PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 32


__ADS_3

...***...


Jamba masih berhadapan dengan orang-orang yang telah berani membuat kerusuhan di desa yang berada di kawasan kerajaan Trisakti Triguna. Setengah dari mereka telah berhasil ia kalahkan, dan sekarang sisanya masih berhadapan dengannya.


"Kalian bukanlah lawanku!. Hanya gusti patih yang mampu mengalahkan aku!."


"Kau jangan banyak bicara orang aneh!. Kami pasti akan mengalah kalian!." 


"Kami pasti akan menghabisi mu!. Kau tidak perlu memamerkan kesaktian yang kau miliki pada kami semua!."


"Kita habisi saja dia!."


Meskipun mereka sedang bertarung, tapi mulut mereka masih bisa berbicara dengan lancarnya tanpa menghiraukan kawan mereka yang satu persatu berhasil dikalahkan oleh Jamba dengan mudahnya.


"Kalian lah yang banyak bicara. Kekuatan kalian tidak seberapa dengan kekuatan yang aku miliki." Jamba mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghentikan mereka semuanya. Mereka terus berdatangan ingin menghajar dirinya seakan tidak ada habisnya.


"Kurang ajar sekali mereka ini. Sepertinya mereka memang berniat membuat aku sibuk di sini." Dari berbagai arah Jamba diserang oleh mereka semua. Sehingga lama-kelamaan ia merasa direpotkan oleh mereka semua.


...***...


Prabu Maharaja Sura Fusena masih berhadapan dengan keempat pendekar golongan hitam. Mereka dengan gencarnya menyerang sang Prabu. Hingga Sang Prabu terkena sepakan kuat tepat di dadanya, membuat sang prabu terjajar beberapa langkah. Namun apa yang terjadi?. Mereka malah menertawakan sang prabu dan merendahkan sang Prabu.


"Aku kira kau lawan yang sepadan sura fusena. Ternyata kau tidak ada apa-apanya. Ahahaha!."


"Ternyata dia tidak sekuat yang kau katakan rahaja dwipa. Baru dicolek sedikit saja sudah melehoi dia. Ahahaha!"


"Dulu dia sangat kuat paman telaga. Itu dulu. Ahahaha." Bahkan Rahaja Dwipa tertawa juga. "Itu dulu. Mungkin karena di terlena dengan kekuasaan yang ia miliki, dia tidak lagi mengasah ilmu kanuragan yang ia miliki. Ahahaha!." Ia kembali tertawa.


"Aku rasa begitu."


"Cuih!. Baru saja seperti itu malah berbangga diri. Benar-benar pendekar rendahan."


Mereka semua marah dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Mereka merasa tersinggung, dan mengancam sang Prabu.


"Rupanya kau ingin cepat-cepat mati menyusul ayahmu sura fusena." Retma Aji menunjuk kiri ke sang Prabu. "Akan aku kabulkan permintaanmu. Akan aku ku tunjukkan padamu bagaimana kematian yang menyakitkan itu."


"Aku juga kan bertarung denganmu paman guru. Aku ingin membalaskan sakit hatiku padanya."


"Terserah kau saja. Yang pasti, aku akan membunuhnya hari ini juga."


"Baiklah paman guru."


"Lalu bagaimana dengan kami kakang?."

__ADS_1


"Jangan abaikan kami kakang."


"Ikut saja."


Sedangkan Prabu Maharaja Sura Fusena sedang memikirkan cara agar bisa mengusir mereka semua dari istana. "Kalau begitu akan aku gunakan trisula milik ayahanda ayahanda prabu." Dalam hati sang Prabu mengingat senjata pusaka yang ditinggalkan oleh mendiang ayahandanya.


...***...


Patih Rangga Dewa telah sampai ditempat tujuannya. Ia mencoba untuk menerawang ke dalam, dengan menggunakan tenaga dalamnya. Benar dugaannya, bahwa tempat ini bukan hanya dikelilingi oleh tenaga dalamnya saja. Melainkan mahkluk halus juga ikut campur dalam menutupi daerah itu.


"Kurang ajar sekali. Mereka sepertinya ingin menguasai daerah ini. Akan aku beri mereka pelajaran." Patih Rangga Dewa mengeluarkan keris pusaka arwah naga merah dari dalam tubuhnya. Keris itu memang agak berbeda dari keris yang lainnya. Kerisnya agak besar, dan berliku-liku seperti naga.


"Kalian telah berani bermain-main dengan rangga dewa. Akan aku tunjukkan pada kalian, bagaimana kekuatan rangga dewa pada kalian." Ia menyalurkan tenaga dalamnya ke keris itu. Sehingga keris itu bercahaya kemerahan, muncul hawa naga merah dari keris itu. Menyelimuti tubuh Patih Rangga Dewa dengan aura yang sangat kuat.


"Hancurlah kau penghalang gaib. Hyah!." Dengan sekali tebasan ia arahkan ke depannya, terdengar ledakan yang sangat kuat. Ledakan itu pertanda bahwa penghalang yang melindungi tempat itu telah hancur.


Namun siapa sangka, Patih Rangga Dewa dikejutkan oleh sosok-sosok yang mengerikan menyerang ke arahnya. Beruntung ia cepat menyadari serangan itu. Patih Rangga Dewa melompat mundur ke belakang, dengan menggunakan jurus meringankan tubuh. Ia menghindari semua serangan makhluk aneh itu.


"Siapa mereka sebenarnya?. Berani sekali mereka menggunakan pagar gaib siluman, supaya tidak ada yang masuk ke rumah itu. Akan aku cari tahu, setelah aku mengalahkan mereka semua dengan menggunakan keris ini." Dalam hati Patih Rangga Dewa merasa kesal dengan apa yang dilakukan orang-orang di dalam rumah itu.


...***...


Jamba telah berhasil meringkus mereka semua. Kini mereka telah terkapar tidak berdaya setelah melawannya. "Dasar tidak berguna. Buang-buang waktu saja." Ia mengatur hawa murninya. Ia mengamati mereka semua yang telah pingsan. "Akan aku laporkan kejadian ini pada gusti Patih. Namun sebelum itu aku-."


Baru saja ia ingin meninggalkan tempat itu, temannya Cadra Baka datang menemuinya. Ia melihat temannya datang dengan terburu-buru, jurus memiringkan tubuh.


"Kau tidak lihat mereka semua terkapar setelah bertarung denganku?."


"Wuoh!. Banyak sekali?." Matanya mengamati berapa banyak orang yang terkapar di sana. "Kau melawannya seorang diri?."


"Memangnya kau lihat siapa lagi selain aku?."


"Hehehe memang mantan pembunuh tingkat tinggi. Kau sangat hebat sekali kawan."


"Berisik. Apa tujuanmu datang menemui aku?. Hah?."


"Ya, jangan galak-galak gitu toh. Aku ini kan temanmu. Aku ke sini karena mencemaskanmu. Aku juga baru saja habis bertarung dengan sekelompok tukang rusuh di desa renja sati."


"Aku rasa ini memang sengaja direncanakan oleh seseorang, atau sekelompok orang."


"Gawat kalau begitu. Kita harus segera mencari gusti patih. Kita harus melaporkan kejadian aneh ini."


"Kalau begitu kita kembali ke istana."

__ADS_1


"Ayok."


Jamba dan Cadra Baka langsung bergegas meninggalkan tempat, karena mereka ingin kembali ke istana. Mereka ingin melaporkan kejadian aneh ini pada Patih Rangga Dewa.


...***...


Kembali ke istana. Pertarungan sengit itu terus berlanjut, Prabu Maharaja Sura Fusena sepertinya memang tidak bisa menghadapi keempat orang itu sendirian. Tenaganya perlahan-lahan terkuras habis karena melawan empat orang sekaligus. Ia terlihat terengah-engah karena kewalahan. Begitu juga dengan mereka, padahal hanya melawan satu orang namun tidak bisa dianggap enteng.


"Kegh." Prabu Maharaja Sura Fusena merintih sakit karena kakinya tergores luka yang cukup dalam. Sehingga menetaskan darah segar.


Sementara keempat pendekar golongan hitam juga terluka karena trisula sakti milik sang prabu. Namun disaat itu, Pangeran Birawa Fusena datang. Ia sangat khawatir dengan keadaan ayahandanya yang terlihat kesakitan.


"Ayahanda prabu."


"Putraku nanda birawa!. Jangan mendekat ke sini nak. Tinggalkan tempat ini!."


"Tapi ayahanda. Nanda sangat mengkhawatirkan keadaan ayahanda prabu."


"Tidak!. Ayahanda bilang pergi dari sini!. Dengarkan apa yang ayahanda katakan!."


Sementara itu, mereka semua merasa puas melihat bagaimana raut wajah Prabu Maharaja Sura Fusena yang dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Dengan kekuatan yang sangat sempurna luar biasa, Rahaja Dwipa mengambil kesempatan itu. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, ia menggunakan kecepatan menghilang. Namun ia malah berdiri di belakang Pangeran Birawa Fusena.


"Kau akan mati bocah!. Kau akan mati ditanganku!. Ahahaha!."


"Putraku!. Cepat lari nak!." Jantungnya terasa mau copot, ketika matanya menangkap Rahaja Dwipa telah melayangkan senjata ditangannya. Senjata tajam yang telah siap menikam punggung anaknya.


...***...


Kembali pada Patih Rangga Dewa yang saat ini masih berhadapan dengan para makhluk halus itu. Jumlah mereka sangat banyak. Sehingga Patih Rangga Dewa harus mengerahkan semua tenaga dalamnya untuk menumbuh mereka semua.


"Kurang ajar!. Seakan tidak ada habisnya." Patih Rangga Dewa mengumpat kesal. Karena ia masih penasaran dengan orang-orang yang berada di dalam rumah sepi itu. Namun masih saja dihadang oleh mereka semua.


Matanya dengan liarnya mencari titik kelemahan asal mereka semua. "Jika seperti ini terus, aku bisa kehabisan tenaga dalam hanya untuk menghadapi mereka semua." Dan akhirnya ia menemukan titik kelemahan asal muncul makhluk halus itu. Ternyata berasal dari sebuah batu lumut yang disusun rapi.


"Baiklah kalau begitu, akan aku hancurkan batu itu dengan cepat." Patih Rangga Dewa melompat, dan mengambang di udara. Ia mengamati bagaimana hawa hitam kelam keluar dari batu susun itu. Patih Rangga Dewa mengarahkan keris pusaka arwah naga merah.


"Hyah!."


DUARRRR


Terdengar suara ledakan yang cukup dahsyat dari tempat itu, bersamaan dengan menghilangnya para mahkluk halus yang menyerangnya dari tadi.


"Bagus sekali. Dengan begitu aku bisa masuk dengan tenang ke rumah itu." Patih Rangga Dewa tersenyum puas, karena apa yang ia lakukan berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika ia hendak turun. Ia mendapatkan sebuah serangan tenaga dalam ke arah dadanya. Sehingga ia terjajar ke belakang, namun masih bisa menahan tubuhnya agar tidak terbentur pohon yang berada di belakangnya.


...***...


__ADS_2