PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 36


__ADS_3

...***...


Keempat dayang yang selalu bersama Pangeran Arya Fusena saat ini berada di halaman istana. Mereka tidak melihat siapa-siapa di sana. Apakah terjadi sesuatu ketika mereka meninggalkan istana untuk mengamankan istri raja?.


"Rumi. Ini sangat aneh. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa istana ini sangat sepi?. Meskipun masih pagi."


"Aku tidak tahu suri. Kita harus menyelidikinya. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan."


"Lalu bagaimana dengan pangeran arya fusena?. Kita bisa dibunuh gusti Patih, jika kita tidak menemukan keberadaan pangeran kesayangan kita semua."


"Tapi gusti patih, gusti prabu, bahkan penggawa istana tidak ada di sini. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?."


"Kita harus berbagi tugas menemukan mereka. Suri, kau cari keberadaan gusti patih. Lasmi, kau cari gusti pangeran, dan kau Rati. Katakan pada semua penggawa, bahwa saat ini istana sedang dalam keadaan gawat. Cepat datang dan ikut memeriksa istana. Jika istana ini dikuasai oleh orang jahat, maka rebut kembali istana ini."


"Gusti Patih, mungkin sedang meronda?. Atau berada di suatu tempat."


"Kalau pangeran arya, gusti ayu. Kalau tidak salah, sebelum kejadian itu. Mereka minta izin pada gusti prabu untuk pergi ke kota raja untuk melihat pertunjukan."


"Benar sekali. Bahkan kita tidak diizinkan ikut pada saat itu. Karena pangeran arya ingin bersama gusti ayu, tanpa gangguan dari kita."


"Ya, ya, ya, ya. Aku ingat. Kalau begitu kita harus bergerak cepat. Mungkin gusti prabu menyuruh mereka ke suatu tempat. Atau melarikan diri karena tidak bisa menghadapi orang-roang jahat itu."


"Kalau begitu cepatlah bergerak, sebelum kita semua menyesal."


"Lalu bagaimana dengan kau rumi? Apa yang akan kau lakukan?."


"Aku akan memeriksa keadaan di dalam. Aku takut terjadi sesuatu pada gusti prabu. Karena saat kita meninggalkan istana. Gusti prabu sedang berhadapan dengan empat orang Pendekar golongan hitam."


"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu. Berhati-hatilah kau rumi."


Suri, Lasmi, dan Rati pergi meninggalkan halaman istana. Mereka segera melakukan tugas masing-masing. Sebagai abdi istana, mereka merasa bertanggung jawab dengan keselamatan penghuni istana.


Sementara itu di dalam istana.


Rahaja Dwipa saat ini sedang duduk di singgasana kebesaran kerajaan Trisakti Triguna. Ia merasa terhormat sebagai Raja baru.


"Kita akan mendirikan kerajaan golongan hitam pertama yang menguasai tahta pemerintahan paman guru."


"Boleh saja. Asalkan setelah kita membunuh raja itu. Kita bunuh semua keturunan sura dewa. Baru kita bisa menguasai semuanya."


"Itu ide yang bagus paman guru."


"Tapi, kenapa nini ketik Pipit dan yang lainnya belum juga kembali ke istana?. Apakah mereka kewalahan menghadapi si rangga dewa itu?."


"Paman tenang saja. Paman raga akan segera kembali bersama mereka semua."


"Aku yakin mereka bisa membunuh rangga dewa."


Mereka tertawa keras, merasa bahagia karena kawan-kawan mereka berhasil membunuh Patih Rangga Dewa. Namun saat itu, Rumi yang masuk ke dalam istana merasa geram dengan apa yang mereka katakan.

__ADS_1


"Bedebah busuk!. Gusti patih rangga dewa tidak akan mati semudah itu!. Akan aku pastikan kalian akan segera diusir oleh gusti Patih segera mungkin!."


"Hei!. Siapa kau?. Lancang sekali mulutmu berkata seperti padaku!." Rahaja Dwipa sangat terkejut, karena melihat seorang wanita masuk tanpa permisi, dan malah menunjuk kiri ke arahnya. Ia langsung bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Retma Aji dan paman Telaga.


"Aku adalah abdi setia gusti Patih rangga dewa. Kalian pasti akan mendapatkan hukuman dari gusti Patih!."


"Biarkan paman yang akan mengusir wanita bodoh itu. Kau tetaplah tenang di sini."


"Baiklah paman. Lakukan dengan baik, dan tunjukan pada wanita bodoh itu. Siapa yang sedang ia lawan paman."


"Siap dilaksanakan." Paman Telaga siap bertarung, dan ia melompat tepat hampir di hadapan Rumi. Ia menyerang salah satu dayang kepercayaan Patih Rangga Dewa.


Paman Telaga menyerang Rumi dengan senjata yang ia miliki. Tongkat satu meter itu ia layangkan ke arah Rumi, untuk menyerangnya. Namun sepertinya Rumi bukanlah wanita yang lemah, ia terus menghindari serangan itu dengan mudahnya.


...***...


Perlahan-lahan kesadarannya mulai kembali. Begitu ia tersadar, kepalanya terasa sakit. Bahkan tubuhnya terasa sakit. Apakah yang terjadi padanya?. Mengapa tubuhnya terasa sakit semua?. Ia mencoba untuk bangun, namun ketika ia mencoba untuk duduk. Perutnya terasa mual dan memuntahkan darah.


"Uhuk, bfuuh."


"Kisanak. Jangan bergerak dulu, keadaan mu masih belum pulih."


Ada seseorang yang menolongnya?. Akan tetapi, disaat ia menoleh ke arah orang tersebut. Ia sedikit terperanjat terkejut melihat penampilan orang itu yang sedikit menyeramkan menurutnya.


"Huwah." Spontan ia menutup matanya karena merasa takut.


"Kisanak kenapa?. Apa yang kisanak takut kan?."


"Oh. Aku ini manusia kisnaka." Wanita itu baru mengerti arti tatapan Patih Rangga Dewa. Ia segera membuka mukena yang ia pakai.


"A-a-aku kira nisanak tadi adalah hantu. Terlihat menyeramkan sekali."


Wanita itu malah tertawa, karena ia baru menyadari sesuatu. "Kisanak ini bagaimana toh?. Sama hantu takut, namun kisanak malah berani bermain-main dengan maut."


"Kalau itu, hanya modal nekad saja. Tapi kalau yang seperti tadi, benar-benar membuat aku sangat takut, terkejut. Dan untungnya aku tidak jantungan."


"Maaf jika aku membuat kisanak terkejut. Aku baru saja menyelesaikan sholat duha. Karena mendengarkan kisanak kesakitan, makanya aku segera ke sini." Wanita itu terkekeh kecil.


"Oo jadi begitu?." Patih Rangga Dewa mencoba untuk memahami situasinya. Meskipun ia tidak mengerti apa yang dilakukan oleh wanita itu. "Apakah nisanak yang menolongku?."


"Aku hanya menolong kisanak dari serangan seorang wanita."


"Serangan seorang wanita. Sepertinya ia memiliki dendam pada kisanak. Sehingga ketiak kisanak tidak sadarkan diri, dia malah ingin menikam kisanak."


"Menikamku?. Apakah nisanak mengetahui bagaimana ciri-ciri dari orang itu?."


"Kalau tidak salah, dia siluman ular. Katanya dia sangat dendam sekali pada kisanak."


"Siluman ular?."

__ADS_1


"Ya. Aku melihatnya berubah menjadi ular raksasa."


Kembali pada hari itu.


Dua orang pendekar wanita sedang bertarung. Yang satunya ingin membunuh Patih Rangga Dewa, dan yang satunya lagi melindunginya. Karena ia tidak mengetahui jika orang yang dilindungi olehnya adalah seorang Patih. Namun apa yang dilakukan oleh wanita itu adalah sebuah tindakan pengecut.


Pertarungan itu sepertinya tidak seimbang, karena pendekar wanita itu memiliki kelebihan yang berbeda tingkatnya.


"Kurang ajar!. Kau akan aku bunuh!. Karena kau telah menghalangi aku membunuhnya!." Wanita berpakaian serba putih itu berubah menjadi ular raksasa. Ular putih yang sangat besar ukurannya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ternyata kau adalah siluman ular." Ia menghindari serangan siluman ular itu. Melompat ke sana ke kemari, agar tidak dihajar oleh siluman itu.


"Kau tidak akan bisa lari dariku!." Terdengar suara yang sangat keras dari siluman ular itu. Ia sangat marah, dan tidak terima. Serangan bertubi-tubi ia arahkan ke musuhnya. "Kau jangan menghindar saja bedebah!. Akan aku bunuh kau!."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Lindungilah hamba dari kejahatan makhluk-Mu." Wanita itu terus menghindar, tanpa sadar ia telah menjauh dari Patih Rangga Dewa. Dan saat itu ia mendapatkan kesempatan, ia menggunakan jurus andalannya. Tak lupa ia membacakan ayat kursi untuk mengusir wanita siluman itu.


"اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهٗ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهٖ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ."


"Akh!. Sakit!. Sakit!. Panas!." Ia kembali ke bentuk semula dalam wujud manusia. Karena ia tidak tahan dengan bacaan ayat kursi. "Awas saja kau!. Jika kita bertemu lagi!. Akan aku habisi kau!." Wanita siluman ular itu melarikan diri dari sana dalam keadaan kesakitan.


"Pendekar tadi harus segera diselamatkan." Ia teringat dengan seseorang yang ia tinggalkan. Dengan cepat ia kembali, membantu orang tersebut untuk bangun. Membawanya dari sana, ia sangat mencemaskan keadaan orang tersebut.


Kembali ke hari ini.


"Begitulah ceritanya kisanak. Saat aku membawa kisanak dari sana. Kisanak masih menggenggam erat keris itu beserta warangkanya. Dan aku hampir saja memotong tangan kisanak untuk melepaskan keris itu."


"Aih. Sadis sekali kau nisanak." Patih Rangga Dewa langsung menyembunyikan kedua tangannya. Dan memperhatikannya. Sedangkan wanita yang menolongnya itu malah tertawa. "Huh!. Tanganku masih ada. Ucapanmu sangat mengerikan dari serangan manusia ular itu." Patih Rangga Dewa mengomel sendiri.


"Hehehe. Aku hanya bercanda saja." Wanita itu terkekeh kecil. Ia tidak menyangka akan melihat ekspresi lucu dari orang yang ia tolong.


...***...


Kembali ke istana.


Rumi masih bertarung dengan Paman Telaga. Semua serangan yang datang ke arahnya dapat ia hindari dengan baik. Pertarungan mereka sangat imbang?.


"Paman telaga."


"Hah?. Ada apa?." Ia menghentikan pertarungan itu, dan melihat ke arah Rahaja Dwipa.


"Pertarungannya sangat membosankan. Apakah paman tidak bisa menunjukkan yang lebih baik lagi?."


"Berisik kau rahaja dwipa!. Kakang retma aji!. Katakan pada keponakan kesayanganmu itu!. Lihat saja pertarungan ini, dan jangan banyak bicara!."


"Ahaha. Itu memang kenyataannya. Karena itu lakukan lebih menarik lagi."


"Sundel. Malah tertawa." Paman Telaga sangat kesal ditertawakan oleh mereka. Namun saat itu, Paman Raga datang dengan keadaan aneh. Membuat mereka semua terkejut.


Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2