehingga kondisinya seperti ini dinda patih?."
"Mohon ampun kanda prabu. Nanda pangeran arya baik-baik saja. Karena kelelahan setelah latihan, ia langsung tidur."
"Latihan?. Latihan apa yang ia lakukan sehingga ia mengalami luka-luka seperti itu?."
"Sekali lagi maafkan aku kanda prabu. Aku tadi tidak bisa menolak keinginannya untuk berlatih." Patih Rangga Dewa terpaksa berbohong. Karena ia tidak mau membuat mereka semua khawatir.
"Ayahanda prabu. Dinda arya hanya ingin menjadi kuat saja. Karena dinda arya tidak ingin dibilang manja. Mungkin karena itu dinda arya memaksa paman Patih untuk melatih dirinya."
"Ayahanda prabu tenang saja. Kami akan menjaga dinda arya malam ini. Ayahanda tidak usah khawatir."
"Baiklah nak. Ayahanda percayakan nanda arya pada kalian."
"Nanda juga akan menjaga dinda arya ibunda."
"Terima kasih nanda pangeran birawa. Ibunda senang mendengarnya."
"Tentu saja ibunda. Serahkan saja nanda. Ibunda tidak perlu khawatir."
Ratu Dewi Saraswati tersenyum lembut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa. Ia tidak pernah menduga ini sebelumnya. Begitu juga dengan Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Ayahanda sangat bangga memiliki kalian. Rasanya ayahanda sangat terharu."
"Ayahanda jangan berkata seperti itu."
"Kami jadi malu."
Mereka hanya tertawa kecil melihat tingkah malu keduanya. Namun setidaknya mereka semua merasa lega karena Pangeran kesayangan mereka baik-baik saja. Setelah itu Ratu Dewi Saraswati dan Prabu Maharaja Sura Fusena pergi meninggalkan bilik anaknya. Namun saat itu Patih Rangga Dewa masih penasaran bagaimana bisa Pangeran Arya Fusena bisa berhadapan dengan komplotan perusuh?.
"Kalian semua jelaskan padaku. Bagaimana bisa nanda pangeran arya pergi meninggalkan istana?."
"Mohon ampun gusti Patih. Saat itu ada prajurit yang mengatakan jika gusti Patih memanggil kami ke kandang kuda."
"Benar gusti patih. Tenyata prajurit itu telah menipu kami."
"Sungguh maafkan kami gusti Patih."
"Ampuni kami yang tidak bisa menjaga gusti pangeran."
Patih Rangga Dewa menghela nafasnya dengan pelan. Ia ingin marah, namun pasti akan mengganggu tidurnya pangeran Arya Fusena nantinya.
"Kalian harusnya tahu. Jika aku memberikan kalian tugas penting, pasti aku akan menghampiri kalian. Aku harap kalian tidak melakukan kesalahan lagi. Cukup sekali saja aku berbohong pada kanda prabu. Dan aku tidak akan mengampuni kalian lagi."
"Terima kasih gusti Patih." Ya, memang mereka akui, jika saja Patih Rangga Dewa mengatakan yang sebenarnya, mungkin mereka bisa dihukum berat Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Paman Patih nampaknya juga menyelematkan dayang. Mungkin paman Patih hanya tidak mau mereka kena amukan ayahanda prabu. Makanya paman Patih terpaksa berbohong." Dalam hati Putri Rara mencoba memahami situasi mengapa pamannya tadi mengatakan itu hanyalah latihan.
__ADS_1
"Ternyata paman Patih bukan baik hanya pada satu orang saja. Bahkan pada dayang. Jika saja paman Patih tidak berbohong. Aku yakin, keempat dayang ini akan dihukum berat oleh ayahanda prabu." Dalam hati Pangeran Birawa Fusena juga berpikiran yang sama. Karena itulah ia hanya diam, karena ia yakin apa yang dilakukan oleh Patih Rangga Dewa demi kebaikan semua orang. Bagaimana kelanjutan kisahnya?. Temukan jawabannya.
...***...