PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 35


__ADS_3

...***...


Prabu Maharaja Sura Fusena, Jamba, Cadra Baka, dan Duri Kosambi saat ini masih berhadapan dengan Rahaja Dwipa, Retma Aji, Paman Raga dan Paman Telaga. Mereka semua sangat bernafsu ingin menguasai istana Kerajaan Trisakti Triguna. Mereka bertarung hampir sampai malam, tidak peduli tenaga mereka semakin melemah.


"Aku sudah muak berhadapan denganmu sura dewa!."


"Kalau begitu, kau yang pergi dari istana ku. Karena kau tidak pantas menduduki istana ini."


"Diam kau!. Akan aku tunjukan seberapa hebatnya kekuatan yang kami miliki!." Rahaja Dwipa mulai kesal, karena pertarungan yang mereka lakukan tidak ada habisnya. "Paman guru. Mari kita lakukan formasi serangan naga memangsa. Aku sudah muak bertarung seperti ini."


Retma Aji menganggukkan kepalanya, sambil melirik ketiga temannya yang lain. Mereka yang tadinya bertarung, melompat satu persatu menyusun tingkat. Membuat sebuah mantram lingkaran yang aneh.


"Gusti prabu. Kita harus mewaspadai serangan itu. Sepertinya itu sangat berbahaya gusti prabu."


"Kalian. Lindungi gusti prabu. Jangan sampai orang-orang jahat itu mencelakai gusti prabu."


"Siap kakang."


"Gusti prabu. Hamba mohon agar tetap berada di belakang kami."


"Maaf, jika saya merepotkan kalian semua."


"Jangan sungkan gusti prabu."


Rahaja Dwipa dan yang lainnya saat ini dalam wujud naga raksasa yang sangat mengerikan. Mereka menyerang Prabu Maharaja Sura Fusena, namun dihadang oleh orang-orang kepercayaan Patih Rangga Dewa. Mereka terus menghalangi Naga raksasa itu untuk menyerang sang Prabu.


Pertarungan kali ini sepertinya tidak seimbang. Karena yang mereka lawan adalah sihir. Jadi percuma saja Prabu Maharaja Sura Fusena dilindungi oleh ketiga orang kepercayaan Patih Rangga Dewa. Pada akhirnya mereka terkena serangan mematikan. Serudukan naga raksasa yang dilambari sihir, membuat tubuh mereka semua terpental jauh.


Prabu Maharaja Sura Fusena dan ketiga orang kepercayaan Patih Rangga Dewa tidak sadarkan diri. Luka yang mereka alami sangat parah, sehingga mereka kehilangan tenaga dalam mereka. Sementara itu, Rahaja Dwipa dan yang lainnya kembali ke bentuk semula. Mereka sangat bahagia, karena berhasil mengalahkan Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Ahaha!. Lihatlah paman guru. Kita berhasil mengalahkan sura fusena yang tidak berguna itu. Ahaha!."


"Kau benar keponakanku. Mari kita rayakan kemenangan ini."


"Tapi sebelum itu, kita masukkan keempat orang tidak berguna itu ke dalam penjara. Aku yakin mereka masih hidup."


"Baiklah. Aku yang akan melakukannya."


"Aku juga ingin memasukkan si sura Fusena itu ke dalam penjara."


"Lakukan saja paman, dengan senang hati aku mempersilahkannya."


Paman Raga dan paman Telaga membawa Prabu Maharaja dan yang lainnya menuju penjara Istana. Sedangkan Rahaja Dwipa masuk ke dalam istana bersama Retma Aji.


"Nanti malam, setelah aku beristirahat. Aku akan menemui nini ketuk Pipit."

__ADS_1


"Paman merindukan istri paman?."


"Hush, diam kau bocah!."


Rahaja Dwipa hanya tertawa keras mendengarkan apa yang dikatakan pamannya itu. Ia hanya merasakan kebahagiaan yang luar biasa, setelah berhasil mendapatkan istana ini.


...***...


Pangeran Birawa Fusena dari tadi mencoba bersabar menunggu kedua adiknya yang sedang menikmati sebuah pertunjukan. Dan sampai malam berganti, mereka baru pulang?.


"Kanda birawa?." Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan mendekati Pangeran Birawa Fusena.


"Apa yang kanda lakukan di sini?. Apakah kanda juga mau menikmati pertunjukan yang ada di sini?."


"Tidak biasanya kanda menyukai tempat seperti ini."


Namun tidak ada tanggapan dari Pangeran Birawa Fusena. Ia menatap serius pada kedua adiknya yang juga menatap aneh pada dirinya.


"Dengarkan aku baik-baik dinda arya, dinda rara. Saat ini ayahanda prabu masih bertarung dengan orang-orang jahat yang ingin menguasai istana."


"Apa?. Istana-?."


"Ssssh." Pangeran Birawa Fusena mencegah kedua adiknya berkata dengan suara keras.


"Maaf kanda." Keduanya melirik sekitar, dan benar. Orang-orang yang berada di sekitar malah melihat ke arah mereka semua. Setelah itu mereka memilih pergi dari sana. Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Pangeran Birawa Fusena pada mereka berdua.


"Benar kanda prabu. Kita harus segera kembali ke istana. Kita harus membantu ayahanda prabu."


Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan hendak meninggalkan tempat, namun ditahan oleh Pangeran Birawa Fusena. "Aku diamanatkan oleh ayahanda prabu untuk membawa kalian berdua ke rumah paman durya Pati. Kita harus segera ke sana malam ini juga."


"Tapi kanda-."


"Dengarkan apa yang aku katakan dinda!. Ini adalah amanat dari ayahanda prabu!."


Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan sangat terkejut mendengarkan suara bentakan keras Pangeran Birawa Fusena. Mereka takut, jika kakak tertua marah. Mereka berdua terpaksa menuruti apa yang dikatakan oleh Pangeran Birawa Fusena.


"Kalau begitu cepat ikuti aku!."


"Baik kanda."


"Maafkan aku dinda arya, dinda rara. Ini semua aku lakukan demi menjaga amanah dari ayahanda prabu. Semoga saja ayahanda prabu baik-baik saja di istana saat ini." Di dalam hati Pangeran Birawa Fusena berharap, jika ayahandanya akan baik-baik saja saat mereka kembali nantinya. "Ayahanda prabu. Percayakan keselamatan dinda arya juga dinda rara pada nanda. Semoga kita bisa bertemu lagi ayahanda prabu." Hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai anak tertua. Melindungi keselamatan kedua adiknya dari marabahaya yang ditakutkan oleh ayahandanya.


***


Sementara itu, seseorang yang menolong Patih Rangga Dewa. Ia sedang menyarungkan kembali keris itu ke dalam warangkanya. Ia tidak menyangka, jika laki-laki yang ia tolong tadi sangat nekad bermain dengan kematian. Ia tidak pernah membayangkan, atau mengalami hal yang aneh seperti itu.

__ADS_1


"Apakah lelaki ini bosan hidup?. Sehingga dia membubuhkan racun itu ke senjatanya, dan sekarang dia kena dampak dari racun ganas itu." Matanya terus mengamati pergerakan racun yang ada di dalam tubuh Patih Rangga Dewa. Ia tidak mengerti mengapa ini semua bisa terjadi?.


"Namun setidaknya, racun yang diserap oleh tubuhnya itu bisa ditahan oleh penawar racunnya." Wanita itu sepertinya faham dengan apa yang dialami oleh Patih Rangga Dewa. "Butuh tiga hari untuk menyembuhkannya secara total." Lanjutnya lagi sambil mengamati bagaimana keadaan kulit Patih Rangga Dewa yang terlihat menghitam seperti hangus terbakar.


"Kau masih selamat dari kematian. Mungkin lain kali tidak." Ucapnya sedikit heran, dan ia tidak pernah bertemu dengan orang yang nekad seperti orang yang baru saja ia tolong.


"Baiklah, kalau begitu aku langsung saja melakukan pengobatan. Ia harus segera ditolong. Jika tidak, nyawanya benar-benar akan melayang." Wanita yang tidak diketahui siapa identitasnya itu mencoba menolong mengeluarkan racun yang sedang bentrok di dalam tubuh Patih Rangga Dewa.


...***...


Disisi lain. Hampir larut malam, namun Ratu Dewi Saraswati belum juga mendapatkan kabar dari prajurit tentang suaminya Prabu Maharaja Sura Fusena. Saat ini mereka berada di istana tersembunyi di kerajaan Trisakti Triguna. Jika dalam keadaan gawat darurat, maka mereka semua akan segera diungsikan ke istana tersembunyi.


"Mohon ampun gusti ratu."


"Kalian?. Bukankah kalian adalah dayang yang selalu bersama dengan putraku pangeran arya?. Tapi mengapa kalian malah di sini?."


"Kami mendapatkan perintah untuk menjaga gusti ratu, juga ratu serta selir, gusti ratu."


"Lalu bagaimana dengan putraku arya fusena?. Apakah keadaannya baik-baik saja?."


"Kami belum mendengar kabar tentang gusti pangeran arya gusti ratu."


"Benar gusti ratu. Karena kami mendapatkan perintah melalui surat yang dituliskan oleh gusti prabu. Bahwa kami berempat mengawal gusti ratu menuju istana tersembunyi ini."


"Kami hanya menjalankan perintah dari gusti prabu. Mohon maaf jika kami tidak mengetahui bagaimana keadaan gusti pangeran arya saat ini gusti ratu."


"Oh dewata yang agung. Apa yang harus aku lakukan, jika aku tidak mengetahui keadaan anakku pangeran arya." Ratu Dewi Saraswati sangat sedih, karena ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana keadaan anak kesayangannya itu.


"Aku mohon pada kalian untuk mencari keberadaan putraku. Aku mohon pada kalian semua. Aku sangat cemas dengan keadaan putraku."


"Kalau begitu kami akan mencoba mencari keberadaan gusti pangeran."


"Tapi kami mohon pada gusti ratu, agar tetap berada di sini. Kami takut, jika ada orang yang berniat jahat datang ke sini."


"Benar gusti ratu. Demi keselamatan gusti ratu, kami mohon jangan tinggalkan daerah ini."


"Baiklah sayang. Aku akan mendengarkan apa yang kalian katakan. Tapi aku mohon kalian cepat temukan keberadaan anakku."


"Sandika gusti ratu." Mereka semua memberikan hormat pada Ratu Dewi Saraswati. Mereka akan melakukan perintah dari Ratu Dewi Saraswati.


"Kalau begitu kami pamit dulu gusti ratu. Sampurasun."


"Rampes."


Setelah itu, mereka berempat meninggalkan tempat. Dan mereka hanya ingin memastikan, jika Pangeran Arya Fusena baik-baik saja ketika mereka menemukannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2